
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_7
#by: R.D.Lestari.
Kia memalingkan wajahnya saat debaran jantungnya tak beraturan. Wajahnya bersemu merah. Ia sungguh tak menyangka di balik gayanya yang kampungan dengan rambut tesisir rapi miring ke kanan dan kacamata yang di kenakannya, ternyata Hadi punya wajah yang amat tampan dan tubuh sexy yang mengagumkan. Berotot dan kulitnya yang tan, tidak putih cenderung sawo matang itu bersinar di terpa sinar matahari yang mulai menyengat.
"Astaga ... apa yang aku pikirkan?" Kia menepuk wajahnya. Ia menyentuh dadanya yang berirama bak genderang perang.
Kcipak-kcipak!
"Kia ... ayo, kita bakar ikannya. Ini aku dapat ikan besar," Hadi berteriak memanggil Kia yang memunggunginya.
"Iya, Di. Masak aja, aku nunggu di sini,"
Hadi menatap Kia heran. Kia tak jua mau menatap dirinya, tapi akhirnya Hadi tak menghiraukan Kia. Ia lebih memilih ranting kering di sekitar sungai dan menatanya hingga menjadi tumpukan. Perlahan ia merogoh kantongnya dan mengambil koset berwarna biru yang selalu di bawanya.
Blassssh!
Kretek-kretek!
Koset di hidupkan, tak lama api pun menyala membakar ranting kering yang di tata sedemikian rupa.
Ikan berukuran dua telapak tangan orang dewasa berwarna jingga itu ia tusuk dan di letakkan di atas api yang mulai membesar.
Indra penciuman Kia menangkap bau yang sangat lezat. Perutnya langsung keroncongan, ia amat tertarik untuk segera menyantap ikan panggang yang Hadi buru tadi. Namun, ia malu untuk menatap Hadi yang bertelanjang dada.
"Kia ... ayo, kita makan. Ini ikannya sudah matang," suara Hadi membuyarkan lantunan Kia. Gadis itu menoleh dan wajahnya semakin memerah saat melihat Hadi berada amat dekat di belakangnya.
Rambutnya basah dengan mata coklat yang bersinar. Bibirnya tipis dengan alis mata tebal membuat tubuh Kia beku dan mematung.
"Kia ... kamu kenapa?" tangan Hadi bermain di depan wajahnya, membuat Kia tersadar dari lamunannya.
"Ah, ga kenapa-kenapa, Di. Mmmm....baunya enak sekali," Kia mengendus ikan panggang yang di berikan Hadi.
"Makanlah, agar perutmu terisi dan tenagamu pulih. Aku yakin sekarang orang-orang sedang mencari kita. Setidaknya kita bisa bertemu mereka di pertengahan hutan," jelas Hadi.
Bukannya mendengarkan, sambil mengunyah ikan, tatapan mata Kia malah tertuju pada dada bidang Hadi dan perutnya yang membentuk kotak-kotak yang menggemaskan.
Tanpa sadar tangan Kia terulur dan jarinya mulai menyentuh dada bidang pria di depannya. Hadi terhenyak tatkala tangan gadis itu menyentuh tubuhnya.
"Kia ... apa yang kamu ...,"
"Ah, ma--maaf, Ha--di," Kia segera menarik tangannya. Ia merasa amat bod*h karena kelakuannya itu.
"Maksudmu, Hadi ? tubuh indahmu ini bukan karena rajin berolahraga?"
"Bukan, tapi karena aku bekerja membantu orang tuaku di ladang. Bertani mengolah tanah agar gembur dan tanamanku subur,"
"Demi ingin melanjutkan kuliah, selain belajar aku harus rajin membantu orang tua. Niatku ketika aku sukses nanti, orang tuaku tak boleh susah lagi bertanam di ladang dan jadi petani . Aku ingin menggaji orang dan mereka santai di rumah,"
Tanpa sadar bulir bening Kia merembes di bawah pelupuk matanya. Ia terenyuh pada cerita Hadi yang amat menyentuh hatinya.
Selama ini ia hidup bergelimang harta, apa yang dia mau pasti di kabulkan orang tuanya. Tak pernah bekerja , bangun siang semua sudah di siapkan pembantunya.
Sungguh bertolak belakang dengan kehidupan Hadi yang harus bekerja banting tulang demi cita-cita dan orang tuanya. Akhirnya ia mengerti mengapa Hadi tak sama dengan teman-teman lainnya.
"Kamu ... menangis?" tangan Hadi menjulur ke arah wajah Kia dan jemarinya mengusap airmata yang membasahi pipinya.
"A-- aku ...,"
"Apa kakimu terasa sakit?"
Kia menggeleng pelan. Ia mengusap matanya yang masih menyisakan bulir-bulir airmata. Ia tak ingin Hadi tau isi hatinya. Takut ia tersinggung dan membuatnya marah.
"Ayo, Ki. Kamu lanjuti makannya sambil ku gendong. Hari semakin siang, aku takut nanti kita tersesat. Bagaimana pun kita harus kembali ke perkemahan, kamu harus segera di obati,"
Kia mengangguk dan perlahan naik ke punggung Hadi yang masih dalam keadaan bertelanjang dada. Terpaksa jari jemari Kia menyentuh dada bidangnya yang sejak tadi menjadi magnet baginya. Sambil tersipu malu Kia memalingkan wajahnya memperhatikan rumpun bambu dan aliran air yang tenang.
"Di, kamu tak memakai bajumu?" Kia memberanikan diri untuk bertanya.
"Bajuku basah, Ki. Kalau aku tetap memakainya, aku bisa masuk angin," sahutnya sambil terus berjalan melewati semak-semak dan masuk kembali ke dalam hutan. Kia manggut-manggut. Kedua anak muda itu memulai perjalanan mereka untuk kembali pulang menuju perkemahan.
***
Sementara di perkemahan semua orang resah mencari Kia dan Hadi yang tiba-tiba menghilang. Sasi orang pertama yang diinterogasi pengajar. Dalam keadaan genting ,Sasi berusaha setenang mungkin. Ia tak mau orang-orang curiga, apalagi saat Nindi dan Sari terus menyudutkannya, karena mereka yakin jika semalam Kia pergi bersamanya.
Berbagai alasan ia kemukakan . Kebohongan demi kebohongan menjadi jawaban untuknya . Ia benar-benar tak ingin masuk ke dalam masalah.
Puas mencari informasi yang tak kunjung mereka dapati, akhirnya para pembimbing dan pengajar mengerahkan semua murid untuk bekerja sama mencari Hadi dan Kia ke dalam hutan.
Dalam pencarian, banyak juga suara sumbang yang bergosip jika Hadi dan Kia sengaja masuk ke dalam hutan untuk berbuat mesum karena mereka berpacaran, tapi banyak juga yang tak percaya dan menyangkal.
Gosip itu sengaja di lontarkan Joe dan kawan-kawannya untuk membuat opini, berjaga-jaga jika Kia di temukan dalam keadaan selamat dan mengungkap semua kebusukannya .
Murid yang mencari di pisahkan menjadi beberapa rombongan. Mereka bersiap dan masuk ke dalam hutan bersamaan dan berpencar agar cepat menemukan Kia dan juga Hadi.
Setelah beberapa menit perjalanan, tiba-tiba ...