
“Vie’, Elo dimana sekarang? Bentar lagi udah mau ditutup lho pintu gerbangnya!!” Serunya melalui telfon.
“YAH... bentar Ya’ bentar lagi gue nyampek kog!!” Ucapnya ngos-ngosan, langkahnya yang terburu-buru—hampir setengah berlari malah—begitu melihat jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 7.20 WIB. Dengan tergopoh-gopoh gadis itu menyusuri jalanan langgeng kompleks sekolahnya.
“...?” Arvi—nama gadis itu, biasa dipanggil Avie’ oleh sahabatnya—sedikit tertegun melihat seorang siswa masih dengan santai duduk bersandar CBR-nya. Dari atribut seragamnya bisa dipastikan bahwa siswa tersebut merupakan salah satu murid sekolahnya.
Tampangnya oke juga, batin Arvi dalam hati, ketika matanya mencuri pandang pada pemuda yang melemparkan senyum ke
arahnya.
GRADAK !! KLANG !!
Suara gerbang depan sekolah yang sudah tertutup sempurna, menghalangi usaha gadis itu untuk masuk tanpa terlambat. Padahal selisih jaraknya hanya tinggal sepuluh langkah saja. Namun,apa daya jika waktu tak mampu berhenti untuk menunggunya. Arvi langsung merasa lemas begitu melihat bapak satpam mengunci pintu gerbang bergembok besar tersebut.
“Sini ikut gue!” Seru seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah meraih pergelangan tangannya.
“Eh?!” Gadis yang belum sempat bertanya akan dibawa pergi kemana, oleh pemuda yang waktu itu ia temui dijalan, sudah keburu diseret kesebuah gang sempit di belakang sekolahnya.
“A-anu.. ki-kita mau kemana, kak?” Tanyanya gugup saat pemuda tampan nan jangkung itu sudah berbalik menatapnya.
Ini mahluk Adam ngapain nyudutin gue di gang sempit sepi begini? Mimpi apa gue semalam Ya Tuhan sampai di Kabe-don** pagi-pagi begini?
**Kabe-don : adegan populer di jepang dengan menyudutkan lawan sambil menempatkan tangan ketembok
Batin Arvi dalam hati. Mata lelahnya yang say unto mengamati wajah tampan si pemuda yang sudah membuat jantungnya bergenderam sejak tangan mereka bersentuhan.
“Elo mau masuk kelas tanpa ketahuan guru BK, nggak?”
Gadis itu hanya mampu mengangguk untuk menjawab pertanyaan
cowok yang sudah mengambil seluruh kalimat dari dalam benaknya. Kehangatan
genggaman tangan pemuda tersebut membuat Arvi seolah tak sadarkan diri.
“Gue bakalan mau bantu elo masuk tanpa ketahuan, tapi dengan
syarat...”
Arvi cuma bisa mengerjapkan kedua matanya, ketika
mendengarkan penuturan cowok Vincent2 yang masih menggantung tanpa penyelesaian tersebut. Melihat bagaimana si cowok tersenyum padanya seolah memiliki
maksud tersembunyi, membuat gadis itu menjadi sedikit waspada. Apalagi dirinya
saat ini sedang dihadapkan dengan mahluk Tuhan paling seksi dengan penampilan
yang mampu menggoda iman.
***
“Ya ampun Vie’... gimana tadi? Gak kenapa-kenapa, kan? Sama Pak Taufan tadi gimana?
Elo dihukum apa?” Tanya sahabatnya yang sudah memasang wajah seolah mau ditinggal pergi sang kekasih.
**Vincent : an atractive ladiesman (urbandictionary)
“Gak apa-apa kok non, lag ian gue gak
punya rekor telat sebelumnya. Dan alasan gue juga kata Pak Taufan cukup bisa
diterima... jadi gak ada hukuman deh,” ucapnya dengan mengacungkan peace sign. “Oh iya... si Memey mana?” Tanyanya lagi.
“Tau tuh, lagi P-D-K-T sama Kak Yasa kali?!” Jawab sahabatnya Yaya’ dengan santainya,
bersila di sebelah Arvi
diundakan depan gudang belakang.
“BEEEEEIIIBZ!!! Sorry gue dateng telat, gue tadi atit pelut jadi mau setor dulu.” serbu
seorang cewek berambut panjang bergelombang dengan centilnya, mendekati mereka
dan langsung menyundul Yaya’ yang paling dekat jangkauannya.
“Kata Yaya’ elo lagi PDKT sama Kak Yasa?” Tanya Arvi lagi pada sobatnya yang sedang
menyisir rambut dengan tangannya, mengkonfirmasi kebenaran si Paparazi.
“Niatnya sih gitu. Tapi apa daya perut gak bisa diajak
kompromi. Begitu dapet SMS dari Yaya’, habis setor gue langsung
kesini. Masalah PDKT mah gampang. Sahabat yang mesti diutamakan,” jelasnya
dengan manggut-manggut. Sedangkan si pengobral gossip lagi nyengir kuda. “Ke kantin yuk... laper, tadi isi dalam perut gue dah kekuras semua nih.”
Pinta Memey yang langsung memberondong Arvi pergi karena mereka tau sobat yang satu ini paling males ke
kantin, malas dengan keramaian, malas menunggu antrian dan paling malas makan
kalau tidak benar-benar lapar sampai perut keroncongan.
“Tuh cewek yang tadi pagi sama si bos, kan?!” Ucap seseorang dikejauhan sedang mengawasi bak seorang polisi yang lagi patroli.
“Bos! Tuh cewek mau menuju ke kantin!” Lapor seorang lagi melalui telepon kepada atasannya yang sudah siap melangkah pergi ke lokasi.
ganteng dari sekolah kita... siapa emangya?” Tanya si centil Memey dengan seringai jahil.
“Mana gue tau... kenalan aja gak sempet. Orang guenya dah
keburu kabur.” Jawab Arvi mengangkat kedua bahunya.
“Emang kenapa gak elo terima aja tawaran dia buat nyusup ke
dalam sekolah tanpa ketahuan Guru BK?” Tanyanya kembali, penasaran.
“Gimana gak gue tolak... orang dianya...”
“Hai, ceweee~” belum sempat Arvi menyelesaikan
kalimatnya, seorang pemuda tiba-tiba saja sudah melompat menghadang mereka di pertigaan jalan
menuju kantin. Mengagetkan ketiganya yang tengah asik bercengkrama. “Wah, imut-imutnya kaya anak SMP aja.” Godanya membuat kedua cewek di kanan-kiri Arvi langsung menggandeng sahabatnya itu
erat-erat.
“Mereka kan emang baru lulus SMP, Ko,” ucap suatu suara ghoib yang tiba-tiba muncul di belakang
mereka. “Nama lo siapa, hun?”
Tanya satu suara yang sudah berada di belakang kepala Arvi. Gadis itu sampai bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Arvan, menyibak helaian rambutnya yang dicepol
kebelakang, hingga dirinya tak berani menoleh. Arvi hanya bisa memandangi lantai di bawah
kaki cowo yang tadi dipangilnya dengan nama Koko.
“Emang situ mau tanya namanya siapa? Di sini gak ada yang
namanya Hun!” Cerocos Memey yang paling doyan meladeni
godaan cowok.
“Siapa,ya?”
Goda Arvan sambil memainkan helaian rambut Arvi yang membuat gadis itu merinding disko.
“Arvi...” Jawabnya perlahan, tanpa tau kalau ke dua sobatnya
sudah menengok ke depan dan ke belakang saat jalan ketiganya diblokir oleh 2 orang asing bertubuh jakung dan se-gede atlet basket tersebut.
“Nama lengkap, lo?”
Tanya cowo itu lagi masih tidak mau beranjak dari
belakangnya, senyum mengembang memperlihatkan seringai jahil pada kedua
sahabatnya yang sudah mengerutkan kening.
“Arvi Nandani...” Akunya, membuat cowo dihadapan mereka berseru seperti baru menang lotre.
“Holy Shit! Nama belakangnya hampir sama kayak nama lo, Van! Ternyata beneran ada yah kebetulan kayak gini.”
Terangnya membuat sang pemilik nama langsung mendongak heran dan terus berbalik ke
belakang. Seulas senyum masih terlihat
tersungging di bibir tipis seorang cowo yang baru ia temui tadi pagi.
“Kayaknya elo dah ditakdirkan bakal berhubungan sama gue nih.” Ucapnya seraya menegakkan punggungnya, membuat ketiga cewek itu langsung merasa kerdil karena tinggi badan mereka yang sudah kelihatan beda 25cm lebih.
“Eh non, si Bos ada perlu sama temanmu. Ajak temanmu yang
satu lagi pergi dulu gih!” Pinta Koko pada Yaya’ si cewek berperawakan feminin yang tengah menempel di lengan kanan Arvi.
“Ihh, sapa elo suruh-suruh gue?" Bantah Yaya’ yang sudah mulai sebal. Seketika Arvi, si cewek tomboy itu mendapatkan ide brilian. Ia berbisik pada Yaya’ sahabatnya yang berkacamata darkbrown itu—perlahan—seraya mengamit lengan Memey erat.
“WAAAAAAAAAA!”
Serunya tanpa ancang-ancang, langsung berlari menerjang cowo
di depan mereka dan berlari sekencang-kencangnya, menerobos kerumunan murid
yang sempat berkumpul karena melihat sang pentolan sekolah turun ke wilayah
anak kelas sepuluh, tengah beraksi dengan Partner
In Crime-nya.
“Gak dikejar, Van?” Tanya Koko yang tadi hampir saja diseruduk kalau saja tidak
berinisiatif minggir.
“Gak usah Ko. Gue tunggu di kelas dia aja. Elo sama Haruawasin aja mereka sambil makan.” Jelasnya
seraya pergi dari tempatnya berdiri. Membubarkan kerumunan warga yang
sesaat menjadi penonton dan membuat mereka kembali pada aktifitasnya
masing-masing.