Triple Trouble

Triple Trouble
10th Trouble



“Eng... kak...bisa nggak kita gak perlu gandengan tangan?” Tanya Arvi perlahan saat mereka tengah berjalan di lorong sekolah menuju kelas gadis itu.


Sepanjang jalan dari tempat dimana Arvan memarkirkan motornya sampai memasuki lorong sekolah, sama sekali tak dilepaskannya telapak tangan cewek yang sudah gugup seolah mau diberondong ke penjara sama Pak Polisi.


Meskipun begitu dalam hati, Arvi sebenarnya merasa senang-senang saja. Munafik namanya kalau dia tidak merasakan apa-apa ketika cowok seganteng Arvan menggandeng tangannya, seolah-olah mereka berdua sudah resmi pacaran. Cuman ngerinya itu tatapan menusuk bagai anak panah, peluru de-el-el yang ditembakkan oleh para sniper cewek dari segala arah.


“Oh... boleh.” Jawab Arvan singkat seraya melepaskan genggaman tangannya.


Senyum lega Arvi mendadak hilang seketika, saat Arvan memindahkan tangannya untuk malah memeluk pundak gadis itu. Membuat seluruh pasang mata yang pagi itu sudah datang—menyaksikan adegan mesra ala dorama jepang—terbelalak. Bahkan ada yang sampai melotot saking tidak terimanya.


“Kak...?” Tolehnya pada mahluk jakung di sebelahnya ini yang sebodo tuing sudah membuat para penghuni SMAPi berkasak-kusuk membicarakan mereka.


“Udah biarin aja mereka ngomong apa, itu namanya iri. Gue mah udah biasa digosipin.”


Sanggahnya pada gadis yang sudah melirik tajam padanya. Arvi mungkin sudah menganggap cowok—ganteng tapi sinting—di sebelahnya ini buta. Karena tidak bisa melihat betapa kelakuannya itu mengundang begitu banyak perhatian.


Atau memang cowok ini suka banget cari perhatian, mentang-mentang dirinya cakep gitu!? Sedangkan Arvan punya pemikiran sendiri. Dia malah ingin memamerkan hubungan mereka berdua pada seluruh pemilik mata di sekolahnya.


Dalam tanda kutip Dengan Sengaja. Dimaksudkan agar para penonton yang kemarin mengira cewek di sampingnya ini ada hubungan khusus dengan Kay itu, sama sekali WRONG! Alias SALAH!!


Bahwa cewek yang tengah berada dalam rengkuhan lengannya ini adalah miliknya SEORANG dan PRIBADI. Bahwa kejadian kemarin cuma semata permainan anak baru—yang tidak tau diri tersebut—yang memang cuma sengaja ingin memancing amarahnya.


Meskipun, Arvi sama sekali tidak tahu menahu soal ini. Cewek tomboy itu hanya menginginkan keamanannya dan kedua benda berharganya.


Sesampainya mereka di depan kelas. Arvi yang sudah ingin berlari ke dalam, dicegah oleh Arvan. Cowok bertangan panjang itu langsung menggenggam pergelangan tangan Arvi.


Ditariknya tangan gadis itu ke samping wajahnya.


Arvan membungkuk, membuat kedua pasang mata mereka berdua kini sudah beradu dalam jarak yang


cukup dekat. Hingga Arvan mampu melihat bagaimana kedua pipi gadis manis itu sudah bersemu merah.


“Dengerin gue baik-baik yah, Vie’! Mungkin di kelas, Kay bisa terus sama-sama elo. Tapi elo harus inget, kalau elo tetap milik gue.”


Tegasnya lagi dengan nada bicara yang lumayan bisa terdengar oleh siapa saja di sekitar mereka.


“Iya-iya kak, sekarang boleh gak aku masuk ke kelas?” Tanya cewek yang wajahnya sudah merona semerah tomat itu.


“Sebelum gue lepasin elo... ada yang mau gue tanyain.”


Arvi terdiam, nafasnya memburu antara takut mendengarkan pertanyaan Arvan dan gugup. Karena keberadaan mereka berdua sekali lagi menjadi tontonan oleh para penduduk di lorong sekolah.


Seolah tengah melakukan syuting drama, Arvi semakin grogi akibat terserang demam panggung. Dirinya yang tidak menyukai keramaian, kini malah jadi pusat perhatian.


“Kemarin minggu elo kemana? Telfon gue kenapa gak lo jawab? Terus SMS gue kenapa kayak bukan elo yang ngebales?” Tanya Arvan mengintrogasi.Tidak peduli dengan situasi di sekeliling mereka saat ini.


Sedangkan Arvi tidak tau harus menjawabnya bagaimana?! Tentu saja karena ia takut dengan reaksi Arvan bila ia mengatakan bahwa minggu kemarin ia pergi berdua dengan Kay, yang mengatakan bahwa


itu waktunya kencan, meski bo’ongan.


Dan baru kemarin sepulang dari jalan-jalan Kay mengembalikan handphone-nya.


“Itu... aku… lagi keluar sama teman kak.” Jawabnya yang bagi Arvi itu gak bohong.


“Hoo... masa? Sama temen cowok? Atau temen yang mana lagi nih?!” Sindir Arvan yang sepertinya sudah tau.


Belum sempat Arvi akan mengatakan sesuatu untuk membela dirinya, dari fitnahan yang bisa dibilang cukup benar itu. “Bisa nggak elo jauh-jauh dari cewek gue.” Satu suara muncul mengaggetkan mereka berdua.


Merasa kesal karena waktu berduaan dengan gadis incarannya terganggu, membuat Arvan menghembuskan nafas panjang. Ditegakkannya tubuh jakung itu, Arvan kini menoleh dengan wajah kaku, menatap Kay dengan tatapan membunuh.


Melihat situasi yang mulai intense tersebut, membuat Arvi ingin sekali melarikan diri sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tetapi, belum apa-apa dirinya sudah dikejutkan oleh tindakan Arvan.


Dimana ketika satu tangan Arvan sudah bertengger di punggungnya, menariknya kedalam rengkuhan kedua


lengan cowok itu, untuk didekap dengan erat. Belum sempat Arvi menyatakan protes dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Arvan berseru dengan seringai srigalanya.


“Elo boleh ngaku-ngaku jadi cowoknya Arvi. Tapi nih cewektetap milik gue!” Ucap Arvan


membuat para siswa yang berlalu-lalang di sekitar koridor atau bahkan—yang sudah—berada di dalam kelas berhambur dan berkumpul di sekeliling tiga insan manusia tersebut.


“Gue gak nyangka, cowok macam elo ternyata suka ngerebut milikorang lain!” Ejek Kay dengan sinis,membuat Arvan menatapnya dengan dagu yang sedikit terangkat seolah menantang.


“Hoo... jadi Avie’ punya elo? Kalau gitu, coba buktiin sama gue gih,” dilepaskannya pelukan itu  dan dibiarkannya Arvi melepaskan diri. Meskipun pergelangan tangannya masih tergenggam erat oleh Arvan.


“Cium dia di sini sekarang juga!” Tantang Arvan membuat seluruh telinga yang mendengarnya, membelalakkan mata termasuk Arvi sendiri.


“Kalau gue cium dia di depan elo sekarang, apa elo bakalan ngelepasin Arvi?” Tanya Kay yang malah mendapat tatapan ketidak-percayaan,oleh cewek yang tengah dijadikan bahan rebutan itu.


“Tergantung... ciuman elo meyakinkan apa enggak!?” Tantang Arvan lagi yang langsung mebuat Arvi kesal.


“Ini kalian apa-apaan sih,” bentak Arvi, memandang kedua cowok itu saling bergantian. “Emang kalian pikir aku ini bisu, gak bisa protes gitu?” Ditatapnya manik mata Arvan dalam-dalam.


“Denger yah kak. Kak Arvan emang udah pegang kelemahan aku, tapi bukan berarti aku bakal diem aja kalau kak Arvan seenaknya dan elo Kay...” kali ini ditatapnya Kay—yang sudah akan melangkah mendekatinya—dengan wajah yang sudah memerah dan kaku.


“Jangan maju, mundur!!”


Sebenarnya, saat itu juga Arvi sempat hampir kelepasan bicara kalau bukan karena ia sadar akan posisinya sekarang.


“...gue mungkin pacar elo, tapi kalau elo berani macam-macam, pakai acara nurutin kak Arvan buat nyium-nyium gue segala...” katanya menggantung,meski amarahnya terdengar meyakinkan.


“…Gue gunting bibir lo kayak Kuchisake Onna**!” Sambungnya lagi, membuat berpasang-pasang


mata melongo, heran pada setiap kata yang telah terucap dari bibir gadis yang sebenarnya terlihat murka itu.


Terkecuali Arvan, yang langsung meledakkan tawanya. Sedangkan Kay hanya bisa mengumpat senyum.


 


**Kuchisake Onna: mouth-slited ghost from japan


Arvi hanya bisa bengong, mendapati ancaman dan amarahnya malah ditertawakan, oleh si setan berwajah malaikat seperti Arvan. Gadis itu makin malu bercampur kesal, saat melihat bagaimana Kay memalingkan wajahnya sambil menutupi bibirnya, seolah menahan tawa.


sebelum upacara pagi dimulai. Namun, bukan Arvan namanya jika cowok itu membiarkan saja mangsanya pergi tanpa memberikan spot jantung susulan.


“Duh... elo ini ngegemesin banget sih!” Dengan cepat Arvan menarik kembali cewek tomboy itu ke pelukannya.


“See you later, Bunny!!” Pamitnya seketika mencium sudut bibir Arvi yang langsung menarik diri dengan panik.


Melihat expresi itu Arvan kembali dibuatnya tertawa. Setelah merasa cukup puas, Arvan pun beranjak pergi melepaskan Arvi, yang tengah memegangi sudut bibirnya. Wajahnya memerah padam dengan kepala yang sudah seperti mengeluarkan asap.


Sedangkan Kay, masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Saat kedua cowok jakung itu


saling berhadapan dan memberikan tatapan penuh dendam. Arvan kembali melangkah


pergi setelah memberikan satu tepukan di bahu Kay.


Kay membalasnya dengan lirikan tajam. Cowok ganteng itu berbalik memperhatikan kepergian Arvan.


Arvi yang melihat gelagat keduanya jadi semakin bertanya-tanya. Apakah ada hubungan antara mereka


berdua? Karena entah mengapa Arvi merasa, hal tersebut bukan gegara dirinya


yang tiba-tiba jadi rebutan para primadoni.


***


“Jangan cari gue.” Tepuknya sekali pada bahu Kay, yang gak sempat menanyakan kemana gadis


itu akan pergi.


Karena begitu bel istirahat pertama berbunyi, belum juga ada semenit setelah sang guru meninggalkan kelas. Gadis itu langsung beranjak pergi dengan membawa tas ranselnya, seolah gadis itu akan kabur dari sekolah.


Bukan cuma Kay, hampir seluruh pemilik mata yang menyaksikan Arvi memanjat jendela, cuma bisa


melongo dengan ketomboyan cewek—yang gak ada duanya—itu. Unbelievable. Batin Kay dalam hati menahan tawa. Ia tidak pernah menyangka kalau cewek yang tengah didekatinya itu benar-benar berbeda dari cewek kebanyakan.


Tanpa sepengetahuannya, Metha yang berpendirian teguh kembali mencoba menarik perhatian Kay,yang sudah terlihat sendiri di bangkunya.


“Mau istirahat, yah? Bareng ke kantin, yuk!” Ajaknya lemah lembut, bahasa tubuhnya yang gemulai ketika berjalan mendekati Kay, membuat cowok itumerasa eneg.


“Fit wait!” Diikutinya Fitra yang sudah akan cabut bersama temannya yang lain, tanpa menghiraukan


Metha yang sudah cemberut kesal karena merasa dicuekin.


Di koridor,


“Elo kenapa sih gak mau deket-deket sama Metha? Dia kan cantik. Kalau boleh jujur malah  lebih mending Metha ketimbang Arvi, kan?” Tanya Bagas,saat gerombolan mereka berjalan menuju ke kentin.


“Kenapa gak lo aja, Gas?” Tanya Kay balik pada temannya,yang sudah mulai terlihat kikuk.


“Sudah jangan ditanya Kay. Nih cowok udah pernah ditolak bahkan sebelum nembak, sama Metha.


Gegara katanya nih, levelnya tuh cewek harus yang kayak Kak Arvan... nah lho.” Ungkap Delon yang langsung mendapat bogeman** maut dari sang tokoh utama gosip. Kay hanya mengendus lucu,melihat kelakuan Bagas dan Delon yang sudah terlihat saling bergulat dan memiting.


“Apa sih yang elo suka dari Si Apin?” Kali ini Fitra—yang masih suka memplesetkan nama panggilan teman


ceweknya itu—ganti bertanya.


**Bogeman: Tonjokan


“Jujur lho ya, dia itu kan gak ada cantik-cantiknya, gak ada lembut-lembutnya. Elo udah kenal sama dua sohib-nya itu? Bah si Apin mah kalah.” Ucap Setya, kali ini tidak peduli bahwa perkataannya barusan, sudah termasuk tindak pelecehan verbal.


Kay hanya melirik sekilas lalu kembali menerawang jauh kedepan. “Dia mungkin gak cantik maupun feminim kaya dua sohib-nya. Jujur, gue suka ketomboyannya yang gak dibuat-buat. Karakternya alami, mengalir dan spontan. Gue suka tingkahnya yang gak bisa diduga. Gue gak peduli mau dia gak sebanding atau selevel sama siapa. Tapi... bukannya Kak Arvan sendiri yang jadi standart level-nya Metha, malah lebih suka sama Avie’ ketimbang cewek macam dia?” Terang Kay dibarengi dengan senyum tipis hampir membentuk seringai.


***


“Rasanya gue kayak udah gak pernah ketemu sama elo ratusan taun deh!” Ucap Memey yang saking gemasnya langsung memeluk sahabatnya itu erat.


“Gue kangen kalian... sumpah, tuh dua orang apa emang exist-nya cuma buat ngeganggu ketenangan hidup gue aja,ya?”


Gerutunya kesal pada kedua sahabatnya yang cuma bisa melemparkan senyum lucu.


Merasa kasihan juga, pada cewek yang sudah kabur ke tempat persembunyian mereka ini, dengan membawa


tas ransel lengkap beserta isi di dalamnya. Alasannya karena jam pelajaran kedua setelah jam istirahat ini adalah tata usaha, menjahit.


Jadi dari pada balik ke kelas,yang udah gak bisa menjadi tempat aman sejak kemunculan Kay, ia memutuskan untuk check out saja.


“Eh beneran gila, di kelas gue, elo jadi bahan omongan tau, gak!? Gue sampai ikut-ikutan terkenal gegara jadi narasumber.” Ucap Yaya’ yang menertawai kejadian di kelasnya.


“He’eh... terutama ceweknya tuh. Ada yang sok cuek, ada yang cuma sekedar tanya, ada juga yang gak terima, sampai-sampai ngehina elo. Nah yang begini ini yang pengen gue cakar.” Terang Memey membuat kedua sahabatnya tersenyum gemas.


“Eh...ngomong-ngomong elo kog bisa kabur dengan selamat?” Tanya Yaya’ penasaran juga,saat mendapati sahabatnya itu tengah tidak bersama dua cowok idola.


“Soalnya gue gak lewat pintu jadi aman,” jawabnya santai yang kemudian mendapat balasan “ohh”


oleh kedua sahabatnya tanda mengerti.


“Nah… elo sendiri, kog bisa kabur dari pengawasannya Kak Haru sama Kak Koko?” Tanya Arvi balik.


“Tau tuh... pada kagak ada, padahal gue oke-oke aja diawasin sama cowok cool macam Kak Haru, eh malah gue ketiban apes dikuntit sama Kak Koko.” Omelnya yang malah mendapat jitakan lembut oleh Yaya’.


“Elo sih, makanya jangan kecentilan. Sampai-sampai Kak Haru pun jadi sasaran keusilan elo.”


Keluhnya meski agak menertawakan keisengan sahabat kurusnya ini, yang memang hobby menggoda


orang. Tak perduli mau itu guru, satpam, senior, pak dan bu kantin bahkan cleaning service, sekalipun. Motto-nya adalah siapapun bisa jadi teman.


“Elo suka godain cowok. Tapi begitu berhadapan sama kak Koko yang punya hobi kayak elo. Elonya malah takut?! Gimana sih!?”


Olok Arvi, menertawakan bagaimana kemampuan sahabat centilnya itu, yang sebenarnya hamper se-level dengan Koko, ternyata memiliki kelemahan juga. Seolah kedua insan manusia tersebut adalah magnet dengan kutub yang sama.