
Bismillah
Werewolf Girl In Love
#part_18
#by: R.D.Lestari.
Berita kematian Doni terang saja membuat semua orang di kampus gempar. Bagaimana tidak, setelah kematian Ferdi, Doni menyusul hanya beberapa minggu. Mereka pun satu gank dan juga sahabat akrab. Siapa yang tidak tau gank mereka, gank yang di ketuai Joe terkenal bengis dan suka membulli.
Hanya beberapa orang saja yang sedih dan kehilangan dengan kepergian Doni. Lainnya bersuka cita karena satu lagi pemuda pengganggu lenyap dari kampus mereka. Tak bedanya Kia, Kia semakin menunjukkan kekuatannya. Ia semakin cantik dan punya aura yang berbeda. Setiap mata lelaki pasti tertuju padanya.
Berkat jiwa monster dalam dirinya , Kia mulai sering berkata kasar, tubuh nya menjadi semakin kuat, dan tak bisa dipungkiri ia semakin cantik dan sintal.
Semakin banyak lelaki yang mendekatinya, Kia semakin suka. Ia menjadi wanita yang cukup murah karena sering bergonta-ganti pria, jiwa monsternya menjadikan Kia gadis yang binal. Amat bernafsu dan suka sekali bercinta.
Hadi semakin sulit bertemu dengan Kia, karena Kia selalu di kelilingi banyak pria. Sifat Kia yang berubah drastis membuat Hadi semakin mundur teratur. Kia sebenarnya tau, tapi ia memilih menjauh karena tak ingin Hadi masuk dalam lingkaran terkutuknya. Biarlah ia saja yang merasakan. Hadi, jangan sampai terluka.
***
Kali ini Firman yang mendapat teror melalui telepon rumah miliknya. Nomor yang sama menelponnya berulang kali. Nada dan kata-katanya sama," kau selanjutnya!"
Itu cukup membuat Firman di cekam ketakutan. Berulang kali ia mencari Joe, tapi nihil. Semenjak kematian Ferdi dan Doni, Joe bak di telan bumi. Ia menghilang tanpa jejak.
Firman yang saat itu pulang dari kampus diikuti mobil Kia dari jauh. Rupanya perbuatan Kia di ketahui oleh Hadi. Lelaki manis itu mengikuti Kia dari jauh.
Sungguh di luar dugaan. Kia mengikuti Firman hingga masuk ke jalan yang hanya cukup dua mobil dan di samping kanan kirinya hutan lebat juga jurang.
Mobil Kia melaju cepat dan ...
Brakkk!
Beruntung jarak antara mobil Kia dan motor Hadi terpaut cukup jauh hingga Hadi berhasil mengerem mendadak dan melihat kecelakaan mobil Firman dari jarak yang tidak dekat, tapi bisa di pastikan jika mobil Hadi masuk ke dalam jurang yang amat dalam.
Lidah Hadi seketika menjadi kelu. Tubuh nya gemetar hebat melihat salah satu teman kampusnya sedang berjuang melawan maut di bawah sana, sedangkan yang tega berbuat kejam itu adalah Kia, gadis yang di cintainya.
Brummm!
Setelah menyenggol mobil Firman hingga masuk ke dalam jurang, Kia kembali memacu mobilnya kencang, melesat secepat kilat membuang jejak pembunuhan berencana. Sebuah senyuman tersungging di bibir merahnya. Ia kira kejadian ini tak ada seorang pun yang mengetahui karena jalanan sepi, dan ia tak menyadari jika ada sosok Hadi yang bisa menjadi saksi.
Hadi menghentikan kendaraannya. Urusan Kia itu nomor dua. Yang terpenting sekarang Firman mendapat pertolongan.
Hadi merogoh kantong celananya dan mengambil benda pipih dari sana. Jarinya bermain di layar dan tak lama mobil polisi dan ambulans datang.
Seketika kawasan itu menjadi ramai dan penuh sesak. Mereka penasaran ada mobil polisi dan ambulans yang masuk wilayah mereka.
Mobil Firman akhirnya ditemukan terperosok hampir menyentuh dasar jurang, beruntung mobil hitam itu tersangkut di sebuah batang tua yang memang kokoh dan sudah berumur puluhan tahun.
Agak ringsek sedikit setelah terjatuh belasan meter dari jalan, tapi akhirnya Firman bisa bernapas lega karena nyawanya bisa selamat. Walau ia menderita patah tulang dan luka di dahinya, ia tetap bersyukur masih bisa bernapas.
Saat ia akan di bawa ke mobil ambulans, ia tak sengaja melihat Hadi yang berlari mendekatinya. Hadi melemparkan senyum getir begitu melihat Firman melambai ke arahnya.
"Kamu kenapa bisa di sini, bro?" ucap Firman saat Hadi mendekat. Di antara lima orang anggota gank, Firmanlah yang paling ramah. Ia sebenarnya anak yang baik, tapi karena salah pergaulan, ia ikut-ikutan jadi anak yang brengsek, sama seperti teman-temannya.
"Aku tak sengaja melintas, dan akupun tak tau jika mobil yang jatuh ke jurang itu mobilmu, Fir," Hadi menjawab sekenanya.
"Akhhh," rintih Firman.
"Mas harus segera ke rumah sakit. Nanti aja di lanjuti ngobrolnya," seru perawat dengan mendorong ranjang Firman dan membawanya masuk ke dalam ambulans.
"Di, sampaikan maafku pada Kia!"
Ucapan Firman menggema di dalam mobil ambulans, sebelum mobil itu ditutup kuat dan melesat membelah keramaian jalan.
Hadi tertegun mendengar ucapan Firman berusan. Apa ia tahu jika yang menabrak mobilnya dari belakang itu Kia? atau cuma firasat saja?
***
Hadi sempat melirik mobil yang juga terparkir di halaman rumah. Itu berarti Kia ada di dalam rumah. Hadi mempercepat langkahnya dan segera mengetuk pintu.
Tok-tok-tok !
Berulang kali Hadi mengetuk pintu tapi tak jua ada yang menyahut dari dalam. Rumah amat sepi.
Tok-tok-tok!
Hadi mengulang ketukannya. Ia berdiam diri beberapa menit sebelum akhirnya suara seretan kaki terdengar samar.
Kriettt!
Pintu berderit. Dari dalam rumah menyembul wajah seorang wanita cantik yang menatap nya tak ramah.
"Mau apa kamu ke sini? ada perlu apa?" suara penuh tekanan seperti sedang mengintrogasi.
"Aku butuh bicara, Ki,"
"Bicara aja di sini, aku sibuk," sahutnya jutek.
"Ga bisa, Ki. Apa yang bakal aku omongin ini bisa bahaya jika terdengar orang lain," Hadi setengah berbisik.
"Oke, baiklah. Silahkan masuk,"
Hadi segera masuk dan menutup pintu. Tanpa menunggu izin Kia, lelaki itu menarik tangan Kia dan memaksanya duduk berhadapan dengannya. Kia yang awalnya ingin pindah karena tak tahan menatap wajah dan mata Hadi, tak mampu berdiri karena tangan Hadi yang mencengkeram lengannya.
"Kamu jangan ke mana-mana, tetap diam di rumah jika tak ingin di penjara," Hadi berbicara serius kepada Kia.
"Apa maksudmu? aku tak mengerti maksudmu," sahut Kia sedikit marah. Jantung nya berdegup kencang saat Hadi menatap jauh ke dalam mata nya.
"Jangan berpura-pura, Kia. Aku tau kamu yang tadi sengaja menabrak mobil Firman dan melesat pergi seperti tak punya hati,"
Degh!
Kia menelan salivanya susah payah. Darimana Hadi tau?
"Aku sengaja mengikutimu, Kia. Karena ku lihat sikapmu amat jauh berubah. Kamu bukan Kia yang ku kenal dulu," mata Hadi menatap sepasang mata Kia bergantian.
"Kamu ...,"
"Murahan, 'kan. Aku tau semua orang menyebutku begitu, termasuk kamu," Kia melepas genggaman tangan Hadi.
Ia beranjak ingin meninggalkan Hadi, tapi lagi-lagi tangan Hadi meraih tangannya dan menyentaknya, hingga Kia terjatuh tepat di atas tubuhnya.
Untuk sepersekian detik mereka saling berpelukan, mata mereka saling bertemu, getaran asmara kembali menjalar.
"Lepaskan, Hadi. Aku tak ingin hubungan kita lebih jauh lagi," Kia mengurai pelukannya dan kembali duduk di samping Hadi.
"Kenapa? apa karena aku anak petani? aku orang miskin? jadi aku tak ...," jari Kia seketika menempel di bibir Hadi. Lelaki itu seketika terdiam.
"Bukan karena itu, aku yang tak pantas untukmu, aku, ya... kau tau siapa aku," Kia mengulas senyum getir.
"Tapi, aku sangat mencintaimu, Ki. Aku akan menerima dirimu apa adanya asal kamu berniat berubah demi aku," Hadi menatapnya penuh harap.
"Bukan cuma itu, Di. Ada sesuatu dalam tubuhku yang tak mungkin bisa membuat kita bersatu, karena...,"
"Karena apa, Ki ...,"
"Karena aku seorang Werewolf!"
****