Werewolf Girl In Love

Werewolf Girl In Love
part_10



Bismillah


    "Werewolf Girl In Love"


#part_10


#by: R.D.Lestari.


   "Manusia Serigala?"


  


   "Iya, Ki. Aku rasa tak salah lihat. Monster itu bertubuh seperti manusia," mata Hadi membulat.


  "Manusia Srigala hanya ada dalam film, Di. Jangan mengada-ada," sahutku. Tanganku mengibas, konyol. Mana ada manusia srigala. Apa Hadi mau menakutiku?


   "Tidak semua di dunia kita ketahui. Mungkin banyak makhluk-makhluk di luar sana yang kita anggap tak ada, malah banyak dan punya komunitas sendiri. Kamu ga percaya?


   "Ah, sudahlah Di, kalau memang itu manusia srigala, apa untungnya untukku? bukankah kita sudah terlepas darinya?"


   "Aku hanya takut gigitan itu berefek buruk padamu, Ki, itu saja," kulihat ketulusan di mata Hadi. Aku memilih diam. Bingung mau jawab apa, toh kakiku sudah sehat.


   "Kamu jangan nakuti, ya. Oh, ya. Jangan lupa nanti sore, tinggali aja motormu di parkiran. Nanti naik motorku, okey,"


    "Tapi, kita mau kemana?" tanya nya saat kakiku mulai melangkah, sedikit menoleh ke arahnya seraya berucap," ikut aja dan jangan banyak tanya!"


***


   Hadi, pria berkacamata itu rupanya sudah berada di parkiran. Matanya melirik sana-sini seperti mencari sesuatu. Aku terkikik geli di balik dinding kelas seraya memperhatikannya dari jauh.


    Di balik gaya kampungannya itu, harus kuakui Hadi memang sangat menarik. Untungnya, baru aku yang melihat sisi sexy nya dan juga ketampanannya yang tersembunyi di balik kaca mata dan baju kedodorannya itu.


    Puas memperhatikan Hadi, aku pun mulai melangkah mendekatinya. Rintik hujan sore ini tak akan menyurutkan niatku untuk bisa membuatnya menjadi orang baru yang mungkin bisa merubah hidupnya.


   Slapsss!


   Netraku tak sengaja menangkap sekelebatan sosok yang amat ku kenal. Siapa lagi kalau bukan Sasi.


    Aku tak membuang waktu. Beberapa hari ini aku memang mencarinya. Heran. Sasi bak di telan bumi semenjak kejadian buruk yang menimpaku. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?


   "Sasi!" ku tarik tangannya saat Sasi hendak menghindariku.


   "Eh, Ki--Kia," matanya melotot ke arahku, seperti melihat hantu.


   "Sas, tega kamu ninggalin aku!"


   Sasi tergugu , ia menangis sampai sesenggukan. Aku merasa iba. Sasi memang tak bersalah. Ia hanya di ancam dan aku kasihan padanya.


    "Kia?"


   Aku menoleh saat suara seseorang memanggil namaku.


   "Hadi?"


   "Aku Ninggalin dari tadi, malah ngobrol di sini," omel Hadi.


  "Ah, oya maaf ya. Ayo kita pergi sekarang, sebelum hujan lebat turun," ajakku. Sebelum melangkah aku menoleh pada Sasi.


   "Kamu ga perlu ngindari aku, Sas. Bukan salahmu. Aku hanya ingin kamu jaga semua kejadian malam itu. Kamu bisa di percaya, 'kan?" sahutku.


   "Terima kasih, Ki," senyum tulus terulas dari bibirnya. Aku mengangguk dan melangkah pergi darinya, bersama Hadi yang masih cemberut karena terlalu lama menungguku.


   "Sudah?" suara Hadi terdengar merdu saat ia memastikan aku sudah duduk dengan benar di atas motor.


   "Iya, sudah," jawabku singkat.


   Brummmm!


  "Ha-ha-ha, jadi setelah kau menolakku, kau pacaran sama cowok cupu?"


  "Cuihh! murahan!"


  "Ha-ha-ha!"


   Aku mengepal tanganku marah. Namun, tangan Hadi menyentuh punggung tanganku. Ia menoleh seraya menggeleng pelan.


    "Jangan di ladeni. Nanti rahasiamu terbongkar dan semua orang tau, termasuk orang tuamu . Joe hanya ingin cuci tangan dari perbuatan nya. Kita bisa membalasnya dengan cara yang elegan ," ucapan Hadi seketika menyejukkan hatiku. Aku kembali duduk manis di belakangnya dan memeluk Hadi dari belakang.


    "Ki--Kia,"


    "Hussstt,  aku pinjam kamu bentar aja, ya," bisikku dan ia pun mengangguk .


    Brummmm!


    Motor mulai melaju pelan. Aku sempat melirik Joe dan senyuman sinis tersungging untuknya.


    Joe menatapku tajam dan jari tengah ku beri untuknya. Sumpah serapah terucap dari mulutnya dan itu amat melukai hatiku. Beruntung ada Hadi di sisiku , ia mampu jadi penenang. Tunggu saja Joe, akan kubalas semua perbuatan mu padaku.