
"Kau tidak perlu membagikan ini!"
Seketika kotak makanan ku dilempar hingga menghempas pasir pantai dan berserekan. Secepat kilat aku menoleh pada Sira dan teman-temannya yang tersenyum sinis. Padahalkan niat ku baik bukan untuk mencari perhatian atau apapun. Aku tau, aku terlalu berbeda sehingga mereka hanya baik padaku di awal dan kemudian membenciku seterusnya.
"Kau tidak perlu repot untuk memberi muka kepada yang lain"
Sira berdiri mendatangi ku dan tanpa aba-aba segera mengambil kedua alat pendengaran ku dengan paksa sehingga menimbulkan rasa sakit dan bunyi yang begitu menyakitkan, namun aku harus menahan nya karena aku mencoba sekuat tenaga merebut alat pendengaranku yang masih ada di tangan Sira. Ketika aku mencoba menggapai, dia mengelak dan itu membuat ku lelah.
"Kau hanya tidak perlu repot melakukan itu!!"
Mataku terbelalak kaget saat lemparan itu menembus deruan ombak air laut yang menampar kebibir pantai. Tubuhku lemas seketika ditambah aku begitu lelah. Tanpa bisa kutahan air mataku merembes keluar begitu deras tak kusadari aku terisak pelan meringkuk penuh rasa bersalah.
'Maafkan aku mama'
"Ayo pergi teman-teman. Urusan kita sudah selesai"
Aku tidak bisa mendengar apapun bahkan aku tidak tahu bahwa Sira telah pergi dari hadapanku. Kurasakan lambaian angin laut yang begitu deras menerpa seperti aku yang tenggelam digulung ombak pantai yang begitu dahsyat. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan pada mama, alat itu telah hilang ditelan ombak pantai.
"Nala!!"
"Nalaa!!"
"NALA!!!"
Kurasakan tepukan lembut di bahu kanan ku. Aku segera menoleh kebelakang dengan air mata berlinang. Menatapku dengan wajah begitu khawatir, Luna tiba-tiba menghambur pada pelukan ku dan dia juga ikut menangis karena bisa kurasakan baju ku basah oleh tumpahan air matanya.
Aku berdiri, membuat Luna menatapku bingung, dan aku hanya tersenyum. Aku akan mencoba mencari alat itu, mungkin saja jika aku menemukan nya meskipun dalam keadaan rusak mama tidak akan marah jika aku berbohong telah ikut berenang bersama teman-teman. Aku berjalan pelan mendekati bibir pantai dan menatap sekitar nya, suasana nya menenangkan. Lalu aku mencoba untuk semakin mendekati air, tiba-tiba pergelangan tangan ku di cekal oleh seseorang dan saat aku berbalik menoleh, itu Yoko dengan wajah sedikit marah dan khawatir. Dia membuka perkataan yang tidak dapat ku dengar sama sekali, dan sepertinya dia marah padaku. Dia menunjuk pantai dibelakang ku dan dan kemudian menunjuk diriku dengan memperagakan bahwa ombak itu sangat besar. Aku tersenyum, hanya itu yang dapat aku lakukan setiap kali mereka berbicara ataupun marah padaku, mereka kadang memandang senyumanku sebagai hal yang aneh dan aku juga kebingungan harus memberikan ekspresi apa lagi.
Yoko menatapku bingung. Dia mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya.
---
"Hey Nala ingin melakukan apa!"
Aku segera berlari mendekati nya ketika dia berhenti menatap sekeliling hatiku cukup lega saat dia tidak meneruskan langkahnya menuju ombak pantai yang bergulung. Usai kami selesai di tempat observasi laut, pak Kama lalu mengajak rombongan tour kami untuk melepas penat di sebuah pantai yang tidak jauh dari AquaSea. Lalu kami di perbolehkan bebas melakukan apa saja sembari menikmati bekal santap makan siang yang dibawa masing-masing.
Akhirnya aku dapat meraih pergelangan tangan nya yang mungil. Seketika dia berbalik dengan wajah ketakutan seperti memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan?! Kau mau mati konyol terseret ombak hah?!"
Bodoh. Kenapa dia tersenyum, aku semakin kesal karena senyuman itu selalu bertengger menganggu ku. Entah dia sedih, marah, bahagia senyuman yang sama selalu tercetak di wajah mungilnya. Aku kasihan sekali padanya, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum menanggapi semuanya meskipun tidak baik-baik saja.
Dia menunduk, lalu mendongak menatap ku lagi. Melepaskan genggaman erat ku padanya dan tiba-tiba dia berjongkok mengorek pasir di bawah sana dan seketika ombak menempur, dia kehilangan keseimbangan hingga tersungkur. Begitupun aku yang ikut jatuh dan basah kuyup.
"Apa yang sedang kau cari?!"
Aku mencengkram erat bahunya, dia menoleh cepat padaku yang kemudian di tepis nya keras hingga aku terjatuh lagi. Luna mendatangi ku, bersama anak-anak lain nya. Aku mendongak pada Luna yang menjelaskan bahwa alat pendengaran Nala telah dilempar oleh Sira ke arah pantai hingga membuat Nala menangis. Sesaat emosi ku terbakar aku mengepal erat mengenggam pasir ditanganku. Sira sudah sangat keterlaluan, alat itu adalah alat khusus untuk Nala. Dan pasti itu sangat spesial. Aku lalu tanpa berpikir panjang segera berenang menuju batu-batu karang besar di sebelah kanan dan dapat kudengar teman-teman ku meneriaki ku untuk tidak kesana.
Aku sampai mencengkram pinggiran batu karang dengan terengah-engah. Entah kenapa tubuh ku bergerak sendiri dan membawaku kesini karena air laut nya berwarna biru sebening kaca, aku hanya cukup menyelam dan dapat melihat sekeliling dengan teliti. Ketika aku terus mencari, akhirnya kutemukan alat itu tersangkut di antara bebatuan di dalam air. Aku segera mengambilnya dan memperhatikan alat itu dengan seksama, belum sempat aku melihatnya. Tiba-tiba tangan kekar yang lebih besar merangkul ku dan menarik ku menuju daratan. Semuanya seperti berjalan begitu cepat, dan ketika mataku melirik sosok itu. Ternyata adalah pak Kama menatap ku dengan khawatir dan terlihat gemetar. Baiklah satu pertama aku melakukan nya tanpa pikir panjang, dan yang kedua itu sangat berbahaya.
'Ketiga, aku pasti akan dimarahi'
Aku duduk di kursi paling belakang setelah aku di usir sesaat akan duduk disamping Ben. Aku di usir oleh Rival yang mengatakan bahwa aku terlalu berlebihan dan di anggap mengkhianati persahabatan. Aku tidak mau banyak kata, kuputuskan untuk segera beralih dan duduk dikursi paling belakang di bus. Dengan tenang aku mencoba memejamkan mataku.
"Ini punyamu"
Nala menatapku dengan wajah tidak percaya, aku tersenyum menanggapinya. Kurasa dia sangat bahagia.
"Bhodoh!! Mbhaghaimanaa khalau khahu khenapha-nhapaa!!!"
Aku mengerenyit, aku sama sekali tidak terlalu mengerti namun aku mengetahui kata bodoh dengan jelas. Aku menghela napas mengambil tangan nya dan menaruh alat pendengaranya aku lalu menyodorkan pada Nala yang hanya direspon diam oleh nya. Air mata nya masih mengalir. Dan aku cukup lega dia bisa membawa alat itu pulang.
~~~