
Bismillah
Werewolf Girl In Love
#part_19
#by: R.D.Lestari.
"Lepaskan, Hadi. Aku tak ingin hubungan kita lebih jauh lagi," Kia mengurai pelukannya dan kembali duduk di samping Hadi.
"Kenapa? apa karena aku anak petani? aku orang miskin? jadi aku tak ...," jari Kia seketika menempel di bibir Hadi. Lelaki itu seketika terdiam.
"Bukan karena itu, aku yang tak pantas untukmu, aku, ya... kau tau siapa aku," Kia mengulas senyum getir.
"Tapi, aku sangat mencintaimu, Ki. Aku akan menerima dirimu apa adanya asal kamu berniat berubah demi aku," Hadi menatapnya penuh harap.
"Bukan cuma itu, Di. Ada sesuatu dalam tubuhku yang tak mungkin bisa membuat kita bersatu, karena...,"
"Karena apa, Ki ...,"
"Karena aku seorang Werewolf!"
"Werewolf ? tak mungkin!"
Brakk!
Hadi menggebrak meja. Pikirannya kacau. Apa yang ia takutkan akhirnya kejadian. Benar instingnya selama ini. Kia berubah karena sifat buas alaminya mulai muncul kepermukaan.
"Hiksss, tapi itu benar, Di. Seperti ucapanmu kala itu. Monster itu memang Werewolf. Dan karena gigitannya aku jadi begini," Kia menutupi wajahnya. Cairan bening merembes di sudut matanya. Sesak merasuki dadanya.
Hadi sakit melihat Kia yang begitu terluka. Hadi amat yakin ini bukan keinginan Kia, tapi jiwa monsternya yang menginginkan hal demikian.
"Ki, aku mengerti apa yang kamu rasa saat ini, tapi... bisakah kamu meredam semua emosimu dan memaafkan semua orang yang bersalah padamu?"'
Hadi menatap Kia lekat. Senyum getir tersungging di bibirnya. Tangannya menggenggam tangan Kia erat. Berharap Kia bisa berubah karena dirinya.
"Nggak! aku gak bisa! mereka semua harus mati di tanganku tanpa terkecuali," Kia mengepal tangannya.
Hadi harus menelan pil pahit. Kia jelas-jelas menolak keinginan Hadi. Hatinya terlanjur sakit dan terluka akibat perbuatan Joe dan kawan-kawannya. Bagaimana mereka dengan buas dan tanpa ampun menjamah tubuh Kia yang saat itu sudah lemah dan tak berdaya. Rintihan kesakitan yang menyayat tak mengusik jiwa setan yang melingkupi hati para pemuda biadab malam itu.
"Kia ... ini akan berpengaruh untuk hidupmu, kamu akan di buru jika ketahuan, apa kamu ingin terbunuh?" Hadi berusaha mengingatkan Kia.
"Cepat atau lambat aku pasti akan ketahuan, aku sudah tau itu. Dan kematian hanya tinggal waktu," Kia memggigit bibirnya menahan pedih hatinya. Sebenarnya ia takut, tapi ia harus siap pada kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Kia ... aku ingin kita bahagia, aku mencintaimu, Kia ...,"
"Sampai kapan kamu akan menyadari jika cintaku tulus padamu, Ki. Percayalah, aku akan membuat dirimu bahagia. Rahasia ini akan aman di antara kita. Aku janji,"
Cup!
Hadi mengecup punggung tangan Kia. Berusaha meyakinkan rasa cintanya pada Kia.
"Hmmhh," Kia menghela napas dalam.
"Maaf, Di. Aku tak bisa ...," Kia menarik tangannya pelan.
"Ki ... kamu tak percaya aku bisa menerima dirimu apa adanya?"
"Aku tak bisa, Di. Mereka harus merasakan mati dalam kesengsaraan. Aku bersumpah mereka akan merasakan pedih dan sakit yang pernah mereka beri padaku!"
"Ki ...," Hadi kehabisan kata-kata. Apa pun yang ia ucap, Kia tetap pada pendiriannya.
"Pulanglah, Di. Aku ingin sendiri," Kia mendorong tubuh Hadi. Menyuruhnya pulang dengan paksa. Hadi hanya menurut apa keinginan Kia. Ia akhir nya keluar dari rumah Kia dengan perasaan pedih dan bimbang.
***
Firman masih merintih kesakitan di rumah sakit saat Joe dan juga Titan menjenguknya. Sahabat akrab itu mulai berbincang. Awalnya mereka bertanya bagaimana mobil Firman bisa terjun ke dalam jurang.
Sejurus kemudian pembicaraan mereka tertuju pada Kia. Gadis yang mereka perkosa secara bergantian.
"Apa ini ada hubungannya dengan Kia, ya?" tanya Titan sembari mengetuk jari telunjuknya di nakas.
"Aku pikir juga begitu, melihat tatapan matanya saja sekarang aku sudah takut," sahut Firman.
"Baru kalian lihat matanya, apalagi aku? saat Ferdi terbunuh oleh monster tinggi besar yang menyeringai tepat ke arahku. Dan itu bukan mimpi!" Joe bergidik mengingat kembali kenangan buruk yang di alaminya beberapa hari lalu.
"Apa semua ini sebuah karma untuk kita karena telah menodai Kia? Mungkinkah semua itu perbuatan makhluk dari dalam hutan yang marah karena kita telah mencoreng kesucian seseorang di dalam sana?" semburat penyesalan terpancar di wajah Firman.
"Spekulasimu terlampau jauh, Fir. Mungkin memang nasib Ferdi begitu," Titan menampik ucapan Firman.
Glek!
Titan susah payah menelan salivanya. Rasanya panas ketika masuk ke tenggorokan. Apa yang diucapkan Firman benar adanya. Dan merek tersadar bahwa tak ada yang kebetulan. Jelas makhluk itu mengincar mereka berlima.
"Jadi, kita harus bagaimana?"
"Akh, aku pusing memikirkannya!" Joe mengacak rambutnya kasar. Benar-benar membuatnya gusar.
"Ini semua gara-gara kamu, Joe! kamu yang ngajak kita berbuat keji terhadap Kia," Firman membuang mukanya ke arah jendela rumah sakit.
"Maksud loe? loe kan mau juga! munafik loe!" hampir saja bogem mentah melayang di wajah Firman. Beruntung Titan menghalanginya.
"Wei, sabar, bro! jangan terbakar emosi seperti ini," Titan mengelus dada Joe yang terbakar amarah.
"Ayo, Tan. Kita pulang! percuma kira di sini. Bikin emosi!" Joe menarik tangan Titan.
Brakk!
Joe menggebrak pintu kamar Firman dan melenggang pergi dengan congkaknya.
Firman mengurut dadanya. Benar-benar menguras emosi berhadapan dengan Joe, lelaki keras kepala tingkat dewa.
Derrrt!
Gawainya berbunyi pelan. Firman segera mengangkat dan ... tak ada suara. Hanya bunyi kuku yang beradu dengan dinding. Membuat Firman bergidik ngeri.
"Ha--halo..., siapa ini?" ucapnya terbata.
Tak ada jawaban. Bunyi deritan itu terasa amat nyaring membuat ngilu di seluruh badan.
Tuttt! tuttt! tuutt!
Sambungan telpon terputus. Dengan tubuh gemetar Firman meletakkan benda pipih itu di atas nakas.
Hatinya mulai gusar. Apa ini bentuk dari teror untuk dirinya?
***
Joe melangkah tergesa menuju mobilnya bersama Titan di sampingnya. Dua berandal itu merasa jika ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka semenjak di dalam kamar Firman.
"Cepat, Joe. Perasaanku ga enak," Titan sedikit berlari mendekati mobil Joe.
"Jangan jadi penakut, Tan. Ga ada orang yang berani sama kita," sahut Joe sombong.
Titan seolah tak perduli dengan ucapan Joe. Ia terus mempercepat langkahnya. Joe pun akhirnya mengikuti langkah Titan.
"Jo--Joe ....,"
Mata Joe dan Titan terbelalak saat .