
Lagi-lagi bunda tetap dengan keputusannya. Mengantar jemput putrinya ke sekolah. Seperti halnya pagi ini.
“ Pulang jangan jemput Lily ya bunda. Ada kegiatan OSIS yang harus Lily kerjakan.” Kata Lily dengan sedikit memohon.
“ Bunda akan jemput dan menunggumu di depan sekolah. Mau selama apapun kegiatannya, bunda akan tetap menunggumu.” Kata bunda tegas.
Lily cemberut. Ia tidak setuju dengan sikap bundanya. Dengan kesal ia keluar dari mobil dan menutup daun pintu dengan sedikit membanting.
Kekesalan Lily nampak terlihat dari raut wajahnya. Jessika yang paham betul sifat sahabatnya, sengaja menggodanya dengan gurauan.
“ Sekarang jadi anak mami nih.” Ejek Jessika sambil tertawa yang sedikit di tahan.
“ Apa'an sih loe, Jes.” Kata Lily kesal.
“ Memang loe takut berangkat ke sekolah sendiri?” timpal amat yang memang kebetulan bertemu Jessika di gerbang sekolah.
“ Bukan sih. Kata bunda sekarang ini banyak penculikan. Beliau Cuma khawatir.” Jelas Lily.
“ Oh...” kata Jessika dan amat berbarengan.
Tok...
“Auw...” Pekik Lily yang merasakan sedikit sakit di bahu kanannya. Dengan kesal ia langsung menoleh ke belakang dan melihat kehadiran Abigail.
“ Sakit tau.” Kata Lily sedikit berteriak.
Abigail tersenyum miring sambil memegang buku tebal. Buku tebal yang sengaja pukulkan kearah bahu Lily.
“ Nih catat. Catat yang semua aku garis bawahi. “ kata Abigail sembari menyodorkan buku tersebut.
Lily mengambil buku itu dan membukanya.
“ Inikan buku yang harus kamu kerjakan sendiri. Ini pelanggaran. Hukumanku hanya membantu kegiatan OSIS. Bukan mengerjakan rangkuman dari pelajaranmu.”
“ Baiklah jika kamu tidak mau. “
Abigail mengambil kembali buku di tangan Lily.
“ Tapi...” katanya lagi. Ia sedikit mendekat kearah Lily dan berkata pelan di telinganya. “ jangan salahkan aku. Jika aku melaporkan ini ke pak Karim.”
Ancaman Abigail membuat Lily kesal. Ia memalingkan wajahnya kearah Abigail dan seketika mata mereka saling bertemu.
Deg... Deg...
“ Perasaan apa ini?” Gumam Lily dalam hati. “ Mengapa dadaku seolah berdebar?” gumamnya lagi.
“ Hey.”
Suara Affan menyudahi ketegangan mereka.
“ Ayolah Abigail “ kata Affan dengan sengaja mendorong Abigail pergi. “ Hari ini banyak hal yang harus kita kerjakan. Dari pendalangan dana untuk musibah banjir dan korban bencana alam. “ jelas Affan sembari merangkul Abigail.
Abigail mengangguk dan pergi meninggalkan Lily yang masih terpaku dalam lamunannya.
Kepergian mereka membuat Lily sadar, ia berlari kearah abigail dan menarik buku yang dikembalikannya.
Abigail yang tidak siap. Malah ikut tertarik ke belakang dan akhirnya mereka berdua jatuh bersama.
Kehebohan mulai terdengar. Beberapa orang siswa dan siswi yang awalnya di dalam kelas ikut keluar. Mereka semua bersorak ketika menyaksikan adegan yang mereka anggap romantis itu.
Ada yg bilang. ‘ So sweet. ‘ dan ada jg yg bilang. “ Wow.”
Riuh suara menyoraki apa yang terjadi. Ketika Lily sadar, matanya yang semula tertutup langsung terbuka.
Deg... Deg...
Mengejutkan sekali ketika kesadaran mereka kembali. Wajah mereka Langsung memerah. Dengan mata yang saling bertatapan, kesadaran mereka kembali akan satu hal lagi. Bibir yang terasa menempel seolah lembut sekali. Jantung mereka pun berdetak dengan irama yang tak beraturan.
Dag... Dig... Duk...
What...! Apa ini?
Pertanyaan itulah yang ada di dalam pikiran mereka. Lily kemudian langsung mendorong Abigail.
Abigail tidak menahan dorongannya. Ia buru-buru berdiri dan membenahi pakaiannya.
Begitu juga Lily. Ia hampir salah tingkah. Berpura-pura membersihkan pakaiannya yang sebenarnya tidak kotor sih.
Mulut Jessika masih ternganga ketika melihat yang barusan terjadi. Sedangkan amat cengar cengir enggak karuan.
“ Aku akan menyalinnya.” Kata Lily sambil mengambil buku paket yang tergeletak di lantai.
Abigail masih merapikan pakaiannya. Ia hanya mengangguk tanpa bicara apapun. Affan yang masih menahan senyum memandang Lily. Seolah matanya ingin berkata.
“ Kau gadis yang benar- benar menarik.”
Jessika buru-buru menghampiri Lily. Dan berkata cukup keras di depannya.
“ Duh, ly. Loe beruntung banget. “
Lily hanya diam sambil kembali berjalan kearah kelas.
“ Beruntung. “ kata amat bingung.
Jessika mengangguk dan kembali berkata.
“Abigail adalah cowok paling keren di sekolah ini. Walaupun dia juga di kenal dengan cowok berkarakter kejam. Tapi, gadis-gadis di sekolah ini paling susah untuk mendekatinya. Apalagi si Debi.”
“ Debi Yulianti yang di bilang bunga sekolah itu, maksudmu? “ potong amat.
Jessika mengangguk dan kembali berkata. “ Debi aja enggak bisa pacarin Abigail. Apalagi sampai berciuman seperti tadi. Itu sungguh mustahil. Tapi, teman kita yang cantik ini. Benar-benar beruntung. “
“ Diam.”
Teriakan Lily yang kebetulan baru meletakkan tasnya diatas meja, membuat Jessika dan amat terdiam. Dia kemudian duduk dan langsung merebahkan kepalanya. Wajahnya yang masih merasa malu sengaja ia tutup dengan buku milik Abigail.
“ Apaan tadi? Aku berciuman. Itu ciuman pertamaku. Mengapa harus dengan dia. Duh rasanya aku malu banget. Apalagi sepulang sekolah aku akan ke ruang OSIS dan bertemu dia lagi. Mau ditaruh mana mukaku.”
Perasaan Lily berkecamuk, gundah, resah dan bimbang dalam malu.