
“Elo dimana sekarang?” Tanya satu suara yang terdengar seolah tengah menanyai keberadaan buronan.
“Lagi nyari buku.” Kata Arvi agak malas menjawab pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dari cowok yang berbeda pula. Kay dan Arvan, kedua orang itu nggetu alias serius sekali, saat menelepon cewek yang—dilihat dari sudut pandang manapun—rasanya malas sekali untuk berurusan dengan mereka berdua.
Setelah Arvan mengintrogasinya, kini giliran Kay yang menanyainya ini itu. Padahal harapannya untuk sehari ini saja, dirinya ingin meliburkan diri dari kedua cowok tersebut, sepertinya tidak ditanggapi oleh Tuhan.
Sebelumnya, kedua cowok itu memang sudah bilang bahwa mereka akan mengajak Arvi kencan. Meskipun, sudah menolak dengan alasan ada janji dengan kedua sahabatnya. Kedua mahluk Adam itu masih bersih keras ingin
bersama Arvi, bahkan gak keberatan kalaupun kedua sahabatnya ikut nimbrung bersama mereka berdua.
Alhasil meskipun harus cekcok dengan mamanya, Arvi berangkat pergi ke rumah Memey sahabatnya untuk menginap sore harinya setelah pulang sekolah.Memang sih keduanya sekarang ini tidak datang untuk mengganggunya, cuma menelepon dan mengiriminya bejibun SMS. Menanyainya pergi dari jam berapa? Akan pulang jam berapa? Perginya sama siapa aja?
Duuuh… padahal pacaran sama mereka secara normal aja belum pernah. Apa gini yah rasanya punya suami dua? Guraunya dalam hati agak terkikih juga. Meskipun begitu, bukan berarti Arvi melonggarkan ke-khawatirannya. Jadilah ia kembali membohongi kedua orang itu tentang dimana tempat ia hunting buku tersebut.
“Ya ampun Vieee’ mereka itu benar-benar elo bikin kesengsem** yah sampai segitu getol**-nya ngurusin elo?” Sindir Yaya’ menggoda sahabatnya itu.“Mereka itu buta!” Oloknya\,menutupi kenyataan bahwa ia lumayan cukup bangga akan hal itu.
**kesengsem: Jatuh hati
**Getol: sangat serius, bersungguh-sungguh
“Yeee~ kalau gue jadi elo mah gue bakal jingkrak-jingkrak kegirangan.” Sungut Memey kali ini.
“Mangkanya Tuhan gak ngasih ijin mereka fall in love sama elo. Bikin sawan.” Olok Yaya’ sok cuek mendapati Memey cemberut gak terima.
Ketiga sahabat karib itu kini tengah asyik menikmati kebersamaan mereka di pasar toko buku bekas. Tempat
strategis untuk hunting yang tentu saja gak perlu memakan duit banyak. Lokasi ini adalah tempat terfavorit mereka
bertiga sejak kelas dua SMP dan sejak kecanduan racun Japan culture dari Arvi. Duo sahabat Yaya’ dan Memey jadi suka menemani sang kolektor untuk berburu entah itu novel maupun manga.
“Eh... itu bukannya kak Arvan?”
Pertanyaan Memey itu langsung membuat Yaya’ dan Arvi menoleh, ke tempat dia menunjuk seorang cowok jakung yang tengah asyik memilih buku, di salah satu kios di seberang sana.
Ketiganya langsung kabur masuk ke dalam gang pemisah antar kios, tepat di sebelah tempat mereka tengah menikmati baca buku gratis. Tak menghiraukan bahwa kelakuan konyol mereka mendapat perhatian dari para pemilik kios.
“Yakin lo itu kak Arvan?” Tanya Arvi yang masih merasa kurang jelas,meski kacamatanya sudah bertengger
manis di hidungnya.
“Ihh elo udah pakai kacamata gitu masih rabun!” Ejek Yaya’. Mengacungi jempol pada penglihatan Memey yang berubah tajam kalau berurusan dengan cowok Ke-Cap.
“Eh... tapi rasanya ada yang beda, ya? Atau gue yang salah liat?” Tanya Yaya’ pada Arviyang berdiri di depannya.
“Iyah... kok auranya lebih alim-alim gimana gitu...” balas Memey ngelantur.
“Sejak kapan elo bisa baca aura orang?” Tanya Arvi dan Yaya’ hampir berbarengan.
“Emang elo gak liat apa? Dari penampilannya aja dia udah beda loh. Itu... pakai sweater hitam, kemeja lengan
panjang warna putih, lenganya dipelintir sedikit ke atas, pakai kacamata pula. Emang kalau di luar sekolah kak Arvan penampilannya kayak gitu?!” Tanya Memey pada Arvi yang berdiri di depannya.
Yang ditanya tidak langsung menjawab. “Eh, elo mau kemana?” Tanya Yaya’ begitu terkejut, waktu melihat sahabatnya itu tiba-tiba meninggalkan tempat persembunyian dan malah mendekati ‘sosok’ yang seharusnya mereka ingin hindari itu.
“Uhm… maaf, kak Arvin bukan, ya?” Tanya gadis itu ragu agak menebak-nebak. Meskipun agak grogi dan malu juga kalau misalnya dia salah sapa.
Cowok itu kaget, begitu ia menoleh saat mendengar ada seseorang memanggilnya, seorang cewek pula. “yah?” Jawabnya agak heran mendapati bahwa yang memanggilnya adalah orang asing.
“Benaran kak Arvin, ya?” Tanya Arvi lagi memastikan dengan senyum yang agak sedikit mengembang.
“Iyah... kamu siapa,ya?”
Arvi sedikit tertegun, sebenarnya sejak awal menyapa Arvin dirinya sudah merasa heran, bagaimana mungkin si cowok Casper ini tidak mengenalinya. Padahal, dia sendiri yang membenarkan pertanyaan seputar namanya.
Sedangkan, Cowok itu masih tidak mengerti, bagaimana atau dari mana cewek imut pendek ini mengetahui namanya. Bahkan ia sama sekali tidak pernah merasa mengenalnya. Bahkan Arvin merasa tidak pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, sama sekali.
Tapi kemudian sejurus ingatan melintas di kepala Arvi, kedua muda mudi itu memang belum pernah bertatap muka, selama mereka mengobrol di sekolah. Jadi pikirnya, wajar saja kalau si cowok Casper tidak mengenalinya.
“Ini aku kak! Arvi... Arvi Nandani, kakak ingat?” Jawaban yang baru saja didengarnya cukup membuat cowok yang
mirip dengan Arvan itu sedikit terbelalak.
“Kita sering ngobrol di tangga gudang belakang sekolah.” Jelas Arvi lagi.
Cowok semirip Arvan itu masih terlihat berusaha memproses perkataan Arvi. Sedangkan Arvi sendiri masih terpana, akan bagaimana miripnya sosok yang tengah berdiri mematung di hadapannya ini, dengan sang pentolan sekolah Arvan. Padahal sebelumnya ia sudah berspekulasi bahwa Arvin adalah kembaran Arvan. Tapi, gak ada cukup bukti yang menguatkan perkiraannya.
Apalagi, dengan pernyataan yang waktu itu Arvi ingat dengan jelas. Bagaimana si cowok Casper mengatakan bahwa kemiripan nama mereka, hanya sekedar kebetulan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan si pentolan
sekolah, Arvan.
Namun, sekarang apa yang telah ia lihat benar-benar sebuah kejutan. Arvin dan Arvan terlihat seperti pinang dibelah dua. Apakah mereka juga sedarah? Saudara kembar? Cewek tomboy itu benar-benar penasaran dan sesegera mungkin ingin memastikannya secara langsung pada sang pemilik nama.
“Kak Arvin ini beneran deh, gitu katanya gak ada hubungannya sama sekali sama Kak Arvan.” Ucapan Arvi seolah sambaran geledeg bagi Arvin yang mendengarkannya. “Kak Arvin ngerjain aku ya jangan-jangan.”
Nama yang baru saja disebut oleh Arvi membuat otak Arvin nge-blank seketika. Hingga ucapan Arvi setelahnya tak mampu masuk ketelinganya.
Arvi ikut membeku di hadapan Arvin. Gadis tomboy itu benar-benar penasaran. Sebaris nama yang kembali di sebutkan oleh Arvi, membuat cowok itu seolah kehilangan kesadarannya. Ditatapnya manik mata dibalik kacamata berframe sebesar milik Betty Lavea itu dalam-dalam.Cewek di hadapannya ini masih ikut diam, seolah menunggunya berbicara.
“Kamu... apanya Arvan?” Suara itu terdengar agak bergetar, antara takut, gugup dan cemas. Sedangkan Arvi,
belum bisa menjawab pertanyaan itu karena tengah terkesima.
Dalam benak gadis itu, bagaimana bisa cowok seganteng dan selembut ini kalah pamor dengan Arvan yang mirip setan itu? Bagaimana mungkin orang-orang tidak mengetahui keberadaanya? Padahal mereka satu sekolah. Tapi kemudian, pertanyaan pertama dan kedua Arvin baru saja masuk kedalam otak lemotnya dan baru saja mampu dicerna secara sempurna.
“Wait kak Arvin ini beneran kembaranya kak Arvan, kan? Kalian apa gak satu sekolah?” Tanya Arvi, langsung mendapat sambutan mengejutkan dari cowok yang tengah membuat Arvi berdebar-debar.
“Kamu ikut aku yah... kita bicara di tempat lain.”
“Eh! Eh! Tapi aku sama sahabatku kak.” Cegah Arvi yang sudah akan digiring meninggalkan tempat mereka berdua mematung tadi.
***
“Jadi beneran kak Arvin ini kembarannya kak Arvan? Sasuga... berarti emang beneran yah ada pepatah bilang, kalau ada kembaran itu kalau satunya kayak iblis, pasti satunya kayak malaikat.” Celoteh Memey yang langsung mendapat jambakan lembut dari Yaya’ yang duduk tepat di sebelahnya.
“Entar diaduin sama kak Arvin kapok lo.” Godanya menakut-nakuti cewek yang malah melet tanda tak peduli.
“Tenang saja aku nggak tinggal bareng Arvan kog.” Ucap Arvin dengan senyum datar.
Saat melihat bagaimana cowok itu tersenyum seolah tengah menyembunyikan kesedihannya, ketiga sahabat
itu bungkam. Belum berani mengajukan pertanyaan lain lagi. Tetapi, beberapa detik kemudian Arvi tersadar akan satu hal yang membuatnya panik seketika itu juga.
“Loh?! Loh?! Loh?!... wait a second terus yang sama aku selama ini, yang ngaku-ngaku kak Arvin... masa sih... masa itu kak Arvaaaaan?”
“Apa gue bilang, kan!?” Ucap Yaya’ dengan senyum santai.
“Avie’-Avie’ gue turut berduka atas keapesan elo.” Kali ini Memey yang agak menahan tawa.
“Emangnya ada apa?” Tanya Arvin agak penasaran juga.
“Gak apa-apa kog kak.” Ucap Arvi lesu, mendapati kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi tempat yang nyaman dan aman untuknya di sekolah.
“Loh kenapa? Kog tiba-tiba jadi muram.” Tanya Avin mendapati cewek di sebelahnya ini tiba-tiba facedesk.
“Dia ini lagi direbutin sama cowok-cowok cakep kak.” Ujar Memey seolah membanggakan sahabat tomboynya itu.
“Direbutin dari Hongkong, yang bener gue lagi dipermainin, tauk.” Tegasnya masih menenggelamkan kepalanya di atas meja.
“Oh ya? Siapa saja?” Tanya Arvin lagi benar-benar penasaran.
Apalagi saat ia mendapati bahwa ketiga cewek yang tengah bersamanya ini, sama sekali tidak punya maksud apa-apa terhadapnya. Tidak pula ingin mendekatinya dengan berbagai alasan yang bisa membuatnya muak. Arvin bisa membaca hal itu dengan mudah. Seolah merasa aman. Arvin kembali mengajak kedua cewek di hadapannya itu mengobrol santai, saat melihat Arvicuma bisa angkat tangan.
Memey sendiri terlihat sudah sangat bersemangat ingin menceritakan pengalaman indah sahabatnya, yang ia anggap sangat perlu dipublikasikan menjadi sebuah novel bergenre teenlit. Saat Memey dengan menggebu-gebu
mulai menyebutkan satu persatu nama cowok yang mengejar-ngejar Arvi, mendengar satu nama itu Arvin merasa seolah dunianya mulai menyempit.
Yaya’ yang melihat perubahan mimik wajah Arvin mulai tertegun sejenak. Meskipun, beberapa detik kemudian, Arvin kembali terlihat normal.
“Heeh~ jadi kamu ditaksir sama Arvan? Wah~ berarti kamu special banget dong buat dia?” Ucap Avin yang malah membuat Arvi menelengkan kepala, ke arah kembaran Arvan itu dengan kening berkerut.
“Kak Arvin ini imajinasinya selevel sama Memey ternyata.” Ungkap Arvi yang ditertawakan oleh kedua sahabatnya bersama Arvin.
“Dilihat dari mana bisa special? Mainan special mungkin iya.” Keluhnya lagi.
“Eh iya… aku boleh minta tolong sama kalian bertiga, gak?” Pertanyaan tersebut membuat duo sahabat manis itu tertegun. Sedangkan Arvi hanya memberikan respon seadanya saja.
***
“Iih ya ampun, gila banget gak tadi itu. Kak Arvin beneran kayak cerminannya kak Arvan, yaaah… meskipun cuma wajahnya aja, sifatnya kayak langit dan bumi, beda banget sumpah.” Cerocos Memey di line telfon saat mereka bertiga sudah kembali ke rumah masing-masing dan melakukan group call.
“Iya-iya nyah. Elo itu kalau soal cowok aja rasanya kek besok mau kiamat, nyerocosnya gak ketulungan bisa dihentiin.” Gerutu Yaya’ yang sudah merasa panas telinganya di seberang line lain.
“Idiiih kayak elo gak suka liat cowok cakep aja Ya’. Munak lo.” Ejek Memey gak mau dihina begitu saja oleh sahabatnya yang satu itu.
“Yeee~ tapi gaya gue gak senorak elo yah sorry gitu loh. Emang iyah sih dia sama kak Arvan beneran gak ada bedanya. Bahkan bisa dipastiin kalau mereka tukar penampilan, gak bakalan ada yang tau. Cuma dari cara bicara sama sikapnya aja yang bisa bedain. Tapi… bukannya si cowok Casper itu juga.”
Kalimat menggantung itu seolah sengaja menyadarkan Arvi untuk segera menyambung, pada percakapan yang tengah para sahabatnya itu lakukan.
“Halaaaaaaah…kog dirimu malah ngingetin aku sama kak Arvan seeeh!!!”
Gerutunya mengeluh hebat membuat Yaya’ dan Memey menertawakannya meskipun merasa kasihan juga. Tapi, toh kalau dilihat dari kacamata para cewek ‘normal’-nya. Posisi Arvi tentu bikin mahluk hawa manapun merasa cemburu. Diperebutkan oleh dua mahluk adam yang menawan, tentu saja mana ada cewek yang bakal mengeluh atau bahkan merasa keberatan seperti Arvi saat ini.
Bisa dipastikan, kalau seandainya Arvi mengumumkan bahwa ia ingin memberikan posisinya pada siapapun yang mau menggantikannya. Para cewek itu pasti akan berebut atau bahkan kalau perlu berperang untuk mendapatkannya.
Hiperbolanya lagi akan terjadi pertumpahan darah, apabila seandainya Arvi benar-benar ingin melepaskan ‘jabatan’-nya tersebut dan menggantungnya pada papan pengumuman, untuk kemudian dengan senantiasa akan diberikan pada siapapun yang menang nantinya.
BERSAMBUNG