Triple Trouble

Triple Trouble
6th Trouble




“What the hell? Serius lo?” Tanya Yaya’ yang langsung syok,begitu mendengar penuturan sahabatnya seputar apa yang terjadi selama jam


istirahat kedua.


“Ih kog elo bisa beruntung banget gitu sih, Vie’?! Gue juga mau dooong~”  Sela


Memey yang malah membuat Arvi langsung mencekiknya dengan gemas.


“Palelu yang beruntung. Adanya juga apes gue tau, gak?!” Omel Arvi


lagi, saat yang dicekik malah cekikikan—saking gelinya—waktu leher ceking tersebut dihinggapi


kedua tangan Arvi yang


dingin akibat AC di kelasnya.


“Elo gantiin gue sono gih.” Senggol


Arvi ke bahu Memey dengan cukup keras


sampai gadis kurus tersebut hampir oleng.


“Yah kalau guenya sih mau aja asal gak disuruh macem-macem. Lagian emang tugasnya apaan aja sih? Kog kedengarannya kaya film Meteor Garden waktu si San Chai disuruh jadi pelayan pribadinya Dao


Ming Tse?!” Terangnya panjang lebar dibarengi senyum lucu yang mengembang saking gemesnya mengingat


film romance kocak tersebut.


“Kebanyakan nonton pilem lo.” Ejek Yaya’ lagi sembari menarik rambut bergelombang gadis itu.


Kegembiraan mereka yang tengah menjahili Memey seketika


terhenti, saat mobil Ford Ranger berwarna putih yang sebesar Badak mengiringi jalan di samping mereka bertiga.


“Yang namanya Yaya’ sama Memey, buruan masuk ke mobil!”


Satu suara muncul dari dalam


mobil yang pintu kacanya perlahan-lahan terbuka. Wajah ganteng—walau tanpa senyum—Haru langsung mejeng begitu pintu kaca yang terlihat gelap dari luar itu terbuka


lebar dengan sempurna.


Belum sempat ketiga gadis manis itu mencoba melarikan diri, CBR putih


bergradasi biru


memblokir jalan di hadapan mereka, membuat ketiganya terpekik kaget.


“Elo ikut gue, biar dua sahabat elo sama Haru.” Ucap suara di balik Helm INK itu.


“Situ ngajak apa merintah?” Tanya Yaya’ kali ini agak kesal dengan kelakuan seniornya yang masih suka mengganggu sahabatnya itu.


“Jangan bikin gue turun dari motor yah, Vie’!!”


Kalimat terakhir yang bernada ancaman akhirnya dilontarkan Arvan pada gadis


tomboy—yang tengah digandeng oleh kedua


sahabat di kanan kirinya—itu. Membuat


Yaya’ hampir kehilangan kesabaran, karena merasa diacuhkan kalau saja Arvi tidak mencegahnya.


“Biarin mereka yang milih sendiri, mau pulang diantar kak Haru atau enggak.”  Bela Arvi


kali ini maju selangkah, seolah membentengi kedua sahabatnya tersebut. Memey hanya bisa diam, masih tidak tau apa yang musti ia


lakukan. Setelah melihat betapa marahnya Yaya’ dan


betapa santainya Arvi. Membuat gadis centil tersebut bingung bagaimana harus


bereaksi dengan situasi ini.


“Terserah. Yang penting elo ikut gue!” Jawab Arvan tegas, seolah perintahnya itu mutlak tidak bisa


ditawar dan tak ingin mengulangnya—untuk yang ketiga kali—demi


untuk mendapatkan jawaban iya


dari gadis tomboy itu. Arvi


berbalik tersenyum pada kedua sahabatnya yang sudah menampakkan wajah khawatir


dan marah.


“Kalian pulangnya hati-hati, kalau dah sampai rumah SMS.”  Pesan-pesannya


seolah-olah akan pergi jauh entah kemana.


“Harusnya gue yang bilang gitu. Kalau sampai satu kali dua puluh empat jam elo gak SMS gue atau Memey, bakal


gue laporin ke polisi kalo elo diculik.”  Cerocos


Yaya’ panjang lebar. Matanya menatap tajam ke arah cowok yang masih hanya membuka kaca Uv Helmet-nya.


Memperlihatkan betapa mata setajam Elang itu tengah membalas


tatapan sahabat Arvi


dengan sebuah ejekan.


***


“Kita ngapain ke sini sih,kak?” Ucap


Arvi yang melongo waktu tau dia tidak


diantar pulang kerumah seperti firasat jeleknya. Melainkan malah diajak kesuatu Mall di tengah kota.


“Kita kan lagi pakai seragam sekolah kak, kalau ada satpam gimana?” Ujar Arvi yang masih enggan turun dari sepeda motor Arvan.


“Kita kesini bukan buat nyolong**. Ngapain takut. Kalo emang kita ketangkep biar ntar gue tonjok tuh satpam. Udah buruan turun sana!” Ucap Arvan yang sudah melepas Helm-nya. Dengan terpaksa daripada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Arvi pun akhirnya menuruti kemauan Arvan yang lebih terdengar seperti perintah mengancam dari pada ajakan. Detik berikutnya


Arvan menggandeng tangan Arvi tanpa aba-aba, membuat


si Jantung sempat naik beberapa inchi ke tenggorokan saking


kagetnya.


**Nyolong: Mencuri


Pelanggaran!


Gerutunya masih tidak bisa menahan detak jantung


yang bunyinya sudah tidak karuan dalam frekuensi infrasonic. Sedangkan Arvan dengan santainya masih berjalan


perlahan, seolah tengah mencari lokasi yang ingin ia tuju, bersama cewek yang digandengnya itu, kini tengah keki akibat menahan grogi


setengah mati.


Arvi mendadak terkesima. “Waah…”


gumamnya dalam hati saat Arvan mengajaknya masuk kesalah satu toko


langganannya.


“Bantuin gue nyari sepatu.” Ucap si pentolan sekolah itu,kembali menarik gadis yang sempat mematung di depan


pintu masuk.


“Kenapa gak sama Kak Haru atau Kak Koko aja sih, kan sama-sama cowok?!”  Keluh gadis itu menatap aneh pada cowok yang kini tengah mengedarkan pandangannya ke rak sepatu.


“Berani ngelawan gue, lo?” Sungutnya melirik tajam pada cewekyang kini hanya berjarak satu meter darinya itu.


“Gak lah tuan ganteng, mana berani saya ngelawan.” Balasnya


dengan senyum lebar dan tingkah yang dibuat-buat.


Arvan hanya meringis dalam hati. Baru kali ini ia ketemu cewek yang sama sekali gak terpengaruh oleh daya tariknya.


Padahal, meski terkenal badung dan nakalnya minta ampun. Masih ada aja bahkan bisa dibilang banyak cewekyang mengidolakannya.


Dasar rabun!


Batin Arvan tertawa dalam hati.


“Sudah sana cepetan cari sepatu yang pantes buat gue.” Perintahnya lagi mengikuti gerak langkah cewekyang kelihatan kikuk itu.


“Kalau yang ini gimana?” Tunjuk Arvi pada salah satu model sepatu sport di sebelahnya.


“Gak mau kebanyakan warna itemnya.” Tolak Arvan langsung tanpa pikir panjang.


“Kalau yang itu?” Tunjuk Arvi pada sepatu yang tengah


terpajang di rak atasnya.


“Warnanya kayak bencong.” Tolak Arvan lagi membuat gadis itu jadi sedikit keki.


“Yang ini?” Ucapnya lagi saat menunjuk sepatu basket


di rak atas sebelahnya.


“Sepatu albino gitu mau elo pakein ke gue? Kayak kehabisan warna aja.” Ejeknya lagi membuat Arvi hampir kehilangan kesabaran.


Dihembuskannya nafas panjang untuk menenangkan diri dalam menanggapi keusilan


Arvan.


Kalau gak gegara barang gue disandera, udah gue cakar lo ampek berdarah-darah!


Gerutunya dalam hati geregetan,mendapati segala macam pendapatnya ditolak tanpa


berpikir dua kali. Bayangkan saja, langsung ditolak pada pandangan pertama. Apa


gak nyesek tuh?!


Akhirnya, dengan telaten with full concentration, meneliti, menimang-nimang, sampai-sampai


harus berikir lebih keras lagi, manakah kiranya sepatu yang cocok untuk cowok


setan yang unbelievably bossy abis


itu. Sedangkan, Arvan hanya bisa tertawa dalam diam mengamati cewekyang kini dengan serius tengah memperhatikan model


“Ini…” Tanpa sengaja, ketika menemukan sepatu yang menarik


perhatiannya, tangannya bersentuhan dengan tangan seorang cowok. Dimana rupanya


cowok tersebut juga berniat mengambil sepatu tersebut. “…sorry.”


Disingkirkannya tangan itu seketika saat matanya dan


mata pemuda di sebelahnya itu saling beradu. Si cowok hanya melirik kaku lalu


mengambil sepatu tersebut tanpa bekomentar.


“Napa lo?” Tanya Arvan sedikit mengernyitkan keningnya, begitu


melihat perhatian cewek itu tertuju


pada cowok asing yang baru saja meninggalkan lokasi kejadian.


“Cakep.” Gumam Arvi, membuat Arvan semakin mengerutkan kening.


“Apanya?” Tanya Arvan mencoba meyakinkan pendengarannya.


“Padahal itu sepatu modelnya cakep banget lho.” Sesalnya


membiarkan sang sepatu terambil darinya.


…ini cewek rabunnya emang parah atau dia emang gak doyan cowok, sih?!


Batin Arvan geleng-geleng kepala. Takjub sendiri dengan cewek yang namanya hamper


mirip dengannya itu. Apa karena nama belakang mereka yang sama membuat sifat


mereka juga hampir bisa dibilang sama? Ia juga bukan tipe cowok yang gampang fallin for beautiful girls tapi bukan


berarti dia gak doyan cewek.


Tetapi, kalau melihat dari sifat Arvi yang kelewat cuek dan masa bodoh, seolah mendoktrin dirinya sendiri, bahwa toh gak mungkin


cowok kece macam ini dan itu bakal suka balik sama cewek kayak dia.


Padahal—menurut Arvan—Arvi itu cewek yang terbilang cukup unik dan mungkin


jarang ditemukan.


Seperti Panda Merah yang ekosistemnya hampir punah. Namun, sayang spacies seperti Arvi—yang cuma


diciptakan satu oleh Tuhan—tidak dilindungi oleh pemerintah. Jadilah ia mahluk terantik satu-satunya yang bisa


ditemukan Arvan di tengah-tengah hiruk pikuk para kaum Hawa.


Arvan tersenyum. “Sepatu cakep di sini kan gak cuma itu aja.” Jawabnya sembari mengusap-usap puncak kepala Arvi. Membuat gadis itu kembali jadi agak salah tingkah.


Karena asyik sendiri menggodai cewek yang sepertinya


paling anti terhadap dirinya itu. Arvan tidak sadar bahwa sedari tadi ia tengah


diawasi oleh seseorang, yang bila dilihat dari caranya menatap Arvan,jelas sekali bahwa orang itu sangat membencinya.


Membenci sosoknya bahkan mungkin keberadaannya


***


Riuh rendah suara para murid perempuan menyambut


kedatangan cowok cakep yang bisa dibilang menyaingi ketampanan Arvan. Meski


beberapa diantaranya masih menilai bahwa ke-ganteng-an Arvan tiada duanya.


“Nama saya Kayana Alvaro. Biasa dipanggil Kay.” Ucap cowok itu tanpa berekspresi sama sekali, datar tanpa senyuman.


Namun, wajah itu terlihat begitu bersinar.Ketampanannya tak terhapus oleh sikapnya yang dingin.


Bibir merona yang seolah memakai lipgloss itu mengatup rapat setelah menyebutkan apa yang sekiranya cukup untuk


diperdengarkan.


Meski baru lulus SMP alias kelas 1 SMU tubuh Kay sudah


sejangkung anak kelas 3. Membuat para cewek makin terpikat oleh daya tariknya yang kuat bagaikan


magnet. Tidak menyadari bahwa reaksi mereka jadi terlihat begitu berlebihan seolah


tengah bertemu Jungkook-nya BTS.


Sedangkan Arvi tidak perlu ditanya. Dia cuma bisa


menilai cowok yang tengah berdiri 10 meter di depan kelas tersebut—memliki


sosok gagah yang tengah dieluh-eluhkan teman cewek sekelasnya itu—hanya sebatas


tinggi-putih-bening, lainnya NGEBLUR!


Jadilah ia hanya bisa cengar-cengir sambil bertanya-tanya dalam hati.


Seganteng apa sih sampai jadi heboh begini?


Sementara itu, sang aktor utama—Kay—tengah memonitor seluruh penghuni kelasnya. Para kaum Hawa terutama. Ada yang diam-diam menambahkan polesan lipglos di bibirnya, ada yang sengaja


memelintir rambut bergelombangnya biar tambah kruil, ada yang memindahkan


tasnya untuk memamerkan bangku kosong di sebelahnya. Dalam hatinya Kay


mengendus sinis dengan kelakuan lebay mereka yang gak ada bedanya dengan sekolahnya yang dulu.


 “Haduuh… keren banget… ya ampuuun!!”


Gumam para cewekpada diri mereka sendiri meski dengan kadar volume


yang lumayan cukup tinggi.


“Udah orangnya ganteng, namanya juga cakep~ why so perfect sih!” Ucap cewek lainnya lagi.


“Wuuu!! Ndeso**!!! Kaya gak pernah liat cowok cakep aja lu.” Ledek salah satu teman sekelas cowok pada para cewek yang mulai berisik.


“Berisik lho dasar soToy. Lo diem aja napa.” Labrak Permata, cewekpaling heboh sekelas pada cowok yang bernama lengkapkan Toyadhi Al-Fatih.


Otomatis cowok yang sangat membanggakan namanya


tersebut tidak terima dan langsung membalas cewek manis itu dengan ejekan yang


tak kalah menusuk kalbu.


“Apa lo, soMat? Gue kan cuma ngomong apa adanya kalau elo itu terlalu lebay.”


**Ndeso : Kuno/kampungan


Sindiran sepedas Cabai Hijau itu disambut tawa oleh


teman cowok yang lain.


Kay ikut terkikih dalam hatinya. Sesaat matanya tak sengaja


menangkap sesosok cewek yang tengah asik dengan kesibukannya sendiri di pojokan


bangkunya. Sengaja meringkuk di belakang punggung teman cowok di depannya


seolah menyembunyikan diri.


Gaya cepol itu, sosok mungil itu dan jam tangan besar


yang bertengger khas di tangan kanannya itu, membuatnya teringat akan seseorang


yang ia pernah temui beberapa hari yang lalu. Benar saja, gadis itu lah yang ia


lihat pernah bersama Arvan. Dalam hatinya ia bergumam, tidak menyangka akan


mendapat kebetulan yang luar biasa seperti ini. Tanpa ia rencanakan ia malah


dimasukkan ke kelas yang sama dengan cewek musuhnya.


“Heee… sudah-sudah, jangan berisik. Nanti saja kalau mau ramai.” Tegas Pak Burhan sang wali kelas pada muridnya yang didominasi oleh kaum Hawa.


“Kamu mau duduk dimana, Kay?” Tanya pak Burhan sekali


lagi pada murid barunya yang hampir menyaingi tinggi badan beliau.


Cowok itu melangkah maju menuju ketempat dimana sedari


tadi matanya terpaku. Terpaku pada sosok yang sekilas melihatnya, sekilas


memandangi kehebohan temannya, lalu diam-diam kembali berkutat pada


kesibukanya, mencoret-coret selembar kertas di atas mejanya. Tidak memedulikan


bagaimana para cewekbereaksi dan


jadi salah tingkah sendiri, pasang muka dan senyum paling manis saat sang Doi


pergi mencari bangku kosong yang akan ditempati.


DEG?!


Arvi terkejut mendapati ada cowok asing yang bukan


teman sebangkunya sudah berdiri


tepat di sebelahnya. “Gue mau duduk di sini, bisa gak tas elo diminggirin?!”


Kalimat bernada perintah itu membuat Arvi hanya bisa ketip-ketip heran. Sedangkan, cewek yang lain sudah langsung lesu mendapati cowok ganteng


tersebut lebih memilih duduk bersama Si Kutu Buku maniak jejepangan itu.


Tanpa banyak cingcong, Arvi pun langsung mengambil tas ranselnya dan menaruhnya ke dalam rak meja. Se-bodo amat begitu mendengar para cewek


langsung menjerit kecewa. Tentu saja Metha yang bangkunya asli kosong tidak


terima. Padahal sedari tadi dia sudah mempersiapkan hati, jiwa dan raga tak


lupa mental untuk di-iri-in teman sekelas, kalau sampai nantinya Kay akan lebih


memilih duduk di bangku sebelahnya. Dibandingkan dengan Yuliana yang bangkunya juga kosong.