Voice

Voice
Prolog



'Aku... Apa yang orang lain bicarakan tentang ku?'


'Mengapa orang melihatku berbeda?'


'Mengapa?'


'Apa karena aku tidak bisa mendengar dan bicara?'


'Apa karena aku TUNARUNGU?!!'


Mama mendatangi ku dengan tersenyum lembut, membelai pipi ku penuh kasih sayang seperti biasa. Tetapi dari raut wajah nya ada yang berbeda, mengapa aku harus bisa menebak raut wajah mama setiap saat?! Aku tidak bisa mendengar dan bicara sedari lahir. Usaha orang tua ku untuk ku agar kembali pulih sudah sangat keras, mereka berusaha sekuat tenaga untuk kehidupan ku sampai sekarang. Astaga, mama menangis aku hanya bisa berdiri melihat nya menitikkan air mata dengan wajah tersenyum. Sebelah tangan nya memberikan ku kotak kecil berwarna soft pink. Aku menyambut nya dengan perlahan kuperhatikan kotak itu dengan seksama, aku bolak-balik dengan wajah penuh tanya. Lalu aku kembali menatap pada mama, beliau menyuruh ku untuk membuka nya, dengan bahasa isyarat menyampaikan bahwa isi kotak itu adalah benda berharga yang dapat membuat ku bahagia. Aku mengrenyitkan alis, semakin membuatku penasaran tak lupa aku berterima kasih pada mama lalu ku buka kotak itu perlahan. Setelah aku melihat isinya dan alangkah terkejud nya aku bahwa itu adalah alat pendengaran, sepasang alat pendengaran yang di pasang di kedua telinga supaya aku bisa mendengar orang lain bicara, tanpa kebingungan lagi dengan apa yang mereka bicarakan.


"Mha~maa.. Inih?!"


Mama mengangguk dengan semangat, dengan senyum lebar dia lalu memasangkan alat itu di kedua telinga ku. Tiba-tiba rasanya berbeda begitu saja, rasanya aku bisa mendengar bunyi tapak kaki dokter yang berjalan ke arah ku dengan tersenyum bahagia. Aku masih memfokuskan suara-suara yang datang ke pendengaran ku tiba-tiba, aku di kagetkan oleh adik ku dia menepuk punggung ku lalu berjalan kedepan ku dengan tersenyum lebar.


"Haii!!"


Mata ku terbelalak dengan mulut menganga lebar, lalu aku menoleh pada dokter lalu kepada mama dan kepada adikku yang tertawa kecil. Aku bisa mendengar! Tak percaya dengan semua keajaiban ini seketika air mata ku menetes deras tanpa bisa ku tahan lagi aku langsung menyerbu memeluk mama begitu erat dan berterima kasih tiada henti karena ini semua adalah perjuangan nya untuk ku.


"Naaah karena sekarang kau bisa mendengar, tahun depan kau akan bersekolah!"


Aku tersenyum mengangguk pada mama yang tengah memasak membelakangi aku yang sedang duduk di meja makan membantu beliau mengiris seledri mengupas wortel juga kentang. Mama akan memasak sup ayam kesukaan ku, juga kesukaan adik ku Ran. Dia baru kelas 3 SD, dan aku bersekolah di sekolah khusus orang berkebutuhan khusus. Dari sana aku di ajari berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa isyarat tetapi, sekolah itu hanya sampai kelas 4 karena memang seperti itu peraturan nya. Setiap 4 tahun, murid yang sudah mampu berkomunikasi dengan baik akan di sekolahkan di sekolah biasa. Itu bagi mereka yang mampu untuk melanjutkan, seperti aku contoh nya dan beberapa teman ku yang lain juga tunarungu. Kami bisa melanjutkan ke sekolah umum, tapi bagi yang lain aku kurang mengetahui nya.


1 tahun kemudian.


'Aku belum siap'


Aku masih mematut diriku di cermin, dan aku masih belum siap. Padahal sudah setahun sejak saat mama pertama kali mengatakan aku akan bersekolah umum seperti anak anak lain nya. Sekali lagi, aku memperhatikan penampilan ku rambut pendek se dagu berwarna cokelat tua seperti warna rambut ayah ku. Seragam sekolah dan sepatu pantofel berwarna hitam. Aaarrgh! Aku masih belum siap! Aku takut teman-teman baru tidak menerima ku karena aku berbeda.


Aku mengangguk pelan. Barusan itu suara adikku. Ran memang selalu perhatian pada ku, dia selalu menjadikan aku nomor satu setelah dia. Aku tidak ingin mempersulit hidup nya, kami akan dewasa dan aku harus hidup mandiri.


"Selamat naik kelas 5!"


Mama dan Ran menyapa ku di depan, mereka tertawa bahagia melihat ku yang berdiri di hadapan mereka dengan tersenyum gugup. Sebenarnya aku sedang deg deg an, aku masih memikirkan seperti apa nantinya jika aku bersekolah di sana. Kuharap mereka tidak akan menganggu ku karena aku takut akan hal yang berbau disakiti.


"Hay sayang, senang berjumpa dengan mu. Aku kepala sekolah, ibu Tia semoga kau senang bersekolah di sini"


"Selamat pagi Nak, nama bapak adalah Kama Pramudha! Wali kelas 5. Jika ada apa apa, kau bisa langsung datangi bapak yak!"


Sosok ibu kepala sekolah, sangat ramah dan lembut dalam berbicara. Ibu Tia juga adalah wanita yang cantik, bapak Kama nampak nya masih muda dan dia sudah jadi wali kelas 5. Bapak Kama sepertinya adalah pria yang hangat dan juga baik hati.


Aku mengangguk pelan dengan tersenyum gugup sekali lagi, bapak Kama bilang untuk ku agar tidak terlalu gugup dan santai saja, karena beliau bilang kelas 5-A adalah tempat murid-murid baik dan mereka pasti akan senang berteman dengan ku. Apakah benar? Beliau lalu mengajak ku untuk segera memasuki kelas karena bel sudah berbunyi nyaring menggema. Aku lekas berbalik menghadap mama, mama hanya tersenyum memberi ku semangat dengan tatapan nya yang membuat ku kembali tenang.


"Mama akan jemput saat pulang sekolah nanti"


Aku mengangguk pelan dengan ekspresi semangat. Baiklah, aku tidak boleh jadi pengecut! Aku pasti bisa!.


"Hari ini kita kedatangan murid baru. Kalian harus berteman baik dengan nya yak!"


Aku memasuki kelas dengan menunduk menenteng tas merah ku dan berdiri di depan mereka yang pasti menatap ku penuh tanya.


"Baiklah, perkenalkan dirimu"


Aku mendongak cepat, dan aku terkesiap. Berbeda dari dugaan ku ternyata mereka nampak penasaran dan sangat antusias terhadap ku. Akupun tersenyum manis, sebentar lagi rasa penasaran mereka akan berubah dengan raut keheranan atau juga mereka bisa kaget dengan kondisi ku.


~~~