Werewolf Girl In Love

Werewolf Girl In Love
part_21



Bismillah


Werewolf Girl In Love


#part_21


#by: R.D.Lestari.


Kia's Pov


"Ini bukan cuma tentang kamu, tapi tentang kita," ucapnya.


"Tentang kita?"


"Ya, Kia. Tentang kita. Aku tak bisa membayangkan jika akhirnya kau tertembak , terpanah, atau terbakar. Aku bisa mati jika melihatmu dalam bahaya, Kia," Hadi menarik tanganku dan membawanya menuju dada bidang yang amat kudamba.


"Rasakan, Kia. Rasakan detak jantungku yang selalu meronta bila berada dekat denganmu. Aku mencintaimu, Kia. Aku amat memujamu, aku mohon, berhentilah Kia! sebelum semua terlambat!"


Mata Hadi berkaca-kaca. Bibirku bergetar mendengar ucapan Hadi. Antara sedih dan bahagia jadi satu. Aku tak pernah sebahagia ini dalam.l hidupku. Aku merasa amat sangat dicintai.


"Ha--di?"


"Kia, aku mohon...,"


"Aku-- aku tak bisa. Maaf, Di. Kamu jangan berharap padaku. Aku seorang werewolf, aku bisa membahayakan semua orang termasuk dirimu,"


"Aku yakin, jika kau mau, kau bisa berubah. Aku tak perduli siapa dirimu, Ki. Kita bisa sama-sama memulai hidup di tempat yang lain," sorot mata Hadi begitu hangat dan menentramkan jiwa. Aku terenyuh, mengingat begitu banyak nyawa yang habis di tanganku, tapi bukankah mereka pantas mendapatkan itu?


Di satu sisi aku setuju dengan ucapan Hadi. Aku pasti bisa berubah dan berbaur dengan manusia lain, tapi bagaimana dengan dendamku?


Mengapa hanya aku yang harus memaafkan dan berbesar hati atas semua perbuatan mereka yang telah menodaiku dan harga diriku?


Ini tak adil! sungguh tak adil!


"Di, aku hanya ingin menyampaikan pesan orang tuaku. Mereka ingin kamu jadi pengawalku,"


"Pengawal?"


"Ya, mereka tau beberapa hari ini ada makhluk buas yang meneror kota, tapi mereka tidak tau jika makhluk itu adalah aku,"


"Tapi, mengapa aku, Ki?" tanyanya.


"Ya, mereka merasa kamu orang yang tepat untuk melindungiku, tapi sayangnya kamu bisa saja jadi mangsaku," aku berkilah, berharap ia akan menolak tawaranku.


"Tak apa, jika memang harus, aku akan menjadi mangsamu. Aku terima itu," jawabnya mantap.


'Apa ini? Hadi memang benar-benar sudah gil*! tak ada sedikitpun terselip rasa ragu pada ucapannya.


"Aku pergi,"


Tap!


Tangan Hadi menghentikan langkahku. Ia mencengkeram tanganku kuat seolah melarangku untuk menjauh darinya.


"Kau aman jika berada di sisiku, Ki," ucapnya tulus.


"Tapi kau bisa terluka jika bersamaku , Di," sahutku.


"Tak, apa. Aku sudah terlanjur terluka dengan penolakanmu," suaranya terdengar lirih dan penuh tekanan. Jujur aku sakit. Aku butuh untuk bisa mencerna sisi baik dan jahatku saat ini. Ia harusnya bisa mengerti bara dendam yang saat ini terpatri.


Aku ini wanita yang punya masa depan indah dan cemerlang. Dalam sekejap mata semua impian itu sirna berganti bulir airmata yang selalu tumpah.


Aku stress, aku terluka mengingat betapa sakitnya saat tangan-tangan laknat itu menjamah dengan tawa girang tanpa belas kasihan.


Bagaimana saat itu aku merintih dan memohon dengan bersimbah peluh dan airmata. Bukan hanya tubuh yang kotor, tapi hati dan jiwaku menjadi kotor.


Mungkin cara makhluk itu salah karena telah menggigitku, tapi di balik itu ia ingin aku balas dendam dan membuat mereka merasakan sakit yang pernah mereka torehkan pada gadis yang tak berdaya.


"Terserah, tapi aku tak bisa berjanji. Aku liar, aku buas. Di dalam tubuhku mengalir darah hewan buas. Apa kau masih ingin dekat denganku?" hardikku.


Cup!


"Aku akan menjadikanmu gadis yang jinak dan penurut. Karena aku yakin, dalam lubuk hatimu ada kebaikan. Mungkin saat ini redup, tp ku yakin suatu hari nanti sinar kebaikan itu akan mengalahkan sisi gelap dalam hatimu," Hadi menatap dalam kemataku.


Susah payah aku menelan saliva, terasa tercekat di kerongkongan.


Menatap sorot mata Hadi yang lembut dan penuh ketenangan , membuat amarahku perlahan reda.


Hadi memang sangat istimewa. Pria lembut yang punya sorot mata sendu dan penuh kehangatan.


Sejujurnya, aku selalu rindu untuk bisa dekat dan bersama dengannya. Tak ada keraguan sedikit pun dalam hatiku untuk menjadikannya seorang kekasih.


Namun, bahaya yang mungkin mengintainya membuatku kembali menarik perasaanku. Aku tak boleh larut dalam cinta sesaat.


Ferdi, Doni dan Firman telah meregang nyawa di tanganku sendiri. Rasa puas seketika menjalari. Melihat mereka menggelepar dan meregang nyawa sebelum benar-benar mat*.


Menikmati darah mereka yang terselip di antara kuku dan bulu saat membantai mereka secara perlahan. Semua itu menjadi sebuah kebanggaan dan kepuasan.


Aku takut jika Hadi berada di dekatku, dialah yang akan merasakan itu. Merasakan betapa sakitnya kuku-kuku itu menancap dengan sempurna dan merobek hingga menjadi luka menganga.


Hadi ... jika memang cinta bisa mengalahkan segalanya. Aku ingin suatu saat nanti ada di sampingmu. Menemani dirimu setiap waktu.


Namun, untuk saat ini aku belum mampu. Dendam masih menjalari tubuhku. Aku butuh waktu.


"Ya, baiklah jika itu memang keinginanmu. Aku bisa apa?"


"Nanti malam kamu datanglah ke rumah. Temui kedua orang tuaku,"


Tubuh Hadi tiba-tiba menegang dan untuk beberapa saat mulutnya menganga.


"Nanti malam? secepat itu?" tanya Hadi. Ekspresinya sukar untuk di arti kan.


"Ya, nanti malam," sahutku datar.


"Tapi, aku belum ada persiapan,"


Aku terdiam melihat tingkah Hadi yang gelagapan. Apa ia sangat takut bertemu orang tuaku hingga tingkahnya seperti itu?


"Persiapan untuk apa?" tanyaku heran.


"Ya, aku harus bersiap-siap untuk menemui kedua orang tuamu. Mereka nenyuruhku melamarmu, 'kan?"


"Melamar? kau tak dengar aku berbicara tadi, mereka memintamu untuk jadi pengawalku,"


"Bukan menyuruhmu untuk melamarku,"ketusku.


Wajah Hadi perlahan rileks. Ia menghembuskan nafas seolah terbebas dari beban yang menghimpit dadanya.


"Kia... syukurlah," Hadi membelai dadanya sembari mengucap syukur.


Aku mengernyit. Sungguh sulit di artikan. Apa sih sebenarnya mau Hadi ini? barusan dia bilang ingin bersamaku, tapi begitu orang tuaku ingin bertemu dengannya, ia sepertinya belum siap. Dasar laki-laki aneh!


"Aku belum punya tabungan yang cukup, Ki. Jika aku ingin hidup denganmu, aku harus punya modal. Aku tak mungkin membiarkanmu kelaparan,"


"Ha...,"


"Kia...!"


Belum sempat aku menjawab ucapan Hadi, ku dengar namaku di panggul seseorang dari belakang. Seketika itu juga aku berbalik seraya melepaskan genggaman tangan Hadi.


Aku terpaku saat melihat Titan dan Joe menatap takut ke darahku. Apa maunya dua berandal ini menemuiku ?apa mereka sedang di kejar malaikat kematian?


"Ki, kami harus bicara," Joe membuka obrolan. Aku masih terdiam dan tak berkomentar.


"Ki, aku mohon, maafkan kami. Biarkan kami hidup damai, Ki,"


"Apa hubungannya hidup kalian dengan aku?" sentakku geram.


"Karena kau ....,"