Voice

Voice
Chapter 11



Musim panas akan segera berakhir, dedaunan pun telah mulai berluruhan sedikit demi sedikit kala hembusan angin lembut menampar ranting rapuh yang sudah mulai lapuk.


Ibu bilang, jadikan pelajaran berharga kala hidupmu di terpa masalah besar yang bahkan menyelesaikan nya harus berurai air mata dan bersujud meminta maaf.


Disaat seperti ini, aku belajar sebuah hal baru. Bahwa, bergaul dengan orang yang salah akan membawa mu pada kehancuran mu sendiri.


Itu bagaimana cara dirimu membawa jiwa ini kemana pun dan dimanapun ada sebuah ikatan yang terjalin dan akan terus melekat disana hingga kita sulit melepaskan nya.


Ibu menyuruhku untuk menjauh dari Ben dan Rival. Hingga menjauhkan ku dari Bangku yang sering kududuki bersama Sira.


Entah bagaimana aku melalui hari yang begitu semakin dibuat terpuruk, semakin dibuat menderita karena sering di jadikan bahan bullying menggantikan Nala yang kini memilih menjadi orang asing yang tak pernah menjadi ceria lagi.


Sampai tiba dimana.


"Nala sudah pindah sekolah. Mari kita Lanjutkan pelajaran kemarin"


Hari itu, aku belum sempat untuk meminta maaf dan dia sudah pindah lebih cepat dari dugaan ku.


Tahun demi tahun berlalu, aku bahkan sudah menjadi siswa SMP tahun terakhir, dan bukannya kesan yang indah malah aku selalu mendapat perhatian buruk dari beberapa siswa lain, yang dikarenakan Ben dan Rival. Mereka yang dengan tega memfitnah ku atas kelakuan ku kepada Nala saat sekolah dasar dulu.


Ngomong-ngomong, apa kabar sekarang Nala?.


***


"Jangan lupa mampir lagi"


Aku merapikan beberapa roti yang terlihat berantakan di rak nya karena beberapa pembeli nampak kurang berhati-hati kala mereka memilih. Bahkan ada roti yang seharusnya tidak berada di tempat nya. Haaah semuanya tumpang tindih, jadi mungkin ini agak melelahkan. Ditambah beberapa barang juga sudah datang, ibu seperti nya juga sangat sibuk melayani beberapa pembeli yang mengantri di kasir menunggu giliran bayar.


"Haii, waah sudah berapa bulan?"


"Sudah 8 bulan"


"Waah, eh anak nya laki-laki apa perempuan?"


"Hehe, kebetulan saya tidak ingin melakukan USG, biarlah nanti menjadi kejutan"


"Waah, bu. Sudah mau momong cucu saja"


"Sebentar lagi bakal giliran Yoko"


Astaga, ada apa dengan para ibu-ibu itu. Aku masih anak SMP sudah diramal mau nikah aja. Terlebih lagi banyak yang penasaran dengan bayi yang di kandung kakak ku itu. Aku kan juga penasaran dia akan melahirkan bayi laki-laki atau perempuan.


Setidaknya aku bisa memilih kado saat dia melahirkan nanti.


"Tapi, jika orang tua sering bilang. Kalo perutmu bulat seperti bola gini, itu nanti yang keluar cewek lo!"


"Ah, masa sih bu hahahaha"


"Iyaa, itu loh buktinya keponakan ku perut nya mirip kayak kamu. Ehh ternyata pas lahiran, bayi nya perempuan"


Hmm.. Perempuan ya..


Aku tersenyum saja dengan semua kabar bahagia itu, asalkan lahir dengan selamat. Aku sudah jadi paman nya sejak saat itu.


Aku berjalan membawa keranjang besar melewati para ibu-ibu itu yang masih asyik membicarakan bayi dan cara merawat nya. Dan memasukan roti yang baru datang di antar ke keranjang yang ku bawa tadi.


"Yoko!"


Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan, dan benar saja saat aku mendongak dan menoleh, ternyata itu adalah Firsa teman satu kelas ku yang menjadi primadona satu sekolah. Dan entah apa sejak kelas satu hingga kelas tiga, dia selalu suka berteman dengan ku dan sering membantuku berdagang seperti sekaranh di hari libur begini.


"Hai... Eh maaf ya agak terlambat hehe tadi aku harus ke tempat nenek dulu sama mamah"


Aku tersenyum menyapa nya balik masih sibuk memasukan roti kedalam keranjang.


"Yasudah, aku bantu ya! Roti nya banyak banget tuh!"


"Iya, makasih ya"


Firsa tersenyum begitu manis padaku. Mungkin, hanya dia satu-satu nya orang yang masih menganggap ku orang baik disekolah. Dia yang selalu membantuku dalam kesulitan meski dia kadang juga sering terlibat kesulitan dengan ku. Dia selalu ceria saat aku bersedih, dia tidak pernah berbicara hal buruk tentang ku pada orang lain di sekolah. Dan dari sekian banyak orang, hanya Firsa yang mengerti apa yang ku derita sekarang.


"Hei, jangan memaksakan diri begitu. Keranjang mu sudah penuh, sana! Antar dulu kedalam!"


Aku tersadar pada lamunan ku dan benar, keranjang ku menjulang bak gunung dan aku hanya bisa tertawa sembari mengangkat dan berjalan sempoyongan kedalam karena berat. Benarkan, dia juga sangat perhatian padaku.


Sore telah tiba, toko juga sudah sepi. Kami duduk-duduk menikmati semilir angin dari kipas yang menempel di dinding nampak menoleh ke kanan ke kiri memberikan kesejukan.


"Hari ini toko ramai sekali ya bu, gak biasanya loh!"


Firsa disana masih membantu ibu berberes menyusun beberapa rak kosong yang di isi kembali dengan roti baru. Firsa sudah lama kenal dengan keluarga kami, dia begitu ceria ketika hari libur tiba karena bisa membantuku bekerja, dan juga bisa mengerjakan beberapa PR bersama disaat dikumpulkan di hari senin.


"Hmm, abang. Capek yaa sini ponakan pijitin"


"Firsa anak nya baik juga ya. Sudah cantik, ceria, baik hati lagi. Sering bantu kamu juga. Kenapa gak cepet aja? Ntar keduluan orang loh!"


"Hooh apa sih! Aku masih anak SMP, belum ada ya gitu-gituan"


"Aah, kamu terlalu kaku. Semua manusia pasti akan ada rasa suka sama lawan jenis nya"


Kakak kembali menggoda ku hingga membuat kedua pipi ku memerah. Tidak! Aku tidak mungkin menyukai Firsa karena dia terlalu sempurna!.


"Aku akan mengantar nya pulang dulu"


"Ciee.. Eh, ini momen yang pas loh!"


"Ck, apaan sih!"


Ah tidak, Firsa malah menoleh dengan wajah nya yang kelewat manis membuat ku salah tingkah lagi. Kakak ku memang sangat usil meski tengah mengandung tingkat keusilan nya nampak meningkat pesat.


"Terima kasih, sudah membantu lagi buat hari ini"


Firsa tersenyum lembut, dia selalu bersikap ceria meski dia lelah.


"Terima kasih juga telah memberikan kesempatan untuk ku bisa membantu mu"


Aku tersenyum kikuk dengan menunduk. Senja kini menyinari jalanan kota, nampak mobil berlalu lalang dengan pelan menyusuri jalanan yang sudah menyala lampu nya.


"Besok katanya kita bakal mengisi formulir untuk memutuskan akan melanjutkan SMA kemana"


"Oh"


Astaga, aku belum memutuskan akan masuk SMA apa.


"Kalau Yoko... Akan masuk SMA mana tahun depan?"


Aku?, aku tertawa hambar mendongak menatap langit jingga yang begitu indah.


"Emm, aku..."


"Eh, belum tau ya?"


Aku hanya bisa tertawa cengengesan menatap Firsa yang juga nampak mentertawakan ku.


"Bagaimana dengan mu?"


"Aku?"


Aku mengangguk, dia memang sudah yakin dengan pilihan nya itu nampak sekali di raut wajah nya.


"SMA Putri. Aku akan kesana dan akan lebih fokus pada tata bahasa asing ku"


"Wo-woaah, itu kan sekolah terbaik khusus putri? Kau keren sekali. Semoga beruntung ya"


Firsa tersenyum dan dapat kulihat kedua pipi nya bersemu kemerahan karena aku baru saja memberi nya semangat tadi.


"Yoko juga... Semangat yaa, semoga cita-cita mu tercapai"


***


"Kadang aku heran dengan mu. Tidak mau USG akhirnya bingung sendiri memilih baju bayi yang seperti apa"


Mereka berdua berdebat lagi, kebingungan memilih baju untuk bayi yaa. Tapi entah kenapa aku yakin sekali dengan ucapan ibu-ibu yang membeli roti pagi tadi.


"Tapi kurasa bayi nya perempuan"


"Kau juga begitu?, yaah aku seperti memiliki firasat bahwa bayi nya juga perempuan"


Kakakku lalu duduk di kursi menegak secangkir air putih nampak sangat kehausan.


"Aku akan sangat senang jika dia laki-laki"


"Ooh, jadi kau sebagai ayah nya tidak senang jika yang lahir perempuan?"


"A-anu, tidak aku akan sangat senang juga"


Aku tertawa kecil seraya meninggalkan mereka yang masih berbincang di bawah, dan aku menuju kamarku untuk segera beristirahat karena hari ini cukup melelahkan.


Selamat tidur semua nya...


Semoga besok lebih baik dan aku harus memutuskan masuk ke SMA mana.


~~~