When She Loved Me

When She Loved Me
11. Pertemuan



5 tahun telah berlalu. Kehidupan Lily banyak yang berubah. Kesehariannya hanya di habiskan untuk bekerja. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Baginya waktu adalah uang.


Dari subuh selesai sholat. Ia pergi mengantar koran. Setelah itu, ia kembali bekerja di sebuah warung makan. Dan malamnya ia bekerja di sebuah Diskotik.


“ Kau tidak lelah.”


Pertanyaan amat membuat Lily cengengesan.


“ Lelah.” Kata Lily sambil menyenderkan tubuhnya di dinding.


“ Tidak ada waktu untuk berkata lelah. Aku tidak bisa terus bersantai. Bi Inah sedang sakit. Dan ibuku semakin parah. Ia benar-benar gila. Aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Malah biaya rumah sakit bi Inah makin bertambah. Belum ibuku yang harus tetap di rumah sakit jiwa. Aku pusing, mat. Aku tidak punya pilihan dan mau tidak mau, aku harus cari uang.” Jelas Lily dengan beban yang berat dipikulnya.


“ Setidaknya kamu harus memikirkan dirimu. Tidak selamanya kamu kuat untuk melakukan pekerjaan sebanyak 3 kali dalam sehari.” Tuturnya. “ Aku bisa membantu separuh biaya untuk bi Inah. “ ujar amat lagi.


Lily tersenyum. Dan kemudian menolak bantuannya.


“ Jangan menolak. Aku tulus membantu mu.” Ujar amat lagi.


“ Bukan begitu. Aku malah berterima kasih karena kamu telah memperkerjakan aku di tempat ini. Tapi, jika terus menerima bantuan mu. Aku khawatir jika aku tidak bisa membalasnya.” Jelas Lily.


“ ly.”


Suara Eva terdengar dari pintu.


Lily dan amat berbarengan memandang wanita yang berusia 26 tahun itu.


“ Maaf bos. “ Kata Eva. Ia sadar jika Lily adalah sahabat baik dari pemilik diskotik tempat ia bekerja.


“ Ada apa?” tanya amat seolah tidak senang.


“ Tamu VIP. “ kata Eva cengengesan.


Lily yang mengerti. Segera beranjak dari tempat duduknya.


“ Sepertinya Eva perlu bantuan. Aku pergi dulu, mat. Lain waktu kita bisa ngobrol lagi.”


Amat mengangguk dan membiarkan Lily dan Eva pergi.


“ Mengapa sih enggak ranum aja yang kamu panggil. Malah ngajak aku keruang VIP.” Kata Lily sambil membawa minuman yang di pesan oleh tamu VIP.


“ Ranum. Malas deh. Diakan cewek murahan.”


“ Jaga mulutmu.” Potong Lily. “ Tidak baik menjelekkan teman sendiri.” Sambungnya lagi.


“ Bukan gitu sih ly. Aku malas aja jika ranum yang membantu aku. Dia kan cari muka banget Ama tamu VIP. Apalagi tamu VIP adalah para bos.”


Penjelasan Eva terhenti ketika mereka mulai memasuki ruang VIP.


“ Affan mau menikah. Gila. “ kata pria yang terlihat memeluk seseorang gadis penghibur.


“ Affan.”


Botol minuman yang di pegangnya tiba-tiba jatuh. Sontak seluruh tamu VIP memandang Lily dengan mata yang berkerut.


“ Maafkan teman saya.” Kata Eva sopan.


Ia buru-buru menyadarkan Lily.


“ ly, ada apa sih. “ tanya Eva yang bingung dengan sikapnya.


Lily hanya diam. Ia menundukkan matanya setelah melihat pria yang sudah 5 tahun ini ingin sekali ia lupakan.


Tuhan sedang mempermainkan aku.


Keluh Lily dalam batin.


“ Maafkan saya tuan.” Kata Lily. Ia membereskan pecahan botol dan kemudian pergi tanpa menghiraukan Eva.


Affan yang tersenyum tipis melirik kakak sepupu nya dengan mata yang menusuk.


“ Aku paham jika kau mengajakku kesini.” Ujar Affan.


“ Pemahaman yang bodoh.” Ujar Abigail seenaknya.


“ Ingat, Abi. Jika kakek tahu tentang Lily. Ia tidak akan diam dan tidak akan membiarkan anak dari pembunuh putranya mengganggu cucunya.”


“ Aku tahu itu.” Jawab Abigail santai.


“ Tapi, jika dilihat. Ekspresi Lily seolah melihatmu seperti melihat setan. Kebencian diwajahnya seolah menunjukkan ia tidak ingin berurusan denganmu.”


Abigail hanya diam. Ia mengingat kembali kejadian 5 tahun lalu. Ketika ia berpisah dengan Lily. Amplop yang di pegangnya seolah membuat ia penasaran. Ia membuka amplop coklat itu ketika Lily melambaikan tangan perpisahan.


Dengan mata yang terkejut ia menatap foto pria yang ada didalam foto tersebut.


Zein Malik!


Ya, benar sekali Zein Malik.


“ Tidak mungkin.”


Abigail berusaha membohongi dirinya. Ia paham akan perubahan sikap lily. Sopan dan tidak ketus lagi.


“ Apa ia takut kepadaku?”


Pertanyaan itulah yang hingga kini membuatnya prustasi.


Ketika Abigail melanjutkan pendidikan nya ke London. Ia seperti seorang yang berbeda. Demi melupakan cintanya. Ia terus menggonta-ganti wanita. Dan malah di cap sebagai playboy. Abigail pikir, ia bisa melupakan Lily dari dalam hatinya. Tapi, entah mengapa. Bayangan gadis yang ia cintai seolah seperti hantu. Hingga 5 tahun berlalu. Abigail akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan Lily.


“ Jika aku tau. Pria itu ayahnya. Aku tidak akan membunuhnya. Tapi, apakah ini karma. Aku benar-benar prustasi.” Kecamnya dalam batin.