
Debi Susanti!
Putri dari kepala sekolah. Ia di kenal cantik dan di juluki dengan sebutan bunga sekolah. Selain itu, sikapnya yang centil membuat semua teman maupun lawan jenisnya menyukainya.
Wow...
Mulut Amat ternganga ketika mengagumi kecantikan Debi yang berjalan menghampiri mejanya. Lily yang duduk di belakang amat. Tidak begitu menghiraukan kedatangan Debi. Ia asyik membahas majalah baru dengan Jessika.
“ Oh, ini.” Kata Debi sembari menghentakkan kedua telapak tangannya diatas meja.
Lily mengerutkan dahinya. Bingung mengapa cewek ini datang dengan wajah masam.
“ Aku peringatkan kamu.” Kata Debi. Ia sedikit mendekat kearah wajah Lily.” Jauhi Abigail jika kamu masih ingin belajar di sekolah ini.” Lanjutnya lagi.
Lily tersenyum mendengar ancaman itu.
“ Hei, kau pikir Lo siapa?” timpal Kirana yang memang sohibnya Debi.
“ Dengar ya, kakak kelas. Aku tidak punya hubungan apapun dengan Abigail. So, enyahlah dari sini.” Ketus Lily.
“ Kau.” Kata Kirana kesal. Debi menahan sahabatnya untuk maju mendekat ke arah Lily.
“ Tapi, Deb.” Kata Kirana lagi.
Debi tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan sebotol air minum dan langsung mengguyurkannya di atas kepala Lily.
Menyadari air mengucur diatas kepalanya. Lily hanya diam dengan senyum yang pahit.
“ Sudah puas.” Kata Lily ketika air di botol itu habis.
Jessika yang takut membela sahabatnya hanya bisa menggigit bibirnya.
Lily berdiri, dan mengambil minuman di tas milik Amat yang kebetulan tas tersebut menyangkut tepat di depan mejanya.
“ Nih ambil. “ kata Lily sembari menyodorkan sebotol air kearah Debi.
Debi diam, tanpa berniat mengambilnya.
“ Jika masih kurang. Kau bisa menambahnya lagi.” Sambung Lily.
Debi masih diam saja.
“ Baiklah.” Kata Lily tersenyum angkuh. “ Ayo ikut aku.” Ajak Lily dengan menarik tangan Debi.
Debi langsung menepis tangan Lily. Tapi, Lily dengan kuat menariknya kembali.
“ Hei mau apa kamu?” tanya Debi. Ia berusaha melepaskan tangan Lily. Tapi, tangan Lily begitu kuat menarik dan menggenggam lengannya.
Kirana yang berusaha menghalangi jalannya seolah terpaku ketika ia berkata.
“ Aku tidak segan-segan untuk menyakiti siapapun yang menghalangiku.” Ketus Lily.
“ Kau pikir aku takut.” balas Kirana.
Lily tersenyum sembari mengayunkan kakinya kearah sepatu Kirana.
Duk...
Auw...
Kirana Memekik kesakitan. Lily kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
“ Ohya, kak. Aku lupa.” Timpal Jessika.” Dulu di SMP. Lily pernah mengikuti kegiatan tekwondo. Jadi wajar jika dia memiliki tenaga untuk memberi pelajaran orang yang mengganggunya.” Jelas Jessika lagi.
Apa...!
Sebenarnya Kirana sedikit terkejut dengan informasi itu. Dengan menahan rasa sakit ia pergi menyusul sahabatnya.
***
Didepan kelas 3A. Lily melepaskan tangan Debi. Dan mendorong Debi ke depan Abigail yang kebetulan sedang mengobrol dengan beberapa teman sekelasnya.
“ Wow, ada apa ini?” timpal affan.
“ Abi.” Kata Debi. Ia nampak ketakutan.
Abigail diam dan tak menghiraukan Debi. Ia malah memandang kearah baju yang di kenakan Lily. Baju itu basah dan terlihat jelas baju dalaman yang di kenakan olehnya. Affan dan teman-teman nya juga menyadari hal itu.
Abigail berjalan mendekat. Lily mundur, menghindar dan berusaha menahan Abigail dengan tangannya. Dan ketika ia hampir tersudut. Abigail menangkap tangannya, lalu menggendongnya.
“ Turunkan aku.” Teriak Lily. “ Mengapa kau selalu menggendong ku sih. Lepaskan.”
Lily memukul-mukul punggungnya Abigail. Tapi, Abigail tetap tidak melepaskannya. Ia malah terus keluar kelas dan membawa Lily ke ruang OSIS.
Sementara Debi terpaku berdiri sambil memandang kepergian Abigail dan Lily.
“ Pasti kau yang melakukan nya.” Tuduh Affan.
Debi salah tingkah. Ia tidak mau mengakui kesalahannya. Dengan berpura-pura Lugu. Ia kembali ketempat duduknya.
***
“ Lepaskan aku bodoh.” Teriak Lily.
Abigail membuka pintu ruang OSIS dengan kakinya dan kemudian menutupnya kembali.
“ cepat turunkan aku.” Kata Lily.
Abigail belum juga mau menurunkannya. Ia berjalan kearah rak buku dan mendorong rak buku itu seperti pintu.
Lily melihat hal itu. Ia terkejut jika di balik rak buku itu ada sebuah kamar yang rapi dengan kasur tunggal dan lemari pakaian.
Berlahan Abigail menurunkan tubuh Lily.
“ Ganti bajumu.” Kata Abigail.
“ Ganti. “
Abigail mengangguk.
“ Ini Cuma basah karena air. Nanti juga kering.” Jelas Lily dengan menolak perintahnya.
“ Kering.” Kata Abigail datar
Kali ini Lily yang mengangguk.
“ Jadi kau biarkan orang melihat warna Bra mu itu. “
Abigail menunjuk kearah dada.
“ Atau kau memang ingin di lihat seperti itu.”
Bra...
Lily menangkap pembicaraan Abigail. Ia langsung melihat kearah dadanya yang basah dan menyadari jika warna bra-nya nampak terlihat.
Hah ...
Malu nya!
Lily menutup dadanya dengan ke dua tangan.
“ Kau mesum.” Ujarnya.
Abigail diam saja. Dia tidak membalas tuduhan Lily.
“ Ganti bajumu dengan ini.” Kata Abigail. Ia menyerahkan kemeja berwarna putih yang barusan di ambilnya dalam lemari.
Lily mengambil kemeja itu.
“ Aku akan tunggu kamu diluar. “ ujar Abigail. Lalu, ia pergi meninggalkan Lily sendirian.
“ Tidak buruk juga sih. Ternyata ia lebih perhatian.” Gumam Lily. Tapi, ia kemudian tersadar akan sikap Abigail yang suka seenaknya. “ Enggak mungkin. Dia tetap saja Psikopat.” Lanjutnya lagi.