
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_13
#by: R.D.Lestari.
Slapppss!
Ferdi mengernyitkan dahinya. Jelas sekali ia seperti melihat sekelebat bayangan besar tinggi melesat di dapur kamarnya.
"Joe, berhenti," Ferdi menarik pergelangan tangan Joe. Joe melotot ke arah Ferdi. Ia merasa temannya itu amat penakut.
"Apaan, sih, Fer. Penakut!" sentak Joe melihat sahabatnya itu seperti memberi kode untuk tetap diam di tempat.
"Bu--bukan gitu, Joe. Gua barusan liat ada bayangan di dapur," tunjuk Ferdi mengarah ke dapurnya.
Tap !
Tiba-tiba mati lampu. Semua ruangan menjadi gelap. Hanya sedikit cahaya yang masuk dari celah jendela karena tirai sudah di tutup sempurna.
"Jo--Joe ...," tangan Ferdi gemetar menggenggam lengan Joe. Sama seperti Ferdi, Joe sebenarnya merasa takut.
Sret -sret-sret!
Prang!
"A--apa, itu ... Joe ...," peluh Ferdi mengucur deras seiring dengan tubuhnya yang juga bergetar hebat. Ia amat ketakutan berada dalam kegelapan dan suara-suara aneh di rumahnya.
Drap-drap-drap!
Mereka terdiam saat bersamaan mendengar suara derap langkah kaki menghampiri mereka.
Slappp!
"Joe !"
"Arrggghh!"
Joe terkesiap saat tangan Ferdi menarik tangannya kencang, tapi dalam sekejap ia merasa Ferdi tiba-tiba hilang dari sampingnya. Tangannya meraba ke segala arah. Kosong. Ferdi tak ada di tempat.
"Arrgghhh!"
"Ferdi !"
Joe berteriak nyaring saat ia kembali mendengar suara Ferdi mengerang kesakitan. Di mana sebenarnya Ferdi?
Klek!
Ruangan tiba-tiba jadi terang benderang. Netra Joe membulat sempurna. Manik hitam mata nya mempias saat melihat pemandangan menyeramkan di hadapannya.
Ferdi mengerang kesakitan saat tancapan demi tancapan kuku-kuku tajam menusuk tubuh kekarnya berulang kali hingga darah segar merah kehitaman muncrat dari tubuh dan mulutnya.
Dalam pelukan makhluk tinggi besar berbulu tebal itu, Ferdi pasrah menunggu kematiannya. Makhluk bertaring tajam dengan moncong dan air liur yang terus menetes menyeringai ke arah Joe sembari mencabik-cabik tubuh Ferdi hingga usus Ferdi terburai.
Joe gemetar ketakutan . Tanpa pikir panjang ia beranjak dan berlari pontang-panting mencari pertolongan .
"Gggrrr!"
Peluh Joe mengucur deras dengan jantung yang memompa keras. Ia berlari tak tau arah berusaha menyelamatkan diri. Masih terbayang mata semerah darah dengan seringaian makhluk yang mencabik tubuh Ferdi.
Brakk!
Joe berhasil keluar rumah tanpa hambatan. Makhluk itu sama sekali tak mengejarnya. Joe tak perduli dengan kakinya yang terluka saat menginjak aspal dan juga kerikil tajam. Ia hanya punya saru tujuan, pos satpam di ujung komplek perumahan tempat tinggal Ferdi, karena sudah lewat tengah malam, hanya satpam yang masih terjaga.
Napasnya tersengal saat ia berhasil sampai di pos jaga satpam. Tiga orang satpam penjaga melihatnya keheranan.
"Pak ... tolong saya, Pak. Teman saya ...," Joe berusaha menjelaskan walau dengan napas tercekat dan kelelahan.
"Sabar, Mas. Pelan-pelan. Ini minum dulu," seorang satpam berambut putih memberi Joe segelas air putih. Berusaha menenangkan Joe yang ketakutan.
Glek-glek-glek!
Joe berusaha meminum air putih itu dalam sekejap. Ia menarik napasnya dan berusaha tenang.
"Nah, sekarang Mas bisa jelaskan, apa yang terjadi pada teman Mas," satpam bertopi biru berusaha mencari informasi dari Joe.
"Bapak ikut saya saja, teman saya sekarat, Pak," kembali tubuh Joe bergetar ketakutan saat ia mengingat kejadian barusan.
"Baik, sekarang Mas bisa naik motor saya, Pak Hamdan dan Muklis berboncengan saja," sahut satpam yang paling tinggi kepada kedua temannya. Joe yang masih ketakutan menuruti perintah Pak Satpam dan segera duduk di jok belakang .
Mereka beriringan melaju kencang menuju rumah Ferdi, membelah malam yang sunyi dan tenang. Semua orang sudah terlelap. Hanya mereka yang masih berkutat dengan keadaan genting.
"Ayo, segera kita masuk!" Pak Hamdan dengan gagah berani membuka pintu yang tak terkunci.
Drap-drap-drap!
"Astaghfirullah," Pak Hamdan dan semua orang yang berada di situ termasuk Joe menutup mulut mereka secara serentak. Joe luruh melihat jasad sahabatnya yang kini terbujur kaku bersimbah darah di lantai. Kondisinya amat sangat mengenaskan. Tubuh tercabik dengan usus yang terburai dan gigitan di beberapa bagian tubuh lainnya.
"Makhluk apa yang bisa berbuat sesadis ini?"
Semua satpam serentak menatap ke arah Joe, Joe bingung. Jelas tadi makhluk itu ada dan mencabik tubuh Ferdi, tapi kini , makhluk itu hilang.
"Cepat hubungi polisi , dan Mas harus ikut kami untuk menjadi saksi,"
"Ta--tapi, Pak ...,"
***
Kia berlari secepat kilat menuju rumahnya. Beruntung suasana gelap dan rintik hujan masih menemaninya malam ini, membuat semua orang terlelap dan suasana amat sepi .
Kaki serigala itu berlari dengan gesit tanpa menimbulkan suara mencurigakan. Tanpa rasa sesal Kia terus berlari tanpa henti hingga tiba di bawah kamarnya. Dengan sangar mudah ia naik ke atas kamarnya di lantai dua dan masuk lewat jendela.
Brughh!
Monster cantik itu merebahkan tubuh besarnya di atas kasur empuk kesayangannya . Ia lelah, tapi dalam hatinya ia lega karena bisa balas dendam pada pemuda yang telah melecehkan dirinya.
Tak menunggu lama suara napas Kia mulai teratur, pertanda ia sudah terlelap dalam tidurnya. Ia tertidur dalam keadaan tubuh masih berbentuk monster dengan bulu yang tebal , tanpa selimut pun ia susah merasa hangat.
***
Tok! tok! tok!
"Ki ... bangun! sudah siang, kamu ada kelas hari ini, 'kan ," suara Mama Etika terdengar lantang beserta gedoran di pintu kamar Kia.
Gadis itu menggeliat malas, ia merasa tubuhnya masih sangat lelah. Mata nya mengerjap saat sinar matahari tepat mengenai tubuhnya dari celah jendela.
Manik matanya membulat tatkala ia melihat ...