
“Sorry... gue cuma lagi emosi sama kak Arvan. Dia cuma godain gue aja kog. Gak lebih...” balasnya setelah tersadar, begitu mendengar kelembutan suara Kay.
Sadar bahwa dirinya tengah diawasi, oleh FBI dadakan macam Metha yang sudah pasang telinga rubah. Sadar bahwa dirinya saat ini tengah memainkan peran sebagai kekasih Kay. Agar Metha and the gank juga yang lain mengerti, bahwa kedua mahluk Tuhan itu saling memiliki meski malah dinilai sebagai cinta segitiga. Karena bagaimanapun mereka tidak mungkin bisa mengesampingkan Arvan.
“Godain elo kayak gimana?” Pertanyaan yang makin menyudutkan dirinya itu membuat Arvi makin bertanya-tanya,soal sejauh mana sebenarnya kadar bohongan dalam hubungan mereka.
“Dia cuma nyuruh gue bilang kalau gue jatuh cinta sama dia. Suruh bilang gue gak cinta sama elo,cuma cinta sama dia... juga disuruh bilang kalau gue cinta mati sama dia.” Ucap Arvi agak salah tingkah sendiri. Mengingat
bagaimana ia tidak bisa berkutik melawan Arvan.
30 menit sebelumnya, di ruang siaran sekolah.
“Gue pengen elo baca ini buat gue.” Arvan menyerahkan secarik kertas pada Arvi yang sudah duduk di bangku siaran, dengan keterpaksaan.
“…enggak ah, apaan ini.” Tolak Arvi setelah gadis tomboy itu membaca apa isi kertas yang diterimanya, kedua pipinya mulai bersemu merah.
“Udaaah~ elo baca aja~ atau elo pengen gue cium sekarang juga di sini? Yang mana aja sih gue gak keberatan.” Arvan tersenyum semakin sinis mendapati expresi Arvi sudah seperti udang rebus.
Kembali ke saat ini. Dimana Kay masih menghujani Arvi dengan tatapan yang sedikit terlihat kesal.
“Emang elo gak bisa nolak gitu?” Tanya Kay lagi terdengar agak keki.
“Cuma ngomong aja kan gak ada ruginya. Dosa juga gak. Lagian dia cuma...”
Belum sempat Arvi menyelesaikan kata-katanya suara microphone terdengar menyala. “Yo! Hari ini gue Arvan Nandani baru aja mendapat pernyataan cinta yang hebat, dari seorang cewek yang diklaim sebagai milik orang lain. Padahal dia ini sebenarnya cuma cinta sama gue. Dengerin aja, biar elo semua yang punya telinga bisa percaya!”
Seketika jantung Arvi berdetak lebih keras. Perasaannya bercampur aduk jadi satu. Ia tidak menyangka bahwa
Arvan sudah merencanakan semua ini dari awal.
Dirinya benar-benar tidak sadar kalau semua ucapannya sudah direkam. Padahal, dia yakin Arvan tidak memperlihatkan gelagat mencurigakan, selama dirinya membaca dialog dalam kertas yang ia terima dari Arvan.
“Gue Arvi dari kelas sepuluh tujuh. Jujur… sebenarnya gue jatuh cinta sama kak Arvan dibandingkan dengan Kayana, teman sekelas gue. Dan sebenarnya gue lebih cintaaa banget sama kak Arvan...” Suara Arvi yang terdengar begitu meyakinkan, membuat si pemilik suara melongo, hampir menjatuhkan rahangnya.
Seketika seluruh pemilik telinga di kelasnya yang sudah mendengar hal tersebut, berbalik menghujani gadis yang bernama Arvi itu, dengan tatapan penuh tanda tanya dan keingintahuan. Dalam benak mereka ada satu pertanyaan lain lagi, benarkah suara seimut anak SD itu, berasal dari cewek tomboy yang unik di kelas mereka ini?
“Did you hear that, kid? Arvi Nandani is mine!”
Pundak gadis itu melorot, lemas. Baru saja menyadari bahwa tindakan yang ia sangka hanya untuk menuruti kenakalan seorang anak kecil, merupakan suatu kebodohan yang luar biasa salah.
Setelah siaran yang di on air-kan secara langsung oleh Arvan itu berakhir. Kembali terjadi gunjang-ganjing di sana-sini, gosip tersebar di seluruh penjuru sekolah, kasak kusuk di belakang Arvi kembali menghantui.
***
“Lo gak pulang?” Tanya Kay yang melihat gadis itu masih meringkuk di bangkunya
“Bentar lagi…” jawab gadis itu lemah.
Di luar kelasnya bisa terdengar bagaimana para siswa-siswi itu tengah membicarakannya. Bahkan sampai ada yang sengaja mengintip ke dalam kelasnya, sekedar ingin tahu bagaimana sih sosok cewek yang lagi diperebutkan
sama Arvan dan Kay? Cowok idola yang tengah jadi sorotan para kaum Hawa di sekolah mereka.
“Biasa aja tuh,”
“Yakin beneran itu cewek yang tadi suaranya kayak anak kecil?”
“Gak cantik-cantik amat kog,”
“Manis ya… suaranya imut juga.”
Begitulah sebagian besar pendapat para komentator. “Masih cantikan gue. Cewek kayak gitu kog jadi rebutan.” Bahkan ada juga yang berkomentar seperti ini, membuat Arvi hanya bisa menghela nafas berat, sambil
menutupi kedua telinganya erat.
“Masih kepikiran soal siaran kak Arvan?” Tanya Kay yang masih melihat gadis itu tak bergeming dari tempatnya.
“Gue gak kenapa-napa kog, elo pulang duluan aja.” Bujuknya pada cowok itu dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
“Gue maunya pulang sama elo. Apa elo mau protes? Gue kan masih berstatus pacar elo. Bodo amats ama
apa yang udah Arvan bilang!”
Terangnya membuat gadis itu tak habis pikir. Bagaimana bisa cowok semenarik Kay bisa membelanya seperti ini, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih sungguhan saja.
Arvi lupa kalau mereka tengah berada di dalam kelas. Otomatis saja Kay harus pasang perhatian dan segala macamnya, untuk memberikan penilaian bahwa dirinya adalah pacar yang baik,di mata para siswa-siswi yang tengah memperhatikan mereka.
Dalam keterdiaman,gadis itu menatap lurus dan dalam pada cowok yang masih duduk dengan manis di sebelahnya itu. Kay juga gak kalah diam seribu bahasa, mengamati cara gadis itu memandanginya, hingga satu suara muncul membuyarkan lamunan keduanya.
“Bisa gak elo berdua gak saling pandang kaya gitu?! Bikin keki tau gak?!” Ucap Arvan dengan santai meski bernada tajam.
“Sudah yah Kay, gue pulang dulu...”
Begitu melihat kedatangan Arvan, cewek itu memutuskan untuk berdiri dan segera beranjak, ke tempat cowok yang sudah menunggunya itu.
Namun, Kay masih tak mau beranjak dari kursi di sebelahnya. Sengaja ia sandarkan kedua lengannya di atas meja. Mencondongkan tubuhnya untuk memblokir jalan Arvi keluar. Arvi tertegun dengan sikap Kay yang seolah tidak ingin membiarannya pergi.
“Jadi elo sengaja pulang telat buat nungguin dia?” Tanya Kay yang kini menatap tajam ke arah Arvan,yang masih dengan santai berdiri di depan meja guru.
“Sudah lah, Kay. Kita udah cukup sering jadi tontonan orang. Gue mau pulang sekarang!!”
Tegas gadis itu lagi, saat menyadari bahwa di luar sana masih banyak siswa-siswi yang berkerumun. Sengaja tidak langsung pulang, karena mereka semua tau bahwa akan ada kejadian menarik,jika sudah melihat Arvan turun ke
“Elo gak akan pulang kalau gak sama gue!” Ucap Kay kali ini mendapat kernyitan di dahi oleh Arvan yang
mendengarnya.
“Jangan bikin gue manjat jendela di depan mereka semua ya, Kay!”
Satu kalimat ini membuat Arvan dan Kay tidak tahan, untuk tidak melihat expresi serius yang terpancar di wajah gadis itu. “Minggir, gak!! Atau gue beneran manjat nih!!!” Ucapnya lagi, seolah tengah mengancam dengan kedua
tangan sudah berpegangan pada Frame jendela.
Suara tawa Arvan meledak, didekatinya cewek yang sudah berniat akan berdiri di atas tempat duduknya itu.
“Sini sayang. Manjat bangku aja, jangan ke jendela. Nangkap kamunya nanti itu yang susah. Aku
lagi malas main setan-setanan.” Bujuk Arvan yang membuat Arvi malah bergidik ngeri,dari cara bicaranya yang sudah pakai aku-kamu gak seperti biasanya itu.
“Kay, mendingan lo minggir sebentar deh. Gue mau keluar baik-baik gak mau manjat-manjat. Reputasi gue udah buruk di kelas, udah gak mau tersebar sampai se antero sekolah juga.” Terangnya masih tidak bisa membuat Kay
bangkit dari tempat ia duduk.
Cowok itu masih bertopang dagu, menatap tajam ke sosok jakung Arvan yang hanya berjarak 100cm darinya. Arvan yang hanya memasang wajah licik dengan senyum Srigalanya. Membuat Kay teringat akan bagaimana ia
harus berakhir,dengan memutuskan untuk masuk ke sekolah yang sama sekali bukan menjadi pilihanya ini,
dan meninggalkan sekolahnya yang lama.
“Kalau elo emang punya dendam pribadi sama kak Arvan, entar aja main tonjok-tonjokannya, jangan pas ada gue. Gue mau pulang dengan damai.”
Kembali satu kalimat itu membuat Arvan tertawa hebat. Kay yang sedari tadi mencoba terlihat cool jadi ikut terpancing juga. Dihelanya nafas panjang sebelum akhirnya ia berdiri dan menjauh dari bangkunya, memberi jalan untuk gadis itu keluar.
Belum sempat gadis itu akan beranjak pergi mendekati Arvan, Kay sudah menarik pergelangan tangan Arvi, lalu menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Menyandarkan wajah yang sudah memerah seperti tomat itu ke dadanya yang bidang.
Membuat Arvan terkejut dengan ekspresinya yang mulai berang. Sedangkan, Arvi gak kalah terkejutnya dengan
para penonton di luar kelas. Bahkan ada yang langsung teriak.
“LEPASIN CEWEK GUE BR*NGS*K!!” Bentak Arvan yang sudah akan berlari menerjang Kay.
Di peluknya gadis itu makin erat, kedua lengan yang panjang dan kuat itu, telah mengunci di balik punggung dan pinggang Arvi—yang sudah hampir lemas—membuat si tomboy itu, tak tahan untuk tidak merasa berdebar-debar.
Tubuh atletis Kay yang lumayan berotot, membuat gadis itu 100% speechless saking gugupnya. Ditambah para cewek yang masih berkerumun di depan kelas Arvi—semakin histeris—meneriakan ke-tidak terima-an, perlakuan Kay yang dinilai terlalu W.O.W B.G.T itu.
“LET HER GO NOW YOU F**KING *SSH*L*!!!”
Satu bentakan itu rupanya cukup mampu membuat Arvi kembali sadar. Bukan waktunya untuk berdebar-debar. Arvan sudah mulai naik pitam, suaranya yang menggelegar itu,malah makin membuat penonton di luar sana bertambah jumlahnya.
“Kay, lepasin gue...” pinta gadis itu lirih, didorongnya dada bidang itu kuat-kuat. Meskipun tubuh itu sama sekali tak
bergeming.
“Gue bakal lepasin kalau elo mau pulang sama gue.” Jawab Kay menempelkan bibirnya ke telinga Arvi yang sensitif, membuat wajah gadis itu makin merona merah, seperti strawberi yang sudah kematangan.
Melihat hal tersebut, Arvan makin tidak bisa mengendalikan amarah atas perasaan cemburunya. ditendangnya meja di sebelahnya itu hingga posisinya miring dan menimbulkan bunyi GRADAK!!! yang lumayan membuat para cewek ngeri.
Arvi bingung, tidak tau musti bagaimana. Di belakangnya, Arvan tengah memblokir jalan mereka, dengan wajah yang sudah seperti mesin pembunuh. Sedangkan di hadapannya, Kay masih tidak mau melepaskan dirinya, bahkan untuk sedetiksaja.
Akhirnya, terbesit ide konyol yang membuat seluruh mata kembali terbelalak saking terkejutnya, saat melihat gadis yang tengah terdesak—dalam posisi yang menurut para cewek enak—itu menitikkan airmata. Tak terkecuali Kay dan Arvan yang dibuatnya membatu, mendengar isak tangis gadis itu.
“... Udah… cukup... lepasin gue… gue mau pulang... please... gue cuma pengen pulang...” pintanya saat Kay yang tengah tertegun itu, akhirnyatanpa sengaja melepaskan pelukannya.
Kedua cowok itu mengira, bahwa suara isak gadis itu hanya dibuat-buat belaka. Tetapi begitu mereka melihat, bagaimana mata sayu itu benar-benar nanar dan berurai air mata, membuat semua yang melihatnya tak kalah
terkejut dengan kedua mahluk Adam tersebut.
Arvan yang baru pertama kalinya melihat Arvi menangis, begitu panik hingga melupakan amarahnya dan menghampiri gadis itu. “Gue antar, yah?” Bujuk Arvan membelai lembut rambut Arvi yang dicepol berantakan.
“Gak mau... aku mau pulang...” rengeknya lagi menggelengkan kepalanya.
“Kalau gitu... gue antar elo pulang, yah?” Kali ini giliran Kaymemberikan perhatian.
Kembali Arvan dibuat geram saat mendengar Kay mengatakan hal tersebut. Kesal, Arvan langsung meraih tubuh Arvi, setelah ia mendorong tubuh jakung Kay dengan kasar—hingga hampir terjungkal ke belakang—yang malah membuat air mata Arvimengalir makin deras.
“Gak mau! Aku gak mau pulang sama kalian berdua!! Aku maunya pulang sama Yaya’ sama Memey!!!” Bentaknya. Kedua tangan mungilnya mengatup menutupi wajahnya, mengelap kedua matanya yang basah.
“Avie!!” Panggil suara yang begitu familiar dari sahabatnya. Yang merasa terpanggil—Arvi sendiri—akhirnya punya kekuatan untuk melepaskan diri. Mendorong tubuh jakung para primadoni tersebut, untuk menghampiri kedua sahabatnya.
Di depan pintu sana, para penonton—yang juga masih terpaku bengong—tersebut memberikan jalan pada kedua cewek manis, yang mencoba menerobos masuk kedalam kerumunan. Yaya’ dan Memey pun langsungmemeluk Arvi—yang tengah terisak—erat lalu mengiringnya pergi.
Di dalam kelas, Kay dan Arvan masih mematung. Tidak tau apa yang sebenarnya tengah terjadi. Mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami. Ini pertama kalinya Arvan melihat Arvi menangis.
Padahal selama ini ia mengenal gadis itu begitu tegar, bahkan meski di saat paling tersudut pun gadis itu tak pernah kehilangan nyali. Ia tidak pernah akan menduga, bahwa apa yang sudah ia lakukan kali ini,malah membuat gadis mungil itu berlinang airmata. Padahal, ia yakin tidak melakukan hal yang keterlaluan hingga menjurus kepelecehan.
Sementara Kay, memiliki pemikiran sendiri. Tidak pernah ia akan sangka bahwa perlakuannya, malah membuat gadis tomboy itu menangis. Padahal di pikirannya ia berasumsi, bahwa banyak cewek yang akan senang diperlakukan seperti itu, diperebutkan, dipeluk, dimanja dan jadi pusat perhatian.
Ia merasa tidak ada satu pun tindakannya, yang melanggar norma hukum atau tindak asusila. Ia sendiri bahkan mendengar bagaimana para cewek di luaran sana berteriak-teriak,ingin diperlakukan sama seperti itu juga.
Kay dan Arvan saling pandang, tidak menyadari bahwa gadis yang tengah kabur bersama kedua sahabatnya itu tengah tertawa bahagia. Ide konyol—yang lumayan brilliant—itu berhasil menipu kedua cowok tersebut.