Werewolf Girl In Love

Werewolf Girl In Love
part_12



Bismillah


   # "Werewolf Girl In Love"


#part_12


#by: R.D.Lestari.


   "Aku ga apa-apa, Kak," sahut Kia dari dalam. Sebisa mungkin ia menahan rasa sakit yang sedang mendera tubuhnya. Ia tak ingin Dita melihat kondisinya yang menyeramkan seperti ini.


   "Beneran ga apa-apa, Dek?" Dita memastikan. Ia masih berdiri di depan pintu kamar Kia yang terkunci rapat.


   "Iya, Kak. Aku ga kenapa-kenapa," ulang Kia.


   Dita menghela napas dalam. Ia berbalik dan meninggalkan kamar Kia. Di dalam hatinya terselip rasa ragu, ia jelas mendengar teriakan kesakitan dari Kia tadi. Suara lengkingan yang amat menyayat hati.


   Kia meringis menahan sakit di balik selimut tebalnya. Ia menangis terisak hingga membuat matanya bengkak. Ia tak habis pikir. Mengapa ia bisa menjadi amat mengerikan seperti ini?


   Petir menyambar membentuk kilatan cahaya di langit yang gelap. Beberapa kali suara guntur menggelegar membuat Kia meringkuk ketakutan. Ia frustasi dan jatuh dalam jurang terdalam. Bagaimana ia bisa bertemu banyak orang jika keadaaannya amat mengerikan seperti monster?


   Bisa-bisa ia di buru dan di bunuh oleh orang-orang. Keluarganya pun pasti amat takut dan membuangnya ke dalam hutan jika melihatnya seperti ini.


   Semua pikiran buruk berkecamuk di pikiran Kia saat itu, airmatanya tumpah. Sesekali telapak tangannya meraba bulu-bulu halus dan moncongnya yang mengerikan.


   Siluet-siluet kejadian mengerikan itu kembali menari-nari dalam benaknya. Membuat bulunya berdiri karena amarah yang tak terkendali.


   Seketika ia teringat bagaimana Joe dan teman-temannya memperlakukan ia dengan keji dan membabi buta tanpa kenal ampun dan kasihan.


    Srettt!


   Tanpa sadar kuku tajam Kia merobek selimut tebalnya, kuku bak mata pisau yang siap kapan saja memotong dan menghancurkan mangsa. Mangsa? Kia tersenyum simpul saat bawah sadar nya mengucap 'mangsa'. Saat itu juga sisi lain dari dirinya bangkit dan menunjukkan eksistensinya.


   Kia yang beberapa menit yang lalu rapuh dan lemah, serta membenci dirinya yang seperti monster berubah pikiran seratus delapan puluh derajat.


    Matanya menyalang dengan manik merah seperti darah menatap ke arah jalan. Hujan masih setia membasahi dengan petir dan guntur yang bergantian.


    Kia bangkit dan berdiri tegak di atas tempat tidurnya. Menggeram penuh amarah. Ia tak sabar mencabik-cabik tubuh lelaki yang berkali-kali merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita.


    Awalnya ia menginginkan untuk menyingkirkan Joe terlebih dahulu, tapi ia tak mau semudah itu memberi pelajaran untuk Joe. Ia ingin bermain-main dengan ketakutan Joe dan melihat penderitaan yang dalam melalui kawan-kawan Joe terlebih dahulu.


    Krekk!


    Perlahan Kia membuka kaca jendelanya. Kamar Kia yang berada di lantai dua membuat Kia sedikit merasa ragu untuk terjun ke bawah. Nekat, Kia memasang ancang-ancang dan ...


   Hup!


  Bugh!


  Mudah saja bagi Kia untuk terjun dari ketinggian sepuluh meter dengan posisi kaki menjejak di tanah. Ia tak merasakan sakit sedikit pun. Merasa bugar dan tenaganya amat kuat.


  Tanpa menunggu lama Kia melesat mencari kediaman Joe untuk membalas dendam. Tanpa Kia sadar, saat itu kakaknya Dita tak sengaja berjalan ke arah dapur dan melihat kelebatan bayangan tinggi besar dengan cepat lewat di jendela ruang keluarga. Membuat wanita itu ketakutan dan ...


   Ia pingsan.


***


   "Loe yakin ga mau tidur di sini, Bro?"


    Ferdi seolah enggan ku tinggalkan malam ini. Sorot matanya penuh harapan. Meminta diriku untuk menemaninya malam ini.


    "Loe tau sendiri, Bro . Orang tuaku galak. Bisa marah dia kalau gue nginep di rumah loe," sanggahku . Sebetulnya bukan itu alasan utama bagiku. Tidur di rumah lebih nyaman, itu alasannya.


    "Gue sendirian malam ini, Bro,"


    "Kenapa, loe takut? cemen banget, loe, Bro ," ledekku. Ferdi terlihat mencebik karena ucapanku.


    Aku jadi merasa bersalah dan kasihan padanya. Walaupun ia nampak kekar dan beringas, aku tau di dalam dirinya, ia seorang yang penakut.


    "Ya, udah. Gue temani malam ini, ya," aku merangkul bahunya . Ia menoleh dan menatapku dengan mata yang berbinar.


    "Terima kasih, Bro ," berulang kali ia menepuk pundakku girang. Aku hanya mengangguk pelan.


    Kami kembali menikmati siaran sepak bola, menonton sambil mengunyah beberapa cemilan yang Ferdi sediakan.


    "Golll!"


 


      Plak!


     Tangan kami serentak beradu saat salah satu team yang kami favoritkan mencetak angka dengan tendangan bola yang tepat sasaran.


    Srekk! Srekk!


    Drap-drap-drap!


    Lirih tapi terdengar amat jelas di telinga. Aku langsung memasang telingaku besar-besar saat indra pendengaranku menangkap derap langkah kaki yang menghentak. Getarannya amat terasa.


    Ku raih remot TV dari genggaman Ferdi dan mengecilkan volume TV. Ferdi menatapku heran, tapi aku menyuruh nya diam dan mendengarkan dengan seksama.


    Brakkk!


    Kami serentak terjingkat saat mendengar suara dobrakan di pintu belakang.


   "Si--siapa, Joe?" Ferdi bergidik ngeri saat mataku menatap tajam ke sekitar. Tak ada siapa-siapa.


    "Ayo, kita cek, Fer. Sepertinya ada orang masuk rumahmu dari belakang," ucapku saat beranjak dan ingin melangkah ke arah dapur.


   Slappp!