Triple Trouble

Triple Trouble
7th Trouble




“Kay…duduk di sini aja, di situ sudah ada orangnya.” Ajak Metha, dimana bermaksud tulus memberitahu bahwa bangku yang tengah Kay duduki itu bukan bangku kosong.


Namun, Kay sama sekali tidak bergeming. Ia tetap diam mematung di atas


kursinya begitu duduk. Membuat Metha terpaksa diam menunggu sampai cowok


itu berubah pikiran. Wajah Kay yang tadinya terlihat ngeblur karena jarak


pandang yang lumayan jauh kini terihat begitu jelas di mata Arvi.


Meski sudah menduduki bangku yang sebenarnya


berpemilik tersebut, Kay masih tidak mau menyapa Si teman sebangku. Jangankan


mengenalkan diri atau menanyakan nama Arvi,


mengatakan ‘Hai’ saja sepertinya berat untuk bersuara. Membuat gadis


rabun yang sejak tadi diam-diam sibuk menggambar tertegun heran.


“Itu bangku ada penghuninya lho.” Ucap Arvi tanpa pikir panjang. Sudah pasti siapa pun


pendengarnya akan merasa bahwa kalimat tersebut merupakan istilah pengusiran secara


halus.


“Dia bisa pindah entar, karena sekarang ini bangku milik gue.” Jawabanya singkat pada cewek yang malah cuma bisa ketip-ketip speechless.


Jam istirahat pertama akhirnya berbunyi nyaring ditelinga para murid yang tengah kelaparan. Tak lama kemudian sang siswa baru pun langsung ikut ngacir bersama para kaum Adam. Meninggalkan sekelompok cewek


yang sudah mulai akan mengerubunginya seperti Semut.Bisa dipastikan para kaum Hawa pun kecewa begitu tau


Sang Idola baru malah ngacir mencueki mereka dengan dinginnya.


Beberapa saat kemudian, di lorong sekolah.


“Pasti lagi nyariin si Arvi.” Gumam seorang teman cowok, saat gerombolan mereka


berpapasan dengan Sang pentolan sekolah yang ternyata terdengar oleh Si murid


baru tersebut.


“Siapa?” Tanya Kay seolah penasaran.


 “Arvan Nandani, bisa dibilang Bigboss-nya sekolah kita. Senior dari kelas dua belas.” Terang salah satu teman barunya.


Kay cuma diam. Meskipun matanya tengah mengekor ke mana Sang pentolan sekolah itu pergi.


Sementara itu, di dalam kelas yang sudah lumayan sepi.


“Tumben elo gak kabur?! Emang lagi nungguin gue, yah?”


Goda Arvan pada cewek yang masih terlihat serius melanjutkan gambarnya


karena sempat tertunda oleh mata pelajaran tadi. Tidak peduli dengan kedatangan


Sang Setan bertopeng Malaikat itu. Arvan tersenyum lebar melihat cewek yang tengah jadi object mainannya itu masih berada di kelas, sendirian pula.


“Gak juga, kalau kak Arvan mau ngembaliin kacamata sama buku sketchnya… aku mungkin udah


pergi dari tadi.”


Balasnya masih  sok cuek. Membuat Arvan jadi agak kesal,hingga hampir saja membocorkan rahasia yang ia pendam mengenai tempat persembunyian yang sudah ketahuan dimana letak lokasinya. Tapi


ia masih bisa menahan perasaan itu. Jadilah Arvan hanya bisa menghela nafas


panjang.


“Kejamnya, padahal gue kan cuma pengen diperhatiin sama elo.”  Ucapnya dengan nada manja. Membuat Arvi langsung melotot lebar saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja ia dengar. Diperhatikannya cowok yang tengah melipat kedua tangan di atas meja di sebelahnya. Tanpa berkedip, kedua mata Arvi mengamatibagaimana Arvan dengan manja menyandarkan kepalanya ke atas lengan yang terlipat itu sambil menatap balik


kepadanya.


Senyum manis Arvan yang kemudian terlukis, membuyarkan lamunan Arvi


seperti habis diciprati oleh air es. Seketika gadis itu tersadar lalu kembali


pada akifitasnya lagi, menggambar. Meskipun penanya masih menggores garis yang


sama. Konsentrasinya buyar seketika.


“Aku kan bukan pacarnya kak Arvan.” Ucapnya menenangkan diri dari degup jantung yang kian menderu.


“Kalau gitu jadi pacar gue, ya?!” Tanya Arvan langsung dengan gamblang kali ini menyandarkan dagunya mengamati bagaimana reaksi gadis itu.


Sekali lagi Arvi kembali dibuatnya menghentikan


aktifitas dan menatap ke arah si biang keladi yang sudahmerusak mood menggambarnya itu, dengan tatapan ketidak percayaan. Ngajak orang jadian kog kaya mau ngajak makan, gampang banget ngomongnya. Mungkin


begitu yang dipikirkan Arvi, meski kedua pipinya sudah mulai bersemu merah.


“Jadi pacar kak Arvan?” Tanyanya polos. Sekedar melirik pada sosok cowok yang tengah membuatnya salah tingkah itu.


“He-em~ mau,yah?!” Angguknya begitu antusias. Membuat cewek di sampingnya makin


tertegun dengan ajakan yang terdengar sangatasal-asalan itu.


Belum sempatArvi menjawab pertanyaan—yang entah serius atau tidak—tersebut. Suara langkah kaki seseorang


sudah masuk kedalam kelas, yang tumben-tumbennya tidak dijaga oleh duo algojo.


“Bisa gak elo minggir dari bangku gue?” Nada ketus nan dingin itu langsung membuat mimik wajah


Arvan berubah drastis.


Arvi yang melihatnya jadi ikutan tegang. Apalagi Arvan


sudah menoleh kearah si pemilik suara dan berdiri berhadapan dengan jarak yang


cukup dekat pula. Arvi dibuat bengong melihat kedua cowok yang tingginya hampir


sama itu tengah saling melotot.


Entah mendapat ide konyol dari mana Arvi dengan edane** langsung


mengemasi barang-barang di atas meja itu kedalam tas ranselnya.“Gue gak liat ada nama elo di sini, apa hak lo ngusir gue?” Tantang Arvan dengan sinis pada cowok yang dinilainya masih bau kencur itu.


Perlahan Arvi mengeluarkan tas ranselnya dari dalam rak. Masih berharap kedua mahluk Adam itu tidak menggubrisnya.


“Memangnya gue perlu tanda tangan di meja ini biar elo sadar kalau bangku ini punya gue?”


Sergah Kay. Tanpa merasa takut sedikit pun terhadap siapa orang yang tengah dihadapinya.


**edane: Gilanya


Sedangkan, Arvi dengan cepat namun tanpa suara naik ke atas meja dan melangkah ke meja lain. Memang tidak sopan, tidak boleh ditiru dan tidak patut untuk ditiru. Apalagi oleh cewek yang seragamnya pakai rok


selutut. Tapi mau bagaimana lagi, satu-satunya cara kabur yah begini ini.


Menurut versi Arvi sendiri.


Arvan yang sedari tadi fokus ke cowok yang hampir ingin ditonjoknya ini, bengong. Heran, ia sadar


sudah kecolongan.Tapi, melihat bagaimana tingkah gadis tomboy yang oleh kedua sahabatnya dinilai begitu ‘unbelievable’ itu membuatnya hampir meledakkan tawa, kalau saja ia tidak bisa menahannya untuk tetap terlihat cool dihadapan cowok lain.


Namun tidak dengan Arvi. Tidak peduli meski mereka


berdua memblokir jalannya. Ia masih punya


altenatif lain, memanjat meja. Dan kalau pun kedua cowok itu saling adu jotos,


Arvi akan lebih memilih kabur untuk meminta bantuan. Membiarkan yang lain turun


tangan daripada harus berurusan dengan kekerasan.


Kembali, ditatapnya cowok di hadapannya itu, dimana ternyata kini kedua manik mata Kay tengah terpaku pada pintu yang baru saja dilewati oleh Arvi. Senyum yang tersungging di bibir Kaymembuat Arvan hampir naik pitam.


“Cewekitu milik gue!!” Ucap Arvan membuat senyum Kay pelahan menghilang,


berganti seringai sinis.


“Gue gak lihat ada nama lo di sana,” Sindirnya membuat Arvan langsung mencengkeram kerah sergam Kay. “Avie’ bukan pacar elo, jadi otomatis tentu saja dia bukan milik elo.” Ditatapannya dengan santai kedua mata Arvan yang sudah membara oleh amarah.


“Gue peringatin elo yah, jangan pernah macam-macam sama Arvi atau elo bakal gue habisin.” Ancam Arvan, yang hanya mendapat tatapan dingin oleh Kay.


Beberapa saat kemudian, muncul si duo algojo, disertai suara cewek yang


terdengar seperti tengah diculik penjahat mesum.


“Boss!! Cewek elo kog malah kabur sambil bawa tas begini sih?” Tanya Koko memberondong masuk Arvi—yang kepergok dan tertangkap di tengah perjalanan kabur—kembali ke dalam kelas.


Arvan melepaskan cengkeraman tangannya, lalu mendorong


dengan kasar tubuh Kay yang menghalangi jalannya, untuk beranjak pergi ketempat


dimana Arvi sudah terlihat sebal. Ekspresi gadis itu benar-benar membuat hati Arvan tergelitik. Ingin sekali ia cium pipi yang tengah merona malu itu saking gemasnya.


Sementara itu, Kay melekatkan pandangannya ke arah sosok Arvan, yang tengah—dengan raut wajah


riang gembira—meledek kesialan gadis pendek berpenglihatan buruk itu. Kay mengamati bagaimana Si pentolan sekolah—yang paling ditakuti sekaligus digandrungi—itu bisa bersikap lembut pada cewek yang


sama sekali tidak cantik seperti Arvi.


***


Hari berikutnya,


“Lho Pin, elo kog duduk sama Nana? Lagi ngelindur, yah? Bangku elo kan di sini.” Tunjuk Fitra yang baru saja datang ke kelas bersama para gerombolannya.


“Mau ganti suasana Fit.” Jawab cewek itu asal saja. Sedangkan, Si teman sebangkunya sekarang, Yuliana,malah bisik-bisik tetangga bersamanya.


Kay yang baru datang mendapat laporan langsung dari Fitra. Awalnya cowok itu cuek saja. Ia


menganggap toh gak ada bedanya duduk sama Arvi


dengan gak duduk sama siapa-siapa. Soalnya cewek itu kalau gak diajak ngomong


juga kaya orang bisu. Diem aja sampai ada yang nyerocos baru dia berkoar.


“Hai, Kay!” Sapa Metha yang dengan santai dan centilnya tengah


duduk di bangku Arvi.


“Ngapain lo duduk di sini?” Tanya Kay dengan dinginnya.


Tatapan matanya yang tajam seolah menusuk tepat ke jantung Metha. Membuat gadis itu sedikit merasa takut.


“Ehm… tadi kan elo udah denger sendiri kalau Arvi pengan ganti suasana.” Jelas Metha memaksakan senyum.


“Terus? Apa hubungannya sama elo dengan duduk di sini?” Tanya Kay lagi dengan tatapan kesal. Membuat siapa pun yang melihat dan mendengarnya ikut mengkeret takut.


Sedangkan, Yuliana berulang kali menyikut lengan gadis itu dengan lembut,untuk segera kembali ke bangkunya semula.


Kalau alasan Nana. “Sumpah gue mending liat Kay duduk sama elo. Soalnya elo sendirikan udah kayak cowok


jadi pasti gak bakal macem-macem sama si Kay. Tapi, kalau sama Si Nenek sihir Memeth itu, udah pasti habis dia.”


Arvi cuma bisa senyam-senyum dengan alasan yang sebenarnya cukup


menyindir gendernya itu. Tapi, memang tidak salah. Dibandingkan dengan Vino,


Fitra dan Tirta. Kay tipe orang yang sama sepertinya. Kalau tidak diajak ngomong yah mending diam saja.


Tapi, jangankan mau ngajak ngomong, mau menyapanya saja Arvi sudah males gegara tampang sok cool dan ketusnya itu. Jadilah ke dua insan itu mirip manekuin hidup bila tengah duduk berduaan.


“Vie’ suami mu digodain Memeth nih! Buruan balik gih!!” Ucap Tirta yang langsung dipelototin oleh si pemilik nama.


“Ntar ya Tir, kalau gue udah bosen di sini.” Jawabnya tersenyum kecut. Karena kalau


sampai ia mengiyakan hal tersebut, ia yakin bisa habis dibantai Metha saat itu juga.


Sebenarnya bukan karena keinginannya. Tapi, semalam entah dari mana Metha mendapatkan nomor sacral Arvi dan menghubunginya. Langsung via telepon bukan SMS. Mengatakan bahwa sebaiknya ia lebih baik pindah dari sebelah Kay atau bakal di-bully oleh geng TorqU, singkatan dari Torquis dan Ungu. Of course para anggota geng TorqU mengenakan segala pernak-pernik, dan asesoris yang serba Torqua dan Ungu, dari mulai Bando, Pita, Jepit Rambut, Anting, Kalung, Gelang, Cincin, Kuteks, Ikat Pinggang, Kaos Kaki, Sepatu dan Tas.


Arvi yang memang tipikal tidak suka cari ribut dan lebih memilih untuk mengalah saja,mengiyakan


segala perintah Metha yang ingin agar Arvi tidak mengatakan apapun soal telepon


malam itu pada siapa pun apabila ada yang menanyakan tentang alasannya pindah.


“Ya…itu…gue cuman pengen jadi temen dekat elo.” Ucapnya lagi dengan nada dan tatapan yang begitu lembut, berusaha mengusir rasa takutnya.


“Elo gak papa Vie? Itukan bangku...”


“Shhht… udah gak papa gue iklas. Daripada gue yang mampus.” Sergah Arvi berbisik memotong kalimat Nana.


Bukan cuma Metha yang tiba-tiba berubah sejak kedatangan Kay. Tapi, mungkin hampir seisi kelas.


Arvi yang memang tidak begitu memperhatikan kebiasaan teman-teman sekelasnya satu persatu itu hanya bisa menebak perubahan yang paling dominan hingga para cowok ikut menyadarinya, yaitu wangi semerbak di


ruangan mereka jadi tambah tajam dan beraneka ragam.


“Tapi gue gak sudi temenan sama elo tuh.”


Satu kalimat itu membuat Metha membeku ditempat dengan


wajah pucat. Kay beranjak pergi dari tempat duduknya. Ajakan Metha tersebut menyadarkan Kay akan suatu misi yang baru saja hampir ia lupakan. Misi yang juga menyangkut pautkan cewek yang tengah didekati oleh


Si Arvan Nandani.


Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka dia harus tetap berhubungan dengan cewek yang


sepertinya bahkan tidak tertarik padanya sama sekali itu.


Metha yang masih mematung di bangku Arvi karena syok atas ucapan Kay barusan, makin dibuat melotot tidak percaya, waktu mengetahui bahwa Kay berjalan ke arah bangku Yuliana dan berdiri tepat di sebelah cewek


hitam manis itu.


“Gue mau duduk di sini. Elo bisa pindah ke tempat gue, gak?!” Ucapnya yang lebih mirip seperti merintah ketimbang memohon.


“Oh… iyah.” Balas Yuliana gugup. Lalu, dengan polosnya cewek itu menurut dan langsung ngacir menuju bangku di belakang Fitra. Membiarkan saja Kay mengambil tempatnya untuk duduk bersama Arvi.


Metha yang melihat adegan tersebut tentu saja makin geram. Tatapannya menghujam bagaikan belati karatan di mata Arvi saatmereka beradu pandang.


Metha terpaksa menyerah, mundur dan kembali ketempatnya begitu bel pelajaran pertama pagi itu dimulai. Handphone Arvi yang di-silent di dalam saku roknya bergetar. Sebenarnya bisa saja ia mengacuhkan hal itu karena sang Guru sudah mulai memasuki ruangan. Tapi, perasaan Arvi makin tidak enak saat ia semakin tidak


memperdulikan getaran-getaran mengutuk tersebut.