When She Loved Me

When She Loved Me
15. Pesta



Pesta yang di selenggarakan oleh keluarga Gatot tidak begitu besar. Para undangan pun tidak banyak. Hanya sekelompok pembianis besar yang di undang oleh Gatot. Gatot bukanlah pembianis jujur. Tapi, ia di kenal sebagai pebisnis dengan perhitungan tepat. Lebih tepatnya terlalu waspada jika ingin membangun sebuah bisnis.


Acara di mulai. Gatot yang memang berniat memperkenalkan putrinya ke Rahmat Erlangga, mulai berbincang dengan obrolan basa basi. Abigail hanya diam ketika pembicaraan kakeknya menjurus pada pusat inti dari rencana pembangunan gedung baru Erlangga.


“ Jika persyaratan yang aku minta di setujui. Aku akan dengan senang hati menyerahkan tanah itu.” Kata Gatot.


Jessika yang sejak tadi berada di sisi ayahnya hanya diam. Ia tahu apa yang di inginkan ayahnya. Bertunangan dan menikah dengan Abigail adalah jalan satu-satunya untuk memperluas kekuasaan ayahnya.


Sebenarnya Rahmat tidak sebodoh itu. Ia tahu betul apa yang di inginkan Gatot. Dengan mengikuti permainan, semua yang di inginkan ya akan tercapai. Tapi, permasalahannya. Rahmat belum mendapatkan jawaban dari Abigail.


“ Jika Abigail tidak keberatan. Saya juga tidak keberatan. “ ujar Gatot dengan kata penuh makna.


Rahmat memandang kearah cucunya. Menunggu jawaban yang akan di ucapkannya.


“ Aku setuju.” Jawab Abigail.


Evan sedikit terkejut ketika mendengar jawaban Abigail. Dalam ketenangan Abigail kembali berkata.


“ Asal kesepakatannya harus adil. “


“ Adil.”


Gatot Subroto tertawa kecil.


“ Aku tidak salah pilih. Keturunan Erlangga memang berbakat untuk berbisnis. “ sanjung Gatot.


“Apa aku boleh mengumumkan jika pertunangan Jessika dan Abigail akan di resmikan hari ini.”


Ujar Gatot lagi.


Rahmat tersenyum lebar dan mempersilahkannya.


Di malam ini berita pertunangan Abigail dan Jessika sudah terdengar oleh amat.


Amat yang marah membanting gelas yang baru saja diambilnya.


“ Kau bilang. Kau akan selalu mencintaiku. Mengapa malah memilih dia.” Teriak amat.


Lily masuk ketika Mendengar suara pecahan kaca. Ia khawatir dan memperhatikan sikap amat yang galau.


“ Kenapa, mat?” tanya Lily.


“ Ada apa dengan Jessika?” tanya Lily lagi.


“ Dia resmi bertunangan dengan Abigail Erlangga.” Jawab amat.


Lily seketika tertegun. Dadanya terasa sakit.


“ Tidak. Aku tidak peduli dengan hal ini.” Gumam Lily dalam hati. Akan tetapi, hati tidak bisa berbohong atau di bohongi. Cinta yang masih ada untuk Abigail seolah bergejolak dan menghantam kerapuhan nya.


“ Kalau begitu. Selamat dong.” Kata Lily.


“ Selamat katamu.” Protes amat. “ ayah Jessika selalu saja menolak ku . Mungkin bisnis keluargaku yang tidak selevel dengan bisnisnya.” Keluhnya dalam kekesalan.


“ Tapi, mat. Keluarga Gatot dan Erlangga. Mereka sama-sama pebisnis yang selalu mencari keuntungan. “ Jelas Lily. “ Wajar jika ayah Jessika lebih memilih keluarga Erlangga. Tapi, aku rasa Jessika dan Abigail pasangan yang cocok. “ lanjut Lily lagi.


Amat hanya diam. Ia prustasi.


***


Lain halnya di suasana pesta. Abigail tidak menghiraukan keberadaan Jessika. Begitu juga Jessika. Ia malah mengutak Atik ponselnya dan mencoba menghubungi amat. Tapi, ponsel amat seperti nya di nonaktifkan.


Jessika kesal. Ia memandang Abigail. Dan Abigail tak sengaja menatap kearah Jessika. Mereka saling berpandangan. Dalam sedikit keberanian, Jessika bertanya.


“ Mengapa kak Abi menyetujui pertunangan ini?”


“ Ini hanya bisnis. Pertunangan ini buat ku tidak ada artinya. Selain itu, ini semua adalah ide ayahmu.” Jawab Abigail.


“ kak abi bisa menolaknya. Saya...”


Jessika menggigit bibirnya. Seolah ada yang mengganjal di benaknya.


“ Kau ingin bilang jika kamu sudah punya kekasih. Dan kamu tidak menyukai pertunangan ini.” Kata Abigail.


Jessika diam. Tangannya sedikit gemetar.


“ Aku tidak melarangmu untuk bersama kekasih mu. Dan juga tidak melarangmu untuk menolak ku. Bagiku pertunangan ini hanya sebatas barter. Kamu paham itu.” Jelas Abigail datar.


Jessika paham benar. Siapa pria yang bertunangan dengannya ini. Abigail Erlangga, pria dingin dan tanpa perasaan. Jessika pikir, itu hanyalah gosip. Tapi, ketika melihatnya langsung. Jessika bisa menyimpulkan. Kalau Abigail Erlangga memang pria yang dingin.