Voice

Voice
Chapter 1



"Baiklah, perkenalkan dirimu"


Oh iya, aku baru saja sadar bahwa di depan sana ada seorang gadis berdiri dengan tersenyum manis. Maksud ku tersenyum saja tidak ada manis nya, eh? Dia merogoh isi ransel merah cerahnya dan mengeluarkan sebuah buku bertuliskan 'buku perkenalan'. Aku tidak mengerti apa yang gadis ini pikirkan, tapi aku rasa dia itu pemalu sehingga ingin mengucapkan perkenalan pun harus pakai teks. Hah dasar, menyusahkan diri sendiri saja kenapa dia tidak sebutkan namanya saja dan duduk untuk belajar.


'Selamat pagi teman-teman semua'


'Perkenalkan nama ku Nala Yokashita'


'Aku harap kalian bisa berteman akrab dengan ku'


'Dan menerima segala yang menjadi kekurangan ku'


'Karena aku...'


'Tunarungu...'


Aku terbelalak kaget, ku perhatikan seluruh teman-teman juga tidak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat dan baca. Lalu? Aku menatap kembali pada gadis itu yang sudah berdiri tenang menunggu aba-aba pak guru untuk menyuruh nya duduk. Dan ketika kusadari lagi, bangku yang kosong itu ada di hadapan ku sekarang, itu berarti dia akan disini dan yang pertama kali kena perkenalan adalah aku dan Sira?.


"Yoko, kau tau. Nama belakang nya sedikit mirip dengan nama depan mu. Yokona Harrish, apakah kau berpikir dengan apa yang juga ku pikirkan?"


Aku menggeleng bingung menatap Sira. Aku tidak berpikir apa-apa setelah aku tau nama nya, dan kupikir itu hanya kebetulan saja sehingga aku tidak terlalu perduli sama sekali. Sira tertawa pelan dan mengatakan bahwa aku bodoh. Tiba-tiba gadis itu sudah duduk saja di depan ku, dia tidak mengahadap ku namun dia berkenalan dengan Sira. Sira memang pandai sekali berteman sehingga dia gampang akrab dengan siapa saja. Kurasa anak perempuan senang berteman, tetapi mereka juga sering bertengkar tanpa sebab dan akan saling berjauhan dan juga tidak bertegur sapa.


"Jadi siapa nama panggilan mu?"


'Kalian panggil saja aku Nala, biasanya aku di panggil Yoka'


Semua anak gadis nampak memasang wajah kaget lalu tertawa-tawa.


"Yoko! Kau tidak akan percaya! Nama nya mirip dengan nama mu"


Aku tidak perduli pada dengan kata-kata mereka dan kurasa itu hanya sebuah kebetulan, seperti kataku sebelum nya.


Seharian ini aku melihat para gadis tengah sibuk berbincang hangat dengan Nala, nama gadis yang bisu itu. Kadang mereka tertawa-tawa dan kadang wajah mereka juga serius seperti mendengarkan dia bicara padahal hanya membaca tulisan yang dia tulis saja di buku. Menurutku, Nala adalah gadis yang baik hati dan juga seperti nya polos. Dia sangat ramah pada siapa saja padahal hari ini adalah hari pertama nya bersekolah. Aku memang tidak terlalu perduli tapi seperti nya dia cukup menarik.


"Mulai besok kau akan satu piket dengan kami!"


"Kita akan bersih-bersih kelas bersama!"


"Hey Yoko! Jangan lupakan besok ya! Jika kau mencoba kabur akan ku laporkan dengan pak Kama!"


Mereka mentertawakan aku yang kini sudah menyandang tas untuk segera pulang. Aku hanya bisa mendengus pasrah karena besok aku kena piket. Lalu aku kembali menghadap dua sahabatku, Ben dan Rival mereka berdua adalah sahabat terbaik yang bersama ku selama enam tahun ini. Dan kami bertiga juga akan masuk smp yang sama nanti. Ben adalah anak laki-laki bertubuh gempal dan orang seperti Ben memang suka sekali makan, sedangkan Rival tidak banyak kata menurut ku Rival adalah anak laki-laki kalem dan bicara nya juga irit kata, namun dia memiliki kebiasan mengucapkan kata-kata yang menusuk hati dan dia sering melontarkan kata itu pada anak perempuan, entah kenapa aku juga tidak tahu.


"Yoko, apa kau juga berpikir bagaimana gadis bisu itu bisa diterima oleh anak perempuan lain?"


Aku menggeleng singkat dan sepanjang perjalanan pulang aku hanya banyak berdiam.


"Menurutku, dia hanya akan dapat teman sebentar setelah itu anak gadis lain akan mencampakkan nya karena sulit berkomunikasi dengan nya"


Si gempal Ben yang sok pintar mengungkapkan pendapat nya, aku hanya menggumam tidak jelas seraya mencubiti pipi Ben. Pipi chubby Ben adalah favorit ku karena aku adalah orang yang gampang gemas dengan anak yang berisi. Dan tentunya Ben melakukan perlawanan dengan menghentikan ku dengan kekuatan lemah nya, Rival hanya menonton sambil mentertawakan saja karena dia tidak terlalu suka menyakiti orang meski hanya mencubit saja.


"Aku pulang"


Ibuku tengah melayani orang yang sedang membeli beberapa kue-kue buatan nya. Yap, ibuku adalah penjual kue juga roti di daerah sini. Buatan ibuku adalah yang paling enak dan aku berani menjamin itu. Ibu menoleh padaku masih sambil memgambil beberapa cupcake dari etalase kaca dan tersenyum ramah menyambut kedatangan ku. Dan ternyata Key, menantu dan juga kaka ipar laki-laki ku juga ikut membantu, dia pekerja kantoran dan sepertinya dia pulang cepat hari ini.


"Selamat datang sayang, ibu sudah menyiapkan pie buah kesukaan mu di meja makan!"


Aku hanya menggumam tidak jelas dan menaiki lantai dua menuju kamar. Biasanya ibu selalu menyiapkan kue-kue lezat saat aku pulang sekolah dan ketika selesai memakan nya aku akan segera membantu ibu untuk berjualan. Ibu selalu memintaku untuk menjadi putra yang baik, dan tidak berperilaku jelek disekolah. Sampai sekarang aku selalu menjaga nasehat ibu dengan baik, dan bahkan aku sempat berjanji. Aku melihat beberapa barang baju-baju bayi berserekan di atas ranjang ku. Aku tahu, ini pasti ulah kaka ku yang mencari baju ku waktu bayi karena dia ingin menyiapkan untuk anak nya meskipun belum hamil. Sekarang dia masih mengajar, dia bekerja sebagai guru di sebuah SMP yang lumayan jauh dari sini.


"Terima kasih, jangan lupa mampir lagi"


Aku tersenyum mengikuti ibuku yang juga tersenyum ramah pada pembeli yang sudah pergi meninggalkan toko sesaat membeli roti tawar khusus untuk dibuat roti isi.


"Dikelas ku ada murid baru"


Ibuku masih sibuk membereskan beberapa tepung terigu yang berceceran di atas meja.


"Benarkah? Perempuan atau laki-laki?"


Ibu terdengar antusias meski masih sibuk. Aku lalu menjawab dengan pelan.


"Perempuan"


"Waah Yoko, berteman baiklah dengan nya!"


Aku tersenyum mengangguk pelan. Ibu lalu berlalu pergi membawa beberapa wadah kotor kedalam. Dan aku ditinggalkan disini sambil kembali mengingat sosok Nala yang tersenyum di kelas, senyum yang semua orang tidak dapat di artikan. Dan kurasa dia akan menjalani hari penuh bahagia, aku hanya tidak terlalu ingin berurusan dengan nya saja dan biarkan anak perempuan merawatnya dengan baik.