
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_6
#by: R.D.Lestari.
"Huffffttt," gumpalan asap rokok membumbung tinggi membentuk bulatan-bulatan kecil dari bibir Joe. Ia resah. Pikiran nya menerawang jauh. Masih terekam jelas di benaknya siluet-siluet kekejaman dirinya saat menodai gadis yang sempat mengisi relung hatinya.
"Kita harus bagaimana, bro?" Firman berbisik di telinga Joe.
"Sssstttt! sudah, jangan banyak bicara. Sekarang kau dekati Sasi. Dia akan menjadi saksi perbuatan kita! itu bahaya," sahutnya. Mata nya nyalang melirik ke arah Sasi yang saat itu duduk dengan tubuh gemetar di antara teman-temannya.
Ferdi melangkah mendekatinya. "Sasi, ayo ikut aku," bisiknya saat ia berdiri tepat di belakang Sasi.
"Mau apa lagi, kalian?" sengitnya.
"Ikut, atau kau akan jadi korban berikutnya," kali ini Firman menjawab dengan ancaman.
"Oke, oke," Sasi akhirnya beranjak. Sembari tersungut-sungut ia mengikuti langkah Firman menuju gerombolan Joe yang sedang duduk membentuk lingkaran.
"Mau apa lagi?" ucap Sasi ketus. Mata nya menatap nyalang ke arah Joe dan kawanannya.
"Sssstttt! sini, duduk! atau kau mau kaki menikmati tubuhmu beramai-ramai seperti sahabatmu itu?"
Ucapan Joe seketika membuat nyali Sasi ciut. Ia mengalah dan duduk diantara Joe, Firman, Ferdi, Titan dan Doni.
"Bagaimana keadaan Kia? aku perlu tau kabar temanku itu! sampai kini ia belum masuk ke tenda!" lirih suara Sasi penuh penekanan.
"Mungkin temanmu itu sudah mati di makan binatang buas! akh, aku tak tau juga!" jawab Joe santai.
"Maksudmu? apa yang kalian lakukan padanya?" manik coklat Sasi mulai berkaca-kaca.
"Jadi, kau tak tau?"
"Kalian mengancam akan membunuhku tadi jika aku tak segera pergi!"
"Ha-ha-ha! ya, aku lupa!" Joe terkekeh sembari menghembuskan asap rokok yang sedang dihisapnya.
"Wanita jal*ng itu kami nikmati beramai-ramai, sekarang ia pingsan di dalam hutan,"
"Gil* kau Joe! cepat bawa Kia kembali! atau aku ...,"
"Atau apa? kalau aku bawa Kia kemari, itu sama saja bunuh diri!" Joe mengacak rambutnya kasar. Tak bisa di pungkiri hatinya tak karuan.
"Kau gil* Joe, gil* ! kau bawa aku dalam masalah! kau bilang cuma ingin menakutinya saja, Joe!" Sasi menutupi muka nya dengan kedua tangannya. Ia sesenggukan membuat beberapa orang yang tak sengaja melintas melirik penasaran.
"Sssttt, Sasi ! semua orang menatapmu! jika aku dalam masalah, kau juga akan kubawa," ancamnya.
Sasi bingung. Hati kecilnya ingin Kia selamat, tapi jika Kia selamat, pasti Kia akan bertanya kenapa ia tega meninggalkannya sendirian. Dan jika orang-orang tau ia ada di tempat kejadian saat Kia di temukan tewas, ia pasti ikut terseret.
Ia tak menyangka dalam semalam hidupnya berubah. Dalam masalah, bimbang dan di kejar-kejar perasaan bersalah.
"Ingat, Sas! semua bergantung pada mulutmu! bersikaplah biasa dan jika terjadi apa-apa berpura-puralah!"
"Ya, kau tenang saja. Aku juga tak mau berurusan dengan kalian!" Sasi bangkit dan beranjak dari gerombolan Joe, ia melangkah lemas menuju tenda.
Srettttt!
Ia membuka retsleting rendah ya dan masuk ke dalam. Berbaring ke arah kanan dan menangis sesenggukan. Ia sungguh dilema.
***
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah dedaunan menerpa wajah cantik Kia. Gadis itu sempat menggeliat, ingin melepaskan tubuhnya dari pelukan Hadi.
Hadi tersentak saat gerakan Kia terasa cukup mengganggunya.
"Ma--maaf, Ki,"
"Aku yang seharusnya minta maaf, Di. Aku sangat merepotkanmu," wajah Kia menunduk. Bulir bening mulai luruh.
"Sudah, ki. Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Apa kamu mau tinggal selamanya di hutan?"
Kia menggeleng cepat. Hutan sangat berbahaya dan juga menyeramkan jika malam.
"Apa kamu sudah bisa berjalan?"
"Aku rasa, aku belum sanggup berjalan. Kakiku masih nyut-nyutan ," Kia memegangi kakinya.
"Kalau begitu kamu naik ke gendonganku aja, kita cari makanan. Kebetulan tak jauh dari sini ada aliran air yang cukup tenang dan jernih," ajak Hadi.
Krucukkk ! krucukkk!
Kia memegangi perutnya yang terasa pedih.
"Tuh, kan . Kamu kelaparan. Ayolah , sekarang kita pergi. Jangan mengulur waktu," seru Hadi.
Gadis itu mengangguk. Beruntung, tubuh langsing Kia terasa ringan bagi Hadi yang punya tubuh tinggi dan atletis . Pemuda itu membantu Kia berdiri dan naik ke punggungnya. Ia mulai meniti jalan menyusuri hutan untuk mencari aliran sungai.
Gemericik air terdengar lirih, pertanda aliran sungai sudah semakin dekat. Samar Kia melihat di kejauhan rumpun bambu dan kilauan air yang tertimpa sinar matahari.
Kia menelan ludah. Perutnya sudah amat lapar dan juga tenggorokannya kering. Hadi mempercepat langkahnya dan menurunkan Kia saat sampai dipinggir sungai.
Kia di bantu Hadi mendekati aliran sungai dan duduk di atas batu besar. Hadi meninggalkan Kia agar bisa membersihkan diri, sedangkan ia mencari ikan untuk jadi santapan.
Sedang asik bersih-bersih, netra Kia menangkap pemandangan indah yang menggetarkan hatinya. Pemuda itu membuka kacamatanya . Membasuh wajahnya dan menyibak rambutnya yang juga basah. Ia membuka baju kaosnya , memamerkan tangan nya yang berotot dan dadanya yang bidang. Perut nya bak roti sobek, sungguh sexy. Kia...