Triple Trouble

Triple Trouble
3rd Trouble




Hari ini benar-benar sial bagi Arvi, dua mata pelajaran sebelum jam istirahat pertama berbunyi, ia habiskan dengan menyontek catatan teman sebangkunya. Pasalnya, karena


apa yang dijabarkandi papan tulis


yang berjarak sepuluh meter darinya itu sama sekali tak terlihat oleh matanya


yang notaben mengidap rabun jauh.


Bel istirahat baru saja berbunyi, memperingatkan seluruh penghuni SMAPi yang tengah kelaparan untuk segera


menuju kantin. Sesaat, konsentrasinya terganggu mendengar keributan di luar kelas.


“Semuanya diharap keluar!”


Perintah satu suara yang gak asing lagi di telinganya. Ditolehnya si


pemilik suara itu dan yah, di sana, tepat di depan satu-satunya pintu masuk dan keluar sudah bertengger


sang pentolan sekolah beserta kedua algojonya. Meskipun, tampang mereka bertiga terlihat


ngeblur akibat jarak pandang yang jauh dimata.


Buru-buru Arvi langsung panik mencari alternative jalan keluar lain yang sekiranya bisa menjauhkan dirinya dari ketiga orang gila tersebut dan yap, tepat di sebelah kepala Arvi ada jendela selebar 50 x 50 senti yang tengah terbuka selebar tiga puluh lima sentian saja itu menuju sisi


sekolah. Tanpa pikir dua kali langsung saja gadis itu naik ke atas meja dan memanjat jendela tersebut.


Hal itu tentu saja membuat ketiga cowo yang lagi berdiri santai didekat pintu masuk terbengong-bengong seolah tengah melihat maling yang kabur lewatjendela.


“What the heck?” Umpat Arvan yang langsung beringsut dari tempatnya sempat


terpaku tadi untuk langsung mengejar Arvi yang sudah keburu lolos dengan selamat mendarat di paving lantai gang sisi gedung sekolahnya.


“Unbelievable~”


gumam Koko hampir bersamaan dengan Haru.


Begitu melihat kemana arah larinya gadis itu, sang pentolan sekolah langsung menyusul pergi. Sedangkan si tersangka yang baru saja


melarikan diri dari TKP, pada detik itu juga telah resmi jadi buronan.


Ngapain tadi gue pake acara kabur segala sih… bisa-bisaajal gue tambah dekat. ****! ****! ****!


Umpatnya dalam hati pada diri sendiri yang lagi


ngumpet di kamar mandi cewek.


Dijedot-jedotkan kepalanya ke pintu kamar mandi begitu sadar bahwa tindakannya


bakal makin membuat si setan sekolah berang luar biasa.


Begitu keluar dari sana ditengoknya kanan-kiri sebelum memutuskan untuk pergi dari tempat


persembunyian sementaranya. Agak grogi juga sebenarnya kalau sampai ketemu


Arvan and the gank akibat


kebodohannya yang sesat tersebut. Dengan


was-was Arvi kembali


melangkahkan kakinya.


Dipindainya seluruh wajah yang berkeliaran di lorong sekolahnya dengan kualitas


penglihatan VGA yang masih tidak mengenakan kacamata.


Terpikir sejenak olehnya untuk menuju kegudang


belakang. Namun, belum sempat


ia akan berbalik pergi, seseorang yang tengah dengan santai berdiri di


sisi ruang Menjahitdan


tengah menyandarkan punggungnya di dinding ruang tersebut, menyapanya.


“Eh... kita ketemu lagi~” begitu wajah si pemilik suara terlihat jelas pada jarak tak


lebih dari satu meter itumembuat aliran darah Arvi berhenti menuju otak.


Mampus lo Vie’! Tamat lo hari ini.


Ujarnya dalam hati saat Koko, salah satu dedengkotnya Arvan sudah standby dengan HP di


telinganya, melaporkan


posisinya pada sang kepala suku yang entah sekarang berada dimana.


“Ternyata beneran gak bisa ngelihat yah kalo jaraknya kejauhan, sampai-sampai gak sadar


kalau ada yang lagi ngawasin.” Guraunya menyindir betapa menyedihkannya nasib gadis yang


mau kabur. Tapi, malah langsung tertangkap gara-gara


rabun yang membuatnya tidak awas terhadap sekelilingnya. Begitu melihat


anak kelas dua belas itu melangkah maju mendekatinya, dengan panik Arvi pun langsung memutar tubuhnya untuk segera


kabur, sebelum tertangkap oleh aparat tidak bertanggung jawab tersebut yang sudah akan menggapainya


dengan satu tangan.


Tetapi,


“Eits... lo mau kemana lagi sih, Vi’?”


Satu suara datang dari sesosok tubuh yang ditabraknya tanpa sengaja. Arvi membeku, ia sepertinya lupa


caranya berteriak atau mengucapkan sepatah kata untuk meyakinkan para penonton


di sekelilingnya bahwa dia sedang dalam masalah.


“Kenapa? Kog diem, wajah gue kurang jelas, yah?” Didekatkannya wajah itu hingga Arvi harus menarik mundur


kepalanya, kalau tidak ingin terjadi adegan ala manga jepang yang akan membuat


seisi sekolah membelalakkan mata. Tanpa bisa kabur lagi karena kali ini kedua


lengan itu tengah memeluk erat pinggulnya, membuat kedua kakinya nyaris lemas


tak bertulang.


“Elo belum pernah dipeluk, yah? Manisnyaaa...”


Para penonton cewek pun berkya-kya ingin diperlakukan seperti itu


juga. Meski lawan mainnya adalah si pembuat onar yang paling berkuasa seantero sekolah.


“AVIIIEEE’!!” Lengking jeritan dikejauhan membuat Arvan langsung


merapatkan pelukannya karena hampir saja panggilan itu membuat Arvi kembali


mendapatkan kesadarannya lagi dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Arvan


yang kian menguat.


“Kak...” Panggilnya mengiba tidak mau menjadi bahan tontonan dan


pusat perhatian seluruh mata disekitarnya.


“Orang-orang disini semua pada berisik. Kita pindah tempat aja, yuk!”


Paksa Arvan dengan nada ajakan. Arvi hanya


mampu melihat


kedua sahabatnya sudah kabur menjauh karena si sableng Koko sudah melakukan


gerakan-gerakan yang membuat kedua gadis manis tersebut lari terbirit-birit


seolah tengah dikejar-kejar tikus sekarat. Haru—yang hanya bisa geleng-geleng


kepala melihat kelakuan sinting salah satu sahabatnya itu—tak bergeming selain


hanya berpangku tangan melihat keberhasilan sobatnya


mengusir sang penyelamat.


Di lokasi lain, Arvi makin gugup mendapati orang ganteng


tapi sakit jiwa di sebelahnya ini tengah menuntunnya ke sarang singa lapar.


Arvi baru menyadari, bahwa sebadung apapun Arvan, cowok itu tetap saja terkenal


dan populer di kalangan kaum Hawa.


“Ngapain lo di sini? Elo kan anak kelas sepuluh?! Gak lihat apa ada papan gede di atas


kepala elo? Buta, ya?” Tanya seorang cewek dengan judesnya.


”Ada urusan apa lo sama cewek gue, Len?”


Tanya Arvan kali ini masih dengan santai—merangkul pundak Arvi—yang malah mendapat ke-tercengang-an


luar biasa dari wajah-wajah cantik sapuan make-up dihadapan mereka berdua.


“Dia gak bisa lihat, soalnya yang dari tadi dia perhatiin itu gue. Jadi lo maklumin saja, yah! Lagian gue juga yang ngajak dia kesini dan kayanya itu bukan urusan elo deh!”


Sambungnya lagi kali ini membuat Arvi ikutan melongo mendengar jawaban yang benar-benar melenceng


dari kebenaran. Arvan kembali memberondong Arvi pergi meninggalkan kerumunan cewek yang masih membatu di tempat mereka berdiri,


“Gak biasanya elo bawa cewek, Van?” Tanya seorang teman sekelas Arvan.


“Melina sampai sewot gitu.”


Ucapnya lagi yang dibalas Arvan dengan seringai manis


mendengar teman sekelasnya itu memanggil cewek cantik dari kelas sebelah, Milena itu


dengan nama yang salah.


“Maklum Rik, cowo sepopuler gue emang banyak diperebutin cewek.”


Jawabnya membuat Arvi langsung mengangkat satu alisnya


tinggi-tinggi saat melirik cowok di sebelahnya ini dengan tampang heran. Kog


ada cowok senarsis ini hidup didekatnya.


“Lah trus ini cewek imut elo culik dari SMP mana?” tanya temannya yang bernama Riko itu agak ngaco.


“Hahaha dia imut, kan?!”


yang mendarat di lehernya. Kedua


lengan Arvan yang panjang dan atletis itu mengukung si


gadis ke dalam tubuh besarnya.


“Dia junior gue, namanya juga hampir mirip sama gue lho.” sambungnya lagi seolah tengah memamerkan mainan baru.


Kesal karena si jantung dibuat berdegup tak keruan terus,


akhirnya mendaratlah gigi atas dan bawahnya di lengan Arvan yang langsung


dibuatnya menjerit keras. Sampai-sampai


semua teman yang ikut melihatnya jadi merinding kaget.


“AAWWW! ADUUHHH!!” Rintihnya menggosok-gosok bekas gigitan Arvi. Sedangkan orangnya kini sudah bebas lepas dan tersudut di pojokan kelas.


Rasain lo! Rasain!!


Umpat Arvi dalam hati meski agak ngeri juga waktu Arvan memelototinya yang tengah nyelempit di sudut kelas.


“Lo semua bisa ngosongin kelas,gak!?”


Ucap Arvan dengan nada tanya walau aslinya memerintah. Tanpa bisa dibantah kelima cowo yang lagi asyik nongkrong di kelas, langsung keluar dan mengamankan area


sekitar pula.


Tak tanggung-tanggung, Riko yang memang rada nyeleneh langsung menutup pintu kelas begitu dia keluar bersama yang lain. Membuat Arvi


langsung speechless dengan tampangnya


yang sudah seperti ikan Koi.


“Elo ini selain agresif ternyata sadis juga, yah?!”


Ungkap Arvan masih mengelus-elus bekas gigitannya


yang kini mulai memerah. Melihat cowok urakan itu kini tengah menatapnya tajam-tajam membuat si cewek makin mengkeret dan hanya bisa membeku diam.


“Lo pernah denger gak ada pepatah yang ngomong, mata dibalas mata gigi dibalas gigi?”


Sepenggal kalimat itu membuat aliran darah Arvi meluncur


cepat menuju otak membuat tubuhnya menegang seketika. Dengan polosnya gadis itu


pun pasrah mengulurkan lengan kanannya untuk digigit balik jika itu yang Arvan


maksud. Sedangkan, Arvan yang memperhatikan gelagat Arvi yang takut-takut hampir saja meledakkan tawa kalau tidak ditahan dengan sikap Cool-nya.


Digenggamnya telapak tangan Arvi, ditautkannya kelima jari itu ke


sela-sela jarinya, lalu menariknyadengan lembut ke samping wajahnya.


Dan...


“Aduh!”


Jerit kecil meluncur keluar dari bibir Arvi, bukan karena sakit. Tapi, lebih


karena kaget. Wajahnya yang kuning langsat tanpa sapuan make up langsung jadi seperti berbedak blush-on.


“Sakit?” Tanya Arvan dengan suara lembut di telinga sensitive Arvi yang makin membuat gadis itu salah tingkah.


Didorongnya tubuh jakung itu kuat-kuat ingin sekali ia lepas


dari genggaman sang pentolan sekolah itu sebelum dia kehabisan nafas dan mati


konyol cuma gegara


grogi.


Baru disadarinya pula bahwa sedari tadi Arvan mengenakan kacamatanya yang kemarin raib terampas dari


wajahnya.


“Itu... kacamata minus lho...” ucap gadis itu tanpa sengaja mengalihkan topik.


“Minus berapa emang? Kog gue biasa-biasa aja?” tanya Arvan yang masih merangkulkan lengannya ke pinggang Arvi.


“Dua kanan, satu setengah kiri...” jawabnya kali ini


terlihat agak santai.


Karena memang secara logis satu-satunya cara yang paling


mempan untuk


membuat sang pentolan sekolah ini berhenti membuat jantungnya ber-roler coster menjadi normal kembali adalah dengan


mengacuhkan tindakannya. Arvan agaknya tidak sadar akan adanya perubahan


ekspresi gadis yang masih berada dalam pelukannya, pipi itu tak lagi memerah,


jantung itu tak lagi berdegup kencang,gadis itu kini tak lagi merasakan gugup.


“Pantesan elo sama sekali gak bisa ngenalin gue waktu itu


yang ngebuntutin elo dari belakang, juga waktu Koko ngawasin elo dari jauh.”


Ejek Avan dengan senyum menyeringai lucu membuat gadis


itu makin merasa malu.


Arvi menghembuskan nafas panjang. Bagi Arvan menggoda


Arvi seolah mengingatkannya pada seseoang yang sangat berharga. Seseorang yang telah lama menghilang dari kehidupanya Seseorang itu selalu


memperlihatkan ekspresi yang sama seperti Arvi saat digoda, malu, kesal, takut,


gugup dan masih banyak lagi. Perlahan dilepaskannya pelukan kedua lengannya dari


pinggang Arvi yang masih tak bergeming menatap Arvan dengan mimikserius.


“Makanya… gue butuh kaca mata itu balik kak… kalau enggak gue bakal kerepotan ngeliat…”


Pinta Arvi.


“Kenapa gak pakai softlense aja?”


Tanya Arvan yang kini tengah dengan santai bersandar meja terdepan mengamati gadis dihadapannya itu,


tengah menatapnya.


Tanpa ekspresi berarti. Seolah buta dan tidak tengah melihat apa-apa. Ataukah ia tengah menerawang? Arvan tidak bisa membaca mata itu, tapi satu hal yang pasti Arvi


memang tidak bisa melihat wajah


Arvan dengan sangat jelas dalam jarak lebih dari dua meter tersebut. Jadilah ia seperti melihat benda abstrak hingga


membuatnya tidak tau harus berekspresi seperti apa meski manikmata itu tertuju tepat menatap lurus ke arahnya.


“Kacamata itu pemberian ibu kandung gue kak…” jawabnya


mengawali.


Seulas senyum terukir tipis di bibirnya membuat Arvan


terdiam, dalam kepalanya mengulangi kalimat ‘Ibu kandung’ itu untuk dicerna


maknanya dan ditemukan artinya. Otak


Arvan bermain tebak-tebakan, ia benar-benar tidak tau dan sebenarnya ingin


sekali mencari tau makna dari kata itu, juga pulasan


senyum dengan percik


kesedihan yang terlukis lembut menghiasi wajahnya.


“Makanya… bisa dibilang itu barang berharga gue kak. Bisa repot kalau sampai ortu gue tau kacamata itu gak


ada di gue kak… please!!”


Mata dan wajah yang begitu polos dan lugu saat memohon


itu begitu sarat kesungguhan.


“Oke, bakal gue balikin.” ucap Arvan mengubah posisi


bersandarnya yang mulai tidak nyaman.


Ada beberapa hal yang masih meninggalkan tanda tanya besar di otaknya. Namun, untuk mencari tau apa


tepatnya hal tersebut, gadis itu tentu saja tidak boleh tau. Tentu saja satu


kalimat yang masih seperti menggantung itu membuat Arvi senang.


“Thanks,kak.”


Ekspresi ceria, penuh kebahagiaan terpancar jelas


lewat senyum khasnya. Membuat Arvan


merasa terhormat bisa mendapatkan


senyum paling tulus dari gadis yang sepertinya sangat membencinya itu.


“Tapi ada syaratnya,” kalimat lain yang menyambung telah berhasilmemutus


kebahagian gadis itu dalam sesaat hingga meluturkan senyum itu. “Sebagai ganti kacamata… elo musti jadi pacar gue.”


Kalimat terakhir ini hampir membuat kedua bola mata Arvi copot gegara


melotot hebat. Bukannya menjawab Arvi langsung lari


begitu melihat jarak mereka lumayan jauh dan adanya kesempatan untuk tidak


tertangkap oleh si tangan panjang itu. Arvan terkesiap


melihat gadis kecil itu lari meninggalkan kelasnya dengan satu kata.


“SINTING!”


Sebelum akhirnya menghilang dari pandangan. Beberapa


cowo yang semenjak tadi mengerumun di depan kelas jadi dibuat terheran-heran


oleh apa yang baru saja terjadi di kelas mereka, ditambah lagi dengan Arvan


yang tengah tertawa terbahak-bahak membuat mereka makin bertanya-tanya,


sebenarnya ada kejadian apa?