
Sepulang sekolah Lily menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dengan perasaan yang masih kesal. Ia memukul-mukul bantal yang ada di sofa. Sikapnya yang aneh itu membuat bundanya menyipitkan matanya.
“ Dasar cowok psikopat.” Keluhnya sambil memandang bantal dan membayangkan wajah Abigail di bantal yang tidak bersalah itu.
“ Jangan terlalu membenci seorang laki-laki. Nanti bisa kebalikan nya lho.”
“ Maksud bunda apa?” potongnya dengan tanya.
“ Nanti juga kamu akan mengerti dan memahami jika kebencian mu membuatmu berbalik mencintai nya.” Jelas bunda.
“ Bunda, enggak baik jika ngajarin Lily tentang cinta. Toh dia belum cukup umur.” Timpal ayah yang datang tiba-tiba.
“ Ayah.”
Lily berlari dan langsung memeluk tubuh ayahnya.
“ Ayah menyayangimu.” Suara ayah terasa begitu menyenangkan. Lily tersenyum dan menarik ibunya untuk saling berpelukan.
“ Ganti baju sana. Bunda mau bicara dengan ayah dulu.” Ujar bunda.
Lily menuruti perkataan bunda. Ia masuk ke dalam kamar. Tapi ketika ia ingin masuk kamar, ia menyadari jika ponselnya dan tas sekolahnya masih di luar. Ia berniat kembali. Namun, ia berhenti di balik dinding yang menutupi ruang tamu.
“ Saham ku menurun. “ kata ayah lesu.
“ Ini pasti ulah Rahmat. Ia masih ingin terus balas dendam dengan kita. “ kata bunda.
“Jika kita bangkrut. Aku harap kau pergi sejauh mungkin. Aku tidak ingin ia menyakitimu dan juga menyakiti putri kita.”
“ Maksudmu. Kamu ingin menghadapi Rahmat sendirian. Aku tidak mau. Kita harus menghadapinya bersama.”
“ Bunda, ini bukan waktunya kau egois. Keselamatan Lily tergantung darimu. Aku Cuma bisa melawan kekejian rahmat. “ Tutur ayah. “ Dengarkan aku bunda. Rahmat pasti akan mengincar kelemahan kita. Dan kau Taukan jika kelemahan kita apa? “ Ia menarik istrinya untuk lebih mendekat duduk di sampingnya. Dengan membelai wajah putih istrinya. Ia kembali berkata. “ Kelemahan kita adalah ...”
Ia diam dan menatap istrinya dengan lekat.
“ Putri kita “ sambung ayah lagi.
Di balik dinding Lily terdiam. Ada perasaan bingung dengan percakapan ayah ibunya.
Rahmat.
Siapa pria yang di maksud ayah?
Lily kembali ke kamar. Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil tasnya.
***
Jam makan malam tiba. Di meja makan Lily hanya makan sesuai hidangan yang di sajikan bunda.
Panggil ayah.
Lily mengangkat wajahnya.
“ Bagaimana teman di sekolah? Apa mereka baik kepadamu?” tanya ayah sembari membuka percakapan karena merasa suasana makan nampak hening.
“ Mereka baik ayah. Dan aku masih sekelas sama Jessika.”
“Maksudmu Jessika anak Gatot Subroto “ potong bunda menyakinkan dugaannya.
Lily hanya mengangguk.
“ Mulai besok bundamu akan mengantar jemput mu pulang.” Kata ayah.
“ Mengapa harus bunda. Bukankah aku bisa pulang sendiri.”
Ayah memandang kearah istrinya. Bunda yang kebetulan mengerti maksud dari suaminya, langsung menjawab pertanyaan putrinya.
“ Beberapa hari ini, bunda menonton berita. Jika banyak penculikan dan pemerkosaan anak remaja. Dan bunda pikir, lebih baik mengantar dan menjemput mu pulang. Biar bunda tidak begitu mengkhawatirkan mu.“ jelas bunda.
Sebenarnya bunda tidak ingin putri nya menaruh rasa curiga. Dalam kelembutan ia menjelaskan sedikit berhati-hati agar putri nya tidak bertanya lagi.
Sikap diam Lily membuatnya mengingat kembali pada percakapan ayah dan bundanya.
“ Kelemahan kita... Adalah putri kita.”
Sebenarnya Lily merasakan kekhawatiran ayah dan bundanya terlalu berlebihan.
Rahmat!
Siapakah dia?
Bertumpuk Pertanyaan membuatnya tak berselera makan.
“ Saya pamit ke kamar dulu. “ izinnya.
Lily beranjak dari tempat duduknya. Tapi, ayah menahanya dengan suara sedikit datar.
“ Bisa kah kamu menghargai makanan yang sudah bunda mu masak dan sajikan. Tidak baik jika meninggalkan makanan yang belum habis di makan. “
“ Ayah. Sudahlah!” ujar bunda melerai keadaan kalut suaminya.
“ Kembalilah ke kamar.” Kata bunda. Ia mengisyaratkan Putri nya untuk segera Pergi.