
Sepasang mata yang penuh amarah dan kesedihan tengah menatap ke arah ku dengan sangat menusuk, seakan siap menyerang kapan pun yang dia mau. Aku terpaku menatap sosok nya, namun aku tak mampu mengucapkan sepatah pun kata-kata.
'Sial, kenapa harus bertemu di saat seperti ini'
Sosok itu ialah Nala.
Nala berdiri menatap ku dengan semua emosi yang dia miliki dan aku disini dengan bodoh nya malah ikut terdiam seperti disihir menjadi batu.
Tiba-tiba aku tak sengaja menyenggol sepeda ku sampai ambruk terjatuh dan membuat tas ku tercebur ke dalam kolam tersebut, untuk beberapa detik aku panik dan tanpa berpikir panjang segera terjun untuk menyelamatkan isi yang ada di dalam nya, sesaat setelah basah kuyup oleh guyuran air karena kelakuan aneh ku sendiri, aku berhasil menggapai tas ku yang sudah basah bagian depan nya. Aku kemudian muncul ke permukaan memastikan semua nya aman, dan disana aku melihat sekali lagi Nala yang segera mengulurkan tangan nya, memasang ekspresi panik dan ya, air mata nya sudah mengalir deras. Mungkin dia tidak bisa menahan semua emosi nya lagi, wajar, karena trauma bukanlah sebuah hal yang bisa di maklumi hanya dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'.
Aku berhasil naik kembali ke aspal, dan segera merogoh, mengeluarkan semua isi barang yang ada di dalam tas ku, hingga sebuah buku usang itu terlihat jelas. Nala segera memungut nya, dan memperhatikan semua detailnya, tak lupa dia membuka buku itu perlahan.
Mentari terik menyinari Nala yang kini tengah berada di depan ku berdiri dengan sedikit tersenyum di aliri air mata di wajah nya, cahaya mentari menyilaukan ku, tetapi Nala terlihat seperti bersinar di balik nya, aku mengerjap terpana.
Deja vu.
Aku tersenyum tipis seraya menunduk mengusap rambut ku yang tak henti menetes kan air hingga membasahi wajah ku.
'Tak ku sangka, Nala masih seperti dulu'
***
Pertemuan kami sangat singkat, aku hanya berbicara se adanya, dan dia menjawab dengan se adanya juga, suasana nampak sangat canggung kemarin sehingga ku putuskan untuk segera pulang mencuci baju yang basah. Nala sempat terkejut karena aku bisa menggunakan bahasa isyarat dengan baik. Benar, bahasa yang dulu membuat teman sekelas menjadikan nya berbeda dari murid lain.
"Yoko, titip Runa sebentar, aku mau pergi dulu sama ayah nya Runa"
Tiba-tiba, kakakku Mien datang ke kamar dengan menggendong Runa yang sedikit mengantuk, mau pergi kemana mereka malam begini? Anak saja sudah dalam keadaan mengantuk.
"Saudara ayahnya Runa mendadak terkena serangan jantung, dan kami harus segera pergi ke rumah sakit menjenguk nya, sekedar ingin tau keadaan nya, mungkin malam ini ayah nya Runa juga akan menjaga saudara nya itu, jadi aku akan pulang segera mungkin oke, Yoko?"
Aku mengangguk saja meng iyakan penjelasan nya, dan ibu menimpali untuk berhati-hati di jalan saat kakakku pulang nanti.
Runa bukanlah anak yang suka menangis, dia sangat pintar dan juga ceria. Saat melihat ibu dan ayah nya pergi, dia juga bukan tipikal balita yang akan langsung mengamuk ingin ikut, dia menghiraukan saja dan malah rewel karena mengantuk.
"Kemari, Runa sudah mengantuk, Yoko kau antar dia ke kamar, ibu akan membuat susu"
Aku berbalik, dan masuk ke dalam rumah sesaat setelah mereka pergi.
'Malam yang sangat misterius'
***
Pagi hari sama saja seperti hari-hari yang lalu, tampak biasa saja dan suasana nya yang selalu menyejukkan. Aku suka pagi hari, tapi tidak suka kegiatan nya, ahaha aku terlihat seperti seorang pemalas sekarang, bahkan untuk melangkah keluar kamar dengan setelan seragam rapi saja sangat malas. Sekali lagi aku melihat pantulan diri ku di cermin, aku sedikit memasang senyum tipis, dan memperhatikan detail wajah ku, ternyata saat aku tersenyum, aku nampak biasa saja, hanya ibu dan kakakku saja yang selalu bilang aku sangat tampan seperti mendiang ayah.
"Kau tidak sarapan?"
Aku menggeleng pelan, dan hanya meminta ibu untuk membuat kan ku bekal sebagai ganti nya.
"Aku akan memakan nya di sekolah saja, hari ini ada upacara pelantikan anggota OSIS baru"
"Kenapa kau tidak berpartisipasi untuk jadi anggota OSIS juga? Padahal kan itu bagus, kau akan dikenal, dan terkenal di kalangan angkatan, hahaha"
"Kalau begitu, minum dulu segelas susu cokelat ini. Bila kau tidak mau, nanti saat belajar di kelas suara perut mu lah yang lantang menjelaskan materi"
Ibu berucap seraya tertawa geli menyodorkan segelas susu cokelat, dan kotak makan bekal berwarna biru, warna kesukaan ku hehe.
Aku tersenyum mengangguk dan berterima kasih pada ibu.
Setelah itu aku berpamitan untuk segera pergi.
Di jalan, saat aku mengayuh pelan sepeda ku, aku melihat ada seorang siswa, yang mungkin dia sekelas dengan ku, dia siswa yang agak gempal, dan dia tengah di kerumuni siswa lain, yang seperti nya mereka ada senior kelas. Dan sial nya, siswa gempal itu menatap ke arah ku seolah minta tolong, aku menghentikan sepeda ku dan memarkirkan nya. Dengan langkah agak gontai aku akan berusaha sebisa mungkin menghindari perseteruan di pagi yang indah ini.
"Hei, kau lupa kau berhutang 100 ribu pada ku! Sedang apa kau bersama para senior"
Aku tersenyum melambai pada senior yang nampaknya mereka tak suka akan kehadiran ku.
Anak itu sedikit bingung, tetapi sedetik kemudian, dia mengerti improvisasi ku.
"Aaa, benar haha. Tak ku sangka kau akan menemui ku, tapi... Aku sedang tidak membawa uang sebanyak itu, bagaimana jika besok! Besok akan aku bawa!"
Aku berdecak seolah terlihat kesal, untuk memastikan keadaan. Lalu aku menarik lengan nya yang basah oleh keringat badannya, aah dia agak berisi, jadi dia pasti berkeringat.
"Aku tidak mau tau, kau harus ganti hari ini!. Permisi senior, sekarang ini urusan ku dengan si gempal ini!"
Tiba-tiba bahu ku di tepuk salah satu dari mereka.
"Kawan, jika bukan karena hal mendesak, mungkin kami tak akan memperbolehkan mu merusak pagi yang indah ini"
'Cih, justru pagi ku yang tengah porak poranda gara-gara kalian'.
Aku berhasil membawa siswa itu ke tempat aman dan dia terlihat mengelus dada nya dengan ekspresi lega. Lalu menatap ku dengan cengiran.
"Waah! Aku benar-benar berhutang 100 ribu pada mu! Terima kasih banyak Yoko!"
"Eh, kau ingat nama ku?"
"Tentu saja! Nama mu unik dan sangat mudah di ingat!. Kau... aaa, bahkan seperti nya kau lupa nama ku"
Aku tersenyum kikuk menatap siswa itu.
"Maaf, tadi aku bilang kalau kau gempal"
"Tak apa, memang fakta nya memang begitu hahaha"
Dia menyodorkan tangan nya seperti mengajak bersalaman.
"Baiklah, kenalkan lagi, nama ku Derrel"
'Pagi hari yang juga sulit di tebak'
***