
Bismillah
"Werewolf Girl In Love"
#part_8
#by: R.D.Lestari.
"Pak ! Pak! saya menemukan sesuatu," suara salah satu murid menggema di hutan, membuat Pak Hamdan selaku pembimbing segera menoleh dan mencari asal suara.
"Apa?"
Murid tadi berlari seraya menunjukkan jaket coklat dengan les biru. Jaket itu melambai-lambat di udara. Semua mata tertuju pada murid yang berlari menuju Pak Hamdan dan teman-temannya.
Jantung Sasi seolah berhenti. Jaket? apakah mereka menemukan keberadaan Hadi dan Kia?
Joe dan kawan-kawannya terdiam. Wajah mereka pusat pasi. Firman dan Ferdi berpura-pura tak mendengar. Mereka lebih memilih menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
"Pak, ini saya nemu jaket. Kemungkinan besar ini punya Hadi, Pak,"
"Kamu nemuin di mana?" tanya Pak Hadi.
"Di sana, Pak. Di bawah pohon rindang. Ada bekas bakaran juga di sana, Pak. Tapi tak ada siapa-siapa,"
"Bagus, kemungkinan besar mereka masih hidup. Ayo, semua! kita kembali melanjutkan pencarian," ajak Pak Hamdan yang diiringi anggukan semua orang. Mereka kembali mencari Kia dan Hadi seraya memanggil nama mereka secara bergantian.
***
"Kamu pasti capek, Di. Ayo, kita istirahat dulu,"
Kia merasa tak enak hati karena sedari tadi hanya berada di gendongan Hadi.
"Kita hampir sampai di pertengahan hutan. Aku ingin kita cepat dapat bantuan dan kamu bisa segera di obati," sahut Hadi. Ia terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan Kia.
Kia memilih diam dan menikmati berada di gendongan pemuda berotot itu. Sesekali jemarinya menyentuh dada bidang Hadi, ia senyum-senyum sendiri saat itu terjadi.
"Kia ... Hadi ...,"
Sayup mereka mendengar banyak suara orang memanggil nama mereka bersahut-sahutan.
"Hadi, kamu dengar itu?"
"Ya, Kia. Aku dengar. Alhamdulillah," Hadi mengucap syukur seraya mempercepat langkah kakinya.
"Woiii ! kami di sini!" Hadi dan Kia ikut berteriak.
Tak lama mereka berjalan, nampak beberapa kelebat orang dari jauh. Mereka berteriak nyaring hingga beberapa orang melihat mereka.
Hadi dan Kia akhir nya selamat dan di bawa kembali ke tenda. Hadi beristirahat di tenda pria dan Kia memilih istirahat dan di obati di tenda Nindi dan Sari.
Setelah di periksa, Kia di haruskan di bawa ke rumah sakit karena luka yang cukup dalam. Para pembimbing mengintrogasi Hadi di tenda, sedangkan Kia mereka bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Hadi berusaha keras menyembunyikan fakta yang menimpa Kia. Ia mengungkap bahwa Kia di terkam hewan buas dan sempat di seret ke tengah hutan saat buang air kecil, sedangkan Hadi tak sengaja mendengar teriakan wanita saat ia mau buang hajat.
Beruntung semua percaya akan perkataannya dan Hadi di bebaskan beristirahat.
Kia sempat berpapasan dengan Sasi dan Joe saat akan di bawa ke rumah sakit, ia menatap mereka dengan tatapan benci, sedangkan Sasi memilih menundukkan kepalanya karena takut Kia akan menghujamnya dengan banyak pertanyaan. Joe memalingkan wajahnya seolah enggan bersitatap dengan wanita yang semalam di siksanya. Ia merasakan dendam di hati Kia, dan ia takut karenanya.
***
Di koridor rumah sakit, Pak wijaya dan Ibu Erika Wijaya berlarian dengan napas terengah-engah. Mereka sangat khawatir dengan keadaan gadis bungsu mereka yang mengalami kejadian mengenaskan saat berkemah. Mereka akhirnya tiba di ruangan yang di sebutkan, di mana anak gadis mereka sedang di rawat.
Kriettttt!
Drap-drap-drap!
Ibu Erika berjalan tergesa saat melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat dengan kaki yang di perban.
"Kia ... ya ampun, Nak," wajah Ibu Erika pias. Dokter spesialis itu melihat nanar anaknya yang banyak mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Kia ... apa yang terjadi?" Tanya Pak Wijaya , pria paruh baya itu sama terkejutnya dengan Bu Erika, istrinya .
"Kia di serang binatang buas, Bu. Binatang itu sempat menyeret dan menggigit Kia saat Kia sedang buang air kecil," Kia sedikit berbohong. Ia tak ingin orang tuanya tau apa yang terjadi dengannya malam itu. Hati mereka pasti hancur. Cukup Kia saja yang merasa dunianya runtuh, jangan kedua orang tuanya .
"Kia, apakah sakit, anakku?" Ibu Erika menahan tangis seraya menyentuh kaki anaknya yang di perban.
"Ya, Bu. Sedikit. Beruntung saat itu ada temanku, Hadi. Dia yang menolongku dan membuat binatang itu melepaskan gigitannya,"
"Berkat Hadi, Kia bisa selamat," mata Kia menatap Mamanya lekat. Pikiran nya menerawang jauh, mengingat satu persatu kejadian saat bersama dengan Hadi.
"Nanti, setelah kamu sembuh, Mama ingin bertemu dengan Hadi dan mengucapkan terima kasih karena telah menolongmu, Sayang,"
"Ya, Papa juga setuju. Berkat anak itu, Kia masih bisa berkumpul bersama kita. Papa sangar berterima kasih padanya ," timbal Papa. Mama pun mengangguk setuju.
"Sekarang kamu istirahat, Mama ingin kamu segera sehat. Mama sama Papa akan nungguin kamu di sini. Mama sayang banget sama kamu, Nak ," Ibu Erika memeluk putri kesayangannya. Bulir bening itu mulai luruh, hatinya sedih tapi juga bahagia, ia bersedih karena anaknya mengalami kejadian buruk tapi ia juga bahagia karena anaknya selamat.
***
Tiga hari di rumah sakit, kondisi Kia mulai membaik. Di jemput dengan kedua orang tua dan kedua kakaknya, Kia akhirnya di bawa pulang kerumah.
Kia menatap bahagia kamar yang penuh poster artis-artis kesayangannya. Ia merebahkan tubuhnya pelan. Kakinya sudah tak nyut-nyutan , tapi ia tetap takut beraktivitas berlebihan, karena harus ia akui, bagian dalam kewanitaannya terkadang masih terasa sakit.
Kia membalikkan tubuhnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal. Menangis sejadi-jadinya. Ia frustasi. Sakit hati. Ia benci pada dirinya sendiri. Seandainya malam itu ia paksakan tidur dalam keadaan menahan untuk tidak buang air kecil, pasti kejadian buruk itu tak terjadi, tapi itu tak mungkin. Atau mungkin saat Mama menghalanginya untuk pergi, Kia menurut pasti semua akan baik-baik saja.
Kia berandai-andai, tapi semua sudah terlambat. Ia tak ingin terpuruk . Hatinya sakit, perbuatan Joe dan komplotannya harus dapat balasan. Kia mengepal tangannya. Karena ulah mereka, Kia terancam tak punya masa depan. Kia bertekad dalam hatinya, ia akan segera balas dendam!