Voice

Voice
Chapter 8



Hari ini adalah akhir pekan yang begitu melelahkan, bagaimana tidak. Aku membantu ibu berdagang hingga sampai sore menjelang malam begini. Saat aku ada dirumah toko menjadi begitu ramai dan beberapa teman ibu juga banyak mencubiti ku karena mereka bilang aku sudah besar. Padahal aku tidak kenal siapa saja tante-tante yang berani mencubiti ku itu. Saat aku mengelap meja yang kotor karena seharian ini, aku tak sengaja melirik pada ibu yang tengah menghitung penghasilan hari ini dengan di iringi senyum begitu lebar dan nampak puas. Sihir apa yang membuatku juga akhirnya menyunggingkan senyum lembut karena juga ikut puas.


"Kau mau berapa?"


Sekali lagi aku menoleh pada ibu. Beliau tersenyum penuh keibuan padaku, senyum yang selalu menghangatkan hatiku dan juga bisa meluluhkan hatiku.


Wanita yang bagaikan Ratu di hidupku.


Bahkan aku bisa takut saat dia meneteskan air matanya karena ulahku.


"Maksud ibu?"


"Baiklaaah, jangan pura-pura tidak mengerti Yoka."


Aku tertawa, aku mengerti maksud ibu. Tetapi lelucon ku tadi tidak mempan pada sosok perasa yang begitu kuat itu. Aku sedikit berpikir dan kemudian aku segera merentangkan kedua tangan ku merekah kan kesepuluh jariku dengan percaya diri. Ibu yang melihatnya merespon dengan mengangguk kemudian menyisihkan beberapa uang.


"Kau minta sepuluh, ibu beri kau lima puluh. Kau bisa tabung sisanya ini ambilah"


Aku melotot tidak percaya, ibu tertawa mentertawakan diriku yang seperti tidak pernah mendapat uang lima puluh seumur hidup.


"Sudahlaah, ambil itu dan segera mandi. Biar ibu yang akan membereskan nya"


"Lalu siapa yang akan masak makan malam?"


"Key telah berjanji mengajak kita untuk makan di luar. Segera siap-siap!"


Malam ini mungkin cukup menggembirakan, kami jarang mengadakan kumpul keluarga makan di luar karena kesibukan masing-masing. Tapi di akhir pekan ini, usai kakakku Mien bersama suami nya Key mengunjungi rumah orang tua Key, dia akan mengajak kami untuk makan diluar bersama.


"Bagaimana kabar ibumu Key?"


"Ibu sempat bilang kemarin dia jatuh sakit, aku bahkan sempat hampir memarahi beliau karena tidak mengabari ku. Syukurlah ibu sudah sehat kembali."


Aku bisa melihat raut wajah ibu berubah kaget usai mendengar pernyataan Key. Wajar saja karena besanan sih. Kakaku Mien, dia sangat beda jauh dengan ku. Dia sudah berusia 23 tahun dan menikah dua tahun yang lalu dengan Key, sedangkan aku disini masih berumur 12 tahun dan masih remaja labil. Ayah meninggal 3 tahun yang lalu akibat Kolestrol yang tak terkendali dan mengalami koma. Ibu meneruskan usaha membuka toko roti yang awalnya dirintis bersama ayah dari nol. Sebagai anak bungsu wajar untuk ku bisa menjaga dan melindungi ibu saat kakakku Mien tidak dapat lagi menunaikan tugas nya karena juga dia harus bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil nya. Maksudku, Mien baru saja mengalami keguguran saat usia kandungan mencapai 2 bulan karena kelelahan bekerja.


"Bagaimana dengan mu Yoka, biasanya kau sudah menghilang di pagi buta bersama kedua sahabat mu. Memang hari ini libur?"


Aku menoleh pada kakakku Mien, yang tersenyum jahil. Aku tahu betul saat dia berusaha menggoda ku, tapi aku bersikap aman saja dengan berkata.


"Aku sedang bertengkar dengan mereka"


Ketiga wajah manusia di depan mataku menatapku dengan tidak percaya, khususnya ibu. Yang tatapan nya menyiratkan ketidak mungkinan, ya bu aku sedang berjauhan dengan mereka.


"Baru kali ini aku mendengar ada kerenggangan di usia perasahabatan kalian yang mencapai 5 tahun"


"Semoga kalian segera berbaikan, tidak enak kan kalau terus-terusan tak bertegur sapa"


"Apalagi persahabatan kalian sudah terjalin lama, jangan terlalu dipermasalahkan"


Aku ini sebenarnya kebingungan menanggapi semua nasehat yang masuk secara serempak tak beraturan. Tapi jika aku ceritakan lagi masalah sebenarnya bukanlah ide yang bagus karena aku yakin aku pasti akan tambah di nasehati dan akhirnya membuat selera makan ku turun drastis.


Jadi lebih baik aku diam saja. Dan jangan lupa tersenyum.


Aku merebahkan diriku dengan memposisikan diri senyaman mungkin sambil menerawang ke atas langit-langit kamar. Adalah ritual favoritku sebelum tidur dan kesadaran direnggut mimpi.


Tidak ada yang ku renungkan. Menurutku hari ini adalah hari yang menyenangkan karena aku mengawali hari saat pagi membuka toko bersama ibu di barengi senyuman optimis. Dan beberapa langganan yang tak kukenal mencubiti ku dan mereka bilang dulu aku adalah anak yang sangat lucu dan menggemaskan juga gendut.


Aku kembali teringat pada wanita yang seumuran dengan ibuku saat itu dia tengah memilih beberapa roti di rak paling ujung yaitu tempat roti tanpa selai khusus yang biasa di jual para penjaja roti bakar memakai selai yang lezat di bagian dalam nya.


Mungkin dia seorang ibu, saat menaruh keranjang belanjaan nya di kasir tepat di hadapan ku ibuku langsung mengajak bicara.


"Banyak sekali roti tawar nya bu, ibu suka mengolesi dengan selai ya. Apalagi saat di pagi hari begini dengan secangkir susu hangat"


Wanita itu hanya tersenyum menanggapi ocehan ibu. Wajar, sebagai penjual kita harus bersikap ramah dan senang bicara juga memberi beberapa tips. Bukan karena sok akrab, peraturan itu hanya ada di supermarket yang wajah bagian kasirnya begitu datar dan jarang tersenyum kecuali saat di beri uang bayaran belanja. Baru dia bersikap ramah.


"Anak saya suka sekali memberi makan ikan di kolam dekat sini"


Aku menatap wanita itu yang sibuk mencari beberapa uang lembar untuk bayar di dalam dompetnya.


"Anak saya sudah beberapa kali mendatangi kolam ikan itu bersama adiknya saat akhir pekan begini. Saya senang karena dia merasa damai dan bahagia"


Damai dan Bahagia?


Ibu tersenyum memasukan belanjaan roti wanita itu kedalam tas belanjaan. Karena kita harus melestarikan alam, kita harus mengurangi jumlah plastik dan menggantinya dengan tas kain.


"Kalau anak saya yang satu ini juga suka sekali memberi makan ikan tapi juga sering mengambil beberapa roti tanpa izin pada ibunya"


Aku beringsut tertawa hambar dan wanita itu tertawa lembut seraya menatapku. Dia juga bilang bahwa anak penjual roti ternyata juga bisa membuat ibunya rugi. Aku hanya tersenyum kikuk menoleh pada ibu yang tersenyum penuh kemenangan padaku.


---


"Untung saja ibu ingat untuk membangunkan mu, hari ini kan ada upacara bendera!"


Aku mengangguk terus mengunyah sarapan nasi goreng sayur buatan Mien yang sosoknya sudah pergi bekerja masakan Mien selalu yang paling enak menurutku, nomor dua setelah masakan ibu tentunya.


"Cepat habiskan makanan mu!"


Ibu memberi ku uang dua puluh ribu dan menaruh nya di atas meja. Aku mengrenyit penuh tanya.


"Bu, aku masih ada uang yang diberikan kemarin"


"Ambil saja yang ini, ibu kan sudah bilang untuk di tabung"


"Terima kasih bu"


Aku benar-benar hoki dari hari kemarin.