
Werewolf Girl In Love
#part_16
#by:R.D.Lestari.
"Doni!"
"Jo--Joe?"
Doni mendadak heran dengan tingkah Joe yang seolah melindungi Kia dan berlagak sok jadi pahlawan untuk gadis berkulit putih yang masih asik melahap pentol bakso di hadapannya.
Joe berjalan cepat ke arah Doni yang sudah menurunkan kembali tangannya, sedang Kia seolah acuh dengan kedatangan James yang tiba-tiba. Ia amat yakin jika saat ini Joe di rundung ketakutan yang maha dahsyat
"Kamu tak kenapa-kenapa, kan, Ki?"
Joe tersenyum lebar menampakkan giginya yang tak beraturan. Senyum yang nampak sekali di paksakan karena keadaan.
Gadis itu hanya diam mematung seolah tak mendengar ucapan Joe yang hanya berjarak semeter dari nya. Ia tetap acuh dan melahap makanannya tanpa rasa terganggu sedikitpun.
Melihat tingkah Kia, Doni naik pitam. Ia mengepalkan tangannya dan mendaratkan tinju tepat di atas meja.
Brakkk!
Semua yang berada di kantin terdiam dan mata mereka menyorot kesal ke arah Doni yang amat berisik.
Kia mendongak dan melirik ke arah Doni. Amarahnya pun membuncah. Tak sabar rasanya melahap daging Doni dan mencabik-cabik wajah jeleknya itu.
"Dasar wanita murahan! masih bisa
"Emmmhhhpp!"
"Maafkan, Doni, ya Ki. Kami permisi,"
Belum sempat Doni menyelesaikan ucapannya, Joe membekap mulutnya dan menyeret Doni menjauh dari kantin.
Kia melemparkan pandangannya kembali pada mangkuk bakso, dalam hatinya ia teramat marah, tapi tetap ia tahan. Semua rencananya harus benar-benar matang sebelum semua tau siapa dirinya.
***
Di sudut ruangan, Doni dan Joe berbicara dengan berbisik-bisik. Wajah mereka menegang dan saling beradu argumen.
"Loe kenapa, Joe? tiba-tiba baik dengan Kia, cewek jal*ng itu," Doni berdecak kesal.
"Shuuut, diem loe, goblo*,"
"Apaan, sih, loe Joe! tadi baik-baik ngomong sama Kia, nah sekarang malah ngatain gua!" Doni menjawab kesal ucapan Joe barusan.
"Loe tau ga, umur loe di ujung tanduk!"
"Maksud loe, apa, Joe? loe baca surat di loker gue?"
"Bukan itu, sini," Joe menarik tangan Doni dan mengajaknya duduk berhadapan di meja paling belakang.
"Loe, tau, Don. Makhluk menyeramkan yang membunuh Ferdi itu pasti utusan Kia. Gue yakin itu," pandangan Joe menyisir ke segala arah, takut jika ada orang yang mendengar.
"Loe jangan mengada-ada, Joe. Gue ga takut,"
"Jangan sombong, loe, Don. Loe belum liat aslinya tuh makhluk. Gede banget, Don. Kukunya tajam kek pisau," Joe menajamkan pendengarannya saat terdengar langkah kaki menuju kelasnya.
"Shuuurtt, ada orang ke sini," Joe menarik Doni keluar dari kelas. Doni bak kerbau yang di cucuk hidungnya, ikut ke mana Joe mengajak nya pergi.
Bughhh!
"Woy, gila, loe! jalan lihat-lihat, dong!" maki Doni saat tak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.
Buggh!
"Akh...," pemuda bermata coklat yang ternyata adalah Hadi itu merintih kesakitan saat pelipisnya mengeluarkan sedikit darah akibat tinjuan Doni.
Kia yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Doni, mengepal tangannya marah. Ia amat kesal dengan tingkah Doni yang angkuh.
"Rasain, loe. Makanya jalan tu liat-kiat," mereka terkekeh lalu pergi meninggalkan Hadi yang sejak tadi memegang pelipisnya. Ia bukan tak berani melawan. Namun, ia menjaga diri agar beasiswanya tak di hentikan.
Setelah Joe dan Doni pergi, Kia dengan langkah tergesa mendekati Hadi yang kini terduduk dengan tangan yang menekan-nekan ujung kepalanya. Pusing.
"Nih, pake...," Kia menyodorkan sebungkus tissu kepada Hadi.
Pemuda bermata coklat itu terhenyak dan mendongakkan wajahnya. Tepat saat Kia menatap nya dengan iba.
Kia bergidik saat manik coklat Hadi menyorot ke matanya dan senyum yang rupawan terlempar dari wajah manis Hadi.
Seketika itu juga Kia melempar pandangannya ke arah luar kelas dan bersiap meninggalkan Hadi, ia tak ingin menaruh harapan pada pria yang sudah mencuri hatinya saat ini.
Slappp!
"Jangan pergi, Kia,"
Sejurus kemudian pergelangan tangan Kia di tangkap cepat saat gadis berambut indah itu membalikkan tubuh dan bersiap pergi.
Jantung Kia seolah berhenti berdetak saat tangan kekar itu mencengkeram tangannya kuat. Seolah enggan jauh dari sisinya.
"Lepasin, Di. Aku mau pulang," pinta Kia lirih. Ia tak mau Hadi mendengar suara degup jantungnya yang seolah ingin melompat keluar.
"Ki, semenjak tadi pagi, sikapmu sangat aneh, Ki. Apa salahku?" nada suara Hadi terdengar seperti orang yang frustasi.
"Kamu ga salah apa-apa, Di, suatu saat kamu pasti tau alasanku, dan aku hanya ingin kita menjauh," Kia menahan bulir di mata nya yang siap tumpah.
Kriett !
Suara derit kursi terdengar kencang saat Hadi menggeser kursi dan tegak berhadapan dengan Kia.
Gadis itu hendak menghindar, tapi Hadi segera menghadangnya. Kia menundukkan wajahnya, tak ingin melihat wajah manis Hadi yang membuatnya susah tidur berhari-hari karena selalu memikirkan parasnya yang menawan.
Kedua tangan Hadi membingkai wajah Kia dan memaksanya untuk saling menatap. Kia tak dapat menolak saat wajah Hadi mendekat. Beruntung suasana kelas amat sepi karena sebagian murid sudah pulang. Ada beberapa orang yang berlalu lalang di luar, mereka yang tak sengaja melintas hanya melihat sekilas, tak perduli. Pemandangan romantis seperti itu sudah menjadi hal yang biasa di kampus mereka.
Kia mendorong tubuh Hadi pelan, tapi dengan sigap Hadi menarik pinggang Kia hingga tubuh ramping itu berada dalam pelukannya.
Kia sempat ingin berontak. Namun, tubuh kekar Hadi seolah memanggilnya untuk hanyut dalam dekapan walau hanya sekejap.
Kembali Hadi mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibir mungil wanita yang memikat hatinya sejak saat pertama ia bertemu pandang.
Hadi menguatkan pelukannya saat Kia membalas kecupan mesra dari Hadi. Menikmati setiap sentuhan demi sentuhan hingga napas mereka saling memburu. Sejurus kemudian Hadi menghentikan pagutan mesranya dan berbisik di telinga Kia," apa pun keadaan dirimu saat ini, aku mencintaimu dan akan menerima dirimu apa adanya, jangan pernah menjauh dariku, karena aku bisa mati tanpa dirimu dalam hidupku,"
Hadi menatap dalam sepasang bola mata coklat Kia yang sekarang berkaca-kaca karena ucapannya.
"Hadi ...," Kia larut dalam suasana nan romantis. Memeluk tubuh Hadi erat sembari terisak.
Dalam hati berkecamuk rasa bimbang. Bukan hanya kesuciannya yang ternoda, tapi jiwa pembunuh dalam dirinya dan sosok monster yang akan menemaninya seumur hidup, apakah bisa di terima oleh Hadi?
Bisakah Hadi menerima dirinya apa adanya seperti yang ia ucapkan barusan? atau itu hanya sebuah fatamorgana yang memanjakan mata ?