
"Werewolf Girl In Love"
#part_15
#by: R.D.Lestari.
Doni sempat melirik Kia yang menatapnya nyalang, ia tertunduk saat bersitatap dengan gadis cantik favorit pemuda di kampus, hatinya bergetar mengingat kejadian beberapa minggu belakang. Saat ia menikmati tubuh mulus wanita cantik yang kini menatapnya dengan senyum teramat sinis. Ia mempercepat langkahnya untuk menghindari tatapan Kia yang super mengerikan.
Kia terkekeh saat ia melihat raut ketakutan di wajah Doni. Ia membereskan buku-bukunya di atas meja dan memasukkannya dalam tas salempang coklat miliknya.
Drap-drap-drap!
Derap langkah kaki terdengar amat jelas memasuki kelas Kia. Hadi setengah terengah berjalan mendekati Kia yang masih sibuk mengemasi barang pribadinya.
"Ki ...,"
Kia mendongakkan wajahnya dan mata nyalangnya bersitatap dengan mata teduh Hadi. Cukup lama hingga akhirnya Kia membuang pandangannya pada tempat lain. Ia tak ingin punya perasaan lebih terhadap Hadi. Walaupun ia akui jika hatinya ... mulai tumbuh benih-benih asmara.
"Ki ... kamu kenapa tadi pergi ninggalin aku," Hadi menyentuh bahu Kia pelan. Kia menepis kasar tangan Hadi.
"Ga ada apa-apa. Kamu kan tadi banyak yang ngerubuni, cewek-cewek cantik dan seksi.
"Lha, memang kenapa? kan mereka juga teman kita," wajah polos Hadi membuat Kia jengah.
"Dasar ga peka," batinnya.
Kia bangkit dan mengacuhkan Hadi. Hatinya sakit melihat Hadi di deketin wanita lain. Hadi memang ramah, itu sebabnya ia mudah menerima orang-orang baru dalam hidupnya. Dan Kia tak suka itu. Dia ingin Hadi hanya dekat dengannya, dan rasanya ingin memangsa semua wanita cantik dan centil itu untuk ia makan daging dan darahnya. Mencabik wajah berpolesan make up yang di gunakan untuk menggoda laki-laki.
Mencabik? memangsa? pikiran apa ini? Kia sesegera mungkin menepis pikiran aneh nya itu. Ia siap melangkah saat Hadi mencekal tangan nya. Gara-gara perbuatan Hadi yang di luar dugaan Kia, kaki Kia tersandung meja dan ia limbung. Beruntung Hadi sigap dan menariknya dalam pelukan Hadi. Tangan Kia menyentuh dada Hadi yang bidang. Dada yang pernah ia lihat tanpa pakaian. Dada yang ingin sekali ia sentuh.
Kia menatap manik coklat mata Hadi, debaran jantung Hadi terdengar di telinga Kia dan dirasakan juga di tangannya Kia.
Cukup lama mereka bersitatap dan saling merasakan hembusan napas satu sama lain karena jarak mereka yang teramat dekat.
"Ma--maaf, Ki," Hadi mengurai pelukannya, ia tak mau dianggap kurang ajar oleh Kia.
"Aku mau pulang , Di," Kia merapikan pakaiannya dan melangkah meninggalkan Hadi. Sempat menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Hadi yang masih menatapnya bingung, tak tau apa yang salah pada dirinya. Dalam hati Kia merasa bersalah, mungkin dirinya memang terlalu egois. Ia hanya tak ingin Hadi masuk dalam lingkaran hitam yang kini sedang mengelilingi hidupnya. Lebih baik sakit sekarang daripada nanti, saat cinta itu tumbuh dan mengakar semakin kuat di hati.
***
Kia mengutak-atik handphone silver miliknya. Mencari informasi tentang Doni, target selanjutnya . Ia tersenyum puas saat apa yang di carinya dengan mudah ia dapat.
Kembali ia mencari informasi tentang manusia srigala. Kapan berubah bentuk menjadi monster dan apa saja pantangan baginya. Rupanya tepat saat bulan purnama penuh, itulah waktu manusia srigala sepertinya berubah bentuk menjadi monster mengerikan.
Klak!
Kia mematahkan pensil di tangannya dan menggenggam kencang pensil yang sudah patah. Ia menggeram marah.
"Doni, tunggu pembalasanku ! kau berikutnya!"
***
Buk! buk! buk!
Buku-buku Doni berjatuhan di lantai saat ia membuka lokernya . Secarik kertas dengan goresan noda darah kering membuat tubuhnya bergetar hebat dan peluhnya mengucur deras. Tanda kematian di sematkan di sana. Tangannya bergetar saat membaca tulisan berdarah di atas kertas dengan background gambar tengkorak.
"Tunggu giliranmu, Doni. Sama seperti Ferdi , kau akan merasakan hal yang sama. Nikmati hidupmu yang tak sampai empat puluh delapan jam," lirih suara Doni membacanya
"Sialan! aku tak takut!" makinya.
Brakk!
Doni meninju loker dan membuat semua orang yang berada di tempat menatapnya dengan sorot kebingungan.
Drap-drap-drap!
Doni berjalan bergegas mendekati Kia yang sedang menikmati bakso uratnya di kantin. Kia sudah tau pasti Doni akan mendatangi nya karena cuma Kia lah tersangka yang akan di kejar olehnya. Siapa lagi yang berani berbuat seperti itu kecuali Kia?
Brakkk!
Prangg!
Doni menggebrak meja Kia hingga gelas kaca yang berisi jus jeruk menggelinding dan jatuh menyentuh lantai, pecah berkeping.
"Kau tak akan mampu membuatku takut, Ki. Aku bukan penakut ," suara Doni menggelegar membuat orang di kantin menatapnya marah.
Kia tetap santai menyantap baksonya, membuat Doni naik pitam.
"Kau !"
Tangan kanannya terangkat ke atas, bersiap melayangkan ke arah Kia. Belum sempat tangan itu bergerak, Doni terkesiap saat mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Doni!"
Seseorang itu ...