
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_9
#by: R.D.Lestari.
Semenjak kejadian di perkemahan, Kia menjadi anak yang pendiam. Ia jadi pemurung dan tak banyak bicara.
"Ma, Papa, Kia berangkat ke kampus dulu, ya," Kia mencium punggung tangan Mama dan Papanya. Setelah mendapat kecupan di kening, Kia melangkah pelan meninggalkan kedua orang tuanya di ruang makan.
"Mbak temani, ya, Dek," Dita melingkarkan tangannya di pundak Kia. Ia yakin ada sesuatu pada Adik bungsunya itu karena tiba-tiba menjadi amat pendiam.
"Ga usah, Mbak. Kia bisa pergi sendiri," tolaknya halus.
"Naik apa? motor?"
Kia mengangguk, tapi langkahnya tetap terayun.
"Nanti item, Dek. Ayolah, sama Mbak aja. Naik mobil," kali ini Dita sedikit memaksa.
"Ga usah, Mbak. Terima kasih, Kia mau naik motor aja, assalamualaikum Mbak," satu kecupan mendarat di pipi saudarinya itu. Kia bergegas menaiki motornya sembari melambai ke arah kakak perempuan satu-satunya itu. Kia amat mengerti jika Dita khawatir pada dirinya, tapi Kia tak mau mereka tau. Biarlah ini akan menjadi rahasia dalam hidupnya sampai kapan pun.
***
Pikiranku sama sekali tak fokus. Berulang kali aku hampir menyenggol pengendara lain saat motor melaju dalam keadaan kencang.
Siluet-siluet perbuatan Joe dan teman-temannya malam itu berulang kali mengganggu pikiranku. Setiap saat kejadian itu menjadi mimpi buruk. Aku susah tidur dan tak pernah nyenyak.
Brummm!
Kutambah kecepatan motor scoopy merah kesayanganku, menembus jalan yang padat merayap. Aku tak perduli, biarpun aku harus mat*. Aku merasa hancur dan tak ada gunanya. Hidup sudah hampa.
"Kia!"
Ckittttt!
Suara seseorang membuyarkan pikiranku. Segera kutepikan motorku ke pinggir jalan. Mencari siapa gerangan yang memanggilku di tengah jalan tadi.
Ckitttt!
Sebuah motor jadul astrea ikut menepi di belakangku. Seorang lelaki berjaket hitam dan berhelm hitam turun dari motornya dan menghampiriku.
Aku memperhatikan dari ujung helm sampai ujung kaki, kuperkirakan lelaki itu berumur di atas empat puluh tahun karena gayanya kampungan dan terkesan jadul. Memakai kemeja dan celana dasar model kakek-kakek menurutku.
Lelaki yang tak ku kenali itu membuka kaca helmnya dan mulutku ternganga begitu melihat wajahnya. Senyum manis terulas di wajahnya yang manis dan cukup tampan.
"Kia, kamu ngapain naik motor kebut-kebutan begitu?"
"Ha--Hadi?"
"Ya, ini aku. Kenapa?"
Aku tak mungkin jujur padanya. Gayanya itu sungguh ga banget. Ya ampun. Bener-bener kampungan dan terkesan ndeso. Aku ga bisa bayangi kalau dia masuk ke kampus dengan gayanya yang menurutku ketinggalan jaman dan ga up-to-date.
"Ah, ga. Aku kira siapa,"
"Ayo, kita ke kampus barengan. Aku ikuti dari belakang. Khawatir nanti kamu kenapa-napa. Bawa motor ngebut begitu," ceracau Hadi.
"Ya, benar, tapi kamu bawa motor seperti anak kecil, Kia. Ngebut dan tak tau aturan,"
Brummmm!
Aku mencebik dan meninggalkan Hadi yang masih mengomeliku. Entah kenapa kepalaku tambah pusing mendengar ocehannya.
"Kia...!"
***
"He-he-he, gaya nya sama persis seperti kakekku, ampun deh, hari gini ada orang jadul kayak begitu," suara berbisik tapi terdengar jelas di telingaku. Beberapa orang gadis tertawa melihat Hadi yang sedang membaca di bawah pohon tak jauh dari kelas.
"Is, aku mah ogah punya pacar begitu. Jadul. Berasa pacaran sama kakek-kakek," cetus gadis berbaju merah.
Awalnya aku tak mau peduli dengan ocehan mereka, dan memang kuakui gaya Hadi memang amat memalukan. Namun, lama kelamaan aku seperti tak rela jika Hadi di permalukan terus menerus seperti ini.
Aku beranjak dari dudukku. Melangkah mendekati para gadis yang masih menggosipkan Hadi.
"Hai, kalian barusan ngomongi Hadi?" tembakku. Mereka terlihat terkejut dan menatapku salah tingkah.
"Eh, Kak Kia. Eng-enggak kok, Kak,"
"Kamu tau Hadi yang kalian omongin barusan itu siapa?" mereka serentak geleng-geleng.
"Hadi itu calon tunanganku! jadi, jangan macam-macam kalian, jika tak mau urusan kalian di kampus susah. Kalian tau kan siapa aku?" Aku menatap tajam mereka yang saat ini menatapku dengan takut. Sedikit ancaman dan kebohongan kurasa cukup untuk para gadis penggosip ini.
"I-- iya, ma--maaf, Kak,"
Tanpa menjawab sepatah katapun, aku berlalu dengan congkak meninggalkan mereka menuju Hadi yang saat itu masih asik membaca.
"Di, nanti sore kita jalan, yuk," ajakku .
"Na--nanti sore? mau kemana?" Hadi menutup buku bacaannya dan menatapku bingung.
"Dah, ikut aja,"
"Ki, aku mau tanya sesuatu,"
"Mau tanya apa, Di?"
"Kakimu masih sakit? susah tidur, ga?"
"Mmm, lukaku sudah sembuh, tapi itu yang aku herankan. Kenapa terkadang masih terasa amat sakit," aku berusaha jujur.
"Ada apa, Di? kamu sepertinya amat khawatir dengan lukaku ,"
"Ah, tidak. Aku hanya takut jika malam itu yang menggigitmu bukan makhluk biasa, tapi makhluk jadi-jadian ," jawabnya . Raut kekhawatiran terekam jelas di sana.
"Kamu jangan menakutiku, Di. Itu pasti binatang buas biasa ," sahutku.
" Apa kamu ga memperhatikan makhluk itu, Ki?"
" Ga, sih. Yang kulihat ia seperti beruang ,"
"Kamu salah Ki, makhluk itu seperti manusia, tapi tubuhnya lebih besar dengan moncong dan bulu seperti srigala. Ia manusia srigala,"
"Manusia srigala?"