Voice

Voice
Chapter 7



"Nala tidak masuk kelas hari ini"


Aku melirik dengan bosan kearah bangku Nala yang kosong dan ketika mataku beralih menatap Luna yang memasang tampang sedih sembari memperhatikan bangkunya. Aku rasa, pak Kama sudah mengetahui perundungan di pantai saat itu, karena Sira dari tadi hanya menunduk terdiam tanpa bicara sejak datang pagi tadi.


"Bapak harap ini jadi pelajaran buat kalian. Kalau perundungan itu tidak baik dan bisa membuat korbannya trauma. Semoga Nala akan baik-baik saja dan dapat bersekolah lagi belajar bersama kita"


Aku menghela napas berat. Mengeluarkan buku tugas dan buku lks nya bersamaan karena aku juga harus semangat menuntut ilmu.


"Bisakah lain kali kau tidak cari muka didepan guru dan teman-teman?!"


Aku menoleh cepat pada ucapan Sira yang kini tengah menatapku tajam bak membelah seluruh tatapan balik ku yang kaget. Aku tidak habis pikir, kenapa dia marah padaku?. Aku hanya berbuat baik dan apakah itu salah?.


"Apa maksud--"


"Berhenti jadi pahlawan Yoko. Dimana kau yang dulu hah?"


Aku terkejut pada suaranya yang meninggi di sela kesunyian kelas. Semua murid menoleh kepada kami berdua. Dan pak Kama juga, beliau seperti kesal menatap Sira. Tidak, beliau pasti akan kembali memarahu Sira untuk itu aku harus segera bertindak semoga dapat membantu.


"Maaf pak, kami membuat keributan"


Pak Kama terdiam sebentar ketika mendengar pembelaan ku. Kemudian beliau tersenyum mengangguk meneruskan menulis pelajaran di papan tulis. Aku menghela napas lega dan kembali menyender santai, aku juga melirik Sira yang kembali menunduk.


"Fokus saja pada pelajarannya"


Aku berjuar pelan kembali mengambil pulpen yang sempat terlepas dari genggaman ku saat Sira membentakku tadi. Dia tidak merespon dan terus saja mencoret-coret buku catatannya. Dan kubiarkan saja dia hanyut dalam pikirannya sendiri sampai keadaan benar-benar pulih.


---


"Bapak tidak menyangka ternyata kamu itu anak yang nakal!"


Sira tertunduk lesu saat dia duduk berpangku meminta maaf dengan tangisan derai air mata yang tak kalah banyak dengan tangisan Nala. Di depannya, Nala berdiri dengan sedikit terisak meskipun sudah lebih baik, dia mengutuk kelakuan Sira yang begitu benci padanya.


'Aku tau kau tidak akan paham. Tapi mengapa kau sangat membenciku!!'


Aku memperhatikan gerakan Nala dan ekspresi wajah nya yang begitu marah menunjuk wajah Sira dengan telunjuk nya dan mengepalkan tangan nya dengan marah sekali. Pak Kama menepuk bahu Nala, dan dia menoleh kaget, Pak Kama tersenyum lembut menyuruh Luna untuk membawa nya istirahat lebih dulu dari teman-teman. Luna lalu menuruti perintah pak Kama dan mengajak Nala untuk segera pergi dari kerumunan.


---


"Giliran piket hari ini"


Aku segera mengambil sapu yan terletak di ujung ruangan kelas bergantung rapi berjejer sesuai ukuran. Tiba-tiba aku di halangi Rival yang memegang kain kotor dengan tiba-tiba melemparkannya ke wajah ku membuat aku terkejut karena belum siap untuk mengelak.


"Hari ini tugas mu mengelap saja. Kami akan menyapu dan mengepel"


Rival berujar dingin tanpa ekspresi padaku lalu mengambil sapu dan bergegas meninggalkan ku. Sedangkan aku hanya terdiam penuh tanya atau sedih, aku tidak tau harus memberikan respon seperti apa tapi rasanya hari ini aku merasa terbuang karena mereka menjauhi ku.


'Apa tindakan ku kemarin salah?'


*Yoko bodoh. Yoko pengkhianat. Pergi saja. Bodoh.*


Keesokan harinya, Nala kembali bersekolah. Dia masih menampakkan senyum itu seperti biasa. Apakah dia juga merasakan sakit sama sepertiku? Apa dia tengah bahagia sendirian tanpa menyadari aku tengah terpuruk?. Aku selalu bertanya-tanya apakah arti dari senyuman nya itu menampakkan seluruh isi hatinya atau tidak. Kurasa aku terlalu berlebihan memikirkannya, tapi entah kenapa setiap Nala ada. Seluruh pikiranku selalu berpusat padanya, aneh sekali.


"Hei, kau sudah kembali lagi? Masih mau melakukannya?"


Kulihat Sira mendatanginya dengan angkuh dan menduduki meja nya. Semua itu segera ditepis Luna dan dia juga menyuruh Sira untuk segera menjauh karena dia selalu menganggu Nala meskipun Nala tidak melakukan apa-apa.


'Lama-lama aku jadi kesal dengan Sira'


Bahkan sebelum bel berbunyi dia sudah berani menunjukkan taring nya di depan Nala dan Luna. Entah bagaimana nasib Nala ketika Luna tidak ada bersama nya sampai sekarang.


Sesaat aku memikirkan bel. Tak lama bunyi yang tak asing itu memekakan gendang telinga ku seperti di bor pada kedalaman yang sangat dalam tak terhingga. Sira segera mendudukan diri nya dengan anggun, sampai sekarang dia belum mau menyapa ku. Baiklah, dia sedang kesal jadi abaikan saja karena aku juga balik mengesali nya.


Pak Kama memasuki kelas bersama seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengan pak Kama. Perempuan itu segera mengenalkan diri dihadapan kami tanpa basa-basi bahkan pak Kama juga kebingungan dibuatnya. Ternyata dia adalah guru bahasa isyarat di sebuah yayasan datang ke kelas ini untuk memberikan pelajaran tambahan tentang menggunakan bahasa isyarat agar kami semua dapat mudah berkomunikasi dengan Nala tentunya.


"Jadi, apakah kalian sebelumnya pernah belajar atau mengetahui bahasa isyarat?"


Luna mengangkat tangan, dia menjawab selama berteman dengan Nala. Dia banyak mendapat ilmu baru tentang bahasa isyarat.


"Baiklah kalau begitu, yang lain juga harus belajar agar bisa seperti Luna"


Tiba-tiba Sira berdiri. Semua menatap kearahnya, bahkan aku yang ogah-ogahan pun ikut mendongak padanya memasang tampang penasaran.


"Apakah komunikasi lewat sebuah buku saja tidak cukup bu?"


Aku mengangkat kedua alisku tanda aku tidak mengerti apa maksud dari kata-kata nya. Apakah dia tidak ingin belajar bahasa isyarat?.


"Meskipun menggunakan buku, komunikasi akan tetap sulit. Maka dari itu, kalian juga harus mengetahui dasar nya dari bahasa isyarat!"


Perempuan itu tersenyum, dia kelihatan begitu ramah dan penyabar. Cocok menghadapi sosok seperti Sira yang cemberut tidak setuju atas usulan tersebut.


"Emm Nala! Bagaimana mengeja nama Diva Kinara dengan benar?"


Aku menoleh pada Diva, sosok gadis yang memakai kacamata besar dan rambut nya sering di kepang anyaman di kedua sisi. Bukan karena dia cupu, dia justru adalah gadis populer dengan selalu berpakaian rapi bak tuan puteri kerajaan alias sering memakai dress selutut, kaos kaki panjang sampai lutut juga dan mengenakan sepatu pantofel mengkilat setiap hari. Mempunyai banyak teman di kelas bahkan sampai di luar kelas ini. Dia gadis yang cantik, dan baru kali ini aku melihat dia mendatangi Nala padahal sebelumnya dia terlihat acuh saja.


Nala mengeja nama nya dengan perlahan. Dan mereka pun tertawa bersama sambil mempraktekkan gerakan Nala.


Baguslah, dengan begitu. Nala mulai di lihat dan di akui keberadaan nya.