
“Hariini elo pulang sama siapa?” Tanya Kay tiba-tiba berubah jadi ramah. Senyumnya terpamer begitu menggoda mata para kaum Hawa yang melihatnya.
Tentunya perubahan yang begitu drastis ini membuat dahi Metha and the gank makin keriting. Mengetahui bahwa cowok yang kemarin masih bersikap seperti orang asing dengan Arvi itu, kini malah memberikan segudang senyum
dan perhatian.
Dimana malah membuat Metha dan lainnya menaruh curiga. Apa yang sudah cewek itu perbuat selama mereka pergi berduaan tadi sampai Kay berubah 181°.
Sedangkan Arvi, masih kepikiran tentang apa yang dikatakan oleh Arvan mengenai keselamatan kedua benda berharganya. Peristiwa yang terjadi selang jam istirahat pertama—yang hampir berakhir itu—akhirnya membuat
gosip heboh seantero sekolah. Mengenai bagaimana Arvi cewek yang sama sekali gak terkenal atau
bahkan gak ada yang kenal itu bisa mengalahkan kepopulerannya Melly, cewek yang jadi pemenang lomba modeling seprovinsi.
Atau Kalea, kembang SMAPi yang banyak diidolakan cowok karena perawakannya yang blasteran indo-mexico. Ditambah lagi dengan Megan yang juga seorang model sekaligus artis freelance kecantikan dan keseksian yang dimilikinya membuat cewek itu dijuluki Megan fox KW. Nah tuh, kurang bikin gempar apa si Arvi.
Gara-gara cuma jadi rebutan dua cowok populer yang paling bisa—selalu—membuat cewek-cewek pada histeris dan ber-kya-kya setiap kali melihat mereka. Pernyataan mengenai bagaimana keduanya melebeli satu cewek ‘semacam’ Arvi—yang kalah jauh dibandingkan dengan Kaleaitu—sebagai pacar mereka.
Bayangkan saja, dua cowok ganteng ngaku-ngaku jadi pacar Arvi. Siapa yang benar? Atau mungkin
siapa yang gila? Arvi hanya bisa berpangku tangan di atas meja, menyandarkan kepalanya yang tengah
bingung memikirkan bagaimana baiknya. Tidak sadar bahwa dirinya masihbelum menjawab pertanyaan Kay.
“Hari ini pulang sama gue, yah?!” Ajak Kay kali ini dengan ramah, berinisiatif. Membuat Metha and the gank pada melongo gak terima. Arvi hanya bisa menggeleng terus mengangguk, bingung. Bagaimana ia harus memberi jawaban pada pacar bohongannya ini.
“Mungkin lain kali aja Kay, gue mau pulang ma Yaya’ sama Memey.” Balasnya saat memalingkan pandangannya padaKay yang masih membiaskan senyum di wajahnya.
“Kalau gitu biar gue anter, mobil gue muat kog buat berempat.” Tawarnya lagi makin membuat Arvi jadi merasa semakin sungkan, yang akhirnya dengan terpaksa mengiyakan ajakan tersebut dengan berat hati. Tentu saja Arvi masih mencemaskan bagaimana nasib kedua barang berharganya ditangan Arvan yang sepertinya sudah mencap dirinya sebagai penghianat bangsa.
***
“Eh kamu itu jangan-jangan si Kayana yang murid baru itu, kan?” Tanya Memey langsung pasang topik pembicaraan begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
“Iyah.” Jawab Kay singkat.
“Gue kog gak tau Vie’ kalau elo pacaran sama Kay, emang sejak kapan?” Tanya Yaya’ yang langsung membuat Arvi angkat bicara sebelum Kay bisa memulai.
“Baru aja!” Jawaban itu hampir saja membuat Kay mengerem mendadak. Ditatapnya lekat-lekat cewek yang tengah
duduk di sebelahnya ini.
“Mereka sohib gue dan gue gak suka main rahasia-rahasiaan sama mereka. Lagipula… gue percaya sama mereka bakal bisa simpan rahasia.” Jelas Arvi sebelum Kay melemparinya dengan pertanyaan.
“Emang ada apa sih, Vie’?” Tanya Memey kali inibenar-benar penasaran.
Setelah menceritakan pokok terpentingnya saja, akhirnya Yaya’ dan Memey baru lah mengerti alasan mengapa Kay berpacaran dengan Arvi. Status kedua pemuda-pemudi tersebut, sebagai pacar pura-pura adalah merupakan suatu
bentuk Simbiosis Mutualisme antar sesama Species yang mereka bangun untuk saling
membantu, atau mungkin bisa dibilang menyelamatkan diri.
Yaya’ dan Memey hanya bisa manggut-manggut. “Jadi... sebenarnya kalian emang udah saling suka atau gimana?” Kali ini Yaya’ melemparkan pertanyaan.
“Gue yang suka duluan sama Avie’. Makanya gue milih dia dari sekian banyak cewek di kelas.” Tegas kay, tak memberi kesempatan pada cewek tomboy di sebelahnya itu untuk membuka rahasia mereka lebih jauh lagi.
“Serius lo, Kay? Elo kog gak cerita sih, Vie’?” Rengek Memey, merasa begitu kecewa. Dengan kesal, cewek centil itu mengguncang-guncangkan pundak Arvi dari belakang jognya.
“Kan ini udah cerita.” Balasnya enteng.
***
Selama dalam perjalanan mengantar Yaya’ dan Memey. Kay sama sekali tidak membiarkan Arvi untuk mengucapkan sepatah kata pun. Dalam konteks kalimat lain, kali ini Kay yang berusaha meraih simpati para sahabat Arvi itu untuk ikut membantunya.
Yaya’ dan Memey yang notabennya sudah mengerti sekali akan situasi kedua sejoli itu tengah alami, akhirnya memutuskan ikut membantu, alias ikut ambil andil dalam sandiwara yang tengah mereka selenggarakan, untuk mengecoh para kaum Hawa dan Arvan tentunya.
Dimana Arvan dan para kaum hawa yang mereka baru saja sebutkan, sudah dianggap sebagai pemeran tokoh antagonis dalam drama mereka.
Kay yang sudah berperan sekaligus sebagai sutradara, mengarahkan kedua mahluk manis itu untuk menjadi pemeran pendukung. Tugas kedua sahabat Arvi—yang manis-manis itu—adalah untuk membantu menerangkan hubungan mereka secara lebih mendramatisir lagi.
Berperan memberikan testimony, atau bahkan menjadi saksi hidup, yang nantinya bertugas menjelaskan dan memberikan keterangan pada para investigator serta paparazzi. Mengatakan pada siapa pun yang nantinya akan menanyai mereka berdua, bahwa hubungan antara Arvi dan Kay memang sudah lama terjalin dengan cukup serius dan bisa dikatakan bahwa Kay-lah pihak yang paling mencintai Arvi setengah mati, hingga mengejar Arvi sampai mau pindah ke sekolahnya ini.
Setelah mengantar kedua sahabat Arvi dengan selamat dan aman sampai ke tempat tujuan yaitu rumah mereka masing-masing. Kini tinggal mengantar Arvi kerumahnya.
Sunyi senyap, hanya terdengar suara deru mobil melaju selama perjalanan pulang. Arvi kembali memasang headphone-nya berharap bahwa ia akan segera sampai ke rumah. Kay tertegun, diliriknya cewek yang masih melamun, melempar pandangan ke luar jendela.
Dalam hati Kay tengah berpikir, bagaimana bisa cewek seperti Arvi exist di dunia ini?! Padahal untuk gadis seusianya, apalagi duduk berdua di dalam mobil bersama cowok ganteng seperti Kay. Mana mungkin akan membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa membuka perbincangan hangat dan ramah dengannya.
Padahal Kay sudah berpikir bahwa mungkin Arvi cuma bersikap sok jadi cewek pendiam di dalam kelas saja untuk menjaga Image-nya.
Tetapi, nyatanya sudah hampir 10 menit berlalu gadis itu masih tidak mengeluarkan suara untuk membuka obrolan dengannya. Hanya suara bisikan lembut—yang ternyata adalah senandung—suara
nyanyian Arvi, mengikuti lirik dalam lagu yang tengah didengar.
Gadis itu bukannya sok jaim, sok cool, dan sok-sok lain sebagainya. Dia memang pendiam,
atau mungkin terlalu pendiam, sampai-sampai tidak menyadari bahwa teman sebangku yang sekarang lagi nyetir
itu adalah manusia juga dan bisa ngomong kalau diajak bicara.
“Gue belum tau nomor HP elo... kalau ada apa-apa elo tinggal hubungi gue aja!” Katanya mengawali perbincangan.
Arvi melepas headphone-nya menggantungnya ke leher lalu mengambil ponsel di saku roknya.
“Ambil aja Handphone gue. Biar gue bawa handphone elo. Hari ini kita tukeran,” katanya lagi membuat gadis
itu tertegun dengan ide yang baru saja dikemukakan oleh Kay. “Gue penasaran, bakal SMS kayak gimana Si Arvan entar.” Sambungnya lagi tersenyum dengan sinis.
Arvi hanya bisa mematung, terpaku heran di tempat duduknya. Nih cowok udah beneran gila kali, ya?!
Sampai segitunya pengen cari gara-gara sama orang macam kak Arvan. Batinnya dalam hati. Meski begitu,
tetap saja ia menuruti kemauannya. Toh gak ada ruginya tukeran Hape type jadul dengan Hape keluaran terbaru.
“Oh ya, temenin gue makan dulu, sekalian kita buat rencana yang sekiranya perlu buat ngejawab para paparazi yang mau interogasi nanti,”
Ajaknya santai tanpa sekalipun menyadari bahwa sedari tadi, cewek yang berada di sampingnya ini sudah
kehilangan sense of humour hingga berusaha untuk tersenyum pun ia sudah tidak sanggup.
“Gak apa-apa kan pulang agak sorean?” Sambung Kay lagi.
“Lama, gak?” Tanya Arvi sebenarnya agak malas.
“Ada acara malam mingguan?” Kay balik tanya.
“Gak sih...”
“Jadi oke, yah?!” Ucap Kay memutuskan sendiri. Membuat Arvi hanya bisa mengiyakan saja.
***
Arvan benar-benar tidak menyangka, akan ada murid dari sekolahnya yang sudah masuk—tercatat—dalam dead list-nya. Padahal selama ini tidak ada yang berani melawan atau bahkan menantangnya, seperti yang dilakukan oleh Kay.
Tak hanya para murid, bahkan para guru dan kepala sekolah pun sudah angkat tangan kalau harus berurusan dengan murid badung seperti Arvan.
Pasalnya, bukan hanya karena dirinya merupakan siswa paling berprestasi di sekolahnya. Namun juga dikarenakan hubungan Arvan dengan kedua orang tuanya tidak terlalu dekat Jadi, meskipun ia mendapatkan hukuman
seberat apa juga orang tuanya tidak akan pernah mau peduli.
Bagi mereka yang penting
anak itu masih hidup dansehat wal’afiat. Hingga rasanya percuma saja kalau mau membuat murid bermasalah satu itu untuk mulai bertobat dan masuk ke jalan yang benar.
Semua orang tau reputasi buruk Arvan. Tapi, hanya soal perkelahian saja. Cowok itu tidak pernah terjerat narkoba, tidak pula menyentuh minuman keras atau bahkan
menghisap rokok.
Jadilah kepala sekolah dan para guru tidak tau harus
mengukum murid mereka yang hobby sekali adu jotos itu dengan hukuman seperti apa. Juga perihal bagaimana cowok itu bisa memiliki tameng di mana-mana.
cowok. Di dalam
maupun di luar sekolah. Seakan-akan, bagi para pengikut Arvan, cowok itu adalah
pahlawan sekaligus pemimpin yang gak pernah melakukan kesalahan di mata mereka.
Kay
sukses membuat cowok yang biasanya i dont give a ** dengan apa pun
itu. Kini harus terganggu oleh keberadaan Kay. Dimana dengan
terang-terangan, di hadapan
hampir seluruh pemilik
telinga dan mata penghuni sekolahnya, menyatakan diri
sebagai pacar Arvi.
Padahal selama ini ia tahu bahwa cewekitu tengah single. Bahkan, Haru sendiri yang turun tangan memastikannya. Kurang akurat
apa coba?
Bagi Arvan hubungan mereka terlalu tiba-tiba, terlalu
mencurigakan. Oke lah kalau Kay kena
penyakit fall in love at the first sight setelah
mengetahui bahwa Arvi bukan cewek biasa. Tapi, bukan berarti mereka bisa jadian
tiba-tiba seolah-olah habis menang lotre.
Padahal selama ini ia tidak mau cewek itu diambil
siapa pun,
SI-A-PA-PUN!!Makanya dia sampai menobatkan Arvi jadi ‘cewek’-nya dan menyandera dua
benda berharga Arvi, agar cewek tomboy satu itu manut alias nurut.
Maksudnya sih, biar tuh cewek juga gak bakal
kemana-mana. Karena ia sendiri baru memahami bagaimana karakter gadis itu
selang beberapa hari ini. Dan lagi, dia lah yang
pertama kali ‘menemukan’ cewek itu dalam daftar murid waktu MOS.
Sayang yang bersangkutan tidak bisa hadir karena
menurut surat dokter cewek tersebut harus opname di rumah sakit karena penyakit
tipus.
Dan setelah penyelenggaraan MOS berakhir, Arvan malah
ada panggilan penting untuk segera ke Bali—oleh sang ayahanda—yang tidak bisa
diabaikan begitu saja. Kesempatan untuk bertemu langsung dengan cewek yang
memiliki nama belakang semirip dengannya itu harus tertunda.
Makanya, setelah bertemu dengan cewek yang sudah lama
diincarnya itu Arvan jadi
tidak ingin melepaskannya. Bahkan untuk dibagi dengan siapa pun ia tak kan rela.
Jadi wajar saja kalau cowok itu gak terima. Apalagi harus mempercayai hubungan Arvi dan Kay yang so
sudden itu. Pasti ada udang
di balik rempeyek. Ada maksud
terselubung, rencana tersembunyi dan masih banyak lagi.
“Sh*t!!!” Dilemparnya bantal dan guling kelantai
dengan penuh emosi. “Brengsek lo Kay!! Gue bakalan bikin perhitungan sama elo. Liat aja entar.”
***
“Viii... ada temanmu datang nih!! Dia menunggumu di depan, katanya mau
berangkat sama-sama!” Teriak
sang Mama kepada anak gadisnya yang masih mengurung diri di kamar bersama para kucing.
Ha, teman yang mana, ya? Masa’ Yaya’? Gak mungkin ah. Tanyanya dalam hati. “Siapa, Ma?” Sahutnya begitu keluar dari kamar dan berpapasan
di ruang tengah.
“Anak cowok. Siapa dia? Pacarmu, yah?” Tanya Mamanya balik seperti menuduh.
“Lah kantadi mama bilang sendiri kalau cuma temen.”
Gerutunya agak kaget juga waktu mendengar jawaban mamanya soal gender mahluk yang mengaku
sebagai temannya itu. Setelah berpamitan, Arvi langsung menuju keluar teras, tanpa merasa curiga akan identitascowok yang menjemputnya.
“Yo!!” Sapanya dengan santai di atas sepeda
motor CBR-nya.
Jantung gadis itu serasa melonjak naik
menuju kerongkongan, saat melihat sosok Arvan—yang sudah berpakaian rapi—menyapanya dengan senyum yang bisa
meluluhkan hati seluruh mahluk Hawa. Tapi, buat Arvi, kemunculan Arvan pagi ini—di depan
rumahnya—menjempunya, merupakan pertanda
akan adanya suatu ‘malapetaka’.
Coba saja kalau Arvan itu gak punya nama yang sama
seperti dirinya atau waktu itu Kay gak usah jadi murid baru di sekolahnya, pasti rasanya
akan berbeda. Gak akan terasa seolah-olah dirinya tengah main film bergenre thriller semacam Halloween.
“Mama lo baik banget, yah?! Gue aja sampai mau disuruh masuk buat nungguin elo,” ujarnya tersenyum nakal, begitu melihat raut wajah gadis itu
berubah jadi beraneka ragam, bingung,
takut, malu dan
grogi.
“Kenapa? Elo nyesel bukan Kay yang jemput?” Tanyanya telak.
“Enggak... enggak kog!” Sanggahnya menggelengkan kepala cepat
meski malah terlihat seperti panik.
“Good girl!!” Katanya lagi sembari mengusap-usap puncak kepala gadis itu, yang kini malah terlihat
cemberut karena malu.