
“Dasar gila, lo.” Ucap Yaya’ yang menertawakan akting sahabatnya itu.
“Dapat dari mana lo stock airmata kayak gitu?” Tanya Memey kini menggodanya.
“Eh beneran sumpah, akting lo beneran superb, rahasianya apa sih? Perasaan kejadiannya gak bikin orang pengen nangis deh. Kalau teriak kegirangan mungkin iya.” Sambung Memey lagipenasaran.
“Gue kan emang Profesional, apalagi soal bohong-bohongan, gue emang udah bakat dari lahir.” Ucap Arvi sesumbar.
“Preketek**.”Jawab Yaya’ meringis.
**Preketek: ungkapan ketidak percayaan orang surabaya
“Eh tapi serius lo, kog bisa sih gak ada angin gak ada ujan, elo bisa nangis kayak istri yang ditalak suami.” Tanya Memey masih penasaran.
“Kan secara ya~ gue gitu loh…mata gue setting-annya udah canggih. Kalau gue bilang pengen nangis pasti langsung nangis.” Jawab Arvi lagi sumringah
“Bilang aja kalau elo aslinya cengeng.” Goda Yaya’ disambut tawa oleh keduanya
Arvi yang tengah tertawa bersama kedua sahabatnya itu, hampir tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka.
“Awas!” Tarik Yaya’ begitu melihat sahabatnya itu, hampir menabrak tubuh jakung milik pemuda Ke-Cap favorite-nya Memey.
“Duh yang lagi asyik, sampai gak liat jalan.” Goda cowok tersebut pada ketiga cewek kurcaci di hadapannya itu.
“Maaf kak.” Ucap mereka bertiga hampir serempak.
“AVIE’!!!” Suara itu hampir terdengar seperti sebuah teriakan. Begitu melihat ke belakang, Arvan sudah berdiri dengan wajah berang. Membuat Arvi hampir ingin benar-banar menangis saking takutnya.
“Kabur yuk!” Ditariknya pergelangan tangan Arvi, oleh cowok yang bahkan namanya saja belum ia tahu itu. Walaupun untuk sesaat Arvi yakin pernah bertemu dengan cowok Ke-Cap alias Keren-Cakep itu di suatu tempat.
“Ya’! Mey!” Panggil Arvi—pada kedua sahabatnya yang masih tertegun di tempat untuk sesaat—begitu dirinya tersadar.
Mengisyaratkan bahwa mereka berdua juga wajib ikut kabur bersamanya. Selama dalam perjalanan kabur bersama cowok ganteng, yang tengah dengan seenak jidat menggandeng tangannya. Arvi berusaha, berpikir keras, mencoba, berusaha mengingat nama dan dimana tepatnya dia pernah bertemu dengan cowok tersebut.
***
Pagi itu, saking takutnya Avan akan menjemputnya dijam yang sama seperti kemarin, membuat Arvi pamit pada orang tuanya untuk berangkat pagi-pagi sekali. Namun, saat tengah asik menunggu angkot di depan pos pemberhentian mikrolet**, sebuah mobil HR-V putih berhenti tepat di depannya.
“Naik gih.” Perintah satu suara, yang membuat Arvi tertegun sejenak tanpa menjawab. Memelototi, siapakah sang pengemudi, dengan wajah yang terlihat ngeblur di mata rabunnya tersebut.
Kay membukakan pintu mobil di sebelahnya untuk Arvi. Mengisyaratkan padanya untuk segera masuk.
“Apa gue perlu turun?” Sambung Kay lagi membuat cewek itu terpaksa naik, setelah mengenali sang pemilik suara tersebut.
**Mikrolet: sebutan lain untuk angkutan umum/angkot
“Semalam, kenapa telpon gue gak dijawab?” Tanya Kay,begitu ia mulai menjalankan mobilnya.
“Sorry... semalam gue silent. Emang semalem elo nelpon?” Tanya gadis itu balik dengan polos.
Saking kagetnya dengan jawaban itu, Kay menoleh ke arah Arvi. Gadis itu menatapnya dengan raut wajah lugu, membuat Kay jadi tidak tau bagaimana harus mananggapinya.
“Paling gak SMS gue kan bisa elo bales.” Ucap Kay masih dengan nada lembut.
“Sorry... saking asyiknya main otome game di hape, gue sampai lupa mau ngebalas SMS elo.” Jelas Arvi tersenyum kecut, yang malah membuat Kay tertegun dengan jawaban cewek lugu tersebut.
Tidak menyangka bahwa—di dunianya—ada cewek yang jadi sibuk hingga menomer-dua-kan dirinya kemudian melupakannya sama sekali. Cowok itu sampai speechless, karena baru pertama kali ini ia diperlakukan seperti itu oleh cewek.
“Kalau dari kak Arvan?” Tanya Kay kemudian. Dari nadanya bisa dipastkan bahwa cowok itu sedikit kesal. Kay membuang pandangannya kembali ke jalan di hadapannya.
“Apanya?”
“Kalau kak Arvan yang telpon atau SMS, pasti bakal elo jawab langsung, ya kan?!” Tanya Kay agak keki juga
kalau mengetahui, bahwa dia punya saingan yang kayak setan seperti Arvan.
“Gak juga… lagian kapasitas SMS dan telponnya, lebih banyak dibanding elo... sampai-sampai terpaksa gue silent tuh hape... pura-pura aja lagi lowbatt.” Jawab Arvi santai.
Diliriknya lagi cewek yang masih membuang pandangan ke arahnya. Tatapan Arvi yang polos tersebut, membuat Kay mulai agak nge-blank, setelah menerima jawaban yang lumayan mengejutkan.
“Gue minta maaf soal kemarin.” Ucap Kay membuat gadis itu agak sedikit tersipu malu. Mengingat bagaimana dengan berani, pemuda cakep itu memeluknya dengan erat seolah ingin memonopoli dirinya, di depan mata para penduduk di luar kelas mereka.
“Gak apapa, kog.” Balas Arvi agak terkikih. Kay yang mencuri pandang ke arah cewek—yang tengah menahan senyum manisnya—itu, membuatnya ikut tersenyum.
“Yang kemarin itu, jangan-jangan elo nangis bohongan, yah?” Tebak Kay membuat Arvi sedikit tertegun oleh kebenarannya.
“Elo tau gak gara-gara pelukan elo itu, semalam gue jadi gak bisa tidur nyenyak.” Sambung Arvi tanpa ditutup-tutupi, dengan senyum yang terukir manis di bibirnya itu.
“Sorry?” Balas Kay singkat.
“It’s fine... lumayan buat kenangan. Apalagi gegara itu gue sampai mimpi indah semalam.” Jawab Arvi se-enaknya, membuat Kay tidak tau harus bilang apalagi untuk menahan malu, terhadap ucapan cewek tomboy di sebelahnya ini, yang tidak mengenal sensor.
***
“Sudah yah, gue mau kabur lagi.” Pamitnya pada Kay, yang tak sempat mengeluarkan kata-kata, sebab gadis
itu sudah keburu melompat keluar lewat jendela.
“Elo tuh emang sukanya ama cewek yang beda, yah?” Goda Fitra pada Kay yang cuma bisa senyum-senyum menanggapi pertanyaan temannya itu.
“Cewek kaya cowok gitu kog bisa-bisanya jadi rebutan, heran. Jangan-jangan mandinya pakai kembang tujuh
rupa lagi.” Sindir Ratna teman seperjuangan Metha, yang juga gak terima kalau Kay, cowok idamannya pacaran dengan Arvi.
“Widiiih... ada yang ngajak ricuh nih.” Goda Juna yang bernama lengkapkan Junaedi Juliandika itu.
“Atau jangan-jangan malah sebenarnya kalian gak pacaran!? Hubungan kalian cuman bo’ongan, iya kan ?! Gak mungkin kalau kalian yang di hari pertama kayak orang asing, tiba-tiba hari berikutnya sudah pacaran aja.”
Kali ini Metha yang angkat bicara, melihat Arvi yang selalu mendapat perhatian oleh kedua Primadoni sekolah itu, benar-benar membuatnya kesal. Dirinya tidak terima kalau cuman Arvi saja yang dapat enaknya.Padahal siapapun akan setuju, kalau Arvi sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dirinya yang feminim, cantik dan anggun.
Dia dan para gengsternya bahkan sudah akan berencana, mem-bully cewek tomboy itu sampai kapok, atau paling enggak sampai menyerah terhadap kedua cowok tersebut.
Dan jikalau pun kedua mahluk adam itu tidak bersamanya. Cewek itu sudah tidak ada di mana-mana, alias kabur untuk sembunyi, yang mana mereka pun masih belum tau, tempat persembunyian Arvi selama ini.
Tentu hal itu menyulitkan Metha yang berniat akan menyudutkannya. Alhasil, gadis itu jadi malah uring-uringan sendiri. Sebenarnya apa yang baru saja dikatakan Metha tidak sepenuhnya salah. Malah itulah kenyataan yang sebenarnya. Tapi, tentu saja Kay tidak akan pernah membenarkan pernyataan itu selama ia masih dikerubungi oleh ‘lebah’seperti mereka.
“Apa pelukan gue kemarin buat Avie’, kurang meyakinkan mata elo semua? Atau perlu gue tambahin ciuman panas, biar elo semua pada puas?” Tanya Kay kini bernada menantang,dengan senyumnya yang sudah mengembang penuh kelicikan.
Metha bungkam, tidak tau lagi apa yang musti ia katakan. Tapi, sahabatnya Tania tidak mau kalah.
“Kenapa enggak? Kalau dia emang beneran pacar elo, sekedar peluk cium kayak gitu kan wajar aja.” Balasnya seolah balik menantang Kay.
Cowok itu berdiri, kali ini bersandar di mejanya, kedua tangannya bersembunyi di balik kantung celana. Ditatapnya kerumunan gadis yang berjumlah tujuh orang itu. Dibacanya manik mata mereka satu persatu.
Ada yang gugup, ada yang malu-malu, ada yang sok jaim, bahkan ada yang sampai gak bisa menahan senyum, saking senangnya dipelototin Kay.
“Selama itu dengan Avie’ dan bukan sama cewek ganjen macam kalian. Gue mau aja kalau disuruh yang lebih dari sekedar peluk, ciuman.” Sindir Kay, membuat para cewek itu melongo hebat,seperti ikan koi lagi makan roti.
“Tapi sayangnya, Avie’ bukan tipe cewek yang suka pamer kemesraan. Itulah yang paling gue suka dari dia.” Untuk kali ini Fitra and the gank gak kalah kaget, saat mendengar penuturan Kay.
“Dan asal kalian tau, gue gak bakal rela kalau dia sampai marah terus mutusin gue, gara-gara cuma buat
menuhin request konyol kalian.” Sambungnya lagi, memastikan bahwa keterangannya kali ini bisa memuaskan telinga Metha dan kawanan-nya.
“Gak mungkin! gue masih gak percaya!! Itu pasti... cuma alasan aja, kan?! Mana mungkin cewek macam Arvi bisa…” Ungkapan protes Metha tergantung saat dirinya mendapatkan tatapan setajam elang dari Kay.
“Benar kata Metha. Pasti ada maksud tersembunyi di balik hubungan kalian, iya kan?!” Tania kembali bersuara, ia tidak mau kalah dan tidak terima kalau harus mengakui, cewek se-enggak menarik Arvi mendapatkan cowok yang selama ini ia kagumi.
“Dengerin gue ya. Kalaupun memang benar pacaran kita cuma bo’ongan seperti kata kalian. Emangnya elo mau apa? Gue juga gak bakal milih elo, meskipun cuma buat pura-pura pacaran. Dan asal elo semua tau aja, cewek idaman gue yang sebenarnya itu yah... si Avie’, bukan kumpulan cewek macamkalian.” Ujarnya kini agak sedikit
sarkastik.
Setelah berhasil membungkan Metha dan para gengnya, Kay pun beranjak pergi meninggalkan kelas, bersama teman-teman cowoknya yang menyambut ucapannya itu, dengan seruan dan tepuk tangan.
***
“Oh ya kemarin, aku lihat kamu diculik sama cowok dari SMABara, ya?” Tanya seorang cowok yang tengah menemani Arvidi gudang belakang.
“Kog kak Avin bisa tau? Emang kemarin kak Avin di situ??” Tanya Arvi balik saking penasarannya.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Heee, beneran? Seriusan?? Di sebelah mana? Kog aku gak liat??” Tanyanya lagi bertubi-tubi, membuat si cowok Casper itu hanya bisa terkekeh lucu.
“Emang kamu gak merasa pernah kenal dia?” Tanya Arvin.
“Enggak lah kak, ketemu aja baru kemarin,” Jawab gadis itu meskipun sedikit banyak juga kembali berpikir.
“Tapi... rasanya kayak pernah ketemu di manaaa gitu. Cuman lupa.” Sambungnya lagi masih membuat Avin mengendus lucu.
“Apa dia gak ngasih tau siapa namanya? Terus kalian kemarin ngapain aja?” Tanya cowok itu lagi, benar-benar terdengar begitu penasaran di telinga Arvi.
“Idiiih~ ada yang lagi kepo nih.” Goda Arvi. Ucapannya itu hanya dibalas dengan tawa oleh si cowok Casper tersebut.
“Iya, aku beneran kepo abis sama apa yang dilakuin cowok bringasan macam dia, ke kalian bertiga.” Jelas Arvin pada Arvi, yang kini mengerutkan keningnya.
“Maksud kak Arvin?” Tanya cewek tomboy itu.
“Apa kamu tau, kalau cowok yang habis nyulik kamu kemarin itu, dari sekolah yang sering tawuran sama Arvan? Dan kalau gak salah baru bulan kemarin, kan?! Mereka tawuran di kompleks sekolah kita” Terangnya membuat cewek itu spontan langsung ber “HAH?” saking gak percayanya.
“Kog? Aku gak tau, seriusan kak?? Eh… tapi rasanya emang pernah ketemu sama dia...” Ungkap Arvi
kini berpikir lagi
“Oh iyah mein goat kog bisa lupa sih. Dia kemarin bilang namanya Adhira...Ya Tuhan ku baru inget sumpah. Dia
kan yang waktu itu adu jotos sama kak Avan\, pas ada gue juga di situ Ya Lord!!!”***
Celotehnya panjang lebar dengan panik, yang tanpa diduga malah membuat Avin tertawa terbahak-bahak.
***bisa dibaca pada episode Another Trouble
“Perasaan aku gak lagi ngelawak deh kak.” Sambungnya lagi begitu sadar, bahwa cowok Casper yang tengah mendengarkan penuturannya itu,tengah menertawainya.
“Sorry-sorry... habisnya, meski gak lihat wajah kamu, aku bisa bayangin gimana ekspresi kamu tadi.” Kata cowok itulagi masih tidak bisa menghentikan tawanya.
“Oh ya kak soal kak Arvan. Kalian saling kenal, yah?” Satu pertanyaan ini, membuat Arvin terdiam untuk berpikir sejenak.
“Apa karena aku punya nama yang sama kayak dia, jadi kamu pikirnya begitu?” Tanya cowok itu balik, seolah menebak isi pikiran Arvi, yang memang cukup benar.
“Habisnya... waktu dia tau namaku sedikit mirip ma dia aja, aku udah digangguin gak keruan. Dia bilang aku ngutang beberapa huruf dan dituduh udah mengambil hak cipta penamaan. Gila kan tuh orang?! Mangkanya
kali aja kak Avin nasibnya sama.” Jelas gadis itu, yang lagi-lagi membuat si cowok Casper tertawa, mendengarkan keluguan pemikiran gadis itu.
“Salah,ya?”
“Itu karena kamu imut. Makanya dia gangguin kamu kaya gitu. Dia mana peduli kalau gue yang cowok ini, punya nama yang mirip sama dia.” Jawabnya kali ini membuat Arvi terkikih.
“Oh ya, masih penasaran... kemarin kalian ngapain aja?” Tanya Arvin lagi,seolah tak ingin menghentikan obrolan.
“Maksudnya? Sama kak Dhira?” Tanya Arvi lagi.
“Iya.” Jawab Arvin.
“Kemarin kita bertiga cuma diantar pulang saja kog.” Jawab cewek tomboy itu.
“Cuma gitu doang?” Ulang Arvin.
“He-em.” Jawab Arvi singkat.
Sebenarnya Arvin masih ingin menanyakan banyak hal. Tapi, ada hal yang membuatnya teringat,hingga mengurungkan niatnya untuk mengintrogasi gadis itu.