
“What the hell? Serius lo?” Tanya Yaya’ yang langsung syok,begitu mendengar penuturan sahabatnya seputar apa yang terjadi selama jam
istirahat kedua.
“Ih kog elo bisa beruntung banget gitu sih, Vie’?! Gue juga mau dooong~” Sela
Memey yang malah membuat Arvi langsung mencekiknya dengan gemas.
“Palelu yang beruntung. Adanya juga apes gue tau, gak?!” Omel Arvi
lagi, saat yang dicekik malah cekikikan—saking gelinya—waktu leher ceking tersebut dihinggapi
kedua tangan Arvi yang
dingin akibat AC di kelasnya.
“Elo gantiin gue sono gih.” Senggol
Arvi ke bahu Memey dengan cukup keras
sampai gadis kurus tersebut hampir oleng.
“Yah kalau guenya sih mau aja asal gak disuruh macem-macem. Lagian emang tugasnya apaan aja sih? Kog kedengarannya kaya film Meteor Garden waktu si San Chai disuruh jadi pelayan pribadinya Dao
Ming Tse?!” Terangnya panjang lebar dibarengi senyum lucu yang mengembang saking gemesnya mengingat
film romance kocak tersebut.
“Kebanyakan nonton pilem lo.” Ejek Yaya’ lagi sembari menarik rambut bergelombang gadis itu.
Kegembiraan mereka yang tengah menjahili Memey seketika
terhenti, saat mobil Ford Ranger berwarna putih yang sebesar Badak mengiringi jalan di samping mereka bertiga.
“Yang namanya Yaya’ sama Memey, buruan masuk ke mobil!”
Satu suara muncul dari dalam
mobil yang pintu kacanya perlahan-lahan terbuka. Wajah ganteng—walau tanpa senyum—Haru langsung mejeng begitu pintu kaca yang terlihat gelap dari luar itu terbuka
lebar dengan sempurna.
Belum sempat ketiga gadis manis itu mencoba melarikan diri, CBR putih
bergradasi biru
memblokir jalan di hadapan mereka, membuat ketiganya terpekik kaget.
“Elo ikut gue, biar dua sahabat elo sama Haru.” Ucap suara di balik Helm INK itu.
“Situ ngajak apa merintah?” Tanya Yaya’ kali ini agak kesal dengan kelakuan seniornya yang masih suka mengganggu sahabatnya itu.
“Jangan bikin gue turun dari motor yah, Vie’!!”
Kalimat terakhir yang bernada ancaman akhirnya dilontarkan Arvan pada gadis
tomboy—yang tengah digandeng oleh kedua
sahabat di kanan kirinya—itu. Membuat
Yaya’ hampir kehilangan kesabaran, karena merasa diacuhkan kalau saja Arvi tidak mencegahnya.
“Biarin mereka yang milih sendiri, mau pulang diantar kak Haru atau enggak.” Bela Arvi
kali ini maju selangkah, seolah membentengi kedua sahabatnya tersebut. Memey hanya bisa diam, masih tidak tau apa yang musti ia
lakukan. Setelah melihat betapa marahnya Yaya’ dan
betapa santainya Arvi. Membuat gadis centil tersebut bingung bagaimana harus
bereaksi dengan situasi ini.
“Terserah. Yang penting elo ikut gue!” Jawab Arvan tegas, seolah perintahnya itu mutlak tidak bisa
ditawar dan tak ingin mengulangnya—untuk yang ketiga kali—demi
untuk mendapatkan jawaban iya
dari gadis tomboy itu. Arvi
berbalik tersenyum pada kedua sahabatnya yang sudah menampakkan wajah khawatir
dan marah.
“Kalian pulangnya hati-hati, kalau dah sampai rumah SMS.” Pesan-pesannya
seolah-olah akan pergi jauh entah kemana.
“Harusnya gue yang bilang gitu. Kalau sampai satu kali dua puluh empat jam elo gak SMS gue atau Memey, bakal
gue laporin ke polisi kalo elo diculik.” Cerocos
Yaya’ panjang lebar. Matanya menatap tajam ke arah cowok yang masih hanya membuka kaca Uv Helmet-nya.
Memperlihatkan betapa mata setajam Elang itu tengah membalas
tatapan sahabat Arvi
dengan sebuah ejekan.
***
“Kita ngapain ke sini sih,kak?” Ucap
Arvi yang melongo waktu tau dia tidak
diantar pulang kerumah seperti firasat jeleknya. Melainkan malah diajak kesuatu Mall di tengah kota.
“Kita kan lagi pakai seragam sekolah kak, kalau ada satpam gimana?” Ujar Arvi yang masih enggan turun dari sepeda motor Arvan.
“Kita kesini bukan buat nyolong**. Ngapain takut. Kalo emang kita ketangkep biar ntar gue tonjok tuh satpam. Udah buruan turun sana!” Ucap Arvan yang sudah melepas Helm-nya. Dengan terpaksa daripada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Arvi pun akhirnya menuruti kemauan Arvan yang lebih terdengar seperti perintah mengancam dari pada ajakan. Detik berikutnya
Arvan menggandeng tangan Arvi tanpa aba-aba, membuat
si Jantung sempat naik beberapa inchi ke tenggorokan saking
kagetnya.
**Nyolong: Mencuri
Pelanggaran!
Gerutunya masih tidak bisa menahan detak jantung
yang bunyinya sudah tidak karuan dalam frekuensi infrasonic. Sedangkan Arvan dengan santainya masih berjalan
perlahan, seolah tengah mencari lokasi yang ingin ia tuju, bersama cewek yang digandengnya itu, kini tengah keki akibat menahan grogi
setengah mati.
Arvi mendadak terkesima. “Waah…”
gumamnya dalam hati saat Arvan mengajaknya masuk kesalah satu toko
langganannya.
“Bantuin gue nyari sepatu.” Ucap si pentolan sekolah itu,kembali menarik gadis yang sempat mematung di depan
pintu masuk.
“Kenapa gak sama Kak Haru atau Kak Koko aja sih, kan sama-sama cowok?!” Keluh gadis itu menatap aneh pada cowok yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke rak sepatu.
“Berani ngelawan gue, lo?” Sungutnya melirik tajam pada cewekyang kini hanya berjarak satu meter darinya itu.
“Gak lah tuan ganteng, mana berani saya ngelawan.” Balasnya
dengan senyum lebar dan tingkah yang dibuat-buat.
Arvan hanya meringis dalam hati. Baru kali ini ia ketemu cewek yang sama sekali gak terpengaruh oleh daya tariknya.
Padahal, meski terkenal badung dan nakalnya minta ampun. Masih ada aja bahkan bisa dibilang banyak cewekyang mengidolakannya.
Dasar rabun!
Batin Arvan tertawa dalam hati.
“Sudah sana cepetan cari sepatu yang pantes buat gue.” Perintahnya lagi mengikuti gerak langkah cewekyang kelihatan kikuk itu.
“Kalau yang ini gimana?” Tunjuk Arvi pada salah satu model sepatu sport di sebelahnya.
“Gak mau kebanyakan warna itemnya.” Tolak Arvan langsung tanpa pikir panjang.
“Kalau yang itu?” Tunjuk Arvi pada sepatu yang tengah
terpajang di rak atasnya.
“Warnanya kayak bencong.” Tolak Arvan lagi membuat gadis itu jadi sedikit keki.
“Yang ini?” Ucapnya lagi saat menunjuk sepatu basket
di rak atas sebelahnya.
“Sepatu albino gitu mau elo pakein ke gue? Kayak kehabisan warna aja.” Ejeknya lagi membuat Arvi hampir kehilangan kesabaran.
Dihembuskannya nafas panjang untuk menenangkan diri dalam menanggapi keusilan
Arvan.
Kalau gak gegara barang gue disandera, udah gue cakar lo ampek berdarah-darah!
Gerutunya dalam hati geregetan,mendapati segala macam pendapatnya ditolak tanpa
berpikir dua kali. Bayangkan saja, langsung ditolak pada pandangan pertama. Apa
gak nyesek tuh?!
Akhirnya, dengan telaten with full concentration, meneliti, menimang-nimang, sampai-sampai
harus berikir lebih keras lagi, manakah kiranya sepatu yang cocok untuk cowok
setan yang unbelievably bossy abis
itu. Sedangkan, Arvan hanya bisa tertawa dalam diam mengamati cewekyang kini dengan serius tengah memperhatikan model
“Ini…” Tanpa sengaja, ketika menemukan sepatu yang menarik
perhatiannya, tangannya bersentuhan dengan tangan seorang cowok. Dimana rupanya
cowok tersebut juga berniat mengambil sepatu tersebut. “…sorry.”
Disingkirkannya tangan itu seketika saat matanya dan
mata pemuda di sebelahnya itu saling beradu. Si cowok hanya melirik kaku lalu
mengambil sepatu tersebut tanpa bekomentar.
“Napa lo?” Tanya Arvan sedikit mengernyitkan keningnya, begitu
melihat perhatian cewek itu tertuju
pada cowok asing yang baru saja meninggalkan lokasi kejadian.
“Cakep.” Gumam Arvi, membuat Arvan semakin mengerutkan kening.
“Apanya?” Tanya Arvan mencoba meyakinkan pendengarannya.
“Padahal itu sepatu modelnya cakep banget lho.” Sesalnya
membiarkan sang sepatu terambil darinya.
…ini cewek rabunnya emang parah atau dia emang gak doyan cowok, sih?!
Batin Arvan geleng-geleng kepala. Takjub sendiri dengan cewek yang namanya hamper
mirip dengannya itu. Apa karena nama belakang mereka yang sama membuat sifat
mereka juga hampir bisa dibilang sama? Ia juga bukan tipe cowok yang gampang fallin for beautiful girls tapi bukan
berarti dia gak doyan cewek.
Tetapi, kalau melihat dari sifat Arvi yang kelewat cuek dan masa bodoh, seolah mendoktrin dirinya sendiri, bahwa toh gak mungkin
cowok kece macam ini dan itu bakal suka balik sama cewek kayak dia.
Padahal—menurut Arvan—Arvi itu cewek yang terbilang cukup unik dan mungkin
jarang ditemukan.
Seperti Panda Merah yang ekosistemnya hampir punah. Namun, sayang spacies seperti Arvi—yang cuma
diciptakan satu oleh Tuhan—tidak dilindungi oleh pemerintah. Jadilah ia mahluk terantik satu-satunya yang bisa
ditemukan Arvan di tengah-tengah hiruk pikuk para kaum Hawa.
Arvan tersenyum. “Sepatu cakep di sini kan gak cuma itu aja.” Jawabnya sembari mengusap-usap puncak kepala Arvi. Membuat gadis itu kembali jadi agak salah tingkah.
Karena asyik sendiri menggodai cewek yang sepertinya
paling anti terhadap dirinya itu. Arvan tidak sadar bahwa sedari tadi ia tengah
diawasi oleh seseorang, yang bila dilihat dari caranya menatap Arvan,jelas sekali bahwa orang itu sangat membencinya.
Membenci sosoknya bahkan mungkin keberadaannya
***
Riuh rendah suara para murid perempuan menyambut
kedatangan cowok cakep yang bisa dibilang menyaingi ketampanan Arvan. Meski
beberapa diantaranya masih menilai bahwa ke-ganteng-an Arvan tiada duanya.
“Nama saya Kayana Alvaro. Biasa dipanggil Kay.” Ucap cowok itu tanpa berekspresi sama sekali, datar tanpa senyuman.
Namun, wajah itu terlihat begitu bersinar.Ketampanannya tak terhapus oleh sikapnya yang dingin.
Bibir merona yang seolah memakai lipgloss itu mengatup rapat setelah menyebutkan apa yang sekiranya cukup untuk
diperdengarkan.
Meski baru lulus SMP alias kelas 1 SMU tubuh Kay sudah
sejangkung anak kelas 3. Membuat para cewek makin terpikat oleh daya tariknya yang kuat bagaikan
magnet. Tidak menyadari bahwa reaksi mereka jadi terlihat begitu berlebihan seolah
tengah bertemu Jungkook-nya BTS.
Sedangkan Arvi tidak perlu ditanya. Dia cuma bisa
menilai cowok yang tengah berdiri 10 meter di depan kelas tersebut—memliki
sosok gagah yang tengah dieluh-eluhkan teman cewek sekelasnya itu—hanya sebatas
tinggi-putih-bening, lainnya NGEBLUR!
Jadilah ia hanya bisa cengar-cengir sambil bertanya-tanya dalam hati.
Seganteng apa sih sampai jadi heboh begini?
Sementara itu, sang aktor utama—Kay—tengah memonitor seluruh penghuni kelasnya. Para kaum Hawa terutama. Ada yang diam-diam menambahkan polesan lipglos di bibirnya, ada yang sengaja
memelintir rambut bergelombangnya biar tambah kruil, ada yang memindahkan
tasnya untuk memamerkan bangku kosong di sebelahnya. Dalam hatinya Kay
mengendus sinis dengan kelakuan lebay mereka yang gak ada bedanya dengan sekolahnya yang dulu.
“Haduuh… keren banget… ya ampuuun!!”
Gumam para cewekpada diri mereka sendiri meski dengan kadar volume
yang lumayan cukup tinggi.
“Udah orangnya ganteng, namanya juga cakep~ why so perfect sih!” Ucap cewek lainnya lagi.
“Wuuu!! Ndeso**!!! Kaya gak pernah liat cowok cakep aja lu.” Ledek salah satu teman sekelas cowok pada para cewek yang mulai berisik.
“Berisik lho dasar soToy. Lo diem aja napa.” Labrak Permata, cewekpaling heboh sekelas pada cowok yang bernama lengkapkan Toyadhi Al-Fatih.
Otomatis cowok yang sangat membanggakan namanya
tersebut tidak terima dan langsung membalas cewek manis itu dengan ejekan yang
tak kalah menusuk kalbu.
“Apa lo, soMat? Gue kan cuma ngomong apa adanya kalau elo itu terlalu lebay.”
**Ndeso : Kuno/kampungan
Sindiran sepedas Cabai Hijau itu disambut tawa oleh
teman cowok yang lain.
Kay ikut terkikih dalam hatinya. Sesaat matanya tak sengaja
menangkap sesosok cewek yang tengah asik dengan kesibukannya sendiri di pojokan
bangkunya. Sengaja meringkuk di belakang punggung teman cowok di depannya
seolah menyembunyikan diri.
Gaya cepol itu, sosok mungil itu dan jam tangan besar
yang bertengger khas di tangan kanannya itu, membuatnya teringat akan seseorang
yang ia pernah temui beberapa hari yang lalu. Benar saja, gadis itu lah yang ia
lihat pernah bersama Arvan. Dalam hatinya ia bergumam, tidak menyangka akan
mendapat kebetulan yang luar biasa seperti ini. Tanpa ia rencanakan ia malah
dimasukkan ke kelas yang sama dengan cewek musuhnya.
“Heee… sudah-sudah, jangan berisik. Nanti saja kalau mau ramai.” Tegas Pak Burhan sang wali kelas pada muridnya yang didominasi oleh kaum Hawa.
“Kamu mau duduk dimana, Kay?” Tanya pak Burhan sekali
lagi pada murid barunya yang hampir menyaingi tinggi badan beliau.
Cowok itu melangkah maju menuju ketempat dimana sedari
tadi matanya terpaku. Terpaku pada sosok yang sekilas melihatnya, sekilas
memandangi kehebohan temannya, lalu diam-diam kembali berkutat pada
kesibukanya, mencoret-coret selembar kertas di atas mejanya. Tidak memedulikan
bagaimana para cewekbereaksi dan
jadi salah tingkah sendiri, pasang muka dan senyum paling manis saat sang Doi
pergi mencari bangku kosong yang akan ditempati.
DEG?!
Arvi terkejut mendapati ada cowok asing yang bukan
teman sebangkunya sudah berdiri
tepat di sebelahnya. “Gue mau duduk di sini, bisa gak tas elo diminggirin?!”
Kalimat bernada perintah itu membuat Arvi hanya bisa ketip-ketip heran. Sedangkan, cewek yang lain sudah langsung lesu mendapati cowok ganteng
tersebut lebih memilih duduk bersama Si Kutu Buku maniak jejepangan itu.
Tanpa banyak cingcong, Arvi pun langsung mengambil tas ranselnya dan menaruhnya ke dalam rak meja. Se-bodo amat begitu mendengar para cewek
langsung menjerit kecewa. Tentu saja Metha yang bangkunya asli kosong tidak
terima. Padahal sedari tadi dia sudah mempersiapkan hati, jiwa dan raga tak
lupa mental untuk di-iri-in teman sekelas, kalau sampai nantinya Kay akan lebih
memilih duduk di bangku sebelahnya. Dibandingkan dengan Yuliana yang bangkunya juga kosong.