When She Loved Me

When She Loved Me
5. Ada benih cinta di ruang OSIS



Lily buru-buru keluar kelas ketika bell pulang berbunyi.


“ Lily!”


Teriakan Jessika hanya di tanggapi dengan lambaian tangan. Lily berlari menaiki anak tangga menuju lantai tiga.


“ Harus cepat. Cuma memberikan rangkumannya dan buku paket ini. Lalu aku langsung pulang saja.” Gumam Lily ketika baru tiba di depan ruang OSIS.


Di dalam ruangan, ia melihat Abigail dan beberapa anggota OSIS sedang mengadakan rapat.


“ Aku setuju jika kita melakukan penjualan kerajinan seperti souvernir. Dan hasilnya akan kita gunakan untuk korban bencana banjir.” Kata Abigail.


Affan Cuma manggut-manggut, mengisyaratkan jika ia setuju.


“ Dimana Debi?” tanya Abigail.


“ Dia ijin kak. Tadi sih kelihatannya lagi pusing gitu.” Kata salah satu anggota yang namanya Kirana. Kirana teman sekelas Debi.


“ Sakit kepala apa sakit hati “ Timpal salah satu anggota yang bernama Angga.


“ Debi memang sakit kepala dan agak pusing. “


“ Bener ko, enggak bohong.” Tambah Astuti yang memang juga teman dari Debi.


“ Abi.” Panggil Angga.


Abigail hanya membalas dengan memandang kearah Angga.


“ Apa yang kurang dari Debi? Tanya Angga. Belum sempat Abigail menjawab, ia kembali berkata. “ Debi cantik, bodynya menarik. Lalu apa yang kurang.”


“ Debi memang cantik. Tapi, maaf aku tidak tertarik.” Jawab Abigail.


“ Kalau gadis anak kelas 1B, Apa kau tidak tertarik juga?” tanya Angga lagi.


Abigail menggeleng. Lalu menjawab dengan ketegasan. “ Aku tidak tertarik dengannya. Dia masih bocah dan suka bermain-main. Aku hanya menyukai gadis yang lebih dewasa.”


Duh...


Perasaan sakit seolah terasa di dalam hati Lily. Ia memegang dadanya dan melangkah mundur. Tapi, entah mengapa mata Abigail merasakan seseorang telah melintas dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia berjalan keluar setelah menutup buku agenda nya.


Dan ketika Lily berbalik ingin pergi. Abigail menarik tangannya. Lily menoleh dan matanya saling bertatapan. Sunyi sekali tanpa kata. Di dalam pikiran mereka masing-masing, terbayang akan kejadian tadi pagi.


Bibirnya yang lembut seolah masih terasa. Wajah Lily mulai merona. Dan ketika Abigail sadar. Ia lebih dulu menarik tangan Lily untuk segera masuk kedalam ruang OSIS.


Anggota OSIS yang kebetulan masih duduk di tempatnya. Memandang kearah Abigail. Dan mereka juga terkejut dengan sikap Abigail yang menggandeng tangan Lily.


“ Hmm... “ kata Affan.


Abigail tersadar. Ia menundukkan kepalanya dan menyadari apa yang masih di pegangnya.


Lily yang salah tingkah. Buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman tangan Abigail.


Affan senyum-senyum sendirian. Dia tidak menyangka jika kakak sepupu nya bisa melakukan hal tersebut. Menggandeng seorang gadis ada hal langka yang bisa di tunjukkan oleh Abigail.


“ Gadis ini akan membuat Abigail tidak bisa menolak akan perasaan nya. Ini akan menjadi cerita menarik untuk kakek.” Gumam Affan.


“ Duduk.” Perintah Abigail agak kikuk.


Lily menuruti perintahnya duduk di antara Affan dan Abigail.


“ Apa tugas yang aku berikan sudah selesai?.” Tanya Abigail. Matanya memandang Lily dengan perasaan yang masih berdebar.


Lily juga merasakan hal yang sama. Ia merasa salah tingkah ketika mengambil buku tebal dan beberapa lembar kertas di dalam tasnya.


“ Semua sudah selesai. “ kata Lily sembari menyodorkan buku dan beserta kertas rangkumannya. “ Aku pamit dulu.” Ucapnya sopan sembari beranjak dari tempat duduk.


“ Memangnya siapa yang menyuruhmu pergi.” Ujar Abigail.


“ Kerjaanmu masih menumpuk. Tuh lihat di belakangmu.”


Abigail menunjuk buku yang berhamburan di rak buku dan mejanya.


What...


Wajah Lily mulai terlihat kesal. Ia berbalik dan mengecam perintah Abigail.


“ Loe pikir gue pembantu loe.” Ketus Lily.


“ Kalau tidak mau. Ya tidak apa sih. Paling...” Abigail menghentikan perkataannya. Ia tersenyum sinis kearah Lily.


Lily yang paham maksudnya. Akhirnya menyerah.


“ Iya bos. Akan aku kerjakan. Kau puas sekarang.” Ujar Lily. Ia menaruh tasnya di meja depan Abigail duduk dan kemudian berjalan menghampiri buku-buku yang berserakan.


“ Jangan begitu dengan anak gadis. Dia masih bocah. Bukannya aku mau ikut campur. Tapi, tidak baik jika kau menjahilinya karena sikap pemberontaknya.” Kata Affan. Ia mencoba menengahi pertengkaran kakak sepupu nya.


“ Apa kau tertarik? “ tanya Abigail.


“ Jika aku bilang IYA. Apa kau akan mengurangi hukumannya.”


Abigail diam mendengar jawaban Affan.


“ Lily gadis yang menarik. Aku menyukainya saat pandangan pertama.” Jawabnya lagi. “ Aku tegaskan kepada kakakku tersayang. Aku akan mengejar cintanya. “ sambungnya lagi.


Abigail diam. Ada perasaan kesal ketika mendengar Affan berkata seperti itu.


***


Ruang OSIS menjadi hening ketika semua anggota OSIS pulang. Lily yang kebetulan menyadari jika ia sendirian dengan setumpuk pekerjaan, merasa kesal.


“ Bisa-bisanya ia membiarkan aku sendirian. Dia tau enggak sih bundaku menunggu aku pulang.” Gumamnya kesal.


“ Siapa juga yang meninggalkanmu.”


Suara terdengar keras dari pintu yang terbuka. Lily masih cemberut ketika mengetahui Abigail masuk kembali ke ruang OSIS dengan membawa makanan dan minuman.


“ Cuci tanganmu. Kita makan dulu.” Ujar Abigail. Ia menaruh makanan dan minuman itu di meja tengah. Meja yang di gunakan untuk rapat tadi.


“ Aku masih kenyang.” Tolak Lily. Ia kembali merapikan buku diatas meja. Ada beberapa buku lagi yang harus di rapikannya.


Merasa di tolak. Abigail berjalan mendekat ke arah Lily yang sengaja tidak mempedulikannya.


“ Mau makan sendiri atau aku suapi.”


Suara Abigail terdengar dekat sekali. Karena penasaran Lily berbalik. Dan benar, Abigail begitu dekat. Ia hampir saja kehilangan kendali dan jatuh di tumpukkan buku. Tapi, Abigail dengan cepat menahan tubuh Lily hingga posisi tubuhnya seperti berdansa waltz.


Berlahan Abigail menarik tubuh Lily dan tubuh mereka menyatu, menempel tanpa penolakan. Mata yang saling bertatapan seolah membuat mereka tidak sadar apa yang mulai mereka lakukan.


Abigail mengecup bibir mungil Lily dengan kelembutan. Karena, kaget. Lily hanya bisa memandang dengan mata sedikit terbelalak.


Drr... Drr..


Tiba-tiba suara telepon berdering. Abigail menghentikan aksinya dan melepas lingkaran tangannya dari tubuh Lily.


Lily langsung mengangkat telponnya. Ia sengaja membelakangi Abigail karena malu.


Abigail mundur beberapa langkah. Ia menyenderkan punggungnya ke di dinding.


“ Apa yang aku lakukan? Apa aku sudah gila? Mengapa aku malah berpikir mesum. Bodohnya.” Rintih Abigail dalam hati.