
Bulan demi bulan berlalu dan hasil ujian kelulusan pun terpampang di depan mata. Yang kupikirkan hanya satu. Semoga aku lulus dengan hasil nilai terbaik ataupun buruk, setidaknya aku sudah berusaha belajar di momen kali ini. Impian ku untuk segera menjauh dari sekolah ini pun semakin kuat. Aku biarkan beberapa murid lain yang berkerumun saling berdesak-desakan untuk bisa melihat hasil nilai ujian mereka yang kertas nya tertempel pada papan pengumuman di samping kantor ruang guru. Aku duduk di kejauhan mengamati para murid silih berganti belum juga berhenti.
"Sudah melihat hasilnya?"
Aku menoleh kearah kanan dengan sedikit tersentak dan kudapati Firsa tersenyum manis padaku. Dan teringat lagi, dia akan kesekolah khusus puteri dan akan tinggal asrama di sana. Mungkin kami akan sulit bertemu kembali.
"Emm kau sudah melihat?"
"Belum, aku malas berkerumun"
Aku tersenyum mengangguk pelan kembali menoleh ke arah lain, kali ini aku memandang sebuah pot bunga di hadapan ku dan tak sadar aku malah melamun sebentar. Tepukan Firsa kembali menyadarkan ku ke alam nyata dan aku menghembuskan napas berat ketika aku merasa hal menjadi buntu.
"Kamu ada masalah apa? Oiyah kamu boleh cerita sama aku"
Aku pikir, Firsa tak perlu tahu. Aku berusaha meyakinkan pada dirinya bahwa diriku baik-baik saja sekarang.
"Tidak ada masalah, semua baik-baik saja. Kalau begitu, aku akan pergi dulu sebentar"
Aku bisa merasakan aura Firsa begitu aku meninggalkan nya yang menatap punggungku dengan tatapan bingung dan penuh tanya, entah kenapa aku jadi bersikap misterius dan tidak mau bercerita apapun padanya, ku tau sekarang Firsa agaknya penasaran dengan tingkah laku ku.
"Bu, aku--"
"Ayo cepat bantu ibu, hari ini ada yang memesan banyak kue untuk acara pelantikan"
Waah, ibu nampak sangat senang sekali kelihatan nya, bahkan aku jadi tidak tega untuk mengucapkan lelah dan mau beristirahat, aku menanggalkan tas dan bergegas membantu ibu membungkus semua kue kue dan menata nya di kotak.
"Bagaimana hasil ujian? Kalau kau tidak lulus ibu akan menyuruh mu sekolah lagi ke sokolah dasar!"
Aku tersenyum hampir sedikit tertawa, ibu mengatakan itu dengan serius dan sepertinya hidup ku akan dihabiskan di sekolah dasar lagi selama 6 tahun.
"Ah tidak-tidak, aku lulus kok bu"
"Waaah, akhirnya anakku lulus dari sekolah menengah pertama"
Ibu tersenyum, kemudian mengacak acak rambut ku yang memang sudah berantakan karena angin di jalan pulang saat ku mengayuh sepeda tadi.
"Jangan khawatir, aku bakal kangen sama kamu hahaha"
Firsa, yang selalu tak berhenti menggoda ku. Ini di tengah keramaian, dan dia mengatakan nya dengan cukup lantang. Aku mengulurkan tangan untuk mengacak surai berkilauan yang sangat aku sukai itu. Aku tersenyum lembut, dan mengisyaratkan Firsa untuk segera berangkat, karena sudah ada panggilan keberangkatan untuk tempat tujuan nya.
"Jangan lupa kabari aku kalau kau sudah masuk SMA"
Aku mengangguk memastikan, Firsa nampak tersenyum sedih, tapi dia berusaha tuk menepis itu semua. Dia memilih keputusan yang tepat menempuh pendidikan sesuai dengan pasion yang dia miliki. Aku berterima kasih, karena Firsa telah menjadi teman yang baik selama kami bersekolah di SMP.
"Sampai jumpa liburan musim panas depan"
Aku berujar lembut melambai pada Firsa, diikuti oleh lambaian tangan nya yang terlihat semakin menjauh hingga tenggelam di antara keramaian.
***
"Yoko, jangan melamun sambil berjalan. Nanti kau tercebur ke selokan"
Sambil membawa keranjang roti yang kosong, kakak ku menggandeng lengan ku memasang ekspresi yang membuatku bisa menebak apa isi dari kepala nya.
"Dia sudah pergi"
"Bodoh, kasar sekali bicara mu!"
Apa salah ku? Kan benar kalau Firsa sudah pergi menuju sekolah lanjutan nya, apakah yang dia maksud itu pergi? Astaga kakak!
"Kau yang bodoh, bagaimana caramu mencerna kalimat ku"
Kakakku hanya menghela napas pelan dan teratur, dia tersenyum lembut. Kakak mirip seperti ibu, dia punya segalanya yang dimiliki ibu. Dia adalah sosok yang begitu ramah dan bijaksana. Berbeda dengan ibu yang agak sedikit kesusahan mengontrol emosi nya. Dan aku bersyukur dapat memiliki saudari seperti kakakku sekarang.
"Kau juga, harus berusaha menggapai mimpi. Layaknya Firsa yang rela meninggalkan mu untuk pendidikan dan cita-citanya"
Aku tersenyum mengangguk, aku juga memikirkan hal yang sama. Tapi terkadang Firsa suka sekali ngeyel kalau di beri tahu, dia pernah ingin tidak jadi pergi hanya karena aku.
"Tapi kurasa Firsa nampaknya menyukai mu Yoko"
Aku menoleh cepat pada kakakku yang juga menatapku. Raut wajahnya serius, sekarang dia tidak bercanda. Tapi aku tidak pernah mengira sampai sejauh itu.
"Tidak ada fakta yang menguatkan, menurutku Firsa melakukan itu karena simpati dan ingin berteman saja"
"Benar juga, lagi pula kalian terlalu dini untuk merasakan getaran cinta hahaha"
Nah kan tau sendiri.
'Selamat datang di SMA Mentari'
Hari ini adalah hari penyambutan murid baru, dan aku berdiri di sini dengan setelan seragam yang sudah jelas berbeda dari level sebelumnya. Yang katanya orang sering bilang kalau, masa SMA adalah masa tak terlupakan dan akan selalu di kenang sampai kapanpun.
"Yoko, foto dulu ayok. Ini pertama kalinya kau pakai seragam SMA!"
Aah, suara itu lagi. Apa yang sedang dipikirkan kakak ipar ku ini, dari tadi dia selalu bilang untuk mengambil fotoku pakai seragam SMA.
"Aku sudah bilang, tidak mauu"
Aku berjalan menjauhi mereka ke arah barat sekolah, berjalan menyusuri jalan sendirian. Sial, aku salah jalan. Dari pada aku terkena hal-hal yang tidak jelas di hari pertama ku sekolah, lebih baik aku putar balik ke aula lagi.
Hingga sebuah siluet dari luar pagar lewat di tengah guguran daun pohon akasia yang rindang. Aku melihat sosok itu, hingga mata ku sampai membelalak kaget dan kurasa aku hampir melompat saking tak percayanya.
'Kutemukan kau akhirnya'
Hingga tanpa sadar aku tersenyum.
Aku tidak tau kenapa aku tersenyum.
***