
7 hari telah berlalu. Aku menjalani 1 minggu dengan tenang dan berjalan lancar, kadang pada jendela kelas aku melihat sekolah nya Nala, dan dari sana aku bisa melihat wajahnya yang masih bisa aku kenali meski sudah lama tidak berjumpa. Dan hari ini, aku ingin memberanikan diri untuk mengembalikan buku perkenalan nya yang dulu ku temukan. Yaa, buku nya sudah usang dan agak jelek. Tapi mungkin dia memandang kenangan nya.
"Buaaaaa.... Dimana Runaa, waaa ini dia Runaya nya mamaa"
Balita kecil perempuan berusia 13 bulan itu bernama Runaya. Dia adalah puteri pertama dari kakaku Mien, dan suami nya Key. Dan dia juga adalah keponakan ku, Kami semua sering memanggilnya dengan nama Runa. Dia adalah balita cantik bermata hitam mengkilat dan sangat menggemaskan.
"Runaaa sini liat om ganteng!"
Aah, Runa menatap ku. Pagi ku menjadi cerah karena gelak tawa nya sekarang.
Mien nampak memasang ekspresi mual kala aku menyertakan kalimat 'ganteng'. Aku tertawa meledek nya, jelas saja aku tampan. Jangan percaya dengan kakakku, dia mengakuinya hanya saja suka malu mengungkapkan.
"Yoko, sarapan dulu. Jangan langsung mau pergi saja"
Ibu tiba-tiba datang dari arah dapur menuju meja makan membawa sepiring roti isi telur dadar dan menyodorkan ke arah ku. Aku tersenyum seraya melirik ke arah jam tangan, masih ada waktu 25 menit lagi. Kurasa juga masih sempat, karena lokasi sekolah ku cukup dekat dari rumah.
"Bu, aku titip Runa. Hari ini aku harus pergi lebih awal, dan aku akan terlambat pulang karena ada rapat di sekolah"
"Iyaa, lagi pula kapan sih ibu bilang tidak. Ibu sukaa kalau sama Runaa, muka dia gemes banget"
"Iya dong, siapa dulu papah nya"
Kami semua menoleh pada sosok suara sumbang dari kak Key, yang keluar dari kamar dengan setelan kerja nya. Lalu kami tertawa bersama seolah meremehkan, dan Kak Key malah ikutan terkekeh geli lalu duduk di meja makan meminum segelas susu dan mengambil roti dengan selai cokelat.
"Mah, nanti aku pulang sebelum makan siang. Jadi bisa jaga Runa gantian sama ibu"
Sekali lagi, aku melihat aura keluarga kecil harmonis dari kakak ku, mereka memang saling melengkapi. Setelah di karuniai seorang puteri kecil, mereka semakin erat dan tak terpisahkan. Kebahagiaan orang tua adalah melihat buah hati mereka tumbuh dan berkembang jadi anak yang pandai dan taat agama juga orang tua. Mereka berdua mendidik Runa dengan baik.
-----
Lewati tentang hari yang kujalani dengan keluarga, sekarang untuk menempuh masa depan hanya aku yang bisa menuntun diri sendiri ke tujuan yang benar.
Seperti biasa, aku bersepeda menuju sekolah. Yang ku suka adalah angin pagi yang menerpa menenangkan diri ku dengan pikiran ku yang berkecamuk tak karuan.
Karena aku akan beranjak dewasa.
Kelas 10 A.
Disini lah sekarang aku terdiam, di tempat duduk yang sengaja aku pilih dekat jendela agar bisa melihat pemandangan langit yang terpatri indah.
"Pagi Yoko"
Diva, aku kembali satu kelas dengan Diva. Gadis yang pernah satu kelas dengan ku di sekolah dasar, dia masih berpenampilan sama seperti sebelumnya. Rapi dan cantik. Dan ketika aku melihat nya, ingatanku selalu kembali di kejadian 4 tahun lalu. Dan Diva ada disana sebagai saksi di ruangan BK tapi kenapa dia hanya diam dan malah mengiyakan semua tuduhan Sira, Ben dan Rival tanpa rasa peduli untuk membela ku. Tidak ada kebencian yang ku sampaikan ke Diva, hanya aku menyayangkan sikap nya yang menganggap ku adalah orang yang sama, orang yang jahat. Padahal aku hanya tertuduh tanpa ada bukti.
"Pagi juga Diva"
"Kamu sakit?"
"Maaf, aku baik-baik saja. Hanya kelelahan mengayuh sepeda"
Diva mengangguk pelan, dan dengan senyum nya dia berbalik akan pergi, tapi kemudian dia berbalik lagi menghadapku memberikan sebuah pin.
"Pin apa ini?"
"Katanya itu pin keberanian karena kamu menolong siswa kelas sebelah saat cedera di lapangan olahraga. Dua hari yang lalu kamu sama siswa yg lain main basket kan dengan siswa kelas sebelah?"
Aku mengangguk dengan raut bingung. Lagipula apa fungsi pin ini kalau aku memiliki nya.
Malas berbincang, aku kemudian cuma mengiyakan saja dan berterima kasih. Lalu Diva pergi meninggalkan ku menuju kerumunan siswi yang lain.
Masih memandangi pin berbentuk api berwarna merah berani, pikiran ku menerawang kemana-mana, disaat pelajaran sedang berlangsung. Rasanga baru seminggu aku bersekolah, tapi aku dapat sanjungan dari orang-orang karena keberanian dan kesigapan. Itu semua ku pikir karena aku memang terbiasa cekatan saat membantu ibu.
"Tolong kerjakan soal halaman 15-16 dan setelah selesai, kumpulkan ke meja ibu di ruang guru"
"Baik Bu!"
'Kriiiiiing!!'
Dengan itu berakhirlah kegiatan kelas pelajaran bahasa asing di pembelajaran pertama, setelah itu akan berlanjut setelah bel masuk kelas lagi, tapi hanya mengerjakan soal. Aku teringat buku milik Nala, dan segera membawanya keluar kelas menuju sekolah nya.
Setelah aku masuk kedalam sekolah Nala, ku lihat kelas-kelas yang suasananya tenang, beberapa dari mereka memiliki kekurangan tetapi mereka dikembangkan menjadi pribadi yang lebih baik. Hingga sampailah aku di depan sebuah kelas, disana kulihat dari kaca jendela, ada sekitar 20 murid dengan usia berbeda tengah belajar bahasa isyarat. Dan di antara mereka, ada sosok yang tengah aku pandangi tak berkedip, Nala yang ternyata sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan terlihat anggun. Juga masih dengan senyuman yang sama. Senyuman yang sulit aku artikan bagaimanapun. Hingga rasa gugup ku mengalahkan ego ku, rasa ketidak siapan menemui sosok yang melihat ku dengan penuh kekecewaan saat itu.
'Nala, apakah aku masih pantas menemui mu'.
Karena aku terlalu gugup dan takut, aku mengurungkan diri menemui Nala. Takut merusak tawa nya hari ini, aku kembali ke kelas ku dengan perasaan cukup kecewa. kenapa aku yang malah kecewa?.
----
Bel sekolah berbunyi nyaring, berbarengan dengan sekolah nya Nala. aku menuntun sepeda ku keluar dari area sekolah dan melewati jembatan yang di bawahnya. karena melihat banyak ikan, aku berhenti dan segera merogoh isi tas ku.
"Perasaan, aku membawa roti naaah ini dia!"
Aku merobek-robek kecil roti yang ku bawa dan melemparkan nya ke parit yang airnya sangat jernih di isi oleh ikan-ikan koi yang gemuk dan sehat.
Sepasang kaki jenjang terdengar tepat berhenti dia sampingku. Dan aku masih tidak terlalu perduli, aku berpikir bahwa itu hanya siswa yang lewat saja. Tetapi dia masih terdiam tak juga bergerak dan beranjak, hingga aku menoleh kepadanya.
Beberapa detik serasa berhenti kala tatapan itu menghantam segalanya, mengaburkan pandangan ku padanya, dan membuat jantungku berdegup tak karuan. Aku bisa melihat ada kumpulan air di pelupuk matanya, hampir merembes dari pertahanan nya. Tidak. Jangan menangis, aku tidak ingin ini menjadi pertemuan yang buruk kembali dengan mu.
'Yoko, akhirnya aku menemukan mu'
***