Voice

Voice
Chapter 10



Sekali lagi, hari ini Sira tidak masuk sekolah.


"Bapak sudah mendengar banyak keluhan datang, dan itu semua tentang Nala."


Aku menatap malas pada pak Kama yang berdiri bersama ibu kepala sekolah di sampingnya. Hari ini mungkin adalah hari yang begitu panjang dan melelahkan, kurasa.


"Bapak ingin kalian jujur. Ibunya Nala sudah mengeluhkan beberapa alat pendengaran Nala selalu rusak dan juga hilang. Sekali lagi bapak minta kejujuran nya"


Aku terdiam. Aku pikir bukan salahku kenapa perasaanku juga tidak enak. Aku tidak merasakan ada rasa bersalah saat kulihat wajah Sira yang nampak santai. Tiba-tiba suara mengaggetkan itu menimpa pendengaranku, pak Kama marah dan menonjok papan tulis tak bersalah di belakang nya. Aku hanya terdiam dengan posisi mata terbelalak.


"Saya pak"


Pak Kama tersenyum penuh kememangan. Tapi kurasa satu suara dari Sira saja belum cukup kan. Kenapa Rival dan Ben tidak?.


"Saya rasa Yoko juga harus bertanggung jawab"


'Apa?!'


Sira mendudukan dirinya. Aku menatap wajah nya tidak percaya, apakah dia sedang berusaha menjebakku?. Tidak, aku tidak bersalah jadi untuk apa aku panik.


"Lagipula Yoko kan juga satu geng sama kami pak"


Aku menoleh cepat pada sosok lain yang melirik diriku begitu tajam. Rival, apa yang kau bicarakan?!.


"Yoko. Bisakah kamu jelaskan?"


Aku kebingungan saat harus menjawab pertanyaan pak Kama yang begitu datar. Beliau menatapku seperti kecewa dan tak percaya aku...


"Saya tidak melakukan apa-apa"


Akhirnya aku bisa mengucapkan kalimat pembelaan dengan begitu jelas. Mengheningkan seisi kelas yang menatapku seakan aku berbohong padahal aku bicara jujur. Adakah yang dapat memahami kejujuran ku sekarang?!.


"Baik. Kalian semua masuk keruangan kepala sekolah sekarang juga!"


---


Aku berjalan nampak sempoyongan dan sepertinya aku akan segera kehilangan kesadaran. Tanganku begitu dingin dan napasku juga tidak teratur. Aku tau, sekolah pasti sudah mengabari ibu tentang kejadian ini. Ibu pasti akan sangat marah. Ku tegaskan aku tidak bersalah, tapi mereka mendesakku untuk bertanggung jawab juga. 3 banding 1. Aku kalah berdebat dan akhirnya aku juga di paksa untuk meminta maaf dan memberikan uang ganti rugi.


Aku sudah tidak dapat membayangkan wajah marah ibu.


Aku sudah sampai di depan rumahku, sepi. Satu kata yang keluar dari batin ku. Padahal ini baru pukul dua siang tapi kenapa toko sudah tutup?. Dengan langkah pelan aku memasuki rumah dan menjajakan kaki satu persatu menaiki anak tangga. Dan ketika itu bersamaan aku mendengar suara pilu dari ibu.


"Ibu dapat kabar dari sekolah mu!"


Aku terdiam. Ya, aku menjawab dalam hati. Apa yang ibu mau?. Aku benar-benar kacau sekarang. Bahkan aku tidak mau menoleh pada ibu sekarang.


"Yoko lihat ibu!. Apa yang kau lakukan padanya?!"


Aku menghela napas berat, memejamkan mata begitu erat. Tanpa peduli aku kembali menaiki anak tangga.


"Yokona Harrish! Ibu sedang bicara padamu!!"


"Bisakah ibu tidak bertanya lagi!"


Mata itu.


Akhirnya aku menatap mata itu. Mata yang sudah buram oleh linangan air mata kekecewaan yang ditujukan padaku hari ini.


"Aku tidak melakukannya bu. Mereka menuduhku"


Aku memejamkan mataku kembali seraya mengigit bibirku begitu keras hingga sedikit berdarah akibat emosi ku sendiri. Lalu apakah aku harus berteriak mengatakan bahwa aku tidak bersalah?.


"Ibu bisa tanyakan langsung pada Nala"


"Jadi nama gadis itu adalah Nala?"


Aku mengangguk lemas. Tiba-tiba ibu menyuruh ku untuk berganti baju dan segera bergegas ke mobil.


"Mau kemana bu?"


Ibu terdiam tidak menyahut, beliau masih serius menyetir menatap jalan raya di depannya. Dalam benakku hanya satu, kuharap Nala dapat membantuku untuk memberikan kepercayaan kepada ibu dan menyatakan bahwa aku tidak bersalah.


Kami sampai di sebuah rumah besar dan pekarangan luas. Rumah tradisional khas jepang yang menurutku memiliki desain yang mewah. Untuk apa ibu kesini? Apakah ini rumahnya Nala?. Ya, Nala memang keturunan jepang tapi aku tidak menyangka ternyata rumahnya disini maksudku tidak berada di jepang. Rumah nya bergaya jepang kental sekali.


Ibu mengetuk pintu tiga kali. Dan tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu berseragam maid. Pelayan dirumah sebesar ini mungkin sangat banyak.


"Silahkan duduk, saya akan panggilkan nyonya dulu"


Pelayan itu lalu pergi memanggil pemilik rumah. Dan hatiku sedari tadi selalu tidak nyaman karena ibuku juga tak kunjung mau bicara padahal kami akan segera bertanggung jawab dan tentunya aku akan menyatakan ketidak bersalahan ku pada ibunya Nala, siapapun itu.


Seorang wanita lalu mendatangi kami yang duduk di ruang tamu di suguhi minuman segar dan cemilan lezat. Aku tidak berselera melihat jamuan yang di sajikan para pelayan rumah yang sepertinya cukup banyak dirumah ini.


"Saya minta maaf atas kelakuan putera saya selama ini"


Aku menoleh cepat pada ibu akibat diriku yang mudah teralihkan perhatian, membuat aku lupa pada tugas utama kami datang kerumah ini untuk meminta maaf dan mengklarifikasi semuanya. Tapi yang membuat aku tidak menyangka dan tidak bisa berkata-kata, adalah wanita itu. Wanita yang baru saja beberapa hari yang lalu membeli roti di toko kami!. Jadi dia adalah ibu nya Nala?.


"Tidak perlu membungkuk sedalam itu bu, saya bersyukur puteri saya masih baik-baik saja. Dia akan segera bersekolah lagi"


Aku cukup lega saat pernyataan Nala baik-baik saja terlontar dari kalimat ibunya sendiri. Setidaknya dia tidak mengalami hal yang serius.


"Kami kesini ingin membayar ganti rugi"


Aku berdiri menatap tegas ibu nya Nala, ini akan aku selesaikan tanpa ibu membayar ganti rugi pada keluarga Nala.


"Maafkan aku bu, sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa pada Nala. Aku selalu membantu nya jika dia kena masalah dengan teman-teman ku. Hanya saja aku di anggap terlibat pada ini semua"


Ibunya Nala masih berdiri dengan wajah bingung mengangkat sebelah alisnya dan aku juga dapat melihat ekspresi tidak percaya ibu atas kelakuanku.


"Lalu, kenapa kau bisa ada disini jika tidak bersalah?"


Pertanyaan seperti itu lagi! Bisakah untuk tidak menanyakan hal seperti itu padaku, aku telah dituduh melakukan hal yang tidak mengenakan pada Nala.


"Ibu bisa tanyakan pada Nala"


"Untuk apa saya bertanya pada puteri saya kalau cukup kau saja dapat memberi saya jawaban nya"


Aku menghela napas berat. Lalu, apakah dengan aku menjelaskan, ibunya Nala akan percaya? Kurasa tidak, aku meragukan itu.


"Baiklah, saya tidak akan mempermasalahkan ini lagi. Saya anggap kamu tidak bersalah saya akan tanyakan pada puteri saya lebih lanjut tentang kamu"


Akhirnya aku dapat bernapas lega dan tersenyum puas menoleh pada ibu yang nampak memasang ekspresi tidak percaya di kemudian detik, ibu tersenyum penuh syukur dan berterima kasih pada ibunya Nala.


"Berjanjilah sesuatu pada saya. Jangan pernah mendekati Nala lagi dan jangan pernah kamu menganggu nya katakan itu juga pada teman-teman mu"


~~~