Werewolf Girl In Love

Werewolf Girl In Love
part_17



Bismillah


           Werewolf Girl In Love


#part_17


#by: R.D.Lestari.


  


   


     "Auuu...," suara lolongan anj*ng terdengar bersahut-sahutan. Kia yang saat itu memang menunggu datangnya bulan penuh berdiri tegak di depan jendelanya. Pintu kamarnya sudah ia kunci. Menghindari seseorang masuk ke dalam saat ia sudah bertranformasi menjadi sesosok monster yang menakutkan.


    Senyum sinis tersungging di bibirnya yang manis. Kedua alisnya saling bertaut dan bola mata birunya menatap nyalang ke arah bulan yang saat itu belum terang sempurna. Sebagian tertutup kabut hingga ia harus menunggu cahaya bulan berpendar sempurna.


   " Grrr...," Kia mulai mengerang saat panas seketika menjalari tubuhnya. Sakit dan ngilu di merasuk hingga ke dalam tulangnya.


    Krakkk!


    Baju yang semula menutupi tubuhnya mengoyak seiring membesarnya tubuh Kia yang semakin tinggi dan membesar. Bibir indahnya berubah menjadi moncong dan terselip gigi taring tajam di baliknya.


   "Akkkhhh!" bulu-bulu mulai tumbuh perlahan seiring bulan yang berpendar semakin sempurna. Kulit putih bersih itu kini di tutupi bulu lebat dengan mata merah menyala dan kuku panjang bak mata pisau yang siap menyayat mangsa.


    "Ha-ha-ha, tunggu kematianmu, Doni. Aku sudah tau di mana rumahmu!"


    Kia mengepal tangannya kuat. Dendam memenuhi liang hatinya. Bagaimana rasanya malam itu ia harus menahan sakit di sekujur tubuhnya saat para lelaki durjana itu merampas paksa kesucian yang selama ini mati-matian ia jaga.


    Kriettt!


   Kia membuka jendela dengan perlahan. Menjaga agar Dita tak mendengar jika Kia keluar dari kamar melalui jendela kamarnya.


    Bughh!


   Kaki Kia menjejak di tanah saat ia meloncat dari kamarnya di lantai dua.


Gadis dalam casing monster itu tak merasa sakit sedikitpun.


   Ia berlari secepat kilat menembus waktu di pertengahan malam. Jalanan sepi, tapi Kia tetap berlari secara sembunyi menghindari orang-orang yang pasti akan berlari ketika melihat dirinya.


   Jarak rumah Doni lumayan jauh, sekitar satengah jam perjalanan dari rumahnya. Kia terus memacu kakinya untuk terus berlari tanpa lelah. Ia ingin segera melihat Doni menggelepar mati di hadapannya.


    "Hoshh! hossh!"


    Napas Kia tersengal saat ia akhirnya sampai di rumah pemuda yang telah menghancurkan hidupnya.


     Ia kemudian bersembunyi di belakang rumah Doni. Mengintai gerak-gerik Doni. Mencari kesempatan untuk bisa masuk ke dalam kamarnya.


    Srettt! sreettt!


   Doni yang saat itu baru saja bersiap untuk tidur, seketika membuka matanya dan segera beranjak dari ranjang menuju lampu kamarnya.


   Klek!


   Ruangan gelap seketika menjadi temaram karena lampu tidur berwarna kuning menyinari ruang kamarnya.


    Srekkk! srekk!


    Kembali suara itu membuat Doni curiga. Ia menajamkan indra pendengarannya dan berjalan mendekati jendela kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang.


   Dag-dig-dug!


   Sretttt!


   Ia menyibak tirai biru dongker kamar nya dan ...


    Slapsss!


   Sekilas ia melihat ada bayangan hitam tinggi melesat menjauhi jendela kamarnya.


   Doni terpaku menatap arah perginya sosok misterius yang teramat cepat hilang.


   Srettt!


   Kembali ia menutup tirai jendelanya dan bergegas menuju ranjang . Ia menutup wajahnya dengan selimut tebal.


   Pranggg!


    Lagi, jantung Doni serasa mau copot saat kaca jendelanya pecah seketika dan serpihan kaca memenuhi lantai kamarnya.


    Sebongkah batu berukuran kepalan orang dewasa hampir saja mengenai kakinya.


    "Sialan! siapa yang saat ini berani bermain-main padaku ! cepat! tunjukkan jati dirimu!" ucap Doni lantang seolah menantang.


    "Grrr...!"


    Doni mendengar suara geraman lirih. Sepertinya amat dekat pada dirinya. Bulu kuduknya seketika berdiri tanpa di minta.


    Jendela kamar Dini yang memang hanya kaca sebagai pembatas antara rumah dan luar, membuat tirai melambai-lambai akibat angin yang bertiup dari luar.


   Dok-dok-dok!


   "Don, apa yang terjadi padamu, kenapa seperti terdengar pecahan kaca!" suara yang ia kenal, ya, itu suara ayahnya.


   Belum sempat menjawab, mata Doni seolah ingin meloncat keluar saat ia menangkap siluet makhluk tinggi besar berdiri di balik tirainya yang kadang tersibak, hingga terlihat samar sosok yang berdiri di baliknya.


    Sosok tinggi berbulu dengan mata merah sedang menatapnya tajam.


    Srekkk!


   Sosok itu menyingkap tirai jendela dan melangkah pelan mendekati Doni. Tubuh Doni bergetar dan is beringsut mundur dari tempat tidurnya. Sayangnya ia terpojok dan tak dapat menghindar saat sosok itu memamerkan rentetan gigi tajamnya dan juga kuku-kuku panjangnya.


   "Gggrrr... halo ... Doni,"


   Doni terkesiap saat mendengar suara parau dan berat meluncur dari moncong monster yang saat ini berdiri di ujung ranjangnya. Ia berdiri tegak dengan bulu tebal menutupi otot-otot yang mencuat.


   Tak dapat di pungkiri sosok itu berjenis kelamin perempuan, karena dadanya menyembul walau di tutupi bulu lebat.


    "Ka--kau! siapa, kau sebenarnya! apa maumu!" bibir Doni bergetar menahan takut.


     "Kau lupa padaku? kejam sekali kau! ha-ha-ha," monster itu tertawa mengejek Doni yang saat ini ketakutan dengan peluh bercucuran.


    "Ka--kau...,"


   "Ya, aku Kia . Wanita yang kalian perkosa secara bergantian," seolah tau apa yang ada di pikiran Doni, tanpa menunggu waktu Kia menjawab jujur siapa dia sebenarnya.


   "Ki--Kia?"


   Slappp!


   Kia menarik kaki Doni dengan kuat hingga pemuda itu terseret dan mendekat padanya.


   Doni berontak tapi kalah tenaga. Kia dengan mudah mencekik leher Dono dan mendekatkan wajahnya pada Doni.


   "Mari kita bercinta malam ini, Doni!"


    Brakkk!


   Tubuh Doni di hempas ke atas ranjang dengan mudah. Pemuda itu meringis kesakitan.


    Dok-dok-dok!


    "Doni! cepat buka pintu! kenapa lama sekali!" kali ini ibunya Doni ikut bersuara memanggil anaknya. Ia amat khawatir dengan kondisi Doni yang tak jua membuka pintu kamarnya. Sedangkan dari luar ia mendengar pecahan kaca dan suara bantingan dari dalam.


     "Ibu... tolong aku!" raung Doni saat Kia kembali mendekat dan menyeringai mengerikan siap untuk memangsanya.


    "Kau takut padaku, Doni? apa kau tak ingin menikmati tubuhku yang berbulu ini? kau kejam, Doni!"


   Monster wanita itu sudah amat dekat dengan Doni. Mencengkeram tangan Doni yang saat itu ingin lari darinya. Tangan Doni terluka saat kuku Kia yang tajam menancap di tangannya.


   "Akhhh! maafkan aku, Kia," ia meringis kesakitan.


   "Doni...Doni!"


   "Terlambat Don, waktumu sudah tiba,"


    Crak! Crakk! Crakk!


    Hujaman demi hujaman kuku tajam Kia menancap di tubuh Doni.


   "Akkhhh!"


   Tubuh Doni menggelinjang kesakitan dan darah segar mengucur deras dan merembes di seprei dan kasurnya.


    Brakkk!


   Kia memalingkan wajahnya saat ia mendengar bunyi pintu kamar Dini di dobrak paksa.


   "Doni! Doni!"


   Drap-drap-drap!


   Secepat kilat Kia berlari menghindar dan pergi meninggalkan Doni yang tubuhnya masih kejang-kejang tanpa suara.


   Orang tua Doni sempat melihat Kia, tapi mereka memilih untuk menolong Doni yang saat ini kondisinya amat mengenaskan. Darah mengucur deras dari dada dan perutnya, saking banyaknya darah yang keluar sampai menggenangi lantai, membuat lantai bak lautan darah.


    Ayah dan Ibu Doni berlari mendekati Doni. Namun, naas saat di dekati, pemuda itu sudah tak bergerak. Matanya melotot tapi tak ada jejak kehidupan di tubuhnya. Doni ... mat*!


***


Bersambung... terima kasih readers sudah mampir di cerbungku.