
Aku tengah mengayuh sepeda ku menuju sekolah sesaat aku terbangun begitu pagi karena tidak bisa tidur akan memutuskan melanjutkan ke SMA mana. Dengan wajah lelah dan juga mengantuk, aku terus berusaha sadar untuk mengayuh sepeda karena jika aku jatuh, akan sakit. Dan jika sepeda ku rusak, ibu pasti akan marah bukannya mencemaskan anak nya.
'Kring Kring Kring!'
Aku menoleh pada sosok berambut panjang kehitaman yang sangat indah tergerai disapu angin pada kayuhan sepeda miliknya. Senyumnya secerah mentari pagi dengan pipi kemerahan yang setiap menatapku pasti akan bereaksi. Firsa, menyapa ku semanis kue mochi yang pernah dia berikan pada ku hehe.
"Wah, ada yang bermuka suram hari ini"
Aku tertawa pelan, dan memang. Wajah ku cukup suram sekarang.
"Kau tengah memikirkan sesuatu pasti kan? Apa jangan-jangan kau belum menentukan akan melanjutkan kemana?"
Aku mengerjap dengan ekspresi berusaha agar Firsa tidak ikut menjadi bingung karena ulah ku. Yah, ketika aku harus melangkah melanjutkan hidup. Mungkin tanpa Firsa sekarang, aku yang dulu sudah lama berdiri di tengah rel kereta api dengan memejamkan mata meminta untuk di sambar agar semua penderitaan ku selesai.
"Ah, ini... Aku hanya merasa tidur ku belum cukup karena kemarin hari yang melelahkan"
Kami sudah sampai di gerbang sekolah, dan turun dari sepeda untuk membawanya dengan berjalan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, aku membenarkan baju ku yang seperti nya cukup berantakan dan ada beberapa bagian yang kumal.
"Ini, segera lah minum agar kau terlihat segar"
Aku menatap Firsa, memberikan sebotol minuman bervitamin rasa lemon yang terlihat segar dengan uap air kecil di pinggiran botol kaca yang seperti nya baru saja dia ambil dari kulkas.
"Aku sudah tahu kau akan jadi seorang yang begitu lesu saat ke sekolah nanti, jadi saat aku berangkat. Aku beli dulu minuman ini untuk mu, ayo cepatlah diminum! Nanti bel akan berbunyi!"
Saat aku mengambil minuman itu, beberapa teman Firsa datang menghampiri nya untuk mengajak nya pergi. Firsa segera berpamitan pada ku dengan melambai dan tersenyum manis sekali lagi padaku. Yah, sebaiknya aku segera minum untuk membuatnya tidak marah dan menggerutu padaku.
***
"Baik, silahkan kalian lihat dulu dan jawablah sesuai minat dan keinginan kalian lalu kumpulkan keruang guru pada jam istirahat kedua!"
Ibu guru keluar dari kelas kami dan membiarkan kelas kami menjadi gaduh dan ribut sementara kami menjawab beberapa pertanyaan tentang minat dan SMA pilihan yang akan kami pilih nanti.
"Nah, kau akan memilih apa?"
"Ben dan aku akan ke SMA Putra Kebangsaan"
SMA Putra Kebangsaan? Bahkan dari jarak beseberangan seperti ini mereka bersuara begitu nyaring. Mungkin mereka akan berfokus pada olahraga karena Rival adalah anak yang berbakat dibidang olahraga begitu juga dengan Ben yang sangat begitu berminat pada olahraga gulat.
Mungkin bukan pilihan yang bagus untukku, karena jika aku berkumpul dengan Ben dan Rival lagi, harapan hidupku akan berhenti.
Karena mereka akan selalu membicarakan ku dengan tidak baik.
"Kenapa? Kau kebingungan?"
Aku mendongak pada sosok Diva yang tersenyum padaku. Diva juga sekelas dengan ku disini, dia adalah anak yang populer dan sangat di gandrungi para siswa sekolah. Dan kupikir dia akan memilih ke SMA Puteri sama seperti Firsa.
"Bagaimana dengan SMA Mentari?, kurasa kau akan merasa cocok"
Aku mengendikkan bahu ku masih merasa bingung. Diva memang gadis yang baik, dia menyarankan sekolah yang bagus untuk ku.
"Dan juga, jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah mu. Kau bisa pertimbangkan saja dulu, aku juga akan bersekolah di SMA Mentari"
Aku menatap dia kaget, kukira...
"Kenapa? Hehehe kau pasti bingung kenapa aku lebih memilih ke sana sedangkan SMA Puteri sangat menjanjikan untuk ku?. Aku memikirkan hal lain, banyak jalan menuju Roma. Aku pasti akan segera mencapai cita-cita ku meskipun tidak menempuh tempat spesial seperti siswi yang lain"
Aku tersenyum, ternyata isi pikiran dari Diva memang sulit ditebak.
***
Aku menghela napas, dan akhirnya aku bisa menentukan akan masuk dan melanjutkan hidup kemana.
SMA Mentari.
"Jadi kau akan kesana?"
Aku mengangguk dengan penuh keyakinan seraya terus mengunyah bekal yang lupa kumakan saat di sekolah tadi. Aku dan Firsa tengah duduk santai di suatu taman kota sambil menikmati semilir angin musim panas yang akan berakhir sebentar lagi.
"Ah iya, kalau tidak salah. SMA Mentari berdekatan dengan sekolah kejuruan luar biasa"
Kejuruan luar biasa?.
"Maksud mu?"
"Sekolah untuk anak berkebutuhan khusus dan juga sekolah untuk para pelajar yang ingin mengetahui ASL"
Bahasa Isyarat ya...
"Ah iya, kau juga bisa melakukan nya kan Yoko?"
"Iya, sedikit"
Firsa tersenyum menengadah menatap langit dengan mata yang terpejam, angin berhembus lembut menerpa wajah nya yang begitu ayu.
"Mungkin, kita akan sangat jarang bertemu Yoko. Tapi aku ingin kau terus mempertahankan hidup dan kebahagiaan keluarga mu. Oh iya, jika sempat saat liburan sekolah tiba, aku pasti akan berkunjung ke toko roti dan membantu mu lagi"
Aku tersenyum kembali pada semua rasa semangat yang diberikan oleh Firsa padaku. Begini saja, Tuhan. Jika aku kembali dipertemukan dengan orang yang pernah ku temui di masa lalu. Aku akan berterima kasih dan meminta maaf padanya.
Meski Ben dan Rival bersikeras tidak memafkan ku, aku akan tetap memaafkan mereka.
"Ada apa Yoko? Kenapa makanan nya belum habis?"
Aku menoleh dengan wajah bingung menatao Firsa, ah iya. Aku belum menghabiskan makan siang ku, dan aku tersenyum kikuk kembali membereskan kotak bekal dan memasukan nya kedalam tas.
"Aku akan melanjutkan makan dirumah, ayo kita segera pulang"
"Iya!"
***
Malam hari nya usai makan malam aku belajar sebentar kemudian beristirahat dengan berusaha damai merebahkan diri dan aku teringat kembali dengan perkataan Firsa.
Sekolah kejuruan luar biasa ya...
Apakah Nala juga bersekolah disana?
Atau, apakah mungkin. Aku dan dia tidak akan pernah dipertemukan kembali.
Jika aku sudah bersekolah di SMA Mentari, mungkin akan kusempatkan mengunjungi sekolah kejuruan luar biasa dan jika kami diberi kesempatan, Nala dan aku pasti akan di pertemukan kembali.
Aku memandangi sebuah buku lusuh yang berada di meja, buku itu selalu kubersihkan jadi tidak pernah kotor. Mungkin suatu hari, aku akan mengembalikan buku itu pada pemiliknya.
~~~
*ASL (American Sign Language) jika di indonesia itu sama dengan SIBI yaitu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.