
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_14
#by: R.D.Lestari.
Manik matanya membulat tatkala ia melihat tubuhnya penuh darah yang sudah mengering. Tubuh polosnya menyebabkan darah menempel di seprei. Kia terhenyak dan bergegas membersihkan dirinya di dalam kamar mandi beserta seprei yang terkena noda darah.
Ada rasa takut jika ketauan ia telah menyebabkan nyawa Ferdi lenyap, tapi di satu sisi ia merasa lega dan bahagia.
Kia bernapas lega karena ternyata tubuhnya sudah kembali seperti semula. Menjadi makhluk cantik tanpa noda. Ia merasa tubuhnya lebih berenegi dan lebih fit dari biasanya.
Kia berlenggak di depan cermin, pantulan gadis cantik dengan rambut pirang bergelombang memakai dress merah jambu di bawah lutut, amat cantik dengan olesan bibir pink dan hells pink.
Ia amat bersemangat, turun meniti anak tangga dengan riang.
"Hai, Mama,"
Cup!
Sapanya sembari mencium pipi Mama Erika gemas. Mama yang melihat anaknya amat senang,menatap Kia dengan heran.
"Dapet lotre, Dek?" ucap Dita curiga.
"Halah, palingan punya pacar baru," sahut Dito.
"Apaan, sih, Kak. Ga lah," Kia mencebik. Kakak cowoknya ini memang selalu kepo dengan kehidupan asmara Kia.
"Ki, cowok cupu yang nganter kemarin, itu pacarmu?" Dito mengernyitkan alisnya, menatap adiknya penuh curiga. Kia yang sedang melahap sepotong roti bertabur mesis dan selai coklat seketika menghentikan kunyahannya.
"Uhuk--uhuk," Kia terbatuk mendengar ucapan Dito.
"Hadi maksud Kakak? dari mana Kakak ...,"
"Tau? ya, taulah. Aku. Ngintip kemarin sore sebelum magrib, kamu kayaknya mesra banget deh,"
"Ma, Kia punya pacar ini, Ma," adu Dito cengengesan.
Mama yang mendengar teriakan Dito seketika menoleh. Ia berkacak pinggang menatap tajam ke arah Dito. Sedangkan Kia berulang kali menunjukkan jari tengahnya marah kepada Dito.
"Emang kenapa kalau adikmu punya pacar, To? Kia sudah dewasa, dia berhak punya pacar," ketus Mama yang membuat Papa tersenyum geli, begitu pun Dito yang jadi salah tingkah.
"Oh, iya, Ki. Tadi malam Mbak lihat ada sekelebat bayangan hitam tinggi besar lewat rumah kita, apa kamu tau?"
Degh!
Kia terdiam. Mencari alasan yang paling tepat agar Mbak Dita tak curiga. Tiba-tiba ...
Tin! tin!
Bunyi klakson motor mengejutkan semua orang di ruang makan. Kia langsung bangkit dan menyalami keluarganya satu per satu.
"Siapa?" selidik Mama.
"Pacarnya lah, Ma. Siapa lagi," lagi-lagi Dito ikut nimbrung.
"Hadi, Ma. Teman kuliahku yang dulu menyelamatkanku dari terkaman binatang buas," sahut Kia pelan.
"Si cupu, Ma," ledek Dito lagi.
"Apaan, sih, Kak ...,"
"Baik, Pa," Kia mengangguk dan berjalan dengan tergesa ke arah pintu ruang tamu. Ia tak ingin Hadi menunggu lama.
Kriettttt!
Pintu terbuka perlahan. Dan Hadi sudah berdiri di depan pintu. Pemuda itu tersenyum manis membuat jantung Kia berhenti seketika saking terkejutnya.
"Ha--Hadi?" Kia ternganga melihat Hadi yang tak seperti biasa.
"Ayo, berangkat Ki. Nanti terlambat," sahutnya.
"Ah, masuklah dulu, Papa menunggumu di dalam," ajak Kia.
"Aku?"
"Ya, ayo, cepat masuk,"
Kia menarik tangan Hadi kencang hingga pemuda itu sedikit terseret karena ulahnya. Hadi sedikit salah tingkah saat berada di tengah-tengah keluarga Kia. Ia dengan sopan menyalami satu persatu anggota keluarga.
Dito yang semula mengolok-olok Hadi, ternganga melihat rupa Hadi dari dekat. Si cupu di pikirannya berubah menjadi tampan seperti anggota boyband ternama. Keren dan stylish.
Kia tersenyum penuh kemenangan saat Dito menatap Hadi penuh kekaguman.
Hadi ternyata sangat ramah dan mudah akrab dengan siapa pun. Suasana rumah jadi hangat dan ramai dengan obrolan ringan.
Hadi berpamitan dengan sopan saat ia dan Kia akan berangkat ke kampus. Kia tak henti melirik Hadi yang sudah bertransformasi menjadi cowok ganteng dan juga keren.
Tanpa kacamata, manik coklat mata nya memancarkan pesona yang sayang untuk di lewatkan barang sejenak. Sweeter coklat dan celana jeans menambah ke tampanan Hadi.
Kia duduk manis di jok belakang motor Hadi. Hadi menarik tangan Kia ke arah pinggangnya , membuat Kia salah tingkah . Ia takut Hadi merasakan debaran jantungnya yang berdangdut ria.
"Pegangan, nanti kamu jatuh," lirih Hadi.
Kia membisu. Lidahnya terasa kelu . Ia jadi salah tingkah.
Motor melaju cukup kencang. Hadi memburu waktu . Ia takut terlambat sampai ke kampus. Acara sarapan bersama keluarga Kia banyak memakan waktunya.
Kia semakin mengencangkan pegangannya saat motor Hadi meliuk-liuk membelah jalan Ibu Kota.
Sesampai di kampus, semua mata memandang pada Kia dan juga Hadi dengan takjub. Cewek-cewek yang dulu menghina fisik Hadi ternganga dan berlari mendekati Hadi. Hadi jadi idola baru dalam hitungan detik.
Kia menyingkir teratur saat tangan Hadi di tarik cewek-cewek yang antri untuk kenalan dan minta nomor telpon pemuda keren itu.
Semakin Kia menjauh, hati Kia terasa semakin sakit. Apalagi saat Hadi tak kuasa menyingkirkan gadis-gadis untuk mendekati Kia, Kia merasa kecewa. Perasaan apa, ini?
Kia berbalik dan berlari meninggalkan Hadi. Saat bulir bening itu jatuh, Kia segera menyekanya dengan punggung tangannya. Ia tak mau Hadi tau, jika ia ... kini mulai mencintainya.
"Kia ...,"
Lirih suara Hadi terdengar saat Kia semakin jauh darinya. Kia sadar, cinta tak berarti baginya. Karena ia tak mungkin bisa punya pasangan. Siapa dia sekarang? seorang monster dan mesin pembunuh.
***
Riuh suara murid di kampus saat tau Ferdi jadi korban pembunuhan binatang buas di rumahnya. Joe pun saat ini menjadi saksi. Beruntung ada CCTV di ruangan itu. Jadi, Joe terbebas dari tuduhan.
Kelas tempat Ferdi belajar di liburkan . Mereka pergi ke rumah Ferdi untuk berbela sungkawa.
Kia yang melihat teman-temannya berbicara tentang Ferdi hanya tersenyum getir. Ia masih ingat saat Ferdi melepaskan nyawa tepat di tangannya . Tubuhnya menegang dengan darah yang mengucur deras.
Saat Doni tak sengaja melintas, timbul rasa panas di hati Kia. Matanya mengekor ke mana Doni pergi. Doni sepertinya tau, dia ...