Werewolf Girl In Love

Werewolf Girl In Love
part_20



Bismillah


  


         Werewolf Girl In Love


#part_20


#by: R.D.Lestari.


Titan seolah tak perduli dengan ucapan Joe. Ia terus mempercepat langkahnya. Joe pun akhirnya mengikuti langkah Titan.


"Jo--Joe ....,"


Mata Joe dan Titan terbelalak saat melihat Hadi berdiri di hadapan mereka. Hadi melangkah pelan ke arah mereka.


"Heh, mau apa loe, anak kampung!" hardik Joe angkuh.


"Maaf, aku tak bermaksud mengganggu kalian," pelan, tapi mereka sadar ada sesuatu yang ingin di sampaikan Hadi pada mereka.


Baru saja Hadi mendekat, tiba-tiba...


"Aaa!" terdengar lengkingan suara menyayat hati yang berasal dari dalam rumah sakit. Dan, seketika rumah sakit menjadi ramai. Orang berlarian dan berdatangan ke arah suara, begitu juga Joe, Titan dan juga Hadi. Mereka berhambur ke sumber suara.


Ikut berlari bersama orang-orang , menyusuri koridor-koridor dan akhirnya mereka berhenti di sebuah ruangan yang saat itu orang-orsng sedang berkumpul dan berteriak histeris.


Joe tertegun begitu juga Titan. Mereka saling berpandangan seolah tak percaya. Ruangan itu, ruangan tempat di mana Firman teman mereka dirawat.


Langkah Joe dan Titan terasa berat, mereka menelan saliva dengan susah payah.


Joe menyibak orang-orang yang mengerumun di depan ruangan, hingga mata mereka bisa melihat apa yang terjadi dengan seseorang di dalam sana. Benar saja, seolah tak percaya, nanar mereka melihat Firman dalam keadaan yang benar-benar mengenaskan.


Firman bersimbah darah. Lehernya tersayat dengan belati yang menancap di dadanya. Darah menetes tanpa henti membanjiri ranjang hingga lantai.


Tak menunggu lama polisi sudah berada di tempat dan dari CCTV rumah sakit hanya terlihat kelebatan makhluk besar berbulu dengan gerakan gesit dan lincah.


Hadi yang ikut ke ruangan menjadi saksi berikut Joe dan Titan, karena tamu terakhir Firman adalah mereka bertiga. Hadi pun ternyata sempat menemui Firman.


Selama beberapa jam mereka di periksa dan saat itu pula Hadi hanya banyak terdiam. Ia diliput rasa bingung dan bimbang.


Kasus di tutup karena jelas bukan manusia yang membunuh Firman. Walaupun mereka sadar jika perbuatan itu juga murni bukan perbuatan hewan liar biasa. Secara logika, mana ada hewan yang bisa memakai pisau dan menyayat leher mangsanya seperti seorang psikopat?


Sepanjang perjalanan Hadi hanya termenung, begitu pun dengan Joe dan Titan. Hati mereka di selimuti rasa takut dan was-was. Lagi, salah satu sahabat mereka harus meregang nyawa, dan bukan tak mungkin giliran mereka akan segera datang. Walaupun mereka masih ragu apakah semua ada kaitannya dengan Kia, gadis yang mereka perk*sa secara bergilir dan tanpa ampun malam itu.


Mereka saling terdiam tanpa berucap satu katapun. Dalam benak mereka masing-masing terselip rasa khawatir, dendam, benci dan bingung. Tak ada satu katapun yang bisa menggambarkan perasaan mereka yang saat ini sedang gamang. Hanya mata mereka yang kosong, seolah menunggu waktu kematian tiba.


***


Pov Firman.


Sepi dan mencekam. Setelah sempat bersitegang dengan Titan dan Joe, aku merasa amat ketakutan. Seolah ada seseorang yang mengintai.


Sretttt-srettttt!


Seolah ada benda yang bergerak di balik jendela. Kurasa tak mungkin. Karena aku berada di lantai dua dan di luar adalah balkon yang tak mungkin ada seseorang di sana. Pintu masuk hanya dari kamarku saja. Apakah mungkin rumah sakit ini berhantu ?


Brukk!


Kembali kudengar suara seperti dinding yang di tabrak tubuh seseorang.


Kretttt-krettt!


Bunyi kuku terasa amat nyaring terdengar di telingaku. Menakutkan dan sangat mencekam. Bulu romaku berdiri seketika. Aku memegang tengkuk dengan susah payah. Tubuhku sangat sulit di gerakkan.


Brakkk!


Cranggg!


Dalam hitungan detik jendela kaca seperti sengaja di tabrak dan seketika itu juga pecah berhamburan di lantai.


Napasku tercekat saat itu juga tapi tempat itu terasa amat sepi dan gerakan cepat sosok yang memaksa masuk menyibak tirai jendela.


Makhluk tinggi berbulu dengan moncong dan buah dada yang menyembul tertutup bulu itu menyeringai buas melihatku. Bukan tatapan karena *****, tapi tatapan ingin membunuh.


Tangan kanan makhluk itu membawa belati tajam yang dengan cepat melesat ke arahku.


Slappps!


"Aaa!"


Itulah pekikan terakhir sebelum suaramu terasa amat tercekat dan merasakan sakit juga perih yang teramat sangat saat belati itu beramai dileherku bak gergaji yang maju mundur. Kepalaku terdongak dan sosok itu tersenyum penuh kemenangan. Aku masih tersadar dan merasai sakitnya saat belati itu di tarik kembali dengan luka menganga di leherku dan darah yang menyemburat di antara tubuh dan wajah binatang buas itu.


"Rasakan pembalasanku, bajingan!"


Clappp!


Suara itu, suara terakhir yang kudengar setelah kurasakan sesuatu menghujam jantungku dan seketika gelap. Hampa dan aku dibalut dengan kesunyian abadi.


***


Rumor tentang manusia srigala terdengar sampai di telinga Tuan Wijaya dan Nyonya Erika Wijaya. Pasangan sukses itu semakin kalut meninggalkan Kia yang terkadang di rumah seorang diri.


"Bagaimana jika Mama menyuruh Hadi menjadi pengawalmu, Kia? Mama rasa ia sangat cocok untuk menjagamu," pagi ini Mama seperti singa yang ingin menerkamku. Ia amat khawatir dan terkesan lebay.


"Jangan, Ma. Nanti mereka malah mesum di rumah," sela Dito terkekeh.


"Apaan, Kak. Aku dan Hadi hanya teman, itu saja," aku mencebik.


"Jaga bicaramu, Dito. Mama bisa melihat bagaimana Hadi amat melindungi Kia. Dia orang baik, Dito," Mama menatap nyalang ke arah Dito.


"Ya, aku setuju. Hadi anak yang sopan dan baik," Kak.Dita menimpali.


"Bagaimana, Kia. Kamu setuju?"


Aku berpikir keras. Tak ada salahnya aku menerima tawaran Mama. Dengan begitu, aku bisa membantu keuangan Hadi. Kehidupan kota amat keras baginya, ia pasti butuh banyak uang untuk mencukupi keperluannya.


Aku yakin Mama dan Papa punya banyak uang dan pasti mereka bisa membayar mahal.


"Baiklah, Ma. Nanti Kia akan menyuruhnya datang ke rumah. Biar bisa bicara langsung sama Mama. Sekarang aku pergi dulu, Ma, Pa.  Da-da, Kak," aku melambai kepada keluarga besarku ini. Mengulas senyum semanis mungkin sebelum akhirnya aku hilang bersama motor kesayanganku.


***


Saat tiba di kampus , aku segera berlari kecil mendekat ke arah Hadi. Pria macho itu nampak terkejut melihat kedatanganku. Gegas ia bangkit dan menyeretku menjauh dari kerumunan.


"Berhenti membunuh orang-orang, Ki. Kau dalam bahaya," bisiknya tepat di telingaku. Ia mencengkeram tanganku cukup kencang.


"Jangan sok tau, aku lihai dan sudah terbiasa. Kau tak perlu cemas, Hadi," jawabku santai.


"Ini bukan cuma tentang kamu, tapi tentang kita," ucapnya.


"Tentang kita?"


"Ya, Kia. Tentang kita. Aku tak bisa membayangkan jika akhirnya kau tertembak , terpanah, atau terbakar. Aku bisa mati jika melihatmu dalam bahaya, Kia," Hadi menarik tanganku dan membawanya menuju dada bidang yang amat kudamba.


"Rasakan, Kia. Rasakan detak jantungku yang selalu meronta bila berada dekat denganmu. Aku mencintaimu, Kia. Aku amat memujamu, aku mohon, berhentilah Kia! sebelum semua terlambat!"


Mata Hadi berkaca-kaca. Bibirku bergetar mendengar ucapan Hadi. Antara sedih dan bahagia jadi satu. Aku tak pernah sebahagia ini dalam.l hidupku. Aku merasa amat sangat dicintai.


"Ha--di?"


***