
Lily keluar dari kamar. Ia sudah selesai mengganti kemejanya yang basah. Abigail yang menunggu di meja tengah memandangnya tanpa berkedip.
“ Apa terlihat lucu? “Tanya lily. Ia menunjukkan lengan bajunya yang kepanjangan.
“ Kemarilah “ kata Abigail.
Lily berjalan mendekat ke tempat Abigail duduk.
“ Ada apa ? “ kata Lily cemberut.
Abigail tidak menjawab. Ia langsung berdiri dan meraih lengan baju Lily.
Lily sempat terkejut. Tapi, ketika ia sadar kalau Abigail melipat lengan bajunya perasaannya menjadi lega.
“ Kamu pikir apa.” Kata Abigail. Ia sengaja ingin menggoda Lily.
Lily kesal dan kembali cemberut.
Sedangkan Abigail tertawa kecil. Ia merasa jika gadis di depannya itu terlihat imut.
“ Aku kembali ke kelas.” Pamit Lily.
Dengan perasaan kesal ia berbalik dan melangkah ingin pergi. Tapi, tidak disangka. Tangannya langsung di tahan oleh Abigail.
“ Siapa yang mengizinkan kamu pergi.”
Lily tidak menjawab. Ia berusaha melepaskan tangan Abigail.
“ Jadilah pacarku.”
Perkataan Abigail membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
Pacar...!
Lily berusaha menyakinkan dirinya. Seolah hal yang di dengarnya hanya sekedar halu.
“ Aku serius.” Kata Abigail lagi.
Lily belum menjawab.
Abigail resah menunggu jawaban. Rasa penolakan seolah tidak ingin ia dengar.
“ Aku tidak menyukai mu. Untuk apa aku jadi pacarmu.”
Abigail diam. Ia berlahan mendekat dan tangannya mendekap tubuh mungil itu.
“ Jika kamu tidak menyukai ku. Mengapa tubuhmu tidak menolak.”
Lily mendorong Abigail. Tapi, tenaga Abigail lebih kuat untuk memeluknya.
“ Kita coba dulu berpacaran selama seminggu. Jika tidak cocok. Kau boleh memintaku untuk menjauh.”
Lily menggigit bibirnya. Ia bingung.
Abigail menggeleng dan berkata pelan.
“ Aku bukan seorang Playboy yang mengumbar-umbar komitmen dimana-mana.”
“ Lalu, bagaimana dengan Debi. Bukannya ia pacarmu.” Kata Lily lagi.
“ Aku tegaskan sekali lagi. Debi bukanlah pacarku. Ia hanya seorang putri kepsek yang selalu di lindungi oleh kakek ku. Apa kau paham itu?” jelasnya. “ Sekarang.” Kata Abigail lagi.
Ia melepaskan pelukannya dan menarik lembut dagu Lily dengan ujung jarinya. Mereka berdua pun saling berpandangan. Dan Abigail tak sanggup untuk menahannya. Ia lagi-lagi tidak bisa mengontrol hasratnya. Sentuhan bibirnya seolah menghangatkan segala hasratnya. Ia ingin dan ingin bahkan lagi.
Lily memejamkan matanya ketika Abigail mulai bermain dalam kelembutan. Mereka berdua hanyut dan terbuai akan hal baru yang mereka tanpa sadari kalau itu awal dari cinta mereka.
***
Zein Malik!
Seorang agen CIA yang di keluarkan secara tidak terhormat. Zein terlibat kasus pembunuhan seorang anak pengusaha yang cukup memiliki pengaruh dalam politik.
Keterlibatanya menjadikan hidupnya di permainkan oleh keluarga Erlangga. Dan ketika zein menghilang, ia diam – diam membangun bisnis dengan nama yang lain.
Setelah 3 tahun. Akhirnya penyamaran nya terbongkar. Zein tidak bisa lari lagi. Di hari kebangkrutan nya, ia di culik. Pelakunya pasti keluarga Erlangga. Zein mengetahui itu. Ketika ia melawan dengan perkelahian. Tiba-tiba Indah datang.
Indah di todong dengan senjata. Sedangkan Zein tidak bisa melawan lagi. Ia merasa khawatir jika ia melawan maka nyawa istrinya akan terancam.
“ Lepaska dia. “ kata Zein.
Beberapa orang yang mirip preman itu tertawa.
“ Aku akan ikut kalian. Tapi, aku mohon lepaskan istri ku.”
Mereka tidak menuruti apa yang di ucapkan Zein. Dan malah salah satu dari mereka menelpon seseorang.
Tidak lama si penelepon berbisik ke pria besar yang bertubuh tegap dan berjas hitam.
“ Baiklah.” Ujar pria berjas hitam itu.
Tidak banyak berbicara, mereka menyeret Zein dan indah masuk kedalam mobil.
“ Ayah. Aku takut.” Kata istrinya.
“ Tenanglah bunda. Semua pasti aman. Dia tidak akan mengotori tangannya dengan darah. Paling juga...” Zein menghentikan kata-katanya. Ia khawatir jika istrinya bertambah takut.
Di dalam hati Zein ia mengkhawatirkan satu hal lagi. Putrinya ! Ya ...
Putrinya yang masih berada di sekolah.
Lily Velicsa !