
Jam istirahat ke dua,
Satu setengah jam
sebelumnya diisi dengan jam pelajaran kosong. Karena guru yang seharusnya
mengajar kesenian hari ini Absent dan
tidak adanya guru pengganti yang bisa mengisi kekosongan tersebut, membuat
kelas X-7 bebas tanpa pelajaran mengikat.
Saking nggetu**-nya menggambar, Arvi sampai tidak sadar kalau ‘nyawa’-nya tengah
‘terancam’. Gadis
itu baru menyadari kalau kelas sudah kosong, sejak lima menit yang lalu.
**Nggetu : serius
Headphone yang bisa dengan bebas ia pakai—karena tidak ada guru pengajar—membuat gadis itu benar-benar
lupa diri, karena tenggelam dalam dunianya. Ringtone Monster by Becky G berbunyi menandakan salah satu
sahabatnya menelfon.
“Halo! Ada apa, Ya’?” Jawabnya santai sembari mengemasi alat tulisnya ke dalam tas.
“Gue tadi liat si setan itu jalan lurus ke kelas elo. Cepet buruan keluar!!” Ucap sahabatnya itu dengan cemas memperingati.
“Haduuuhhh... kog sekarang sih!!” Dengan
panik gadis itu langsung bergegas
meninggalkan bangkunya.
“Hey!! Avie’ masih ada di kelas, gak?” Suara Arvan sudah terdengar dari luar. Membuat gadis itu makin tidak bisa
berpikir akan pergi kemana. Karena, percuma saja kalau dia berusaha lari keluar
dari kelasnya. Arvan pasti bakalan bisa langsung menangkapnya, pada detik itu
juga. Masih bingung harus bagaimana selanjutnya, Arvi punmelirik ke arah jendela.
“... kog kosong? Tadi bilangnya ada?!” Tanya Koko pada seorang cewek yang baru saja di-‘culik’ dari lorong dan dibawa—sebagai ‘sandera’—ke kelas Arvi untuk mengkonfirmasi kebenaran
jawabannya, kepada ketiga cowok tersebut.
“Ada kog kak... beneran tadi dia lagi pewe di bangkunya lagi ngegambar.” Bela si gadis dengan wajah yang sudah bersemu merah karena dikerumuni oleh tiga
senior ganteng.
“Jangan-jangan kabur lewat jendela lagi.” Ucap Haru yang menunjuk ke arah
terbukanya jendela dengan dagunya.
“Alright-alright! Apa boleh buat kalo gitu”. Kalian berdua coba cari dia di tempat
lain. Kalau ketemu
langsung tangkap dan bawa dia ke gue. Tapi awas, jangan sentuh cewek gue sembarangan. Apalagi sampai bikin dia lecet-lecet.” Ucap Arvan—tengah mendekati salah satu jendela
yang tengah terbuka—memperingatkan kedua sahabatnya, seolah tidak bisa
mempercayai kedua jomblo tulen itu bakalan menangkap Arvi secara gentlemanly.
Pasalnya, Arvan kenal banget dengan watak kedua
sahabatnya itu. Haru yang bernama lengkapkan Gaharu Kalani, dari luar memang
terlihat kalem, dewasa dan sedikit pendiam. Walaupun banyak penggemarnya, dia
tipikal cowok yang menganggap semua cewek itu sama seperti cowok. Dimana dia
tidak bisa bersikap, berucap, bahkan berlaku lembut ke cewek manapun selain
pada para perempuan yang benar-benar disayanginya.
Sedangkan Vincent Runako—cowok cakep yang kerap disapa
dengan panggilan Koko—adalah tipe yang terlalu carefree, bakalan gak tanggung-tanggung untuk peluk-peluk cewek
manapun secara sembarangan. Selama cewek itu menarik perhatiannya. Itulah
alasan kenapa dirinya sangat populer tapi tidak bisa punya pacar sama seperti
Haru.
“Elo?” Tanya Haru yang mendapati sahabatnya itu tengah duduk di bangku Arvi dan menarik keluar tas yang selalu
diletakkan oleh Arvi dalam laci.
“Gue mau di sini. ‘Nyepi’. Elo tutup saja pintunya. Gue gak mau ada yang masuk.”
Satu perintah Arvan lagi, segera
dilaksanakan oleh kedua teman karibnya, yang memang paling biasa dengan sikap bossy abisnya si Arvan itu.
Tiba-tiba saja, terbesit rencana jahil Arvan yang kini sudah
dengan lancang menggeladah isi tas Arvi
tanpa seijin pemiliknya. Dikeluarkannya sebuah buku sebesar A5 yang didominasi
oleh warna cappuccino.
Dibukanya lembar demi lembar halaman dalam buku tersebut
yang ternyata adalah sketchbook pribadi Arvi.
“JANGAN DILIHAT!”
BRAK!!!
Satu suara muncul, disusul bunyi keras lain yang berasal dari bangku pertama paling belakang kelas. Arvi
merintih kesakitan memegangi kepalanya yang terantuk bawah laci meja, saat ia tengah berusaha keluar dari
tempat persembunyiannya untuk menghentikan aksi lancang Arvan.
Tersenyum, Arvan mendekati gadis manis yang masih
merundukkan kepalanya itu, menggosok-gosok bagian yang terasa nyeri akibat
kejedot pinggiran laci meja. Cowok ganteng itu berjongkok di sebelahnya dan
dengan lembut mengusap-usap puncak kepala Arvi
yang terbentur cukup keras itu.
“Fhhuu... sakit?” Tanya Arvan sedikit berbisik, saat dengan telaten ia meniup tempat
dimana kepala Arvi masih terasa nyut-nyut-an.
Gadis itu hanya bisa melirik heran, dengan pipi bersemu merah pada cowok
tersebut. Kepalanya
yang pening akibat benturan itu seketika mati rasa oleh hembusan nafas dan
sentuhan hangat dari Arvan.
“Makanya~ gak usah sok pake acara sembunyi segala~” Ejeknya
membuat gadis itu mengernyitkan alis kesal.
Arvan hanya bisa tersenyum kecil. Peristiwa ini tiba-tiba
mengingatkannya kembali ke masa lalu.
Kejadian ini seolah De javu yang membuat Arvan termenung sesaat.
Apa yang ia lakukan pada Arvi
dan apa yang gadis itu coba lakukan untuk menghindari Arvan, sama seperti apa
yang pernah ia alami di waktu
dulu bersama seseorang yang tak akan mungkin pernah hilang dari benak dan ingatan.
Arvi masih terdiam, tidak
tau harus membalasnya dengan kata-kata apa, membuat Arvan tergoda untuk kembali menjahilinya
“Pernah denger gak ada kalimat begini, elo mungkin bisa lari, tapi gak mungkin bisa sembunyi.” Intonasi
yang seolah mengancam namun terkesan ‘menantang’, membuat Arvan terdengar
seperti psikopat sakit jiwa yang mesum dan lain sebagainya.
Telapak tangannya yang besar masih bertengger dengan nyaman
di puncak kepala Arvi,
membuat lidahnya kaku seolah-olah sentuhan tangan Arvan sudah mengosongkan isi
otaknya.
“Sudah. Ayo keluar!”
Ditariknya lengan gadis itu perlahan untuk keluar dari
kolong meja paling belakang. Didudukannya gadis itu di kursi sebelah. Sedangkan Arvan duduk di kursi di sebelah bangku gadis
itu dan menghadap ke arahnya.
“Masih sakit?” Tanya Arvan lagi yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.
“Bener gak sakit? Kalau emang udah gak sakit, gue mau nggodain elo lagi kaya kemarin. Tapi kali ini sih…pengennyasampai elo nangis.” Ujarnya
membuat gadis itu terbelalak lebar saking kagetnya dengan pernyataan konyol
tersebut.
Bukan hanya itu saja, melainkan senyum manis yang dipamerkan Arvan benar-benar tidak menyiratkan adanya
niat jahat atau apapun yang bakal amat sangat mengganggu gadis itu.
“Becanda.” Sambungnya
lagi dengan tawa kecil, membuat Arvi jadi
salah tingkah dengan sikap iblis berkedok malaikat di hadapannya ini.
“Hari ini libur dulu deh godain elo.” Terangnya
mengambil kembali buku sketch yang ia
letakkan di meja belakang kursinya.
Begitu sadar, Arvi yang berusaha merebut kembali
bukunya malah mendapatkan masalah lain. Saat dengan gesit Arvan yang bertangan
panjang, langsung menjauhkan barang rampasan tersebut dari jangkauan si tangan pendek, Arvi. Sehingga terjadi pergulatan sengit
gemas ingin sekali membanting cowok di depannya ini andai ia bisa, sungguh.
Arvan yang memang rada ‘nakal’ dan suka usil, membiarkan
saja dada besar dan bidangnya menghadang keinginan Arvi yang gigih dalam mendapatkan kembali
bukunya. Membuat gadis itu kalang kabut setiap kali kulitnya menyentuh tubuh
Arvan.
“Tangan elo itu pendek. Kalau mau ngambil nih buku jangan pake acara setengah-setangah gitu. Udah~ elo gak usah malu. Dada gue boleh elo sanderin kog!” Ucapnya panjang lebar. Membuat
gadis yang tengah berdiri menantangnya itu mati kutu. Menegang heran dengan
omongan yang baru saja ia dengar.
Nih orang beneran parah gangguan jiwanya.
Batin Arvi dalam hati. Tidak
menyangka kalau seniornya yang terkenal badung itu ternyata memang benar-benar ‘sinting’.
“Gak ada yang liat, jadi elo tenang aja~” Godanya lagi membuat
gadis itu jadi kembali tersadar, bahwa lagi-lagi para dedengkot Arvan
menguncinya berdua dengan mahluk berotak mesum ini.
Namun, siapa sangka kesempatan emas terbentang di hadapannya. Satu tangannya yang berniat
merebut buku di belakang kepala Arvan, mengendurkan pengawasan cowok itu terhadap tangan lain Arvi yang
bebas. Gadis itu pun melayangkan kelima jemarinya untuk mengambil sesuatu dari
wajah Arvan yang pernah terampas darinya.
“Eits! Mau apa lo?” Rupanya
tangan Arvan bukan hanya panjang, melainkan gesit sehingga bisa mencegah
perbuatan heroik tangan kanan Arvi
dalam usahanya merebut kembali kacamata yang masih terpakai indah menggantung
di hidung mancung cowok tersebut.
“Hampir saja, yah!?” Sambungnya lagi saat gadis yang tengah ia cengkeram pergelangan tangannya itu mencoba
melepaskan diri.
“Sakit... kak...” Rengek Arvi saat merasakan genggaman tangan
Arvan makin erat melingkar di pergelangan tangannya, setiap kali ia mencoba
melepaskan cengkraman tersebut.
“Yah~ kalo lo gak berontak, yah gak bakal sakit.” Jawab Arvan santai. Membuat gadis itu akhirnya pasrah saja
tangannya digenggam oleh si pentolan sekolah.
Membuat Arvan makin bersemangat menjahili gadis itu dengan
segudang rencana ‘nakal’-nya
yang lain.
Melihat wajah suntuk Arvi yang meleng ke arah lain agaknya membuat Arvan sedikit merasa teracuhkan.
“Gini aja deh, gue kasih elo option, buku sama kacamata elo, gue balikin asal elo mau jadi pacar gue, gimana?”
Senyum
mengembang terlukis di bibir tipis Arvan. Membuat
gadis itu langsung menjauhkan diri sejauh-jauhnya. Meski tahu bahwa pergelangan tangannya
masih tergenggam erat dalam cengkraman Arvan.
“Hooo~ jadi elo gak mau kacamata elo sama buku sketch elo ini balik dengan
selamat? Oke lah kalo gitu, ini semuanya buat gue aja.” Ucap
Arvan lagi mengembangkan senyum sinis terlicik yang pernah Arvi lihat.
“JANGAN!!”
Jerit Arvi
langsung menyerang wajah Arvan berusaha mengambil kacamatanya tersebut.
Namun, dengan cekatan Arvan kembali menangkis serangan
tersebut dengan melancarkan cengkeraman mautnya. Kini kedua pergelangan tangan Arvi sudah terkunci rapat dalam
genggamannya.
“Elo itu, suka banget gue sentuh, ya?!” goda Arvan menarik perlahan kedua lengan
gadis itu mendekat ke arahnya.
“Apaan sih, kak?!” Sontak wajah itu berubah menjadi merah padam.
Arvi menarik mundur tubuhnya yang dengan begitu mudah diseret oleh Arvan tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga. Seolah
keduanya tengah bermain tarik tambang.
“Kalau gue lepasin, entar lo bisa jatuh kebelakang lho, kan bahaya.” Ujar
Arvan, masih dengan santai menarik lengan
kecil Arvi makin mendekat.
Nih orang beneran gak bisa diem yah?!
Batinnya kesal, tidak bisa menahan derap laju jantung yang makin cepat, setiap kali cowo ganteng itu
menyentuhnya.
Dihelanya nafas panjang, ditatapnya cowo itu dalam-dalam
untuk beberapa detik kemudian, akhirnya Arvi berhasil menetralisir debaran
jantungnya yang kacau balau.
Arvan agak tertegun mendapati gadis itu sudah tidak lagi
melakukan perlawanan meski kembali ditariknya lengan itu hingga jarak tubuh mereka hanya ada 30 cm saja.
“Kok jadi diem gini? Gak seru nih. Apa jangan-jangan elo udah jatuh hati sama gue?” Sindir
Arvan menarik lengan Arvi
hingga membuat gadis itu harus membungkuk,bila tidak ingin pahanya menyentuh lutut Arvan yang tengah dengan angkuhnya
duduk di atas meja dengan sangat nyaman.
Jantung itu kembali berdegup tak menentu keluar dari irama
dan membuat peredaran darah dalam tubuhnya mengalir terlalu lancar menuju otak.
Alhasil, gadis itu jadi sulit berfikir jernih untuk masalah
pelecehan gender satu ini.
“Iyah... aku suka sama kak Avan, suka banget.” Balasnya lagi, kali ini menegakkan
tubuhnya. Lalu,dengan berani menyandarkan kan kedua
pahanya pada lutut Arvan.
Sontak cowok itu langsung kaget dan mengendurkan cengkramannya. Tanpa pikir panjang lagi Arvi kemudian menyentakkan kedua
tangannya hingga cengkraman itu kini telah terlepas dengan sempurna darinya.
Arvan terkejut mendapati gadis itu telah melarikan
diri darinya.
Namun, dengan segera Arvan mengambil benda rampasan yang sedari tadi
tidak mampu direbut kembali oleh pemiliknya. Dimana kini kedua precious
things milik Arvi otomatis menjadi sanderanya.
“Jadi, kacamata sama buku sketch ini buat gue, yah?!” Teriaknya
begitu melihat Arvi
sudah hampir mencapai pintu.
Tentu saja ucapan si pentolan sekolah itu membuat Arvi membeku di tempat seketika. Seringai
puas terlukis indah di bibirnya. Arvan mendekati gadis yang kini tengah
menatapnya tajam dan penuh benci. Arvan bersiul-siul santai, turun dari meja yang menjadi
singgahsana sementaranya dan kini berjalan mendekati gadis yang tengah berdiri
memblokir pintu yang tertutup di belakangnya.
“Sudah sudah~ elo lebih baik nyerah aja deh. Mulai besok elo jadi pacar gue kalo sketchbook ama kaca mata elo mau dibalikin lagi,”
“Lagipula… bukan kah sejak awal gue udah bilang sama
elo, kalau elo bakalan selalu berurusan sama gue.”
Disembunyikannya kedua benda berharga milik Arvi
di belakang punggungnya. Arvan membukukkan tubuhnya yang jakung—sedikit—untuk membisikkan ancaman sekaligus perintah tersebut pada telinga sensitive Arvi.
“Setelah itu… gue janji bakal ngebalikin kedua benda ini ke elo, tanpa syarat.” Ucapnya lagi tersenyum.
“Sampai kapan?” Tanya Arvi dengan nada tegas pada sesosok
mahluk berkedok manusia bertampang malaikat. Namun, berhati setan di hadapannya ini.
“Sampai gue bilang bosan.” Jawab Arvan santai sembari menepuk-nepuk puncak kepala Arvi
dengan lembut.
Perlakuan hangat—seperti yang barusan ia terima—dari
Arvan itu, memang selalu mampu membuat gadis manis dan polos seperti Arvi,
bimbang akan perasaannya. Bahkan, sampai saat ini pun Arvi tidak bisa mencari
alasan yang tepat untuk dapat membenci Arvan. Sebaliknya, semakin lama
perbuatan Arvan membuat hati kecil Arvi bergetar.
Walaupun begitu, Arvi selalu berusaha untuk tahu diri.
Menganggap bahwa tidak mungkin cowok se-extraordinary Arvan memiliki perasaan kepada cewek se-ordinary dirinya yang tidak memiliki kelebihan apa-apa.