Voice

Voice
Chapter 2



"Hati-hati!!"


Aku melambai singkat pada ibuku yang mengantarkan ku untuk pergi sekolah, meski hanya mengantar sampai di depan pintu rumah karena ibu harus membuka toko nya.


Diperjalanan aku berjumpa dengan Ben dan Rival yang sudah menungguku sambil mengacau kolam ikan koi yang memang sengaja di lepaskan di kolam khusus para ikan di daerah sini. Karena jam masuk masih lama, aku memberikan mereka dua roti tawar yang aku curi saat ibu tengah lengah kedapur tadi. Kami sering memberi makan ikan disini, sensasi nya menyenangkan saja sambil membicarakan beberapa hal kami sudah terbiasa dengan hal ini bahkan beberapa orang tua yang lewat sering menyapa kami. Ada larangan, sebuah papan di pinggir kolam bahwa orang tidak boleh bercebur ke kolam itu. Beda dengan kami, saat jam pulang sekolah tiba jika kami ingin iseng, kami akan bercebur tanpa ada satupun orang yang mengetahuinya karena kami selalu bersembunyi di balik jembatan yang sekarang dimana kami berdiri. Ya kolam nya cukup besar dan lebar, sehingga di buatlah jembatan penyebarangan untuk masyarakat disini.


Aku lalu mengajak Ben dan Rival pergi saat roti yang kami berikan pada ikan-ikan sudah habis. Kami lalu berjalan santai menuju sekolah sambil sesekali bercanda.


"Lalu ibu Mutiara merasa bahwa anak nya sudah berubah ketika dia beranjak dewasa, tiram tidak menyadari bahwa suatu saat dia akan merasakan sakit seumur hidup nya--"


"Baik, Nala. Kau selanjutnya"


Aku melihat Nala berdiri, apa dia bisa membaca? Yang ku tahu dia bisu pasti tidak bisa bicara kan? Aku juga sebenarnya tidak menyimak dengan baik saat Sira membaca tadi tapi penggalan nya disini hanya satu paragraf dan sangat pendek.


"Lwalhuh... Iwbhu Muthiara menanghis kharena Thirham phergi mheninghalkan na--"


"Cukup Nala, bagus sekali."


Aku hampir saja tertawa jika bapak Kama tidak menyudahi dia bicara, aku menoleh pada Sira yang menahan tawa sekuat tenaga, kenapa gadis itu tidak bilang saja bahwa bacaan nya sangat jelek. Dan hampir membuat seisi kelas tertawa karena ulah nya.


"Ben. Giliran mu"


Kali ini kurasa Ben akan menampakan sisi jahil nya. Aku bisa menebak itu dari senyum Ben yang berbeda.


"Wuaa...hoaaa...haaa..wuaa--"


Benarkan? Seisi kelas tertawa mentertawakan Ben dan aku juga ikut yang paling keras mentertawakan nya.


"Ben. Jika kau tidak ingin dihukum baca yang benar"


Aku menyapu air mata ku yang keluar akibat lelucon Ben yang sangat lucu. Tapi mataku tak berhenti menatap punggung Nala yang sepertinya tengah menunduk dalam. Aku mengrenyitkan kedua kening ku heran dengan apa yang dia lakukan. Tiba-tiba Sira meninju lengan ku dan berkata bahwa Ben sangat berbakat untuk menjadi pelawak.


"Maafkan Ben ya"


Itu Luna, dia terlihat murung dan sepertinya juga ikut sedih atas apa yang menimpa Nala pagi ini. Aku hanya memperhatikan saja sambil menyantap snack keripik kentang yang aku beli dari warung sekolah.


"Hei Yoko! Jangan diam saja harusnya kau juga memarahi Ben, dia sudah keterlaluan"


Luna memarahiku tiba-tiba. Dan aku hanya menatap dia balik dengan bingung, lalu tangan Nala memegang pergelangan nya dan memberikan sebuah buku yang isinya adalah tulisan nya kepada Luna karena aku melihat bibir Luna nampak komat-kamit seperti membaca setelah dia membacanya, Luna hanya menghela napas dan tersenyum nampak setengah hati seraya meninggalkan Nala yang masih menatap punggung Luna keluar kelas.


"Aku minta maaf"


Hah? Apa yang anak ini pikirkan, kenapa dia yang harus meminta maaf? Dia pikir dia yang salah?. Aku lalu memberikan bukunya kembali dan juga aku tak lupa bilang bahwa dia itu adalah gadis yang aneh. Lalu dia kembali tersenyum, sebenarnya kenapa dengan dia. Kenapa dia meremehkan kata-kata ku barusan, apakah itu sudah makanan nya sehari-hari?.


"Dia mirip dengan seorang pembunuh berantai yang juga tunarungu seperti waktu itu! Pernah ada pembunuhan berantai yang dilakukan pria bisu terhadap sepuluh wanita karena dendam masa kecil sering di ejek"


Aku menggeleng pelan, Ben terlalu mendramatisir keadaan. Yang aku tanyakan mengapa dia harus meminta maaf padahal semua itu jelas-jelas salah Ben yang mengolok bacaan nya. Dan senyuman nya yang seperti menyimpan sesuatu yang dalam. Aku tau, dia juga pasti pernah menangis dia tidak sempurna jadi patut dan wajar di hidupnya hanya ada kesedihan atas apa yang dia alami.


"Aku tidak berpikir begitu, dia kan tidal bisa bicara dan sulit beradaptasi untuk berteman bisa jadi karena itu dia jadi sulit dipahami"


"Anak-anak perempuan yang lain dapat memahami, mungkin anak laki-laki tidak bisa"


Aku menghela napas, aku sudah terlanjur bilang aneh padanya. Tapi bukannya marah, justru malah tersenyum.


"Sampai jumpa besok!"


"Jangan lupa roti ya!"


Aku melambai pada kedua sahabatku saat kami berpisah di pertigaan, dan aku juga berbalik untuk melanjutkan perjalanan pulanb sendiri. Dan setelah ku pikir-pikir lagi, aku tidak ingin berurusan dengan nya. Karena aku sudah janji dengan ibu untuk menjadi murid yang baik di sekolah dan tidak berbuat onar bahkan menganggu ketenangan orang lain.


Karena aku baru menyadari, air mata nya berkumpul di pelupuk saat meminta maaf padaku. Dan dia tengah merasa sedih dengan keadaan nya sendiri, kuharap dia tidak membenci dirinya sendiri. Meski dia tersenyum penuh kepalsuan, aku juga tidak akan tahu tentang itu. Nala.


"Yoko"


Aku menatap ibu yang sepertinya akan memarahi ku.


"Ibu kehilangan 3 roti! Kau beri makan ikan lagi yaa!!"


Aku tersenyum gugup kali ini tidak ada yang bisa menolongku.