When She Loved Me

When She Loved Me
10. Awal Perpisahan ( part 2 )



Hari kencan tiba. Abigail yang sudah berjanji, menunggu Lily di depan mall. Kehadiran Abigail membuat pengunjung mall mulai memperhatikannya. Dari anak remaja, sampai ibu-ibu yang kebetulan lewat.


Wajah Abigail yang tampan. Membuat kekaguman bagi kaum hawa. Selain itu, tubuhnya yang atletis membuat penilaian perfect bagi setiap orang yang melihatnya.


“ Kenapa lama sekali.” Kata Abigail ketika Lily baru saja datang.


“ Maaf.” Ujar Lily.


“ Yuk masuk.” Ajaknya sambil menggandeng tangan Lily.


“ Aku dengar, di belakang mall ini ada pantai buatan. Bagaimana kalau kita kesana.” Usul Lily.


“ Baiklah.” Kata Abigail.


Sudah lama rasanya Lily tidak berkunjung ke mall ini. Terakhir ia pergi bersama ayah dan bunda. Kenangan itu seolah mulai meluap dan membayanginya.


Senyuman ayah dan bunda membuatnya hampir menjatuhkan butiran air mata.


Ayah...bunda...


Lirih sekali ia memanggilnya.


“ Kamu melamun.”


Suara Abigail menghentikan khayalan nya. Ia memandang wajah Abigail dan berkata.


“ Apa kau menyukai pantai.”


Abigail menjawab dengan menggeleng.


“ Ya sudah. Lebih baik kita jalan-jalan dulu lalu pulang.” Ujar Lily.


“ Bukan aku tidak suka. Tapi, jika melihat pantai bersamamu. Aku pasti suka.”


Senyum Lily kembali ceria. Ia tertawa ketika menyadari jika Abigail sedang mempermainkannya.


“ Aku sih pernah dengar. Jika di mall ini di rancang oleh seorang desainer dari Eropa. Menurut cerita yang aku ketahui. Pantai itu di buat untuk menutupi pembuangan limbah ilegal dari perusahaan ...”


Abigail terdiam. Ia hampir keceplosan. Bagaimana bisa ia berbicara blak-blakan seperti itu. Sementara ia mengetahui mall yang di kunjungi nya ini milik dari kakeknya.


Lily diam. Ia sadar jika Abigail hampir menceritakan kebusukan keluarganya sendiri.


Setibanya mereka di belakang mall. Lily langsung berlari-larian di pinggir pantai.


“ Kak Abi.” Panggil Lily.


Merasa tak sabaran. Akhirnya Lily berlari menghampiri Abigail dan menariknya masuk ke air.


“ Tunggu dulu.” Kata Abigail. Ia menghentikan cipratan air yang sengaja di ciptakan oleh Lily.


“ Kak Abi takut ya.” Ejek Lily.


“ Siapa yang takut.” Balas Abigail.


Ia menarik Lily dan mendekapnya.


“ Cukup ya. Baju kita nanti basah.”


Lily tersenyum sambil melingkarkan tangannya di leher Abigail.


“ Mengapa? Apa ada yang salah?”


Abigail kikuk. Tatapan Lily seolah menusuknya.


“ Apakah kak Abi benar-benar menyukaiku?” tanya Lily.


“ Mengapa bertanya seperti itu?” tanya Abigail balik.


“ Entahlah. Aku merasa kak Abi tidak serius.”


“ Kamu ingin bukti apa?” tanya Abi lagi.


“ Apa ya!...”


Lily pura-pura berpikir. Abigail tersenyum melihat sikap gadisnya. Ia langsung tak segan-segan menarik tubuhnya dan mendekapnya dalam kebisuan. Matanya yang lembut saling bertatapan. Mereka hanyut akan cinta. Dan Abigail tak segan-segan langsung mengecup bibir mungil Lily yang semakin merekah.


‘ Bila ini sungguh nyata. Aku ingin selamanya bersamanya. Tapi ! Ini akhir dari segalanya. Kencan pertama akan menjadi hari terakhir ku bersamannya.’


Pantai ini adalah saksi dari akhir cinta pertamanya. Akan tetapi, setelah 5 tahun berlalu. Ketika usia Lily menginjak 23 tahun. Kenangan bersama Abigail tidak pernah bisa terlupakan. Ia tetap mengenang akhir-akhir dimana Abigail mengatakan.


“ Setelah lulus. Aku akan melanjutkan kuliah ke London. Aku harap kamu mau menungguku.”


Menunggu!


Lily tidak pernah menjawab untuk menunggunya. Sebelum pergi, Lily menitipkan sebuah amplop kecil yang mungkin akan menjelaskan segalanya. Lily yakin. Abigail akan melupakannya. Karena, sekarang Abigail mengetahui siapa sebenarnya Lily.