
Memey yang bernama lengkapkan Meisie Farica itu, memang kelewat usil dan jahilnya minta ampun. Mungkin begitulah caranya mengakrabkan diri dengan orang-orang di sekitarnya. Jadi tak heran kalau cewek ini punya kenalan di mana-mana dan akrab dengan siapapun di sekolah.
Bahkan saking gemesnya, Haru pun jadi sasaran ke usilan cewek yang akrab disapa Meca ini. Tapi, tipe yang paling tidak ingin di dekati oleh Memey adalah yang seperti Koko itu. Tipe yang tidak bisa ia bikin mingkem** atau malu-malu kucing dengan tingkah dan kata-katanya.
**Mingkem: Tutup mulut
Tipe yang akan menggoda balik jika digoda. Tipe yang malah akan melancarkan serangan dua kali lipat melebihi apa yang sudah ia lakukan. Tipe yang sama sekali tidak bisa diam atau pun ditaklukan dengan ucapan dan tindakan. Tipe yang akan semakin beringas jika digoda olehnya.
Berbeda dengan Yaya’. Gadis yang bernama lengkap Azelia Calesta itu, dari wajah hingga perawakannya terlihat lebih kalem dan dewasa. Di antara kedua sahabatnya dialah yang lebih bijak dan bisa diandalkan kalau sudah menyangkut saran dan nasehat.
Bahkan, dalam pergaulan pun kedewasaan dan sikap supelnya membuat orang-orang suka berada di dekatnya. Bahkan, belum apa-apa cewek yang akrab disapa Lia itu, sudah digosipkan kalau tengah ditaksir oleh seniornya, Raka. Kalau diibaratkan ketiganya adalah saudara, maka Yaya’ adalah anak tertua, kakak perempuan yang
menyenangkan, humoris dan so wise.
Caranya bergaul 360 derajat berbeda dari Memey. Yaya’ selalu bisa menilai orang di sekelilingnya, juga selalu bisa mengerti karakter seseorang hanya dengan mengobrol sekali dengannya. Gadis cantik itu paling anti
dengan cowok semacam Arvan. Meskipun tidak 100% membencinya.
Jadi terkadang, dirinya tidak tau bagaimana harus bersikap, bila bertemu dengan cowok yang sepertinya terobsesi dengan sahabatnya itu.
“Gue lapar...” keluh Arvi menyandarkan punggung dindingbalkon gudang belakang, menikmati lagu
keroncong di perutnya.
“Tumben elo akhirnya bilang laper juga, mau gue beliin makanan?” Tawar Memey yang sudah bersemangat akan turun ke bawah.
“Entar kalau sampai ketemu Kak Arvan di jalan gimana?” Tanya Arvi yang sudah terserang pikiran buruk, selera makannya mendadak hilang seketika. Mereka berdua pun sempat dibuat berpikir sejenak. “Yaaah… semoga enggak.” Jawab Yaya’ singkat lalu menggandeng Memey pergi, meninggalkan Arvi yang menganggur,karena ia harus mematikan handphone-nya dari gangguan para ‘Siluman’.
Beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki asing mendekat ke gudang tempat ia tengah bersembunyi. Arvi yang sempat ketiduran itu langsung berlonjak kaget. Suara langkah kaki itu bukan berasal dari kedua sahabatnya. Suaranya berat dan besar, lebih mirip langkah kaki cowok.
Kak Arvan, kah? Kay? Atau...? Batinnya berusaha tetap tenang. Tapi, saking groginya ia sampai tidak bisa bergerak. Antara takut ketahuan dan ingin memastikan siapa si orang asing tersebut.
“Ada orang, yah?” Tanya satu suara ghoib yang langsung membuat kegugupan cewek itu makin intense.
Arvi berusaha diam. Berharap agar siapa pun cowok tersebut, tidak tertarik untuk semakin mendekati tempatnya tengah bersembunyi.
“Gak usah takut... aku bukan hantu kog.”
Ucap cowok asing itu lagi, membuat Arvi tertegun. Darimana dia tau kalau ada orang di sini? Emang dia gak mikir apa, kalau seumpamanya gue ini hantu, bukan orang?! Gumam Arvi dalam hati.
“Elo siapa?” Tanya gadis itu benar-benar penasaran kali ini.
“Panggil aja aku Avin.” Jawabnya membuat cewek itu hampir berbalik,menghadap tembok balkon.
“Kog hampir mirip kayak nama panggilan gue?” Katanya lagi merasa heran. “Emang nama lengkap elo apa?”
“Arvin Nandana.” Jawaban itu langsung mendapat sahutan “BOHONG!” secara otomatis,oleh cewek yang sudah akan berdiri dari posisi duduknya yang P.W.
“Serius lo? Sumpah? Berani disambar geledek? Gue mau liat KTP elo.” Katanya bertubi-tubi, masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Membuat cowok yang sedari tadi duduk di tangga, di belakang balkon, tempat dimana Arvi tengah bersembunyi sekarang ini, malah tertawa. Cowok Casper yang belum diketahui wajah dan sosoknya ini, mempunyai nama yang hampir mirip dengannya, juga Arvan.
Apakah hal ini cuma sebuah kebetulan? Atau cowok itu cuma mengarang saja untuk menggodanya?
Masa kak Arvan punya kembaran? Batinnya dalam hati. Eh nggak mungkin ding, nama gue hampir sama kaya dia juga bukan kembarannya dia. Sahutnya pada diri sendiri. Atau jangan-jangan nih orang malah sebenarnya kak Arvan???
Digeleng-gelengkannya kepala itu dengan cepat. Ia tidak mau pikiran buruk itu sampai membuatnya percaya, bahwa tempat ter-aman-nya sudah ketahuan juga.
“Apa kamu gak lapar, jam istirahat gini malah menyendiri di sini?” Tanya cowok itu lagi. Nada suaranya yang sopan, terkesan lembut dan ramah melunturkan pemikiran buruk yang menyatakan, bahwa cowok tersebut ada hubungannya dengan si setan SMAPi atau bahkan si setan itu sendiri.
“Avin... kelas berapa?” Tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.
“Kelas tiga, kamu?” Jawabnya dengan sopan.
“Eh? Waduh maaf kak udah gak sopan, dari tadi elo-gue terus. Saya masih kelas satu kog...” jawab Arvi langsung grogi, mendapati bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang senior,meski belum diketahui kebenarannya.
“Masa? Aku kira ada anak SMP nyasar, habis suara kamu imut banget kaya anak kecil.” Ujarnya tertawa lucu, Arvi hanya membalasnya dengan senyuman.
“Kak Avin sendiri gak istirahat?” Tanya Arvi menyambung kembali bahan pembicaraan.
“Baru saja dari kantin. Aku lihat ada dua cewek habis lewat sini. Aku kira mereka sedang apa, ya sudah akhirnya aku kesini juga. Siapa tau bakal nemuin sesuatu yang luar biasa gitu.” Katanya mengada-ada yang hanya dibalas
dengan senyuman oleh Arvi.
“Kog kak Avin tau ada orang lain di sini?” Tanya Arvi memancing pembicaraan.
“Soalnya aku sering lihat mereka itu jalan bertiga. Aneh saja tiba-tiba jadi hanya berdua.” Terang si cowoklagi.
“Kak Avin lumayan perhatian juga yah, sama hal-hal kecil kaya gitu?!” Tanya Arvipenasaran.
“Cuma kebetulan lagi nganggur aja kog,” kata si cowok sembari tertawa kecil. “Nih buat kamu!” Tawarnya
meletakkan sebotol minuman dingin di atas sandaran balkon.
“Apa ini, kak?” Arvi meraih sebotol kecil minuman yang kelihatan segar itu.
“Buat kamu, masih belum aku minum kog,” jelasnya dan kembali meletakkan sebungkus donat berukuran jumbo di sebelah minuman tadi. “Anggap aja aku neraktir kamu.” sambungnya lagi.
“Tapi kak...”
“Sudah gak pa-pa! Aku juga lagi kekenyangan, anggap aja salam perkenalan.” Jelas cowok itu lagi menyurutkan keengganan Arvi,yang masih merasa begitu sungkan pada kebaikan cowok Casper tersebut.
***
“Sorry!! nooon beneran sorry banget. Sebenarnya kita berdua sudah mau nemuin elo sambil bawa makanan. Tapi kak Haru sama kak Koko ngebuntutin kita. Jadi yah kita belok ke kelas deh.” Ucap Yaya’ begitu ada kesempatan menelfon sahabatnya, yang sudah meninggalkan gudang belakang, untuk segera ke kelas begitu mendapat aba-aba.
“Yaa… terpaksa deh kita makan berdua.” Jawab Memey dengan polosnya.
“Ya udah gak pa-pa kog. Lagian tadi ditraktir Casper, jadi gak begitu lapar.” Jawab Arvi sumringah.
“Hah? Siapa?” Tanya Memey di saluran lain.
“Casper! Tadi gue kenalan sama senior kelas tiga. Emang sih gue gak lihat tampang orangnya langsung. Tapi dia ngasih gue donat sama jus. Hehehe dapat rejeki gitu deh.” Sambungnya lagi meringis senang,membayangkan kejadian yang menimpanya barusan.
“Yakin itu cowok orang benaran?” Tanya Yaya’ ragu. Apalagi tipe gadis macam Arvi yang kadang tidak mampu membedakan, mana yang ‘beneran’ orang dan mana yang bukan.
“Kalau menurut gue sih dia manusia benaran kog. Apalagi dia tadi udah traktir gue. Masa setan bisa neraktir orang?” Jelas Arvi lagi pada kedua sahabatnya, yang masih meragukan keakuratan ucapannya.
“Ah elo, cuma gegara makanan aja udah mutusin tuh mahluk orang beneran.” Celetuk Memey yang tau betul bahwa sahabatnya itu berbeda.
“Eh serius kog. Gue yakin dia itu orang, bukan setan.” Ucap Arvitidak terima.
“Siapa yang setan?”
Suara itu terdengar tepat di sebelah Arvi, desah nafas yang menyapu daun telinganya, membuat gadis itu seketika menghadap ke sang pemilik suara.
Arvi sama sekali tidak menyangka, bahkan tidak sadar, entah sejak kapan Arvan sudah berdiri di belakangnya dan menguping pembicaraannya. Arvi sama sekali gak merasakan kehadirannya. Benar-benar mirip seperti setan.
Dengan senyum lebar yang terkesan begitu lembut dan ramah membuat Arvi tanpa sengaja memutuskan panggilannya. Arvan berdiri dengan gagah, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans abu-abunya. Dengan dua kancing baju yang terbuka dari leher hingga sebatas dada memamerkan kalung berbandul cincin.
Gadis itu terpana, seperti baru menyadari bahwa orang yang selama ini ia anggap Setan memiliki ketampanan yang lumayan menggoda iman. Bila dibandingkan dengan Kay yang ‘alim’, kesan tampan yang ada pada sang pentolan sekolah ini lebih mengarah ke sosok yang ‘nakal’.
Bibir yang tipis seolah mengenakan lipbalm, rambut tipis dan panjang ala Anime Jepang, dengan anting silver berbentuk huruf ‘A’ di telinga kirinya. Membuat Arvan jadi sosok yang begitu mencolok di antara para siswa di sekolahnya.
Kalau saja seandainya Arvan ini bergender cewek, bisa jadi dia malah lebih cantik dibanding siapapun juga di sekolahnya. Membayangkan hal seperti itu saja, sudah membuat Arvi merasa kalah sebagai mahluk, yang udah
100 % asli berkelamin perempuan.
“Elo kenapa?” Sungutnya dengan tawa. “Udah mulai jatuh cinta sama gue, yah?” Tanya Arvandengan penuh percaya diri.
Dibandingkan dengan Kay yang sudah dari penampilannya saja terkesan kalem dan dingin. Arvan jauh lebih berani dan blak-blakan.
Dengan sikap dan tutur katanya yang sebodoh amat, membuat Arvi harus berulang kali menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri. Bahwa gak satu pun dari kalimat tersebut serius. Apalagi jika ucapan itu berasal dari ‘setan’semacam Arvan.
“Kalau jawabannya enggak?” Tanya Arvipolos membuat Arvan merasa gemas padanya.
“Yah say goodbye to your beloved two.” Goda Arvan seraya berpaling ke arah lain.
Kalau cewek ‘normal’-nya pasti memberikan reaksi kaget, merajuk dan memohon-mohon. Dengan begitu Arvan bisa mempunyai kesempatan untuk mengutarakan keinginannya yang lain. Jikalau cewek itu ingin kedua benda
berharganya selamat.
Tetapi, cewek yang ada di hadapan Arvan saat ini malah menghela nafas panjang. “Iya deh aku jatuh cinta sama kak Arvan. Puas sekarang?!” Ucapnya, menyerah pada cowok se-egois Arvan.
Cowok itu agak tertegun, ia tak menyangka akan mendapatkan reaksi yang di luar perkiraannya ini. Malahan bisa dibilang biasa-biasa saja. Padahal, dia ingin melihat gadis pendek itu merengek-rengek dan melakukan hal ke cewek-cewekan lain, yang bisa membuatnya gemas hanya dengan membayangkannya saja.
“Tadi ngomong apa? Gue gak denger.” Goda Arvan lagi kini memajukan wajahnya ke arah cewek yang sudah mundur beberapa langkah di hadapannya itu.
Kalau Arvan tidak mendapatkan reaksi yang ia inginkan, maka ia akan membuatnya menjadi seperti itu. Seperti yang dulu sering ia lakukan pada seseorang di masa lalu. Seseorang yang juga selalu membuatnya merasa gemas, hingga tidak bisa berhenti menggodanya, seperti dengan Arvi saat ini.
“Gak ada siaran ulang.” Jawab Arvi singkat.
“Hoo... jadi udah gak sayang lagi sama ‘mereka’, yah?” Ucapnya dengan menarik sudut bibir saat
tersenyum, lagi-lagi menyeringai.
Arvi kembali hanya menghela nafas panjang, capek. Ia tahu sekali bahwa Arvan saat ini tengah mempermainkan dan menyudutkannya, dengan kedua benda kesayangannya yang masih menjadi sandera.
Ia tahu betul, bahwa hal seperti ini tidak akan berhenti sampai di sini. Jadi untuk apa dituruti kalau toh hasilnya tidak akan seperti yang ia pikirkan.
“Sudah ah, susah ngurusin kak Arvan! Terserah, mau itu kacamata sama sketchbook kak Arvan apakan!!” Tegasnya
berlalu pergi meninggalkan Arvan yang sudah membatu.
Dirinya begitu terkejut dengan reaksi yang sama sekali tidak pernah ia harapkan akan jadi seperti itu. Arvan langsung bertindak setelah tersadar dari keterkejutannya, menarik pergelangan tangan Arvi yang sudah akan memasuki ruangan.
Tidak akan ia biarkan kesenangannya dilunturkan begitu saja oleh sikap sok cuek yang gadis itu berikan sebagai ganti penolakan.
“Ikut gue, sekarang!!”
***
“Elo tadi habis dari mana?” Tanya Kay yang baru melihat gadis tomboy, teman sebangkunya itu,masuk ke kelas saat jam istirahat kedua berbunyi.
“Gue habis disekap!” Jawabnya enteng,saat beranjak mendekati kay yang masih duduk manis di bangkunya.
“Maksud lo? Kak Arvan?” Tanya Kay dengan polosnya, yang malah membuat Arvi jadi gemas.
Gemas karena seolah Kay belum paham juga, kalau cuma Arvan lah satu-satunya cowok yang sepertinya
buta, hingga mau menganggurkan diri untuk mengganggunya seperti tadi. Emang lo pikir cowok mana lagi yang mau berurusan sama gue, hah? Batinnya masih tidak percaya,kalau Kay menganggapnya seolah artis sekolah yang bisa diculik oleh siapa saja.
“Bukan... tapi setan!” Jawabnya dengan nada yang cukup terdengar kesal.
“Dia habis ngapain elo?” Tanyanya lagi penasaran.
“Bukan urusan elo!” Katanya dengan ketus, pada cowok yang sejenak dibuatnya tertegun oleh jawaban penuh emosi itu.
“Elo kan pacar gue, kalau elo diapa-apain cowok lain harusnya elo beritahu gue, bukan malah sinis ke gue kayak gini.” Ucapnya kalem, mencoba mengendalikan situasi, dimana mereka sekarang tengah jadi tontonan massa di kelasnya.