Voice

Voice
Chapter 3



"Kita harus latihan paduan suara ayoo!!"


Aku, Ben dan Rival mengiraukan titah ketua kelas yang dengan tegas menyuruh untuk segera bergegas pergi menuju ruang musik. Aku masih memperhatikan Nala yang tengah asyik bergurau dengan anak perempuan lain masih sambil menulis sesuatu untuk menyambung percakapan nya.


"Dia punya alat untuk mendengar"


"Hah? Alat nya seperti apa?"


"Aku juga tidak tahu"


Aku menoleh pada Sira dan Rival yang sedang asyik membicarakan alat pendengaran milik Nala. Aku pernah melihat alat itu, warnanya merah dan sepertinya itu sangat membantunya dalam berkomunikasi.


"Nanti akan kuperlihatkan padamu! Aku akan mengambil alat nya"


"Kenapa masih di kelas??!!"


Dentingan piano yang dimainkan ibu Lin terdengar begitu merdu dan kami sudah berbaris rapi bersiap akan menyanyikan sebuah lagu wajib nasional untuk lomba kemerdekaan nanti. Aku jadi yang berdiri di paling atas dan bisa melihat apa saja yang terjadi di bawah, dan aku bisa melihat Sira yang usil memainkan hp nya memeriksa media sosial dan juga membalas beberapa pesan. Sira memang gadis yang kurang menataati peraturan sekolah, dia membawa hp tanpa sepengetahuan pak Kama.


"Nhaa...Khaa..Mhaa..--"


"Nala, tanda nya belum masuk. Kau bernyanyi terlalu cepat. Aku akan menepuk mu jika sudah mulai bernyanyi oke?"


Aku dan semua murid menoleh pada Nala yang dengan wajah polosnya mengangguk menuruti intruksi dari Luna.


"Aduh, kacau"


Dan aku bisa melihat ekspresi dari Sira yang nampak mengumpat dan berbisik pada anak perempuan disebelahnya.


Akhirnya latihan selesai, aku dan kedua sahabatku langsung yang paling pertama meninggalkan ruangan musik tanpa peduli apa yang sedang dijelaskan ibu Lin kepada murid lain. Kami berjalan pelan menuju kantin sekolah dan sesekali aku mencubiti pipi Ben dan merangkul nya.


"Kurasa lomba ini akan kacau"


"Aa, tidak juga Sira. Aku yakin dia akan berusaha"


"Mustahil"


"Sudahlah Sira, dia berbeda dengan kita"


Aku, Ben dan Rival tidak sengaja mendengar percakapan Sira dan anak gadis lain nya di lorong kelas. Mereka membicarakan seseorang, kalau tidak salah pasti mereka tengah membicarakan Nala.


"Kau mau tambah?"


"Eh, kenapa dengan pipi kanan mu? Aku baru liat, seperti ada lebam saja"


"Ooh, ini. Aku dipukul ibuku"


"Jangan-jangan masalah roti itu?!"


Rival tersenyum menggeleng, dan Ben mentertawakan ku. Apa boleh buat, akhirnya aku juga tertawa karena aku ketahuan mencuri roti dagangan ibu tanpa bayar dan ibu rugi tiga roti yang kuberikan untuk makanan ikan.


"Boleh aku meliat alat itu?"


Aku yakin, kali ini Sira tidak akan serius melakukan nya. Ben dan Rival sepetinya juga nampak antusias, Nala melepaskan satu alat pendengaran nya dan memberikan nya pada Sira. Sira tersenyum jahil lalu melempar alat itu pada Ben dan Rival, wajah Nala terlihat khawatir saat alat itu berhasil mendarat di kedua tangan Rival.


"Woaah apa ini"


Aku juga ikut melihat, dan ternyata seperti itulah wujud dari alat pendengaran khusus untuk para Tunarungu. Tapi tiba-tiba, alat itu kembali di lemparkan pada Sira dengan senyum yang sangat aku kenal.


"SIRA!!..."


Alat itu di lempar keluar jendela oleh Sira, seisi kelas nampak terdiam melihat kelakuan Sira. Aku bisa lihat Luna berdiri dan mencengkram bahunya kuat dengan tatapan marah dan juga Nala, dia masih terlihat kaget dengan apa yang dilakukan Sira padanya.


Aku menoleh cepat pada Rival yang bersedekap menatapku dengan wajah dingin. Aku hanya terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan dari Rival. Ya, barusan tadi aku meneriaki nama Sira saat alat itu sudah keluar dari jendela dan suara ku lebih keras dari orang marah.


'PLAK!'.


"Keterlaluan!"


Aku kembali kaget dengan Luna yang dengan berani menampar wajah Sira karena marah dengan perlakuan nya. Yang lain segera melerai, tidak ada perlawanan dari Sira dia hanya tertawa berbalik ke arah kami bertiga sambil memegangi sebelah pipinya yang langsung memerah.


"Maaf Nala, tangan ku terpeleset"


Aku kembali melihat ke arah Nala yang tengah sibuk menenangkan Luna dan ketika mendengar ucapan Sira, dia menatap punggung Sira dengan wajah sedih. Kali ini memang Sira sudah keterlaluan, kemarin dia yang paling baik dengan Nala. Sekarang kenapa dia berlaku seperti itu dengan sengaja?!.


"Sira, apa yang kau lakukan?"


Aku menatap Sira yang balik menatapku heran. Aku juga heran, kenapa dia seperti jijik padaku. Padahal aku menanyakan hal yang benar.


"Jangan ikut bersikap aneh Yoko. Ayo teman-teman"


---


"Yoko, kami duluan. Kami akan kerumah Sira. Sebentar, apa kau mau ikut?"


"Tidak, aku harus membantu ibu berjualan"


"Baiklah sampai nanti"


Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan ku sendirian di kelas masih harus menghapus tulisan-tulisan di papan tulis bekas pelajaran. Hari ini memang pulang agak lebih awal karena guru mengadakan rapat bulanan. Jadi memang wajar Ben dan Rival ingin bermain dulu, biasanya hari ini kami akan ke kolam untuk memberi makan ikan. Tapi karena ibu marah padaku kemarin, aku jadi takut mengambil 3 roti lagi. Mungkin nanti saja, saat beberapa roti ibu yang tidak laku akan aku bawa ke mereka. Jadi biarkan saja mereka berteman dengan Sira dulu.


Ketika aku berjalan melewati taman sekolah, mata ku tak sengaja melihat Nala sedang sibuk di semak-semak mencari sesuatu. Apa jangan-jangan alat itu!.


"Nala!"


Aku mengaggetkan nya, dia tersentak dan berbalik cepat mengusap-usap dadanya dan melihat ke arah ku dengan wajah bingung. Aku hanya dapat tersenyum kikuk, kurasa dia juga marah padaku. Tapi aku tidak perduli, mungkin jika aku membantunya sebentar dia pasti tidak jadi marah padaku.


"Ketemuu!!"


Aku tertawa mengambil alat itu yang tergeletak di rerumputan, dan ku perhatikan nampak nya masih bagus. Tidak ada lecet ataupun rusak. Nala mendatangiku dengan wajah senang dan ikut melihat, dia mengambil miliknya dan nampak meniup nya sedikit sebelum di pasangkan kembali ke telinga.


"Bagaimana? Apakah alat nya baik-baik saja?"


Nala mendelik kesana kemari usai aku bicara, kemudian dia mengangguk senang padaku. Akupun juga ikut senang karena alat nya baik-baik saja. Dan aku juga tak lupa meminta maaf atas kelakuan Sira hari ini, Nala menggeleng pelan dengan tersenyum. Entah apa maksud nya. Lalu mengenggam tanganku seperti bersalaman, dan menggunakan bahasa isyarat yang aku tidak tahu apa artinya.


"Mha..khashih"


Aku hanya terheran-heran, tidak mampu dan tidak memahami apa maksud dari semua bahasa nya. Dan untuk menghargainya, aku mencoba yakin dengan mengangguk dan mengatakan iya. Mungkin benar, dia lalu melambaikan tangan nya seraya semakin menjauh dariku lalu berlari kecil menuju gerbang sekolah.


"Apa barusan dia mencoba berterima kasih?"


'**Bahasa Isyarat'


'Terima kasih banyak Yoko**!'