
“Kog cepet makannya? Dah kenyang?”
Tanya satu suara yang berasal dari sang pentolan sekolah.
Walau terdengar lembut dan ramah. Hal tersebut masih tidak bisa menutupi kesan seram di benak Arvi. Semenjak insiden Kabe-don di gang belakang tadi pagi,Arvan sudah masuk Black
List yang perlu dihindari.
“Mau masuk?”
Arvan bergerak minggir,
membukakan jalan yang sempat ia blokir dengan badannya yang tinggi besar. Namun, niat
baiknya hanya mendapat
gelengan sebagai ganti jawaban. Hal itu sontak membuatnya terkekeh lucu.
“Kog malah jadi ketakutan gitu? Gue gak bakalan gigit kog!”
Katanya melangkah maju mendekati Arvi yang langsung mundur. Melihat reaksi
yang ia dapatkan seperti itu, Arvan
langsung bergerak dengan langkah panjang. Membuat si gadis bergerak dengan cepat,hingga tanpa sadar punggungnya
menabrak pilar di belakangnya.
Meskipun Arvi sudah merasakan bahwa punggungnya
bersandar pilar yang menghalangi jalannya. Tatapan mata Arvan yang seolah
tengah menembus kedalam jiwanya,
membuat gadis
itu tak mampu melangkah maupun berusaha pergi untuk menghindari cowok berbahaya
tersebut.
“Gue rasa elo tadi sudah dengar sedikit soal kemiripan nama kita dari si Koko,” ucapnya
kini mulai menggerakkan kedua tangannya, bersandar pada pilar di belakang Arvi,
mengunci tubuh mungil gadis itu. Gue di
Kabe-don lagi!? Batinnya berusaha untuk tidak tertawa karena gugup,
diperlakukan seperti itu.
“Jadi intinya... elo punya hutang sama gue.”
Pernyataan itu sontak membuat Arvi melotot gak percaya. Apalagi saat si
kepala suku para biang kerok itu mengangkat dagunya dengan jari telunjuk, yang
semakin membuat Arvi
tak berkutik sama sekali dan hampir terkena demam dadakan kalau tidak dia
tampik tangan itu dengan lembut menjauh dari dagu Hypersensitif-nya.
“Hutang apa maksud, lo? Nama kaya gini kan gak cuma kita berdua aja yang punya!”
Jawaban Arvi tersebut malah membuat wajah cowo di depannya
itu sesaat menegang seolah gadis dihadapannya ini sudah mengatakan hal yang
menggemparkan hidupnya. Ditepisnya pikiran yang sesaat membuatnya kehilangan
fokus terhadap sosok gadis mungil didepannya ini. Melihat bagaimana dengan
nyali tinggi dan berani gadis manis ini melawannya, Arvan jadi kembali
bersemangat untuk menjahilinya.
“Yah... whatever lah, itu urusan pribadi mereka. Yang jelas... gue mau elo nyicil ganti ruginya mulai
sekarang!”
Perintahnya lagi membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Arvi. Gadis itu makin dibuat merunduk malu dan tak ingin bertatapan dengan cowo yang hidung mancungnya sudah berjarak
lima jari dari wajahnya.
“Ini namanya penodongan, pemerasan, dan penyalahgunaan hak
asasi, emangnya elo mentri penamaan indonesia apa? Seenaknya minta ganti rugi,
trus disuruh nyicil segala. Emang nama gue rumah kontrakan?” Celotehnya dengan berang menutupi
kenyataan bahwa dirinya tengah grogi setengah mati.
Arvan sedikit terkejut oleh bagaimana Arvi melemparkan
kalimat itu kepadanya dengan sangat berapi-api tanpa keraguan sedikit pun. Senyum tersungging di bibir Arvan yang makin
membuat Arvi makin tidak tenang.
“Emangnya apa yang gue mau ambil dari elo?” Tatapnya meremehkan saat memperhatikan
mata gadis itu sudah kembali menyerangnya dengan ketajaman seekor Kucing
Garong, “yangpengen gue ambil itu...”
Sambungnya saat bibir itu sudah berada di dekat telinga Arvi yang mulai memerah, membuat gadis
itu sontak mendorong tubuh Arvan
meski tidak membuatnya bergeming se-inci pun dari posisi, bisikan pelan itu
terganggu oleh bunyi bel dan lengking teriakan kedua sahabatnya yang—terlambat—datang menyelamatkan.
“Bye, Honey~” Kata Arvan lagi sambil mengusap-usap puncak
kepala Arvi, ketika ia beranjak pergi meninggalkan
gadis yang masih membeku dengan
kedua pipi memerah itu.
“Elo diapain tadi, Vie’?“
“Ada yang kalong** gak, Nyah?”
**Kalong : Berkurang
“Lo baik-baik aja, kan Non?”
***
“Vie’, elo gak ke kantin? Ini udah siang lo, kalo gak makan entar
malah sakit, jangan males-males dong Nyah kalau makan… kasihan kan tuh perut
disuruh puasa tiap hari tanpa persiapan.” Cerocos
suara di telefon yang
merujuk sahabatnya itu untuk segera keluar dari Gua Maharaninya, yang sejak
lima menit lalu sudah kosong melompong.
“Gak tiap hari juga kali Nyah… lagian gue masih belum lapar Mey, elo aja yang ke kantin sama Yaya’... elo kan doyan makan.” Celetuk Arvi menggoda sahabat cekingnya itu yang
punya nafsu makan paling besar meski tetap gak mempan menambah berat badannya.
”Elo mau pesan apa? Entar gue talangin dulu, pokoknya jangan sampe gak makan, elo mah sampe taun depan pun
gak bakalan ngerasa lapar, Vie’ pokonya makan!” sembur Yaya’, merebut handphone sobatnya untuk berceramah.
“Gak sebegitunya juga kali Nyak… masa ampe taun depan gak lapar-lapar… iya deh iya gue pesen yang biasanya. Gue gak mau keluar. Pokoknya gue
ngeri kalau harus ketemu lagi sama tuh
orang. Gue mau disini sembunyi sampe pulang!”
Jelasnya
panjang lebar sambil memotong-motong selembar kain di atas meja potong yang
panjangnya 2 x 1meteritu.
“Pokoknya sebisa mungkin gue mau menghindar…” ujarnya melalui handphone yang diapit oleh bahu kiri dan telinganya.
“Mengindari siapa?”
Suara itu datang tak diundang terdengar di belakangnya. Keseriusan Arvi terhadap
selembar kain dan perbincangan dengan sahabatnya membuat gadis itu lengah, dan
tanpa disadari olehnya ternyata
sedari tadi sang biang kerok sudah masuk
dengan gelagat maling dalam kelas menjahitnya.
“Elo… kog… bisa…?”
Tanya Arvi terbata-bata melihat cowo jakung itu tengah
dengan santai duduk di atas kursi kayu di belakangnya. Keterkejutannya membuat handphone yang diapitnya jatuh ke atas meja potong dengan posisi telengkup.
“Yah bisa lah, elo salah kalo nyangka elo bakalan bisa menghindar dari gue,” ujarnya dengan gaya sok kerenyang bikin Arvi pengen ngejadiin tuh orang boneka manekuin.
“Elo… suka jahit, yah?”
Tanyanya pada si gadis sembari memperhatikan pekerjaan
yang tengah dipunggunginya.
Roman wajahnya berubah lembut.
“Iyah, kenapa? Mulut lo mau gue jahit juga?” Ungkapnya ketus mencoba membangun keberanian untuk melawan,
sedangkan orang yang dilawan malah ngakak gak karuan,
melihat wajah polos cewek yang lagi mengkeret di depannya itu berusaha mengancamnya.
“Lo ini beneran lucu banget, ya?! Nama kecil elo tadi siapa? Avik, ya? Pakai ‘K’ atau ‘Q’ cara tulisnya gimana? Kog gak cuma Avi doang?” Tanya Arvan lagi kali ini menatap lurus-lurus ke mata gadis yang terhalangi oleh kaca mata
berlensa lebar itu.
“A-V-I-E ditambah koma atas pengganti huruf K sama Q.” Jelasnya lancar meski masih merasa takut
pada atmosfir di sekeliling cowo itu.
“Vie’! Avie’!! Avie’!!! Elo gak papa,
kan?” Panggil dua suara di luar ruangan yang telah tertutup sejak kedatangan
“Eh! Eh! Eh! Gak boleh masuk, yang di dalam belum
selesai.” Goda salah satu teman sekelasArvan yang
bertugas menjaga di depan.
“Hish, apaan sih?! Masa bodo ama situ, kita mau masuk!”
Sergah Yaya’ yang memang paling berani melawan siapa pun itu kalo sudah
menyangkut adu mulut. Apalagi ketika
mereka mendengar
benda terjatuh di telepon tadi, juga perbincangan sahabatnya itu dengan tamu tak
diundang dalam kelasnya tersebut. Tanpa
pikir dua kali mereka langsung lari tunggang langgang ke lokasi
kejadian. Maksudnya sih
mau menyelamatkan. Tapi,
sebelumnya malah harus berhadapan dengan para utusan setan.
“Ehh… kecil-kecil berani juga, ya!? Kasih cium dulu
sini baru boleh masuk.”
Sambung sang penjaga lagi sembari memonyongkan
bibirnya membuat kedua cewek itu langsung
mundur dari shaf terdepan sambil
berhii-hii. Mendengar hal itu tentu saja membuat Arvi langsung ingin bergerak
mendekati pintu untuk menolong kedua sahabatnya yang lagi ketiban masalah.
“Lo mau kemana, Vi? Gue kan masih di sini... padahal gue kesini khusus buat elo. Gak
sopan dong kalo tamunya ditinggal gitu aja.” Katanya langsung bangkit berdiri menghadang tubuh Arvi dengan sebelah tangannya, dan kini lagi-lagi tubuh itu terkurung oleh kedua lengannya.
“Gue petalin rambut elo kalo gak mau minggir!!” Ancamnya sembari menodongkan gunting kainnya yang
tebal, besar dan mengkilap ke muka Arvan.“Woops!!”
Arvan yang kaget langsung menarik mundur kepalanya.
“Elo ngancam gue nih ceritanya?” Katanya mengangkat satu alis kirinya, membuat si gadis
jadi menciut nyalinya. Sedangkan yang di luar masih ribut pengen masuk meski
harus berhadapan atau malah harus menumbangkan si penjaga terlebih dahulu untuk bisa masuk ke babak berikutnya.
“Ini namanya penyekapan, gue aduhin walinya lho kalo gak mau ngelepasin yang di
dalam!!!” Ancam Yaya’ yang maju terus pantang mundur melawan dua security guards dadakan Arvan, membuat ke empatnya langsung jadi tontonan gratis murid lain
disekitar ruang menjahit lantai satu.
Arvan yang merasa terganggu karena keributan di luar itu
langsung memberi mandat dengan suara lantang, hingga mampu didengar oleh
seluruh pemilik telinga .
“Koko, Haru elo boleh ngapa-ngapain mereka ampe puas kalo mereka masih
tetap gak mau pergi dari situ!” Serunya pada kedua dedengkot di luar sana yang entah telah berbuat apa
sehingga membuat kedua cewek itu menjerit panik, terus lari terbirit-birit dari
lokasi.
Arvi yang sudah tidak lagi mendengar suara kedua
sahabatnya langsung lemas.
“Please kak, tolong minggir sebentar…” Pintanya pada Arvan yang sudah menjepit tubuh mungil
gadis itu dengan aura menekannya, hingga meja tempatnya bersandar sedikit terdorong
oleh pinggulnya.
“Hee sekarang udah manggil kak nih? Manisnya... tadi masih elo-gue gitu, ada apa?”
Melihat gadis dalam kukungan lengannya ini tengah
merunduk dan memejam takut membuatnya makin ingin bertindak lebih jahil lagi.
“Kalau diperhatikan baik-baik, elo pakai kaca mata begini makin kelihatan imut deh,” godanya makin gencar, ia ingin melihat apa lagi ekspresi lucu yang akan ia dapatkan dari gadis itu.
“Ada yang mau gue ambil dari elo… jangan bergerak yah, kalo bergerak malah bakal makin banyak yang terambil.”
Ucapnya saat wajah itu makin mendekat, nafasnya yang
menyapu kening Arvi itu membuat si gadistak bergeming, membeku dalam seribu do’a.
Tek!!
Suara gigi Arvan membentur kacamatanya, membuat gadis itu langsung
mendongak penuh tanya bersamaan dengan kacamatanya yang telah tertarik lepas
dari tempatnya berasal. Diambilnya kacamata itu oleh Arvan dengan satu
tangannya.
“Ini gue ambil,” ucapnya sembari mengangkat kacamata itu tinggi-tinggi saat gadis
itu refleks langsungberusaha merebutnya kembali. “Eits!”
Saat Arvan menarik mundur kacamata itu kebelakang
kepalanya, tanpa sadar Arvi jadi ikut maju mendorong tubuhnya untuk menggapai kacamata yang masih tak
terjangkau kerena perbedaan panjang tangan dan tubuh mereka. Dadanya
bertabrakan dengan Arvan, yang malah
tersenyum jahilpadanya.
“Elo agresif juga yah anaknya.”
Arvi terbelalak begitu sadar akan kondisinya.
“Denger yah, Vi! Elo mau kabur kemana saja silahkan. Gue gak larang. Tapi jangan harap lo bisa lepas atau pun
sembunyi dari gue.” Bisiknya tepat di lubang telinga Arvi. Membuat gadis
itu langsung merinding disko.
“Kesamaan nama kita itu dah takdir. Jadi udah kodrat lo bakal gue gangguin terus tiap hari. Siap-siap aja, yah!” Bisiknya lagi tanpa ampun, mendekatkan wajahnya pada daun telinga
yang sudah berubah kemerahan membuat Arvi refleks menunduk saat ujung hidung Arvan menyentuh telinganya yang panas.
Ditegakkannya badan itu hingga ketinggianya menjulang
di hadapan badannya yang pendek. Perbedaan dua puluh lima senti itu membuat Arvan merasa
dominan. Dibiarkannya
gadis yang sudah lemas akibat tekanannya itu untuk bernafas lega. Paling tidak untuk beberapa waktu
saja.
Dipakainya kacamata Arvi yang makin membuat wajah
ganteng nan putihnya terlihat cantik.
“Ini buat gue. Kalo mau lo ambil lo bisa datang ke kelas gue.”
Tantangnya membuat Arvi terbelalak gak percaya, ke kelas XII? Ciyus, lo? Untuk para anak kelas X dan XI
SMAPi. Kelas XII adalah sarang penyamun. Tak ada seorang junior pun yang berani melawan. Jadi sebelum melangkahkan kaki ke wilayah anak kelas XII,para junior itu harus mandi kembang tujuh rupa kalau
mau selamat jiwa raga.
Batin Arvi menggumam, yang bener aja bisa jadi dendeng gue!
“Dah, Bunny!!” Pamitnya sembari mengusap-usap puncak kepala Arvi,
membuat gadis itu sedikit tertegun antara tersipu malu dan heran.
“Oh ya, hari ini cuma sekedar salam. Tapi berikutnya,
jangan mengharapkan keringanan, karena mungkin gue bakalan godain elo sampai
nangis.”
Tandasnya lagi dengan senyum menyeringai yang terlukis tipis di bibirnya, satu kerlingan mata membuat Arvi
tak mampu berkata apa-apa. Dibukanya
pintu ruangan yang tadi sempat dikunci olehnya untuk berjaga-jaga agar aksinya
tidak diganggu oleh oknum-oknum tak berkepentingan di luaran kelas sana.
“Udah kelar, Van?” tanya Koko yang ngomongnya paling
ngaco. Diantara mereka
bertiga dialah yang paling sableng,
“Udah, meski belum benar-benar puas gara-gara belum
mencapai klimaks.” Balas Arvan ikut mengacaukan pikiran para penonton di
luar ruangan yang masih
berkerumun.
“Masih ada lima belas menit sebelum bel masuk, kenapa
gak lo habisin aja sekalian?” kali ini ganti Haru yang ikut ngasal mengompori kedua sohibnya itu.
“Gak lah. Ntar malah kebablasan. Sabar Man, masih ada hari esok… gue mau
nikmatin makanan gue pelan-pelan.” Ujar Arvan yang bersama kedua teman karib sekaligus partner-nya itu meninggalkan ruang busana.
“AVIIIEEE’!!!” Serbu Yaya’ dan Memey langsung menyongsong tubuh kaku yang tengah berdiri mematung didekat
manekuin tersebut, membuat kedua sahabatnya bingung. Apa yang sudah diperbuat oleh setan sekolah itu
hingga membuat sahabat mereka membeku seperti patung manekuin ini?