
Beberapa bulan telah berlalu dengan penuh suka duka. Suka karena kami tidak mendapat hambatan apapun dalam mencari ilmu, dan duka karena berbagai macam masalah yang terus datang silih berganti.
Dan duka terbesar nya Luna telah pindah sekolah.
"Aaaa...!!"
Aku sempat merasa bimbang, bagaimana Nala menjalani hari tanpa seorang Luna yang selalu berada membela dirinya meskipun dia juga sering di jahili Sira dan geng nya.
"Lempar sini Sira!"
Aku juga ketakutan saat kedua sahabat ku yang ikut-ikutan melakukan aksi tidak benar itu.
Biarkan dia hidup dan belajar dengan damai, hatinya pasti juga merasa hancur karena dia berbeda, perlakuan mereka jadi sangat buruk.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kenapa aku lemah sekali? Untuk menolong seorang yang tengah kesusahan saja bukan untuk menjadi pahlawan ataupun pembela seperti super hero.
Dan aku tau, aku terlalu takut karena aku semakin jauh dari kedua sahabat ku.
"Dapat!!"
Sira berteriak keras dengan senyum puas dan di kedua tangan nya ada alat pendengaran milik Nala. Sedangkan Nala seperti kesakitan memgang kedua telinga nya. Aku segera ikut mendatangi Nala dan sempat menoleh pada Sira yang juga menatapku dengan wajah datar. Ketika pandanganku beralih pada Nala, sebelah telinga nya mengeluarkan darah.
"Dia baik-baik saja?"
Aku mengangguk lemas pada Diva semuanya terjadi dengan cepat, aku bahkan tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Yang kulihat hanya rona merah yang mengalir begitu deras melalui tubuh tanpa hambatan sama sekali. Aku mengutuk kelakuan Sira yang sudah di panggil bersama teman-teman nya keruangan kepala sekolah.
"Untung saja kalian cepat membawa nya kesini"
Penjaga UKS sekolah keluar dari ruang gawat darurat dan mengatakan pada kami semua baik-baik saja. Aku bertatapan dengan Diva, kami tidak bisa menemuinya perawat bilang, dia tidak ingin bertemu siapa pun dulu kecuali dia mau. Kami mengangguk dan berjalan kembali ke kelas untuk menunggu hasil sanksi Sira dan yang lainnya.
Jam pulang sekolah telah tiba, dan aku juga harus segera pulang karena ibu pasti kewalahan berjualan.
'BRAK!!'
Aku menoleh cepat pada Sira yang berdiri menatapku marah dan tiba-tiba kurasakan tamparan keras mengenai ku di pipi.
"Apa kau mau menjadi pahlawan?"
Pernyataan yang begitu menyakitkan, tiba-tiba tubuhku terhuyung ke belakang dan sosok itu berdiri di depan ku dengan nyalang dan berani. Nala, yang berdiri di depanku menghadapi Sira yang tersenyum angkuh.
"Kau mau bicara apa?!"
"Sira! Apa--"
"Bisakah kau tidak menjadi PAHLAWAN?!"
"Gara-gara kau! Kau menghancurkan seluruh pertemanan ku dengan Yoko!"
Aku terkejut tidak menyangka atas pernyataan nya pada Nala. Dia masih menatap Nala begitu marah dan mata itu, mata yang selalu menyiratkan kebencian.
Nala membuka lembaran buku yang berada di tangan nya.
---
Aku membuka buku yang sedari tadi ku genggam begitu erat, aku sangat marah sampai tulisan di buku itu hampir tidak terbaca lagi. Lalu ku arahkan ke wajah Sira yang nampak terkejut dan membaca nya pelan, matanya kembali menatapku semakin marah.
'Maaf'
Aku banyak salah pada mereka, aku akan minta maaf sebesar dan semampuku. Ku beranikan diri ketika aku harus memperbaiki ikatan ku disini.
"Apa maksud dari kata maaf mu?"
Aku tersenyum, sebisa mungkin perasaanku harus sampai padanya. Tetapi ketika aku berusaha ingin menyampaikan isi hatiku wajah Sira semakin merah padam dan marah padaku.
"Aku semakin tidak mengerti dengan mu!"
Tiba-tiba buku ku di lempar oleh Sira keluar jendela yang di bawah nya ada kolam kotor tak terpakai lagi. Aku kaget dengan mata masih menatap kosong ke jendela dimana buku ku sudah jatuh mencapai kolam belum sempat untuk ku tangkap.
"Sebaiknya kau pulang Sira"
Aku tersentak oleh suara datar dari Yoko yang menyuruh Sira untuk segera pulang. Tentu saja Sira menatap Yoko, tatapan nya seketika melemah dan dengan mendecak kesal di berbalik pergi menghentakkan kaki nya.
Aku tak percaya, hanya dengan kata-kata dari Yoko Sira segera menurutinya dan dia kini benar-benar hilang dari hadapan kami. Aku juga melihat Yoko yang juga berjalan mendahului ku tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku menghela napa berat, dan sebaiknya aku juga harus pulang.
Hari ini sekarang bagiku berat sekali, kenapa beberapa hari setelah Luna pindah sekolah. Semua masalah silih berganti menghampiriku, bahkan yang menimpa alat pendengaran ku yang sudah 5 kali berganti sejak kejadian di pantai waktu itu. Sebisa mungkin aku menahan air mata ku untuk tumpah saat aku menyusuri jalan menuju pulang.
'Aku ingin segera mengakhirinya...'
Akhirnya rentetan air mataku menderai membasahi kedua pipi ku, terisak sedikit dan aku masih berusaha keras untuk menahan nya. Aku memang aneh, aku tersenyum pada mereka dan meminta maaf. Tapi mereka tidak mengerti dengan segalanya bahkan isi dari hatiku memang tidak pernah tersampaikan. Batin ku tersiksa selama dua tahun karena sifat Sira begitu keterlaluan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tidak bisa bicara. Aku terlalu lemah untuk membela diriku sendiri.
'Aku benar-benar ingin segera mengakhiri ini'