
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_11
#by:R.D.Lestari.
"Mau kemana, ini, Ki?" Hadi terlihat kikuk saat Kia meminta nya berhenti di area pertokoan. Uang si sakunya tinggal seratus lima puluh ribu rupiah, sedangkan gajinya dari bekerja sebagai pelayan makanan di sebuah cafe masih beberapa hari lagi. Ia tak mungkin meminta Bapaknya yang berada di kampung untuk mentransfer uang karena keadaan mereka di sana pun serba kekurangan.
"Ayo, Di. Ikut denganku ," Kia menarik pergelangan tangan Hadi pelan saat ia turun dari motor yang terparkir tepat di depan distro pakaian cowok. Hadi nampak enggan, tapi ia tak kuasa menolak ajakan Kia.
Walau dengan sedikit terpincang, Kia terlihat lincah berjalan menuju toko dengan Hadi yang mengekor di belakang. Kia memilih satu persatu pakaian cowok keluaran terbaru dengan warna yang maskulin dan juga celana-celana jeans dan cinos.
"Hadi, coba kamu pake ini," Kia menyerahkan beberapa baju dan celana kepada Hadi. Hadi terpelongo dengan ucapan Kia, ia menolak tegas karena merasa harkat dan martabatnya sebagai lelaki di rendahkan.
"Apaan, sih, Ki. Maksud kamu apa? aku ga mau!"
Hadi marah dan beranjak meninggalkan Kia yang masih terpaku mendapat perlakuan mengejutkan dari Hadi yang di luar pikirannya. Ia tak menyangka Hadi tersinggung karena perbuatannya.
Brakkkkk!
"Hadi ... !"
Hadi berhenti dan menoleh saat Kia berulang kali memanggilnya, ia iba karena gadis itu terus mengejarnya dengan terpincang karena kakinya yang masih sakit. Ia berusaha menurunkan egonya.
"Ha--Hadi, ka-kamu...,"
Dengan terengah-engah Kia mendekati Hadi yang menatapnya tajam. Kia jadi salah tingkah.
"Kamu kenapa, Di?"
"Kamu yang kenapa! ngajak ke sini terus nyuruh pake baju-baju bagus," Hadi mencebik.
"Kamu kan tau, Ki. Aku tak mungkin mampu membeli itu semua. Walaupun aku bekerja, semua uangku hanya cukup untuk makan dan kuliah, aku tak mungkin meminta orang tua, mereka sudah cukup susah di sana," mata Hadi berkaca-kaca.
Degh!
Kia tak menyangka Hadi punya pikiran seperti itu, Kia amat menyesal karena membuat Hadi bersedih. Perlahan Kia mendekati Hadi. Ia menyentuh punggung tangan Hadi pelan.
"Maafkan aku, Di. Aku hanya ingin berterima kasih padamu, berkat kamu, aku bisa hidup dan selamat hingga saat ini, aku mohon, Di. Izinkan aku membalas budi padamu,"
"Aku tak punya maksud buruk, Di. Aku mohon ...," Kia bersungguh-sungguh memohon pada Hadi, hingga pemuda itu luluh karena nya. Ia pun akhirnya mau mengikuti kemauan Kia.
Kia menarik tangan Hadi kembali masuk ke dalam distro, mencoba beberapa pakaian yang pas, Kia terhenyak saat melihat Hadi memakai baju yang kekinian. Tubuhnya nampak sempurna walaupun ia memakai kacamata dan rambut yang masih ketinggalan jaman.
Kembali, Kia terkesima melihat Hadi yang semakin menunjukkan ketampanannya, terakhir, Kia menyerahkan sepasang softlens untuk Hadi sesuai warna mata Hadi.
Sungguh, hati Kia bergetar hebat melihat perubahan drastis dari Hadi. Ternyata, Hadi amatlah tampan. Ia hanya orang yang kurang beruntung karena ketampanannya tersembunyi di balik dana yang minim.
Menjelang magrib, Hadi mengantar Kia sampai di depan pagar rumahnya, di bawah hujan yang turun rintik-rintik, Kia turun dari motor Hadi.
"Makasih ya, Di,"
" Iya, Ki. Aku yang harusnya berterima kasih karena udah di belanjain," Hadi tersenyum getir. Ada rasa tak enak di hatinya.
"Iya, sama-sama, oh, ya. Besok jemput ya, soalnya motorku kan masih di parkiran kampus,"
" Oh, ya. Siap! besok pagi aku jemput, y. Aku permisi dulu ya, Ki. Assalamualaikum," Hadi mengangguk dan memutar motornya, Kia melambai seraya berucap," waalaikumsalam."
***
Hujan turun amat deras malam ini, angin pun berhembus kencang menggoyang pohon-pohon di luar hingga membuat beberapa pohon yang sudah tua dan lapuk tumbang. Bunyi gesekan ranting dengan atap rumah terdengar amat berisik.
Kia tiba-tiba merasa tubuhnya tak enak. Ia menggigil dan panas menjalari tubuhnya. Berlapis-lapis selimut tak mampu meredakan rasa dingin di tubuhnya .
Sendi-sendinya sakit. Kia meringkuk menahan sakit yang tak terhingga. Gemeretuk giginya terdengar amat kencang. Kia menangis menahan sakit, tapi ia tak kuasa memanggil Ibunya . Suara hujan dan angin kencang meredam suaranya.
Perlahan Kia mengibas selimutnya dan berusaha turun dari ranjangnya , netranya membesar tatkala ia melihat tangannya yang di penuhi bulu halus.
"Aaaaaaaa!" kali ini teriakan Kia terdengar amat lantang, membahana hingga terdengar di kamar Dita, kakaknya yang bersebelahan kamar dengannya .
Drap-drap-drap!
"Kia !"
Dok! dok ! dok!
Dita berulang kali mengetuk pintu kamar adiknya. Ia merasa amat khawatir dengan keadaan Kia.
Mata Kia kian membesar. Tubuhnya gemetar ketakutan melihat bulu-bulu halus kian tumbuh di sekujur tubuh.
Kia bangkit walaupun sedikit terhuyung . Ia berdiri tepat di depan cermin. Air matanya tumpah melihat dirinya yang amat menyeramkan terpantul di sana. Bulu lebat dengan tubuh besar berotot dengan moncong dan taring yang mencuat di sana.
Dok! dok! dok!
"Dek ... Kia !" lagi, Dita berusaha mencari tau tentang adiknya .
Kia ...